LOGINTak sengaja aku mengenalnya, bersahabat dan akrab, anak anakku juga akrab dengannya. Kuanggap ia adikku dan kuberikan ia apa yang dia butuhkan. Tapi tak kusangka perjalanan takdir menunjukkan siapa dia yang sesungguhnya. Sungguh mengejutkan, aku nyaris terpental dalam syok dan tak menyangka aku memelihara duri dalam dagingku.
View MoreLa pluie tombait sans pitié sur la ville endormie.
Elle martelait les toits, ruisselait le long des gouttières, transformait les rues en miroirs sombres où se reflétaient les rares lumières encore allumées à cette heure avancée de la nuit. Lyon s’était enveloppée dans un linceul d’eau et de silence, comme si le monde entier retenait son souffle en attendant quelque chose d’inéluctable. Sous le porche étroit d’un immeuble ancien, deux silhouettes se tenaient face à face, immobiles, prisonnières de la tempête et de quelque chose de bien plus puissant encore. Ethan Moreau ne sentait plus le froid. L’eau glacée dégoulinait de ses cheveux, traçait des sillons sur son visage, s’infiltrait sous le col de sa chemise. Mais il ne frissonnait pas. Toute sa conscience était concentrée sur le visage qu’il tenait entre ses mains tremblantes. Elena. Elle était là, devant lui, après tout ce temps. Après les années de silence, après les mois de lutte, après les semaines d’enfer qu’ils venaient de traverser. Elle était là, vivante, réelle, et pourtant si lointaine qu’il avait l’impression de la voir à travers une vitre embuée. La pluie avait collé ses cheveux sombres sur ses tempes. Des gouttes perlaient sur ses cils, roulaient sur ses joues, et il aurait été impossible de dire où s’arrêtait la pluie et où commençaient les larmes. Peut-être qu’elle-même ne le savait plus. Peut-être que cela n’avait plus d’importance depuis longtemps. Il la regardait comme on regarde une chose infiniment précieuse qu’on a failli perdre à jamais. Comme un naufragé qui aperçoit enfin la terre après des jours de dérive. Comme un homme qui a passé sa vie entière à courir après des mirages et qui découvre soudain que le désert avait raison depuis le début. Les mots montèrent dans sa gorge, se bousculèrent sur ses lèvres, et il les laissa sortir sans chercher à les retenir. Il n’avait plus rien à retenir. Plus de fierté. Plus de masque. Plus d’armure. « Pardonne-moi. » Sa voix n’était qu’un souffle, à peine audible sous le crépitement de la pluie. Elle se brisa sur la dernière syllabe comme une vague trop faible pour atteindre le rivage. « Pour tout. » Les yeux d’Elena restèrent fixés sur les siens. Ils étaient immenses dans la pénombre, d’un brun profond que l’obscurité rendait presque noir. Des yeux qu’il connaissait par cœur, qu’il avait vu briller de joie au matin de leur mariage, qu’il avait vu s’éteindre lentement au fil des années de négligence, qu’il avait vu pleurer en silence dans le noir de leur chambre quand elle croyait qu’il dormait. Aujourd’hui, ces yeux le regardaient sans haine et sans amour. Sans chaleur et sans froideur. Ils le regardaient simplement, et ce regard était plus terrible que n’importe quelle accusation. Il y lut le poids de tout ce qu’il avait brisé. La trace indélébile de chaque parole qu’il n’avait pas dite, de chaque geste qu’il n’avait pas eu, de chaque nuit où il l’avait laissée seule dans leur lit trop grand. Il y vit le fantôme de la femme qu’elle était avant de le rencontrer, et le souvenir de celle qu’elle était devenue à force d’être ignorée. Il vit tout cela, et il sut que rien de ce qu’il pourrait dire ou faire n’effacerait jamais complètement ces années de souffrance. La pluie redoubla, comme si le ciel lui-même voulait noyer cet instant. Des trombes d’eau s’abattirent sur le porche, fouettant le pavé, rebondissant sur les marches de pierre. Une bourrasque glacée s’engouffra sous l’auvent et fit voler les pans du manteau d’Elena. Elle ne répondit pas."Anda yakin akan melakukan itu pada ayah keempat anak ibu?""Iya, kenapa aku harus ragu? saat ia mengelabuiku, aku sama sekali tidak mencurigainya. Aku percaya dan yakin bahwa dia akan menjaga kami semua, termasuk perusahaan dan karyawan yang bekerja. Dia sudah merugikan dan menipu. Kukira aku mengalami kemerosotan penjualan ternyata aku sedang ditipu oleh suamiku sendiri, aku terpaksa memangkas gaji karyawan dan melakukan hal-hal yang tidak terduga, jadi aku tidak akan mengampuni Alfian.""Tolong netralisir perasaan benci Anda karena kehilapan dia berselingkuh ini juga tentang perusahaan dan reputasi anda, orang-orang membicarakan anda sebagai wanita yang tidak bijaksana."Aku langsung berdiri begitu pengacara itu berkata dengan lancang."Beraninya kau mempertanyakan kebijaksanaanku, apapun keputusan yang kuambil sudah kupikirkan dengan detail, Aku tidak akan mengampuni lelaki itu dan kemanapun ia melangkah untuk coba lari dari tanggung jawab, maka aku akan mengejar dan tidak aka
Hasil tes laboratorium benar-benar mengejutkanku, di dalam keadaan yang sudah susah bertambah-tambah dan begitu besar usahaku untuk lepas dari Alfian, kini aku seakan disambar petir mendengar kenyataan bahwa sakit yang selama ini kutakuti telah menjangkiti diri ini.Ya, kanker vagina!Aku begitu shock begitu dokter mengatakan hal itu kepadaku, meski dia mengatakannya dengan lembut dan tetap berusaha untuk menguatkan hatiku bahwa semuanya masih bisa ditangani, tetap saja itu membuatku langsung putus asa dan drop."Kami akan segera lakukan biopsi dan radiotherapi, jangan takut, banyak kok orang-orang yang bisa survive dari kanker terlebih Anda baru berada stadium awal.""Tapi kenapa ini bisa terjadi dok, kenapa bisa secepat ini, kenapa penyakit itu bisa menjangkiti saya?""Maka hanya hal ini yang bisa saya sampaikan Mbak, bahwa tidaklah Tuhan menurunkan penyakit kecuali dengan obatnya, juga setiap kali kita diberi ujian, Tuhan tahu bahwa kita bisa melewatinya.""Saya takut dok, Saya
Aku tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhku selama memutuskan berpisah dengan mas Alfian. Apakah ini respon hati secara alamiah tiba-tiba mengalami kesepian? Ataukah siklus menstruasi yang terganggu dan frekuensi hubungan seks yang sudah jarang membuat diri ini sering pusing dan merasa tidak nyaman sendiri. Entahlah, tapi belakangan berat badanku turun dan rambut ini mulai rontok setiap kali mandi. Aku terkejut setiap kali menyisir rambutku dan tidak menyangka bahwa perubahan ini sangat signifikan.Kupikir setelah usai operasi dan luka kering semuanya akan selesai, tapi entah kenapa aku sering mengalami flek dan pendarahan juga nyeri yang tak tertahankan pada bagian kewanitaan padahal tidak seharusnya itu terjadi. Aku juga sering pusing, mual dan merasa lemah otot, tubuhku juga sakit semua, kadang pandangan mata ini berkunang-kunang dan tiba-tiba saja aku merasa drop.Menyadari semua ini, maka aku memutuskan untuk segera mengunjungi dokter untuk berkonsultasi.*Setelah pulang dari
"Dengar Sayang, papa itu membuat kesalahan dan kesalahannya sudah sampai ke tahap kejahatan, Papa merugikan aset perusahaan di mana itu bukan uang mama secara pribadi. Itu uang milik orang lain dan titipan korporasi, tidak kita tidak boleh korupsi, mencuri atau menggelapkan.""Jadi papa mencuri?""Secara tersirat... begitulah.""Masak sih papa mencuri, bukankah selama ini Papa selalu mengajarkan kita yang baik-baik? Kenapa Papa mencuri?""Ada beberapa hal yang sulit untuk dimengerti dan hanya orang-orang dewasa saja yang tahu apa maksud kehendak dan keputusan mereka.""Jadi Mama tidak mengerti Kalau Papa seperti itu?""Tidak.""Tapi mama kan istrinya?""Memang betul mama istrinya, tapi, tidak semua hal yang Papa lakukan diceritakan pada mama.""Ya ampun, kasihan sekali Papa," ujar Malik mendesah sambil menepuk keningnya."Papa pasti akan membereskan semua masalah ini dan kembali menemui kalian.""Emangnya kalau Papa sudah membersihkan semua kesalahannya dan bertaubat Mama mau kembali
Sebenarnya aku tidak ingin pergi ke acara jamuan makan itu karena aku punya tugas untuk mendesain ruangan sebuah apartemen milik klienku.Mungkin aku berusaha membantu Mbak Gaida meski aku tak jarang meluangkan waktu dan meninggalkan pekerjaan. Bagiku menjaga hubungan pertemanan dan keakraban sungguh
Sudah dua tahun hubungan kami, tapi Mas Alfian belum kunjung menunjukkan keinginannya untuk melamarku. Ya, dia tidak mungkin melakukannya karena kesepakatan Kami adalah melanjutkan hubungan seperti ini saja tanpa pernah terungkap ke publik apalagi sampai dibawa ke jenjang pernikahan.Kata orang, H
"Kemarilah ...." aku langsung mendekap wanita itu ke dalam pelukanku, sementara ia semakin tergugu di bahu ini dengan pilu.Aku mengerti sekali bagaimana dilema perasaan yang sedang dialami wanita itu. Ia pasti sangat jatuh cinta dengan kekasih kebanggaannya di mana ia selalu menceritakan hal baik
Aku sama sekali tidak curiga padanya, aku percaya bahwa Miranda adalah gadis yang baik, dia sopan dan tahu diri. Sejak bergaul dengannya aku jadi merasa punya teman yang benar-benar mengerti perasaanku, aku sering mengajaknya curhat dan dia merupakan pendengar yang baik, ia selalu memberiku solusi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore