Teilen

Bab 109

last update Veröffentlichungsdatum: 15.08.2026 23:44:37

"Hei, Babe. Kamu harus bangun," bisik Leonard.

"Biarkan aku tidur dulu." Karin menarik selimut sampai batas kepala, ia tidak mau diganggu.

"Sudah waktunya makan malam." Leonard menarik selimut itu. "Ayo, Sayang. Jangan biarkan kedua tuan muda berengsek itu mengeluh karena aku tidak bisa mengurusmu. Semua sudah siap, kamu harus ikut denganku."

"Ikut ke mana?" Mata Karin terbuka lebar.

"Dinner gala."

"Apa itu?" Karin sungguh tidak mengerti, tetapi rasanya kata-kata itu pernah ia dengar.

"Maka
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (1)
goodnovel comment avatar
Dinda Santika
Ama dewa aja GK sih karin
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 109

    "Hei, Babe. Kamu harus bangun," bisik Leonard. "Biarkan aku tidur dulu." Karin menarik selimut sampai batas kepala, ia tidak mau diganggu. "Sudah waktunya makan malam." Leonard menarik selimut itu. "Ayo, Sayang. Jangan biarkan kedua tuan muda berengsek itu mengeluh karena aku tidak bisa mengurusmu. Semua sudah siap, kamu harus ikut denganku.""Ikut ke mana?" Mata Karin terbuka lebar. "Dinner gala.""Apa itu?" Karin sungguh tidak mengerti, tetapi rasanya kata-kata itu pernah ia dengar. "Makan malam bersama orang-orang penting. Temani aku, kita ke pesta.""Pesta?" Mulut Karin berucap pelan. Ia menggeleng cepat. "Aku tidak mau. I-Itu sangat memalukan. Aku belum pernah pergi ke pesta manapun. Perayaan orang kaya pasti berbeda." Jangankan perayaan yang diselenggarakan orang kaya, orang biasa saja belum tentu Karin bisa ikut serta di dalamnya. "Kamu bilang ingin menjadi wanita berkelas. Justru itu kamu harus pergi ke tempat-tempat berkelas. Temani aku ya, Sayang," ucap Leonard. "Ta-Ta

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 108

    Karin kira Leonard akan marah karena black card-nya dipakai, tetapi siapa sangka belanjaan ini malah dianggap kurang. Karin hitung total semua belanjaannya bernilai seratus juta, dan ia merasa takut karena mengeluarkan uang segitu banyaknya. Karin tidak ingin terlalu nyaman dengan uang orang lain. "Nanti aku akan belanja lagi. Duduklah dulu, aku ingin bicara tentang sesuatu," ucap Karin. "Katakan saja, Sayang. Kamu mau belanja sebanyak apa pun aku mampu membayarnya. Tenang saja, uangku banyak." Leonard mengedipkan sebelah matanya. "Bukan itu." Karin gugup mengatakannya, tetapi ia butuh seseorang yang bisa membantunya berubah. "Pendidikanku tidak tinggi, dan aku berniat untuk belajar kembali.""Kamu mau sekolah lagi?Karin menggeleng cepat. "Bukan yang seperti itu. Maksudku seperti belajar dengan bebas.""Belajar dengan bebas?" Leonard berpikir. "Oh, maksudmu seperti belajar secara pribadi?" "Ya, aku ingin menjadi seorang wanita berkelas. Maksudku ... aku ingin belajar apa saja." K

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 107

    "Wa-Wanita ini punya black card." Pelayan yang menghina Karin ini tiba-tiba merasa bersalah karena sempat menghina. "Hai, namaku Mia." Wanita muda ini mengulurkan tangan. "Karin.""Kamu mau beli tas juga?"Karin mengangguk. "Ya, tapi pelayan ini menolakku. Kurasa aku harus merelakan tas yang kuincar.""No-Nona, maafkan saya. Nona mau tas yang mana, biar saya ambilkan.""Aku mau ... .""Tunggu!" Mia memotong ucapan lawan bicaranya, lalu menarik Karin ke sisinya. "Kamu sungguh mau beli tas itu?""Ya, ada masalah?""Tadi dia menghinamu. Jangan beri dia muka, kamu harus membalasnya.""Hah?" Karin terperangah mendengarnya. "Jika kamu mau tas, aku bisa tunjukkan barang bagus. Tenang saja, aku punya kartu member di toko yang menjual barang mewah. Kita hanya perlu memberi pelayan itu pelajaran agar tidak semena-mena pada pelanggan.""Ta-Tapi ... .""Ikuti saja caraku." Mia menggandeng lengan Karin. "Perlihatkan kami koleksi terbaru dari toko ini, termasuk tas tangan yang tadi teman baruku

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 106

    "Bisa-bisanya pria jelek itu mencampakkan Karin kita," ucap Leonard. "Aku kira dia sangat tampan sampai Karin tergila-gila dan menolak kita. Rupanya hanya segitu saja. Aku yakin bisa merebut perhatian Karin," tukas Damian. "Dia lumayan manis. Jika Teguh terlahir dari sendok emas, dia juga terlihat tampan." Dewa menimpali. "Oh, apa kamu baru saja membelanya?" tanya Damian. "Dulu aku heran kenapa Karin tidak mau menjadi simpananku, padahal kami sudah berbagi segalanya. Aku bisa memberikan dia kehidupan yang sangat layak, tetapi dia tetap menolak dan memilih Teguh. Saat itu, aku memohon agar dia tinggal, tetapi cintanya tetap bersama pria itu." Dewa menunduk, merasa tidak percaya diri. Damian tertawa, Leonard berdeham, ia tidak mau ikut-ikutan menertawakan penderitaan Dewa yang ditolak Karin. Seorang pemimpin perusahaan yang sudah mendunia kalah dari seorang pengawas bangunan. Bila dilihat memang sangat mustahil, tetapi itulah cinta. Tidak bisa dipaksakan, dan kadang cinta itu buta.

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 105

    Pada akhirnya, Karin menyetujui permintaan Teguh yang ingin bertemu dengannya. Awalnya Teguh menginginkan istrinya pulang ke rumah sewa, tetapi Karin menolak. Menurutnya ia sudah melepas pria yang berstatus suami itu, dan sedapat mungkin menjaga jarak. Jadi, diputuskan pertemuan ini diadakan di restoran saja. Suka atau tidak, Karin sudah memilih tempatnya. Karin memilih meja yang tidak jauh dari jendela agar ia bisa melihat pemandangan luar sembari menunggu Teguh yang katanya akan segera datang. Luka akibat cipratan air keras itu sudah tidak sakit lagi, tetapi tetap butuh perawatan. Pagi setelah Damian pulang, Karin kembali mengoleskan salep untuk meredakan luka agar segera tertutup. Karin juga tidak memberitahu pria itu tentang tempat pertemuan ini, dan bagusnya Damian tidak bertanya hal-hal lain mengenai Teguh. "Dari mana kamu tahu Karin berada di restoran ini?" bisik Leonard. "Shuttt ... pelankan suaramu. Aku sengaja melihat ponselnya ketika dia sedang mandi. Aku sengaja pulang

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 104

    "Saudara Teguh, silakan duduk." Adam menunjukan senyum bersahabat agar Teguh juga merasa nyaman bicara dengannya. Mengurus perceraian tentu melibatkan emosi. Adam ingin pembicaraan ini berjalan dengan lancar. "Saya pengacara Nona Karin, dan seperti yang sudah Anda ketahui tentunya, beliau memutuskan ingin bercerai karena tidak ada kecocokkan di antara satu sama lain. Beliau berharap masalah ini tidak berlarut-larut dan secepatnya selesai. Anda diharapkan bekerja sama dengan baik." Adam menjeda perkataannya dulu sembari mengamati Teguh. Lalu melanjutkan lagi kalimatnya. "Tidak ada yang diinginkan oleh Nona Karin karena tidak ada harta selama pernikahan. Beliau juga merelakan rumah yang Anda beli dengan uangnya. Hanya satu saja yang Nona Karin minta, yaitu jangan libatkan dia lagi dalam soal hutang piutang."Ucapan pengacara ini sangat jelas, dan Teguh tahu apa maksudnya. Sayang sekali ia tidak berniat untuk berpisah dari istri tercintanya itu. Karin tetap istrinya sampai kapan pun itu

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status