LOGINGemerincing lampu kristal Swarovski asli—yang diimpor langsung atas titah Marx Vance—memantulkan ribuan bianglala kecil di seluruh penjuru ballroom VVIP hotel bintang enam tersebut. Malam itu, Jakarta seolah berhenti berputar, memusatkan seluruh poros kemewahannya pada satu titik altar pualam putih.
Penyatuan dua kerajaan ini menciptakan pemandangan tamu undangan yang luar biasa absurd namun megah:Sektor Kiri: Menteri Perekonomian, para duta besar, dan deretan konglomerat yang sibTiga tahun berlalu bagai kedipan mata. Aria Vance kini telah tumbuh menjadi balita berusia tiga tahun yang luar biasa aktif, cerdas, dan tentu saja—mewarisi kombinasi genetik yang sangat mematikan dari kedua orang tuanya. Ia memiliki mata elang setajam milik Marvin, namun dibingkai dengan senyum semanis Jihan.Satu hal yang paling membuat kedua kakeknya pusing tujuh keliling: Aria ternyata sama sekali tidak tertarik pada kemewahan.Siang itu, Pak Darmawan tiba di townhouse Jihan dengan kening berkerut. Di belakangnya, dua asisten membawakan tutu balet berbahan sutra asli dari Paris dan sepatu balet custom-made. Hari ini adalah jadwal Aria memulai kelas balet perdananya di studio eksklusif yang—tentu saja—sudah dibeli lunas oleh Pak Darmawan."Jihan! Di mana cucu Papa?" panggil Pak Darmawan saat melangkah masuk ke ruang tengah.Jihan, yang sedang melukis di sudut ruangan dengan celemek penuh noda cat, menoleh dan tersenyum kikuk. "Eh, Papa... Aria lagi... um... m
Aria Vance baru berusia dua minggu, tetapi bayi mungil itu sudah berhasil melumpuhkan dua pria paling berbahaya dan paling kaku di Jakarta tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.Kamar bayi di townhouse Jihan dan Marvin kini terlihat seperti gabungan antara galeri kemewahan kerajaan dan markas komando taktis. Di satu sudut, Pak Darmawan sibuk mengawasi pemasangan sistem filtrasi udara tingkat medis dan meletakkan miniatur gedung pencakar langit bertuliskan nama cucunya. Di sudut lain, Marx Vance sedang berdebat serius dengan Carlo tentang jenis bahan kain paling aman dan lembut yang cocok dijadikan selimut sang cucu."Dia cucuku, Vance! Dia harus belajar tentang analisis pasar dan strategi investasi sejak dini!" seru Pak Darmawan seraya menata buku-buku dongeng berbahasa Prancis di rak kayu mahal."Cucuku akan belajar cara memegang kemudi helikopter sebelum dia bisa berjalan!" balas Marx tak mau kalah, memoles sepatu bayi edisi terbatas buatan perajin Italia.
Kehamilan Jihan kini telah memasuki bulan ketujuh. Perutnya yang semakin membesar berbanding lurus dengan tingkat kepanikan eksponensial dari dua keluarga raksasa yang menaungi mereka. Di rumah townhouse kecil mereka, Marvin harus bekerja keras menerapkan aturan ketat untuk membendung arus "bantuan" berlebihan dari luar.Tabel Persaingan Para Calon KakekDemi menyambut sang cucu pertama, kedua ayah mereka seolah berlomba memecahkan rekor pengeluaran yang tidak masuk akal:Sosok KakekPersiapan Paling AbsurdReaksi MarvinMarx VanceMembeli peternakan sapi perah di Selandia Baru hanya agar asupan susu Jihan selalu segar.Mematikan ponselnya selama dua hari.Pak DarmawanMembeli rumah tetangga sebelah, merobohkannya, lalu membangun taman bermain indoor yang diklaim 100% steril.Memijat pelipis menahan sakit kepala.Protokol Keamanan Tingkat DewaTingkah laku para pengawal bayangan juga tidak kalah luar biasa. Tanpa sepengetahuan Jihan, rutinitas mereka telah diubah
Bulan madu eksotis di Karibia telah usai, digantikan oleh realitas aspal panas Jalan Sudirman dan deru klakson ibu kota. Membawa status baru sebagai sepasang suami istri—dan pewaris sah kerajaan bisnis raksasa serta dunia bawah—Jihan dan Marvin memilih rutinitas yang jauh dari ekspektasi publik.Dinamika Nyonya Bos di Serambi PulangKafe milik Jihan kini semakin ramai. Gadis itu tetap sibuk di balik mesin espresso dan oven pastry, namun ada beberapa perubahan "kecil" sejak ia resmi menyandang nama belakang Vance:Pemasok Misterius: Biji kopi langka kualitas grand cru dari Kolombia tiba-tiba dikirim rutin setiap minggu. Pengirimnya? Tulisan di boks hanya menyebutkan "Kolega Ayah Mertua".Penjagaan Tak Kasat Mata: Tiga pria berjas rapi pimpinan Carlo selalu duduk di sudut kafe setiap hari. Mereka hanya memesan satu espresso selama delapan jam penuh demi memastikan tidak ada pelanggan yang berani komplain dengan nada tinggi kepada Jihan.Fasilitas Ekstra: Selur
Gemerincing lampu kristal Swarovski asli—yang diimpor langsung atas titah Marx Vance—memantulkan ribuan bianglala kecil di seluruh penjuru ballroom VVIP hotel bintang enam tersebut. Malam itu, Jakarta seolah berhenti berputar, memusatkan seluruh poros kemewahannya pada satu titik altar pualam putih.Penyatuan dua kerajaan ini menciptakan pemandangan tamu undangan yang luar biasa absurd namun megah:Sektor Kiri: Menteri Perekonomian, para duta besar, dan deretan konglomerat yang sibuk memuji dekorasi ribuan mawar putih dari Ekuador.Sektor Kanan: Bos-bos kartel, petinggi La Cosa Nostra dari Sisilia, dan Carlo sang bodyguard yang menahan tangis haru di balik kacamata hitamnya.Di ujung altar, Marvin Alexander berdiri dengan napas tertahan. Ia tampak mematikan sekaligus menawan dalam balutan tuksedo Tom Ford hitam pekat. Tidak ada lagi sisa-sisa montir berjaket kulit; malam itu, sang Pangeran Kegelapan akhirnya menerima mahkotanya. Marx Vance, yang duduk di baris t
Jika Jihan dan Marvin berpikir mereka bisa merencanakan pernikahan taman yang sederhana dengan dihadiri lima puluh orang terdekat, maka mereka jelas lupa siapa nama belakang yang mengalir di nadi mereka.Menyatukan keluarga Darmawan—raksasa konglomerasi properti Jakarta—dan keluarga Vance—penguasa mutlak dunia bawah—dalam sebuah kepanitiaan pernikahan, sama saja dengan menyatukan kembang api dan dinamit di dalam satu ruang tertutup. Ledakannya sudah pasti megah, namun kerusakannya tidak bisa diprediksi.Siang itu, di ballroom VVIP sebuah hotel bintang enam di pusat kota, pertemuan technical meeting pernikahan digelar.Seorang Wedding Organizer kelas atas yang biasa menangani pernikahan keluarga kerajaan Asia, tampak berdiri dengan lutut bergetar di ujung meja bundar raksasa. Di sisi kanan meja, Ayah Jihan duduk didampingi tiga asisten pribadinya yang sibuk mencatat. Di sisi kiri, Marx Vance duduk bersandar dengan gaya arogan khas seorang mafia, didampingi Carlo sang







