LOGINSejak kelas 10, Alana diam-diam menyukai Alfa Raynard—kakak kelasnya yang dingin, pintar, dan tak terjangkau. Alfa hanya pernah punya satu mantan, dan sejak putus, ia semakin tertutup. Alana tahu perasaannya sepihak. Tapi ketika takdir mulai mempertemukan mereka dalam kebetulan-kebetulan kecil, ia mulai bertanya-tanya: apakah perasaannya benar-benar tak terlihat, atau Alfa sebenarnya menyadarinya?
View MorePagi itu, langit di atas sekolah membentang seperti kanvas biru muda yang bersih, dihiasi sapuan awan putih tipis yang melayang lambat diterpa angin seraya menyapa awal pekan. Udara pagi bertiup sejuk menyusuri lorong-lorong sekolah, membawa serta wangi tanah basah sisa gerimis semalam yang berpadu dengan aroma dedaunan segar dari taman tengah. Namun, di antara rutinitas sekolah yang biasanya bergulir monoton, ada sebuah riak perbedaan yang begitu kentara di sepanjang koridor utama.Sebuah kepastian baru telah mengakar dengan kokoh.Di depan gerbang utama, motor hitam besar milik Alfa berhenti dengan halus. Suara deru mesinnya yang gahar mereda, berganti hening singkat sewaktu Alfa melepas helm dan merapikan rambut hitamnya. Hari ini, cowok yang biasanya melangkah terburu-buru dengan raut dingin dan sepasang mata yang enggan menyapa siapa pun itu memilih tetap berdiri di samping motornya. Ia menunggu dengan ketenangan yang langka, memperhatikan Alana yang sedang me
Langit sore meredup begitu cepat, membiarkan jelaga abu-abu menggantung rendah di atas gedung-gedung sekolah yang mulai sepi. Angin dingin meniup ranting-ranting pohon di halaman, menyisakan desir halus yang berbaur dengan derap langkah Alana di koridor. Di luar pintu kelasnya, Alfa berdiri bersandar pada dinding marmer. Cowok itu mengenakan jaket hitam kesayangannya, berdiri dengan posisi kaku dan tatapan tajam yang langsung mengunci kehadiran Alana—sebuah tatapan yang menyisakan desakan gelisah dan kepanikan terselubung."Ada yang mau gue omongin," kata Alfa begitu Alana melangkah melewati ambang pintu. Suaranya terdengar rendah dan bergetar tipis, memecah keheningan koridor. "Di ruang OSIS. Sekarang."Alana menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuh perlahan, menatap Alfa lurus-lurus. Tidak ada lagi pendar cemas atau jemari gementar yang dulu biasa menghampirinya tiap kali berhadapan dengan cowok itu. Yang tersisa di dalam manik mata Alana kini hanyalah ketenangan dingin yang dilapi
Dua minggu sejak hari di mana Alfa secara terbuka mulai mengekor di sekitarnya, Alana masih harus membiasakan diri dengan atmosfer baru di sekolah. Menjadi seseorang yang selalu berada dalam jangkauan radar seorang Alfa Raynard berarti harus bersiap menerima sorot mata penasaran dari seisi koridor, bisik-bisik yang tak kunjung padam, dan spekulasi dari siswa-siswi.Namun, yang paling melelahkan bagi Alana bukanlah tatapan orang lain, melainkan garis kabur yang sengaja diciptakan oleh Alfa. Cowok itu selalu hadir dengan ketegasan yang nyata—melarangnya dekat dengan Darel, mengantarnya pulang, hingga menatapnya seolah Alana adalah satu-satunya objek yang berarti. Tapi di atas semua gestur posesif itu, tidak ada satu kata pun yang menegaskan apa arti kehadiran Alana dalam hidupnya.Dan kedatangan Kirana siang itu menjadi martil yang menghancurkan pondasi rapuh yang selama ini dicoba Alana pertahankan.***Suasana ruang OSIS siang itu terasa lebih riuh dan formal dari biasanya. Rapat eval
Malam itu, hening di dalam mobil Alfa terasa begitu berbeda dari malam-malam sebelumnya. Tidak ada lagi keheningan yang menyesakkan, ketegangan yang penuh tanda tanya, atau batasan dingin yang menyiksa. Yang tersisa hanyalah ruang tenang yang dipenuhi kehangatan sisa jemari Alfa yang baru saja melepaskan punggung tangan Alana.Alana menatap lurus ke depan melalui kaca mobil yang agak berkabut, berusaha keras meredakan degup jantungnya yang belum juga kembali normal. Di sampingnya, Alfa telah kembali memegang kendali setir. Garis wajah cowok itu tampak tenang dan fokus menatap jalanan malam yang lengang, tetapi Alana bisa melihat lirikan sekilas dari sudut matanya—seolah Alfa sedang memastikan bahwa Alana tidak lagi berniat untuk menarik diri atau berjarak darinya.Lampu-lampu jalan membiaskan cahaya keemasan yang berpendar lembut di dalam kabin mobil, menciptakan atmosfer syahdu yang membuat waktu seakan berputar lebih cepat.Ketika mobil akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumah A
Hujan telah reda, meninggalkan jejak embun di jendela dan aroma tanah basah yang masih tertinggal di udara. Matahari sore mengintip malu-malu dari balik awan, seakan ragu untuk kembali bersinar penuh.Di sudut perpustakaan yang sepi, Alana duduk dengan buku terbuka di depannya. Namun, pikirannya ti
Rapat pertama kepengurusan OSIS berjalan lebih lambat dari yang Alana harapkan. Ia tidak tahu apakah ini karena pikirannya yang terlalu penuh atau karena ruangan ini memang dipenuhi orang-orang yang terlalu sibuk dengan pikiran mereka sendiri.Ia duduk di kursinya dengan punggung tegang, tangannya
Pagi menjelma dalam pendar keemasan, menyeruak melalui tirai yang sedikit terbuka. Udara dingin masih membekas di dinding kamar, menyisakan jejak malam yang belum sepenuhnya pergi. Seperti biasa, alarm berbunyi nyaring, tetapi Alana hanya menatapnya tanpa niat untuk segera bangun.Pagi datang terla
Keesokan harinya, Alana berdiri di depan cermin kamarnya, menatap refleksi dirinya dengan tatapan kosong. Seragam putih abu-abunya sudah rapi, rambutnya dikuncir kuda seperti biasa, tapi ada sesuatu dalam matanya yang tidak bisa ia sembunyikan—keraguan.Ia menarik napas dalam-dalam. Namun, bayanga
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.