author-banner
Ine Time
Ine Time
Author

Novels by Ine Time

Kembalinya Sang Pangeran

Kembalinya Sang Pangeran

Terlahir dari seorang selir, Qing Yuwen tumbuh jauh dari istana, ditakdirkan hanya sebagai panglima perang, bukan pewaris takhta. Namun, ketika titah Kaisar memaksanya menikahi Han Jiali, mantan tunangan pangeran mahkota, Yuwen menyadari pernikahan itu hanyalah awal dari intrik yang lebih berbahaya. Dari percobaan pembunuhan hingga jebakan politik, Yuwen terpaksa menghadapi kenyataan pahit: satu-satunya cara melindungi orang-orang yang dicintainya, termasuk ibunya dan Jiali, adalah dengan merebut kekuasaan yang seharusnya tidak pernah menjadi miliknya.
Read
Chapter: Bab 155. Kembalinya Sang Pangeran.
Musim semi sudah berganti tiga kali sejak peristiwa berdarah itu. Semua orang cuma melanjutkan hidup tanpa benar-benar seutuhnya melupakan rasa sakit.Burung-burung kecil terbang rendah di atas atap paviliun, dan aroma wangi teh melati menggantung di udara. Daun-daun plum berguguran perlahan, menyentuh pelataran berlumut yang basah oleh embun kemarin. Semburat jingga menyelimuti langit sore Hangzi. Jiali meletakkan kembali surat yang sudah ia baca berulang di atas meja. Pandangannya jauh menatap ke tengah taman.Tawa malaikat kecil yang ia pikir tidak akan bisa didengar, membuatnya tersenyum.“Ceng'er! Berhentilah bermain! Kemarilah!”Sepasang mata bulat bening, penuh rasa ingin tahu menatap Jiali. Bocah lelaki itu melambaikan tangan. Pipinya tampak kemerahan. Senyum lebar tidak pernah benar-benar lepas dari wajahnya.Qing Lianceng mengenakan jubah kecil berwarna hijau muda dengan motif awan yang dijahit rapi oleh tangan Xiumei sendiri. Kaki mungilnya berlari tanpa alas di pelataran
Last Updated: 2025-08-04
Chapter: Bab 154. Akhir Dari Sepenuh Jiwa Mencintaimu.
“AAAAAAAGHH!!”Yunqin menerjang lebih dulu. Pedangnya melayang dalam ayunan panjang, liar, berbahaya tidak terarah.Yuwen menangkis. Logam beradu logam, percikan api melesat. Suara benturan keras memantul di seluruh pelataran. Yuwen mundur setengah langkah.Belum sempat menyeimbangkan diri, Yunqin sudah menyerang lagi. Kali ini lebih cepat, lebih beringas. Tebasan menyilang ke dada, tikaman rendah, lalu ayunan tinggi ke arah kepala. Semuanya dilakukan tanpa jeda.Yuwen belum punya ruang untuk menyerang balik. Ia menangkis, bertahan, mundur.“KAU AKAN MATI!” raung Yunqin, matanya merah, wajahnya nyaris kehilangan bentuk manusia karena amarah.Yuwen kembali menangkis. Sial! Satu pukulan keras membuatnya hilang keseimbangan. Tumitnya terpeleset di genangan darah yang mengering di atas batu hingga tubuhnya terhempas ke tanah.Jiali menjerit, “Yuwen!!”Yuwen menoleh dan Yunqin tidak memberikan jeda untuk keduanya berinteraksi. Ia melompat maju, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, siap me
Last Updated: 2025-08-04
Chapter: Bab 153. Mahkota Terakhir.
Langkah kaki Jiali berdentam cepat menyusuri lorong batu yang sepi. Napasnya memburu, keringat membasahi pelipis. Ia tidak berhenti. Ia yakin sudah berlari sejauh mungkin, tetapi ….“Jiali!! Berhenti!! Jangan lari dariku!!”Suara di belakangnya semakin jelas. Sekilas ia menoleh. Cukup untuk melihat sosok lelaki itu berlari menerobos lorong sempit dengan wajah penuh amarah.“Jiali! Berhenti!!”Jiali tidak akan berhenti. Sudut lorong bercabang di hadapannya. Tanpa ragu, Jiali memilih jalur ke kiri. Arah menuju gerbang utara.“Berlarilah Jiali, Yuwen ada di sana, dia di sana,” bisiknya berulang-ulang seperti mantra yang membuatnya tetap kuat.
Last Updated: 2025-08-01
Chapter: Bab 152. Pengecut Menjijikkan.
“Kau akan melarikan diri di tengah perang yang akan menghancurkan rakyatmu?"Langkah Yunqin dan Jiali terhenti. Keduanya menatap wanita yang bersandar di pilar lorong. Dia yang balas menatap dengan tangan menggenggam pedang yang ujungnya berlumur darah.“Qilan,” cicit Jiali."Apa tidak pernah ada yang memanggilmu dengan sebutan bajingan menjijikkan?"Mei Qilan berjalan mendekat. Tiap langkahnya seperti gaung nyaring di lorong batu yang kosong. Darah masih menetes dari ujung pedangnya, menggurat lantai dengan warna merah.“Kau membakar istanamu sendiri hanya karena seorang wanita?” tanyanya menunjuk Jiali dengan sorot mata, “wanita yang tidak ingin bersamamu kau masih ingin menyeretnya dalam pelarianmu? Kau bodoh atau bagaiman
Last Updated: 2025-07-31
Chapter: Bab 151. Gerbang yang Terbuka.
Di sisi utara, barisan utama pasukan Hangzi telah tiba dan bergabung bersama Yuwen. Kuda-kuda tempur meringkik liar. Feilong berdiri di garis depan, Yuwen duduk tegak di atas punggungnya. Yu Yong mendekat. “Yang Mulia, gerbang selatan berhasil didobrak pasukan Pangeran Zeming. Pasukan dari Menteri Xi serta Nona Qilan bergerak mengosongkan kota. Rakyat Anming akan dievakuasi.”“Bagus. Aku tidak akan bisa menahan amarah Zeming ketika dia melihat Yunqin, tetapi tidak boleh ada rakyat yang menjadi korban.”Kaisar Tao yang berada di barisan kedua akhirnya maju setelah mendengar ucapan Yuwen. Setengah hatinya malu karena ternyata pangeran mahkota bisa menyebabkan kekacauan ini, lalu setengahnya bangga karena anaknya yang lain masih memikirkan rakyat.“Wen’er, kau begitu memikirkan rakyat, kalau begitu, izinkan aku bicara pada penjaga gerbang. Aku masih hidup, kita tidak perlu membuang darah dari para prajurit setia Anming.”Yuwen terdiam lalu menatap ke arah puncak istana yang berdiri meg
Last Updated: 2025-07-30
Chapter: Bab 150. Kebenaran Menyerbu.
Aroma bunga sedap malam memenuhi ruangan. Di atas meja giok, beberapa kotak ukiran emas dibuka satu per satu, menampilkan perhiasan baru yang didatangkan khusus dari negeri seberang. Gelang, kalung, bahkan sisir berhias zamrud. Semua itu dipamerkan dengan harapan menyenangkan satu orang, yaitu Han Jiali.Jiali menarik napas dalam-dalam. Kemewahan yang disodorkan di hadapannya membuat dadanya sesak menahan muak.Sang kaisar tampak duduk di sebelahnya, mengamati ekspresi Jiali, berharap ada sedikit senyum di sana.“Apakah hadiah ini tidak cukup menarik hatimu?” Yunqin menyentuh gelang emas dengan ukiran naga dan phoenix. Jiali tidak menjawab, tetapi kini ia menatap Yunqin. “Apa Yang Mulia sungguh mencintai hamba?”Yunqin bangkit dari duduk kemudian menghampiri Jiali. Diraihnya tangan Jiali hingga istrinya itu terpaksa berdiri. “Tentu saja. Aku akan memberikan semuanya untukmu. Aku akan membuatmu bahagia.”Jiali menarik tangannya dari genggaman Yunqin. “Bahagia? Yang Mulia ingin hamba
Last Updated: 2025-07-29
Takdir Kedua Sang Putri Mahkota

Takdir Kedua Sang Putri Mahkota

Demi mendapatkan cinta yang tidak pernah berbalas, Li Xiwu menghancurkan kerajaannya sendiri Keluarga dan rakyatnya gugur dalam ketidakadilan. Saat pedang Pangeran Mahkota Shen Mo merenggut nyawanya, seharusnya semua berakhir. Namun, waktu justru berbalik. Xiwu terlahir kembali, tepat di hari penentuan dekret pernikahannya. Kesempatan kedua. Ia memilih menikahi Shen Mo. Pangeran mahkota yang membunuhnya di kehidupan lalu. Bukan karena cinta, melainkan untuk menghindari kehancuran yang sama. Namun, semakin ia berusaha mengubah takdir, Xiwu malah terseret pada kebenaran yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Kali ini, tidak akan ada kesempatan ketiga.
Read
Chapter: Bab 82. Malam Tanpa Jawaban.
Shen Mo duduk di anak tangga batu di tengah taman paviliun tepat di depan kamar Xiwu, punggungnya bersandar pada pilar kayu yang dingin.Malam telah larut, angin berhembus pelan membawa sisa aroma obat dari dalam ruangan yang tidak lagi ia masuki.Ia tidak bergerak sejak keluar tadi.Darah di lehernya telah mengering sebagian, meninggalkan garis gelap yang membelah kulitnya. Tidak ada upaya untuk membersihkan, apalagi membalutnya. Seolah luka itu memang pantas dibiarkan terbuka.Langkah kaki terdengar pelan dari lorong.Terhenti.Yu Hao berdiri beberapa langkah dari tangga, napasnya tertahan begitu matanya menangkap sosok Shen Mo yang duduk diam dalam bayangan. Pandangannya langsung jatuh pada luka di leher itu—garis merah yang belum sepenuhnya kering.Ia tidak langsung mendekat.Seolah sedang menimbang… apakah ia diizinkan untuk berada di sana.“Yang Mulia.”Suaranya rendah, hati-hati.
Last Updated: 2026-07-18
Chapter: Bab 81. Harga yang Harus Dibayar.
Aroma obat memenuhi ruangan, bercampur dengan sisa darah yang belum sepenuhnya hilang. Shen Mo duduk di sisi ranjang, gerakannya lebih lambat dari biasanya saat mengoleskan salep pada luka di lengan Xiwu. Jemarinya yang biasanya dingin dan pasti kini sedikit tertahan, seolah setiap sentuhan harus dipertimbangkan. Xiwu tidak bergerak. Ia tidak menatapnya, tidak pula menarik tangannya menjauh. Tatapannya kosong, jatuh pada titik yang tidak jelas di depan, seakan semua yang terjadi beberapa saat lalu masih terulang di kepalanya. Tidak ada percakapan. Hanya suara kain yang bergesekan pelan saat Shen Mo membalut lukanya dengan hati-hati, membungkusnya lapis demi lapis hingga tidak ada lagi darah yang merembes keluar. Setelah selesai, tangannya terhenti sesaat di atas perban. Ia tidak langsung menariknya. Xiwu menarik lengannya perlahan, lalu merebahkan tubuhnya kembali ke ranjang, membelakangi Shen Mo.Meskipu
Last Updated: 2026-07-18
Chapter: Bab 80. Bilah Perak dan Tetesan Darah.
Ujung pedang Shen Mo tidak bergeser sedikit pun. Tatapannya terkunci pada Shen Yuze, dingin tanpa riak, seolah yang berdiri di hadapannya bukan adiknya sendiri. “Di antara mereka semua,” ucapnya pelan, “hanya satu yang bisa melangkah ke hadapan kaisar tanpa dicurigai.” Tidak ada yang bergerak. Wei Kang masih berdiri di depan Yuze, bahunya tegang, siap menahan serangan yang mungkin terjadi. “Shan Liang dan Yu Hao adalah bayanganku. Mereka tidak punya alasan untuk dipanggil ke dalam istana dalam. Wei Kang…” Shen Mo berhenti sejenak, matanya melirik sekilas, “…bahkan tidak akan diberi kesempatan untuk berbicara.” Lalu kembali pada Yuze. “Jadi yang tersisa hanya kau.” Yuze tidak langsung menjawab. Tatapannya bertemu dengan Shen Mo, tidak menghindar, meskipun napasnya sedikit tertahan. “Aku tidak pernah—” “Kau pernah.” Shen Mo memotongnya t
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: Bab 79. Batas Kesetiaan.
Shen Mo duduk diam di balik meja kerjanya. Tatapannya jatuh pada baris-baris tulisan di atas kertas, tetapi pikirannya entah berada di mana. Kata-kata Shen Guowei terus terngiang, berputar seperti gema di lorong kosong, seakan sengaja menekan titik saraf yang selama ini ia abaikan dengan susah payah.“Aku adalah kaisar. Tidak ada satu pun gerak-gerik yang lolos dari pandanganku. Untuk mempermudah jalanmu, kau harus rela berbagi rahasia dengan ayahmu ini.”Ujung jari Shen Mo membeku di atas kertas. Hening yang menyergap ruangan itu terasa begitu pekat, seolah-olah oksigen telah habis ditarik keluar. Kalimat yang ia dengar dari bibir kaisar semalam bukan sekadar peringatan.Itu adalah pengakuan yang meneguhkan bahwa posisinya memang masih bisa dipantau orang lain atau mungkinkah ada tikus yang membocorkan semua rahasianya?Ia mengangkat pandangannya perlahan, menatap lurus ke arah Shan Liang.Shan Liang, yang berdiri dalam bayang-bayang tak jauh dari meja, tidak langsung merespons. Ali
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: Bab 78. Mundur Untuk Menang.
Lentera di Paviliun Timur menyala redup, cahayanya memantul lembut di permukaan meja kayu rendah yang telah disiapkan. Di atasnya sebuah teko porselen putih mengepulkan uap tipis. Dua cangkir teh diletakkan sejajar, rapi. Seolah pertemuan ini telah diatur jauh sebelum keduanya benar-benar duduk berhadapan. Shen Guowei sudah berada di sana. Duduk tenang, punggung tegak, satu tangannya bertumpu ringan di atas lutut. Tidak ada pengawal di dalam ruangan. Hanya keheningan yang terasa terlalu terkontrol. Shen Mo masuk tanpa suara. Langkahnya berhenti tepat di hadapan meja, ia tidak langsung duduk. Tidak ada salam panjang, tidak ada basa-basi formal darinya. Guowei meraih teko, lalu menuangkan teh perlahan ke dalam cangkir pertama. Suara cairan hangat yang menyentuh porselen terdengar jelas di ruangan yang sunyi. Cangkir itu ia dorong sedikit ke arah Shen Mo. Tidak peduli akan sikap dingin putranya. Kemudian ia menuangkan satu cangkir lagi untuk dirinya sendiri. Tangannya mantap, ti
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: Bab 77. Sandiwara di Ruang Sidang.
Aroma tinta dan kayu cendana tipis bercampur di udara. Rak-rak tinggi dipenuhi gulungan laporan dan dokumen rahasia yang tersusun rapi. Di tengah ruangan, sebuah meja kayu hitam besar berdiri. Pusat dari segala keputusan yang sepenuhnya milik Shen Mo Dibanding aula sidang yang baru saja ditinggalkannya, ruang kerja Pangeran Mahkota jauh lebih sunyi, tetapi Shen Mo merasa tidak tenang. Ganjalan di dadanya lebih berat daripada sekadar kekalahan argumen di depan para menteri. Ia menyadari betapa kuatnya cengkeraman klan Yan pada par pejabat istana. Dari sekian banyak menteri, hanya beberapa yang berpihak padanya. Di sidang tadi pun, tidak ada yang berani mengucapkan keberatan atas keputusan kaisar. Shen Mo berdiri mematung di balik meja itu. Sebuah gulungan terbuka di tangannya. Tatapannya turun perlahan, membaca setiap baris dengan ketelitian yang nyaris tanpa jeda.
Last Updated: 2026-07-16
You may also like
Manusia 30 Triliun
Manusia 30 Triliun
Romansa · Lembayung
224.8K views
Bingkisan Daster Bekas Mertua
Bingkisan Daster Bekas Mertua
Romansa · Silla Defaline
223.3K views
I Love You My Secret Daddy
I Love You My Secret Daddy
Romansa · Dianning
222.9K views
Jeratan Mantan Suami
Jeratan Mantan Suami
Romansa · Jus Pir
222.4K views
ISTRI BISU SANG CEO
ISTRI BISU SANG CEO
Romansa · aisakurachan
220.1K views
Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!
Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!
Romansa · Mas Author
219.3K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status