Chapter: Bab 165. Hati yang Salah Arah.Menjelang malam, Xiwu kembali dari Paviliun Suyin. Langkahnya melambat hingga akhirnya berhenti sepenuhnya di tengah lorong panjang yang menghubungkan kediaman utama dan istana dalam. Keheningan mulai merayap. Angin dingin berembus perlahan, menggoyangkan jajaran lampion kertas berlapis kain sutra merah yang tergantung di sepanjang atap kayu koridor. Pendar kemerahan itu membentang, memantulkan bayangan samar-samar di atas lantai batu pualam yang dingin. Dari kejauhan terdengar suara gemericik air dari kolam teratai dan sesekali suara burung yang kembali ke sarangnya. “Aku sangat yakin tidak pernah melihat perhiasan dengan motif seperti itu di Liyang. Apa benar… Yuze membelinya di Liyang?” Xiwu menunggu jawaban dari Yun Que. Namun, beberapa saat berlalu tanpa sepatah kata pun. Ia akhirnya berbalik dan menatap pelayan yang berdiri di belakangnya. “A’Que, Yuze dan Shan Liang beberapa kali pergi ke pasar raya bersamamu. Apa dia memang membeli tusuk konde itu di sana? Apa kau tahu s
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: Bab 164. Tusuk Konde Dari Liyang.Aroma teh bunga memenuhi ruangan, bercampur dengan wangi samar dupa yang baru saja padam.Suyin duduk di dekat jendela, menikmati cahaya matahari yang menembus sela-sela tirai sambil memeriksa beberapa kain sulaman yang baru dikirim dari gudang kerajaan.Di hadapannya, Qiao Xi duduk dengan sikap tenang. Tangannya sibuk menuangkan teh untuk Suyin sebelum menuangkan secangkir untuk dirinya sendiri.“Teh ini semakin lama semakin pahit,” keluh Suyin setelah menyesap sedikit.Qiao Xi tertawa kecil. “Itu karena Jiejie sudah terlalu terbiasa meminum teh yang lebih manis.”“Shen Yuze yang membawakan teh itu. Dia mengatakan rasanya sangat enak dan sangat terkenal di Liyang.”“Kalau begitu, biar teh ini untukku saja.”Suyin mendengus. “Kenapa? Yuze mengatakan kalau teh ini bagus untuk kesehatan. Dia sedang memperhatikanku.”“Tapi ini pahit.”Keduanya saling pandang sebelum tertawa kecil.Sudah lama mereka tidak duduk seperti ini tanpa membicarakan urusan negara, keluarga kerajaan, atau masalah
Last Updated: 2026-09-19
Chapter: Bab 163. Zhang Fengyin.“Kau yakin bisa menutupi tanda merah di leherku?” Xiwu berkaca pada cermin perunggu di hadapannya, jemarinya mengusap pelan kulit lehernya yang memerah. Yun Que yang berdiri di belakangnya menghentikan gerakan jemarinya yang sedang memoles bedak halus. Wajah pelayan setia itu mendadak memerah padam, mengalihkan pandangannya seraya terbatuk canggung. “Y-Yang Mulia... bedak istana ini cukup tebal,” cicit Yun Que polos, berusaha sekuat tenaga mempertahankan profesionalitasnya sebagai pelayan pribadi. “Tetapi... mungkin kita juga perlu menaikkan lipatan kerah jubah Yang Mulia sedikit lebih tinggi.” Xiwu memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas panjang. Wajahnya terasa panas bukan hanya karena rasa malu, tetapi juga karena sisa-sisa kelelahan fisik yang masih menjalar di seluruh persendiannya. Pinggangnya terasa pegal luar biasa, dan setiap kali ia mencoba bergerak agak cepat, rasa lemas di kakinya mengingatkan betapa tidak berdayanya ia di bawah dominasi Shen Mo. “Lakukan saja
Last Updated: 2026-09-13
Chapter: Bab 162. Kendalikan, Jangan Dikendalikan.Matahari baru saja naik ketika Shen Yuze melangkah terburu-buru menyusuri koridor. Namun, langkahnya mendadak terhenti beberapa meter dari pintu utama kamar Shen Mo.Di sana, Shan Liang dan Yu Hao berdiri tegak. Wajah kedua pengawal setia itu tampak tegang. Seolah-olah mereka sedang berjaga di area peperangan.Bahkan dua hari yang berlalu, terasa seperti puluhan tahun.Sejak hari pertama, suasana di sekitar kamar itu sudah menjadi bahan bisik-bisik terselubung di antara para pelayan.Keduanya tidak mengizinkan siapapun mendekati pintu kamar. Baki makanan dan nampan air minum hanya boleh diantarkan jauh dari depan pintu luar, itu pun langsung diambil oleh Shan Liang.Suara desahan yang tidak kunjung terputus, erangan rendah, serta keheningan yang sesekali disusul ketegangan dari dalam kamar Shen Mo membuat tak seorang pun perlu bertanya apa yang sedang dilakukan pasangan suami-istri itu.Yuze menghentikan langkahnya di depan Shan Liang dan Yu Hao, mengerutkan kening heran melihat raut
Last Updated: 2026-09-11
Chapter: Bab 161. Malam yang Sangat Panjang.Di sisi lain istana, kabar mengenai keputusan Kaisar Shen Guowei akhirnya sampai ke telinga Yan Qingrong. Ia berdiri di depan jendela, memandang halaman istana yang diselimuti cahaya pagi. Di belakangnya, tiga orang pejabat yang selama ini berdiri di pihak Klan Yan menunggu dengan sikap penuh hormat. Menteri Personalia Zhang Wenru, Menteri Pendapatan Liu Zheng, dan Wakil Menteri Ritus Han Qisheng. Tatapan Yan Qingrong tetap tertuju ke luar jendela ketika ia akhirnya bertanya, “Jadi, belum ada keputusan untuk mengangkat selir?” “Belum, Yang Mulia,” jawab Zhang Wenru. “Dan Kaisar masih mengizinkan para klan mengajukan nama?” “Benar,” sahut Liu Zheng. Yan Qingrong terdiam. Jemarinya perlahan mengetuk kusen jendela. Keputusan Guowei memang tidak menutup jalan bagi mereka, tetapi juga tidak memberikan kesempatan untuk segera memasukkan seorang wanita ke kediaman Putra Mahkota. Yan Qingrong tersenyum tipis. Setidaknya satu hal berjalan sesuai dugaan. Namun, senyum itu tidak bertaha
Last Updated: 2026-09-09
Chapter: Bab 160. Di Balik Siasat.Sejak matahari mulai naik di balik atap-atap istana, para pejabat yang datang untuk menghadiri sidang pagi dapat merasakan bahwa Kaisar Shen Guowei sedang menyiapkan sesuatu. Beberapa kepala klan yang sebelumnya paling keras menyuarakan persoalan penerus kerajaan telah dipanggil lebih awal. Mereka berdiri di dalam aula utama dengan sikap penuh hormat, tetapi tidak satu pun yang menyembunyikan harapan di balik tatapan mereka. Mereka datang untuk satu hal. Memastikan bahwa permintaan mereka mengenai selir untuk Putra Mahkota tidak akan kembali ditunda. Di atas singgasana, Guowei memandang seluruh pejabat yang hadir. Wajahnya tenang seperti biasa, tetapi sorot matanya membuat tidak seorang pun berani memotong pembicaraan sebelum ia selesai. Pandangannya sempat berhenti pada satu celah kosong di samping Shen Yuze. Tempat di mana seharusnya Shen Mo berdiri. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya bicara. “Beberapa hari terakhir, aku telah mendengar banyak pendapat mengenai mas
Last Updated: 2026-09-07
Kembalinya Sang Pangeran
Terlahir dari seorang selir, Qing Yuwen tumbuh jauh dari istana, ditakdirkan hanya sebagai panglima perang, bukan pewaris takhta.
Namun, ketika titah Kaisar memaksanya menikahi Han Jiali, mantan tunangan pangeran mahkota, Yuwen menyadari pernikahan itu hanyalah awal dari intrik yang lebih berbahaya.
Dari percobaan pembunuhan hingga jebakan politik, Yuwen terpaksa menghadapi kenyataan pahit: satu-satunya cara melindungi orang-orang yang dicintainya, termasuk ibunya dan Jiali, adalah dengan merebut kekuasaan yang seharusnya tidak pernah menjadi miliknya.
Read
Chapter: Bab 155. Kembalinya Sang Pangeran.Musim semi sudah berganti tiga kali sejak peristiwa berdarah itu. Semua orang cuma melanjutkan hidup tanpa benar-benar seutuhnya melupakan rasa sakit.Burung-burung kecil terbang rendah di atas atap paviliun, dan aroma wangi teh melati menggantung di udara. Daun-daun plum berguguran perlahan, menyentuh pelataran berlumut yang basah oleh embun kemarin. Semburat jingga menyelimuti langit sore Hangzi. Jiali meletakkan kembali surat yang sudah ia baca berulang di atas meja. Pandangannya jauh menatap ke tengah taman.Tawa malaikat kecil yang ia pikir tidak akan bisa didengar, membuatnya tersenyum.“Ceng'er! Berhentilah bermain! Kemarilah!”Sepasang mata bulat bening, penuh rasa ingin tahu menatap Jiali. Bocah lelaki itu melambaikan tangan. Pipinya tampak kemerahan. Senyum lebar tidak pernah benar-benar lepas dari wajahnya.Qing Lianceng mengenakan jubah kecil berwarna hijau muda dengan motif awan yang dijahit rapi oleh tangan Xiumei sendiri. Kaki mungilnya berlari tanpa alas di pelataran
Last Updated: 2025-08-04
Chapter: Bab 154. Akhir Dari Sepenuh Jiwa Mencintaimu.“AAAAAAAGHH!!”Yunqin menerjang lebih dulu. Pedangnya melayang dalam ayunan panjang, liar, berbahaya tidak terarah.Yuwen menangkis. Logam beradu logam, percikan api melesat. Suara benturan keras memantul di seluruh pelataran. Yuwen mundur setengah langkah.Belum sempat menyeimbangkan diri, Yunqin sudah menyerang lagi. Kali ini lebih cepat, lebih beringas. Tebasan menyilang ke dada, tikaman rendah, lalu ayunan tinggi ke arah kepala. Semuanya dilakukan tanpa jeda.Yuwen belum punya ruang untuk menyerang balik. Ia menangkis, bertahan, mundur.“KAU AKAN MATI!” raung Yunqin, matanya merah, wajahnya nyaris kehilangan bentuk manusia karena amarah.Yuwen kembali menangkis. Sial! Satu pukulan keras membuatnya hilang keseimbangan. Tumitnya terpeleset di genangan darah yang mengering di atas batu hingga tubuhnya terhempas ke tanah.Jiali menjerit, “Yuwen!!”Yuwen menoleh dan Yunqin tidak memberikan jeda untuk keduanya berinteraksi. Ia melompat maju, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, siap me
Last Updated: 2025-08-04
Chapter: Bab 153. Mahkota Terakhir.Langkah kaki Jiali berdentam cepat menyusuri lorong batu yang sepi. Napasnya memburu, keringat membasahi pelipis. Ia tidak berhenti. Ia yakin sudah berlari sejauh mungkin, tetapi ….“Jiali!! Berhenti!! Jangan lari dariku!!”Suara di belakangnya semakin jelas. Sekilas ia menoleh. Cukup untuk melihat sosok lelaki itu berlari menerobos lorong sempit dengan wajah penuh amarah.“Jiali! Berhenti!!”Jiali tidak akan berhenti. Sudut lorong bercabang di hadapannya. Tanpa ragu, Jiali memilih jalur ke kiri. Arah menuju gerbang utara.“Berlarilah Jiali, Yuwen ada di sana, dia di sana,” bisiknya berulang-ulang seperti mantra yang membuatnya tetap kuat.
Last Updated: 2025-08-01
Chapter: Bab 152. Pengecut Menjijikkan.“Kau akan melarikan diri di tengah perang yang akan menghancurkan rakyatmu?"Langkah Yunqin dan Jiali terhenti. Keduanya menatap wanita yang bersandar di pilar lorong. Dia yang balas menatap dengan tangan menggenggam pedang yang ujungnya berlumur darah.“Qilan,” cicit Jiali."Apa tidak pernah ada yang memanggilmu dengan sebutan bajingan menjijikkan?"Mei Qilan berjalan mendekat. Tiap langkahnya seperti gaung nyaring di lorong batu yang kosong. Darah masih menetes dari ujung pedangnya, menggurat lantai dengan warna merah.“Kau membakar istanamu sendiri hanya karena seorang wanita?” tanyanya menunjuk Jiali dengan sorot mata, “wanita yang tidak ingin bersamamu kau masih ingin menyeretnya dalam pelarianmu? Kau bodoh atau bagaiman
Last Updated: 2025-07-31
Chapter: Bab 151. Gerbang yang Terbuka.Di sisi utara, barisan utama pasukan Hangzi telah tiba dan bergabung bersama Yuwen. Kuda-kuda tempur meringkik liar. Feilong berdiri di garis depan, Yuwen duduk tegak di atas punggungnya. Yu Yong mendekat. “Yang Mulia, gerbang selatan berhasil didobrak pasukan Pangeran Zeming. Pasukan dari Menteri Xi serta Nona Qilan bergerak mengosongkan kota. Rakyat Anming akan dievakuasi.”“Bagus. Aku tidak akan bisa menahan amarah Zeming ketika dia melihat Yunqin, tetapi tidak boleh ada rakyat yang menjadi korban.”Kaisar Tao yang berada di barisan kedua akhirnya maju setelah mendengar ucapan Yuwen. Setengah hatinya malu karena ternyata pangeran mahkota bisa menyebabkan kekacauan ini, lalu setengahnya bangga karena anaknya yang lain masih memikirkan rakyat.“Wen’er, kau begitu memikirkan rakyat, kalau begitu, izinkan aku bicara pada penjaga gerbang. Aku masih hidup, kita tidak perlu membuang darah dari para prajurit setia Anming.”Yuwen terdiam lalu menatap ke arah puncak istana yang berdiri meg
Last Updated: 2025-07-30
Chapter: Bab 150. Kebenaran Menyerbu.Aroma bunga sedap malam memenuhi ruangan. Di atas meja giok, beberapa kotak ukiran emas dibuka satu per satu, menampilkan perhiasan baru yang didatangkan khusus dari negeri seberang. Gelang, kalung, bahkan sisir berhias zamrud. Semua itu dipamerkan dengan harapan menyenangkan satu orang, yaitu Han Jiali.Jiali menarik napas dalam-dalam. Kemewahan yang disodorkan di hadapannya membuat dadanya sesak menahan muak.Sang kaisar tampak duduk di sebelahnya, mengamati ekspresi Jiali, berharap ada sedikit senyum di sana.“Apakah hadiah ini tidak cukup menarik hatimu?” Yunqin menyentuh gelang emas dengan ukiran naga dan phoenix. Jiali tidak menjawab, tetapi kini ia menatap Yunqin. “Apa Yang Mulia sungguh mencintai hamba?”Yunqin bangkit dari duduk kemudian menghampiri Jiali. Diraihnya tangan Jiali hingga istrinya itu terpaksa berdiri. “Tentu saja. Aku akan memberikan semuanya untukmu. Aku akan membuatmu bahagia.”Jiali menarik tangannya dari genggaman Yunqin. “Bahagia? Yang Mulia ingin hamba
Last Updated: 2025-07-29