author-banner
Ine Time
Ine Time
Author

Novels by Ine Time

Takdir Kedua Sang Putri Mahkota

Takdir Kedua Sang Putri Mahkota

Demi mendapatkan cinta yang tidak pernah berbalas, Li Xiwu menghancurkan kerajaannya sendiri Keluarga dan rakyatnya gugur dalam ketidakadilan. Saat pedang Pangeran Mahkota Shen Mo merenggut nyawanya, seharusnya semua berakhir. Namun, waktu justru berbalik. Xiwu terlahir kembali, tepat di hari penentuan dekret pernikahannya. Kesempatan kedua. Ia memilih menikahi Shen Mo. Pangeran mahkota yang membunuhnya di kehidupan lalu. Bukan karena cinta, melainkan untuk menghindari kehancuran yang sama. Namun, semakin ia berusaha mengubah takdir, Xiwu malah terseret pada kebenaran yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Kali ini, tidak akan ada kesempatan ketiga.
Read
Chapter: Bab 154. Jika Memiliki Kekuasaan.
Jemarinya gemetar ketika akhirnya Roulan membuka gulungan kertas yang ditinggalkan Gu Ning.Jantungnya seakan berhenti berdetak ketika menatap potret wajah yang terlukis indah di atas kertas tersebut.“Li… Xiwu,” gumamnya nyaris tidak terdengar.Roulan mengusap tepian kertas yang terasa agak lusuh. Ada bekas lipatan halus di beberapa bagian, sementara permukaan kertas di sekitar lukisan tampak sedikit lebih kusam daripada bagian lainnya.Seolah-olah potret itu bukan sekadar lukisan yang disimpan di dalam sebuah gulungan.Seseorang telah berkali-kali menyentuhnya dan Roulan tahu persis siapa orang itu.Gu Han.Roulan menahan napas. Pandangannya tidak beranjak dari wajah Xiwu yang terlukis indah di hadapannya.Guratan pada lukisan itu begitu halus. Hampir menyerupai wajah aslinya. Senyum tipis yang menghiasi bibir Xiwu, sorot mata lembut, bahkan helaian rambut yang jatuh di sisi pipinya digambarkan dengan begitu teliti.Terlalu indah untuk sebuah lukisan yang dibuat tanpa alasan.Roulan
Last Updated: 2026-08-31
Chapter: Bab 153. Sebuah Peringatan.
“Lukanya sudah kering. Kenapa kau terus memaksaku menggunakan salep itu lagi?”​“Yang Mulia, salep yang ini berbeda dengan salep sebelumnya. Salep ini khusus untuk menghilangkan bekas lukanya,” sahut Yun Que telaten, makin mendekatkan wajah demi mengoleskan tipis-tipis salep di kulit pipi Yuze.Makin Yuze berusaha mengalihkan pandangan dari wajah Yun Que yang kini terpaut begitu dekat dengannya, semakin sering pula matanya melirik pada iris mata pelayan itu secara refleks.“Apa masih lama? Kakak ipar menunggu kita di luar,” gumam Yuze, berdeham pelan untuk menutupi kecanggungannya.“Sebentar lagi, Yang Mulia.”“Lagipula, aku ini lelaki. Wajar kalau memiliki sedikit bekas luka.”Yun Que menggeleng. “Wajah Yang Mulia adalah hal yang sangat berharga. Bahkan semua orang tidak boleh menatapnya langsung. Jadi, Yang Mulia harus menjaga baik-baik wajah Yang Mulia.”Jantung Yuze berdesir pelan. Ia berdeham lagi, lalu membuang muka ke arah lain dengan pura-pura acuh. “Apa menurutmu, wajahku ini
Last Updated: 2026-08-29
Chapter: Bab 152. Masihkah Kau Mencintaiku?
Malam telah turun. Cahaya lentera yang menggantung di sepanjang koridor memantulkan bayangan panjang di lantai batu, sementara udara membawa aroma bunga malam dari taman yang mulai sunyi. “Yang Mulia, makan malam akan segera dihidangkan. Apa Yang Mulia ingin membersihkan diri terlebih dahulu?” Roulan hanya melirik sebelum akhirnya berkata, “Ya, aku ingin membersihkan diri terlebih dahulu.” Pelayan membungkuk lalu maju selangkah. Dengan hati-hati, ia melepaskan tusuk rambut giok putih yang sejak sore menghiasi kepala Roulan. Setelah itu, jemarinya perlahan membuka sanggul yang tertata rapi, membiarkan rambut hitam Roulan jatuh melewati punggungnya. Satu per satu perhiasan yang melekat di tubuh Roulan kemudian dilepaskan. Cincin dari jemarinya, gelang dari pergelangan tangannya, hingga kalung yang melingkar di lehernya. “Hapus riasanku.” “Baik, Yang Mulia.” Roulan membiarkan pelayan membersihkan sisa riasan di wajahnya. Kain lembut yang dibasahi air hangat perlahan menyapu pipi d
Last Updated: 2026-08-25
Chapter: Bab 151. Krisan Kering.
“Seharusnya sedari awal Yang Mulia menolak undangan itu.”Xiwu tidak berkomentar. Ia hanya melirik Yun Que yang sibuk memilah dan menyusun potongan kain sesuai dengan warnanya.“Sejak kepergian Yang Mulia, Jenderal Gu selalu saja menunda pernikahannya dengan Yang Mulia Putri Roulan. Hamba tidak suka mereka mengaitkan masalah Jenderal Gu dengan Yang Mulia Putri Mahkota.”“Mereka?” Xiwu menaikkan sebelah alisnya.Yun Que mengangguk. “Semua pelayan dan prajurit istana selalu membicarakan itu. Mereka mengatakan Jenderal Gu cemburu karena Yang Mulia Putri Mahkota menikah dengan lelaki lain.”“Ternyata setelah kepergianku ke Beishan, Liyang tidak benar-benar tenang.”“Yang Mulia sudah sangat berbahagia dengan Yang Mulia Pangeran Mahkota, tidak perlu memikirkan Jenderal Gu lagi.”Xiwu tertawa pelan. “Seingatku, dulu kau yang terus berusaha melarangku menikahi Shen Mo. Sekarang kau sudah berbalik arah rupanya.”Sebelum menyahut, Yun Que terlebih dahulu menoleh ke arah pintu yang terbuka, di m
Last Updated: 2026-08-21
Chapter: Bab 150. Jamuan Minum Teh.
Meja pualam bundar diletakkan di tengah gazebo, dikelilingi empat kursi kayu berukir yang menghadap langsung ke kolam teratai.Beberapa pelayan berdiri tidak jauh dari sana, sementara seorang dayang sibuk menuangkan air panas ke dalam poci porselen yang telah diisi kuntum bunga krisan.Roulan telah duduk di salah satu sisi meja bersama Gu Han. Ia mengenakan hanfu berwarna biru muda dengan sulaman bunga plum pada bagian lengan.Rambutnya ditata sederhana, disempurnakan oleh tusuk rambut giok putih yang biasa dikenakannya.Di hadapannya telah tersedia beberapa piring berisi buah-buahan segar, dan kue-kue kecil yang sengaja dipilihnya sendiri untuk jamuan sore itu. Semuanya telah ditata sempurna.Sesekali pandangan Roulan bergulir ke arah jalan setapak di luar paviliun.Menanti.Hingga tak lama kemudian, derap langkah teratur terdengar dari kejauhan. Roulan segera menoleh.Dari ujung lorong, Xiwu dan Shen Mo berjalan berdampingan menuju taman. Di belakang mereka, Shan Liang dan Yun Que m
Last Updated: 2026-08-20
Chapter: Bab 149. Urusan yang Telah Selesai.
Xiwu menopang dagunya di atas meja pualam, menatap pasrah pada tumpukan potongan kain warna-warni yang menggunung di hadapannya. "Kenapa A’Que membawa sebanyak ini? Aku jadi bingung,” gumam Xiwu seraya membolak-balik selembar kain sutra merah muda. “Momo, apa kau bisa membantuku?” Shen Mo meletakkan buku yang sejak tadi dibacanya ke atas meja. Pandangannya beralih pada tumpukan kain, kemudian kepada istrinya yang tengah cemberut manis. Lelaki itu bangkit berdiri, melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangan meraih selembar kain sutra berwarna merah tua yang pekat. Shen Mo berlutut pelan di samping kursi Xiwu, lalu menyejajarkan kain merah itu di samping pipi mulus istrinya. Ia mengamati sesaat, lalu mengangguk mantap. "Ini cocok." Xiwu menyipitkan mata. "Sungguh?" Tanpa menjawab, Shen Mo mengembalikan kain merah itu dan meraih lembaran lain. Sehelai sutra berwarna biru gelap berhias benang perak. Ia kembali menyejajarkannya di dekat wajah Xiwu. "Ini juga cocok," ujarnya polos.
Last Updated: 2026-08-19
Kembalinya Sang Pangeran

Kembalinya Sang Pangeran

Terlahir dari seorang selir, Qing Yuwen tumbuh jauh dari istana, ditakdirkan hanya sebagai panglima perang, bukan pewaris takhta. Namun, ketika titah Kaisar memaksanya menikahi Han Jiali, mantan tunangan pangeran mahkota, Yuwen menyadari pernikahan itu hanyalah awal dari intrik yang lebih berbahaya. Dari percobaan pembunuhan hingga jebakan politik, Yuwen terpaksa menghadapi kenyataan pahit: satu-satunya cara melindungi orang-orang yang dicintainya, termasuk ibunya dan Jiali, adalah dengan merebut kekuasaan yang seharusnya tidak pernah menjadi miliknya.
Read
Chapter: Bab 155. Kembalinya Sang Pangeran.
Musim semi sudah berganti tiga kali sejak peristiwa berdarah itu. Semua orang cuma melanjutkan hidup tanpa benar-benar seutuhnya melupakan rasa sakit.Burung-burung kecil terbang rendah di atas atap paviliun, dan aroma wangi teh melati menggantung di udara. Daun-daun plum berguguran perlahan, menyentuh pelataran berlumut yang basah oleh embun kemarin. Semburat jingga menyelimuti langit sore Hangzi. Jiali meletakkan kembali surat yang sudah ia baca berulang di atas meja. Pandangannya jauh menatap ke tengah taman.Tawa malaikat kecil yang ia pikir tidak akan bisa didengar, membuatnya tersenyum.“Ceng'er! Berhentilah bermain! Kemarilah!”Sepasang mata bulat bening, penuh rasa ingin tahu menatap Jiali. Bocah lelaki itu melambaikan tangan. Pipinya tampak kemerahan. Senyum lebar tidak pernah benar-benar lepas dari wajahnya.Qing Lianceng mengenakan jubah kecil berwarna hijau muda dengan motif awan yang dijahit rapi oleh tangan Xiumei sendiri. Kaki mungilnya berlari tanpa alas di pelataran
Last Updated: 2025-08-04
Chapter: Bab 154. Akhir Dari Sepenuh Jiwa Mencintaimu.
“AAAAAAAGHH!!”Yunqin menerjang lebih dulu. Pedangnya melayang dalam ayunan panjang, liar, berbahaya tidak terarah.Yuwen menangkis. Logam beradu logam, percikan api melesat. Suara benturan keras memantul di seluruh pelataran. Yuwen mundur setengah langkah.Belum sempat menyeimbangkan diri, Yunqin sudah menyerang lagi. Kali ini lebih cepat, lebih beringas. Tebasan menyilang ke dada, tikaman rendah, lalu ayunan tinggi ke arah kepala. Semuanya dilakukan tanpa jeda.Yuwen belum punya ruang untuk menyerang balik. Ia menangkis, bertahan, mundur.“KAU AKAN MATI!” raung Yunqin, matanya merah, wajahnya nyaris kehilangan bentuk manusia karena amarah.Yuwen kembali menangkis. Sial! Satu pukulan keras membuatnya hilang keseimbangan. Tumitnya terpeleset di genangan darah yang mengering di atas batu hingga tubuhnya terhempas ke tanah.Jiali menjerit, “Yuwen!!”Yuwen menoleh dan Yunqin tidak memberikan jeda untuk keduanya berinteraksi. Ia melompat maju, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, siap me
Last Updated: 2025-08-04
Chapter: Bab 153. Mahkota Terakhir.
Langkah kaki Jiali berdentam cepat menyusuri lorong batu yang sepi. Napasnya memburu, keringat membasahi pelipis. Ia tidak berhenti. Ia yakin sudah berlari sejauh mungkin, tetapi ….“Jiali!! Berhenti!! Jangan lari dariku!!”Suara di belakangnya semakin jelas. Sekilas ia menoleh. Cukup untuk melihat sosok lelaki itu berlari menerobos lorong sempit dengan wajah penuh amarah.“Jiali! Berhenti!!”Jiali tidak akan berhenti. Sudut lorong bercabang di hadapannya. Tanpa ragu, Jiali memilih jalur ke kiri. Arah menuju gerbang utara.“Berlarilah Jiali, Yuwen ada di sana, dia di sana,” bisiknya berulang-ulang seperti mantra yang membuatnya tetap kuat.
Last Updated: 2025-08-01
Chapter: Bab 152. Pengecut Menjijikkan.
“Kau akan melarikan diri di tengah perang yang akan menghancurkan rakyatmu?"Langkah Yunqin dan Jiali terhenti. Keduanya menatap wanita yang bersandar di pilar lorong. Dia yang balas menatap dengan tangan menggenggam pedang yang ujungnya berlumur darah.“Qilan,” cicit Jiali."Apa tidak pernah ada yang memanggilmu dengan sebutan bajingan menjijikkan?"Mei Qilan berjalan mendekat. Tiap langkahnya seperti gaung nyaring di lorong batu yang kosong. Darah masih menetes dari ujung pedangnya, menggurat lantai dengan warna merah.“Kau membakar istanamu sendiri hanya karena seorang wanita?” tanyanya menunjuk Jiali dengan sorot mata, “wanita yang tidak ingin bersamamu kau masih ingin menyeretnya dalam pelarianmu? Kau bodoh atau bagaiman
Last Updated: 2025-07-31
Chapter: Bab 151. Gerbang yang Terbuka.
Di sisi utara, barisan utama pasukan Hangzi telah tiba dan bergabung bersama Yuwen. Kuda-kuda tempur meringkik liar. Feilong berdiri di garis depan, Yuwen duduk tegak di atas punggungnya. Yu Yong mendekat. “Yang Mulia, gerbang selatan berhasil didobrak pasukan Pangeran Zeming. Pasukan dari Menteri Xi serta Nona Qilan bergerak mengosongkan kota. Rakyat Anming akan dievakuasi.”“Bagus. Aku tidak akan bisa menahan amarah Zeming ketika dia melihat Yunqin, tetapi tidak boleh ada rakyat yang menjadi korban.”Kaisar Tao yang berada di barisan kedua akhirnya maju setelah mendengar ucapan Yuwen. Setengah hatinya malu karena ternyata pangeran mahkota bisa menyebabkan kekacauan ini, lalu setengahnya bangga karena anaknya yang lain masih memikirkan rakyat.“Wen’er, kau begitu memikirkan rakyat, kalau begitu, izinkan aku bicara pada penjaga gerbang. Aku masih hidup, kita tidak perlu membuang darah dari para prajurit setia Anming.”Yuwen terdiam lalu menatap ke arah puncak istana yang berdiri meg
Last Updated: 2025-07-30
Chapter: Bab 150. Kebenaran Menyerbu.
Aroma bunga sedap malam memenuhi ruangan. Di atas meja giok, beberapa kotak ukiran emas dibuka satu per satu, menampilkan perhiasan baru yang didatangkan khusus dari negeri seberang. Gelang, kalung, bahkan sisir berhias zamrud. Semua itu dipamerkan dengan harapan menyenangkan satu orang, yaitu Han Jiali.Jiali menarik napas dalam-dalam. Kemewahan yang disodorkan di hadapannya membuat dadanya sesak menahan muak.Sang kaisar tampak duduk di sebelahnya, mengamati ekspresi Jiali, berharap ada sedikit senyum di sana.“Apakah hadiah ini tidak cukup menarik hatimu?” Yunqin menyentuh gelang emas dengan ukiran naga dan phoenix. Jiali tidak menjawab, tetapi kini ia menatap Yunqin. “Apa Yang Mulia sungguh mencintai hamba?”Yunqin bangkit dari duduk kemudian menghampiri Jiali. Diraihnya tangan Jiali hingga istrinya itu terpaksa berdiri. “Tentu saja. Aku akan memberikan semuanya untukmu. Aku akan membuatmu bahagia.”Jiali menarik tangannya dari genggaman Yunqin. “Bahagia? Yang Mulia ingin hamba
Last Updated: 2025-07-29
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status