Share

07. Rafka

"Huh, ujian nasional sudah di depan mata, kalian mau kuliah dimana?" tanya Sean, ia menyandarkan kepalanya di bahu Letta. "Aku ikut Sean, hehe." jawab Letta. 

"Gue enggak tahu, belum ada kampus yang cocok." jawab Gravano, ia memainkan marimong milik Cea. "Cea juga belum tahu, tetapi Cea mau kerja dulu, atau kerja sambil kuliah." ujarnya.

Mereka hari ini sedang duduk di kedai ice cream karena Letta berbicara jika ia ingin ice cream. "Letta mau rasa vanilla," ucap Letta saat Sean tiba-tiba berdiri, "Yang lain?" tanya Sean.

"Eung, Cea mau strawberry." seru Cea, tetapi sedetik kemudian, "Bukan strawberry tapi mint choco, hehe." kekeh Cea, "Eh, bukan, Cea mau rasa mint choco." ucapnya lagi, ingin rasanya Letta melempar sahabatnya ini ke pantai yang ada di depan, tapi ingat, masa depannya masih panjang.

Sean melirik ke arah Gravano yang sedang memperhatikan Cea mengusili Sean, "Vano, lo mau rasa apa?" tanya Sean, "Rasa matcha sama strawberry." Sean bingung, "Strawberry?" Gravano mengangguk matanya tetap melirik ke Cea.

"Waktu itu Cea sampai nangis karena enggak dikasih cokelat, jahat banget. Katanya anak kecil jangan makan cokelat, padahal Cea sudah besar." rengek Cea, Letta tertawa mendengar curhatan Cea yang tidak bermutu sebenarnya, tetapi cukup berguna untuk mengisi waktu luang.

"Suka cokelat?" Cea melirik kesampingnya lalu mengangguk antusias, "Iya, soalnya manis, enggak kayak takdir Cea." ucap Cea dramatis sambil mengusap ujung matanya yang tidak mengeluarkan air mata.

"Sean, cokelat satu!" teriak Gravano, "Rava suka cokelat?" Gravano tidak menjawab dan terfokus kembali pada marimong Cea. "Kalau suka ambil saja, Cea ada satu lagi." Gravano menggeleng.

Cea langsung mengambil cup ice cream mint choco-nya dan memakannya senang, "Cea, aaaa!" Cea melirik kesampingnya ternyata sendok berisikan ice cream cokelat terarah padanya, otomatis Cea membuka mulutnya senang.

"Sayang, kita yang pacaran tetapi kalah romantis sama mereka." rengek Letta, Sean menggaruk tengkuknya, lalu menyuapi sang kekasih. Tanpa sadar Gravano terus menyuapi Cea dan Cea terus menerimanya, mereka tertawa bahkan tidak sadar jika ada Letta dan Sean yang bertatapan aneh.

"Kalian pacaran?" tanya Sean.

"Mau."

Cea membelalakan matanya, "H-Heh!" ucapnya sambil menepuk lengan Gravano. "Iya emang mau, tapi nanti." ucap Gravano yang terlihat santai sambil terus menyuapi Cea.

"Jaga Cea, kalau bayi ini sakit karenamu, lihat akibatnya." ancam Letta tajam, Sean menelan ludahnya, kekasihnya itu garang, bahkan melebihi macan.

"Apa yang dia bilang tidak boleh terjadi."

"Aku akan membantumu."

"Bawa pergi Cea malam ini."

Pria itu mengangguk menanggapi ucapan wanita yang tengah menampakkan senyum miringnya. Misinya harus berhasil sebelum Gravano lebih jatuh cinta kepada Cea, ia tidak mau itu terjadi, Gravano miliknya, hanya miliknya.

"Iya, Kakak mau ke rumah Kak Cea." ucap Gravano sibuk sambil memakai hoddienya, lalu mengambil kunci motor dan langsung melesat begitu saja saat mendengar adiknya menangis karena ingin pulang dan bertemu Cea.

Cea berjalan membelah malam untuk pergi ke apotek untuk membeli obat pereda nyeri. Ia ingin membeli cokelat tetapi, ia harus menabung, bahkan semua gaji dari hasil menjadi guru privat belum Cea sentuh sekalipun, ia mengumpulkannya untuk suatu alasan.

"Habis darimana?" Cea tersentak saat mendengar suara pria itu, "Eh, Kak Rafka, Cea habis dar-" ucapan Cea terpotong saat Rafka menarik tubuhnya menuju gang gelap, "Lepasin, Kak!" Cea meronta, ia berteriak namun nihil kenapa tidak ada mendengarnya.

"Kakak suka kamu, kakak mau kamu jadi milikku untuk selamanya."

Gravano tersenyum hangat, "Baik, Nek. Terima kasih, Rava mau menunggu Cea di luar saja." ucapnya lalu berlalu keluar, teleponnya berdering dari Cea ia tersenyum lalu mengangkatnya, beberapa detik ia mematung dan langsung memacu motornya.

Cea meraih ponselnya lalu menekan kontak asal, tidak lama orang diseberang sana mengangkatnya, "Tolong, lepasin Cea, lepas!" Cea meraung-raung, ia melemparkan ponselnya begitu saja. Ia berharap ada yang melihat cahaya dari ponselnya.

"Kau semakin cantik ketika ketakutan."

"Kakak gila!" Cea menatap tajam Rafka, satu tamparan berhasil mendarat di pipi mulus Cea, Cea semakin takut ia semakin meraung-raung. "Kau bisa diam tidak!" Rafka mendorong tubuh Cea hingga gadis itu tersungkur, ia membuka jaketnya dan langsung berjalan ke arah Cea seperti harimau yang akan memangsa incarannya.

"Kau akan menjadi milikku, selamanya."

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status