Home / Romansa / 1001 Cara Membuat Suamiku Selingkuh / Bab 3: Wanita yang Akan Menggantikanku

Share

Bab 3: Wanita yang Akan Menggantikanku

Author: ashlair
last update publish date: 2026-06-17 13:03:34

[Maria]

Aku terpaksa menutup lowongan itu lima belas menit setelah dipasang.

Ponselku langsung dibanjiri notifikasi tanpa henti begitu iklan lowongan tersebut tayang, padahal saat itu sudah hampir tengah malam.

Bukankah biasanya orang mulai bekerja di pagi hari, saat jam kerja?

Ini juga salahku karena memasang lowongan tanpa persyaratan apa pun. Tapi sungguh, aku memang tidak membutuhkan apa-apa dari mereka. Mau mereka buta huruf sekalipun, aku tidak peduli.

Aku cuma butuh wajah yang cantik. Itu saja.

"Maria, lampunya."

Damian menutupi matanya dengan satu tangan.

"Kamu belum tidur?"

"Sebentar lagi."

Ia mengerucutkan bibir seperti anak kecil yang sedang merajuk.

"Ya sudah, ya sudah. Aku matikan lampunya. Tidur saja lagi."

Aku harus melakukan sesuatu yang sangat penting.

Di dalam kamar yang gelap, berbaring di tempat tidur dengan suamiku di sampingku, aku sedang mencarikan perempuan simpanan untuknya.

Aku mematikan lampu meja, menyandarkan kepala ke sandaran ranjang sambil menggulir layar ponsel dengan satu tangan. Cahaya dari ponsel sebenarnya sudah cukup.

Dan di sinilah masalahnya.

Berapa banyak dari para pelamar ini yang benar-benar sangat menarik?

Memang benar aku tidak terlalu mengenal Damian Lee ataupun seleranya. Tapi kalau aku ingin membuatnya berpaling dariku, bukankah aku membutuhkan seorang wanita yang jauh lebih cantik dariku?

Bukan karena aku menganggap diriku luar biasa cantik. Tapi mungkin wanita yang kucari tidak akan begadang tengah malam hanya untuk melamar pekerjaan yang sejak awal sudah terlihat mencurigakan.

Lihat saja orang-orang putus asa ini.

Aku bahkan menggunakan akun pribadiku, bukan akun resmi perusahaan. Namun mereka begitu mudah mengirimkan foto pribadi mereka kepadaku.

Kalau mereka memang secantik dan seseksi itu, bukankah seharusnya mereka tidak perlu melakukan hal seperti ini?

Bukankah kecantikan adalah sebuah privilese? Mereka seharusnya bisa menjalani hidup yang lebih baik. Menjadi model, influencer, atau semacamnya.

Tapi tentu saja aku tidak terlalu tahu. Aku tidak pernah sekalipun melamar pekerjaan seumur hidupku.

Terlalu gemuk.

Terlalu kurus.

Skip, skip.

Terlalu profesional.

Terlalu dibuat-buat. Jejak operasi plastiknya terlalu jelas.

Skip.

Aku mengembuskan napas pelan sambil memijat pelipis.

"Ini lebih sulit dari yang kukira."

Baru menyaring foto-fotonya saja sudah membuatku lelah.

"Maria..." Suara Damian terdengar setengah mengantuk.

"Maaf, apa aku terlalu berisik?"

Ia menyipitkan mata, berusaha tetap membukanya. Suaranya terdengar serak saat berbicara. "Kau sedang apa? Sudah malam. Kau harus tidur."

Bukan urusanmu.

Tunggu.

Sebenarnya, ini memang urusannya.

"Aku hampir selesai."

Ia tidak menjawab lagi.

Mungkin sudah tertidur kembali.

Bukan berarti dia peduli padaku atau jam tidurku. Dia memang tidak suka melihatku menggunakan ponsel di tengah malam. Mungkin cahaya UV mengganggu kualitas tidurnya atau apalah.

Padahal dulu dia rela mengorbankan waktu tidurnya hanya untuk bersenang-senang di klub malam.

Aku ingin proses perekrutan ini selesai secepat mungkin.

Karena itu, malam ini aku memaksa diriku untuk memilih beberapa kandidat terlebih dahulu.

Tipe yang berbeda-beda, untuk berjaga-jaga. Tipe yang manis dan harmless, tipe yang mature, tipe elegan dengan facial feature tegas.

Semuanya sudah kutandai.

Tapi aku masih terus scroll ponselku untuk mencarinya. Seperti mencari jarum di tumpukan jerami karena sebagian besar dari mereka bahkan nyaris tidak menarik.

Seharusnya aku menuliskan "berpenampilan menarik" sebagai syarat.

Tapi kupikir itu sudah jelas, bukan? Ini posisi sekretaris.

Terlalu banyak filter.

Skip.

Terlalu banyak pose.

Skip..

Terlalu dibuat-buat.

Ugh.

Jempolku tiba-tiba berhenti.

"Hah—"

Aku buru-buru menutup mulut, menahan kata-kata yang hampir keluar karena terkejut.

Sayangnya, suaraku tadi cukup keras.

Damian yang sedang tidur berbalik menghadapku lalu melingkarkan lengannya ke tubuhku.

Aku dengan hati-hati melepaskan pelukannya.

Kemudian menepuk bahunya pelan untuk memastikan ia kembali tidur.

Bagus.

Aku perlu kembali melihat layar ponselku.

Karena apa yang baru saja kulihat benar-benar tidak masuk akal.

Saat semua orang berusaha mati-matian terlihat menarik, mengirimkan foto terbaik dengan sudut pengambilan yang sempurna dan pencahayaan yang bagus, satu pelamar justru melakukan hal yang sebaliknya.

Fotonya buram. Ekspresinya benar-benar datar. Wajah tanpa riasan.

Dan di belakangnya...

Beberapa pria tergeletak di tanah.

Aku menatap layar itu, alisku perlahan terangkat.

Sebisa mungkin aku menahan diri agar tidak tertawa atau mengeluarkan suara.

Aku menahan tawa melihat foto yang dikirimkan oleh seorang kandidat, menutup mulutku dengan kedua tangan khawatir Damian terbangun dari tidurnya.

Ketika yang lain mengirimkan foto mereka yang terbaik dan paling atraktif, ada orang yang cukup gila mengirimkan foto mereka dalam pencahayaan remang dengan ekspresi datar… dan latar belakang setumpuk pria terkulai di jalan.

Orang gila.

Apa maksudnya ini? Apakah dia mengira aku penipu dan memutuskan mengirimkan foto asal untuk trolling?

Aku sengaja menekan tombol ‘shortlisted’ untuk trolling balik. Well, yeah, dia tidak terlalu cantik tapi aku ingin lihat apa reaksinya jika iklan yang dia kira penipuan ini ternyata sungguhan.

[Selamat malam, kami dari RQL group. Berdasarkan dari kurasi dokumen Anda, Anda masuk ke dalam shortlisted candidate untuk lolos ke tahap berikutnya. Sebelumnya, kami perlu mengajukan beberapa pertanyaan awal untuk pre-screening. Jika Anda sesuai dengan kriteria yang kami cari, selanjutnya akan dilakukan tahapan interview tatap muka di kantor RQL. Apakah Anda bersedia? Jika “ya” silakan informasikan waktu yang tepat bagi Anda untuk pre-screening.]

Aku menulis pesan panjang lebar.

Tidak sampai semenit kemudian, notifikasi balasan muncul. Cepat sekali. Aku mengira ia akan baru membalasnya besok pagi.

[Selamat malam, saya bersedia. Sekarang pun boleh.]

Sekarang-pun-boleh, katanya? Apakah dia menantangku? Apakah dia menguji aku sedang berbohong atau tidak? Atau memang seantusias itu?

[Baik, Nona Hannah Barker. Silakan jawab pertanyaan berikut ini:

1. Apakah Anda single?

2. Apa yang Anda ketahui dari Damian Lee?

3. Kapan Anda mulai bisa bekerja?]

Aku tidak suka berbasa-basi dan membuang waktuku. Ini sudah larut malam.

[Ya, saya single. Mohon maaf, saya kurang tahu tentang Damian Lee. Jika ini ada hubungannya dengan pekerjaan saya, akan saya pelajari beliau dengan sungguh-sungguh. Saya berjanji. Kemudian untuk mulai bekerja, saya bisa mulai secepatnya.]

Dia terlihat seperti orang yang serius. Jauh berbeda dengan kesan pertama yang kutangkap dari foto yang dia kirim.

[Bisa dijelaskan lebih lanjut soal foto yang Anda lampirkan?]

Satu menit berlalu…

Tiga menit…

Lima menit…

Apakah dia ketiduran? Sepanjang apa jawaban yang diketiknya?

Aku memperkirakan kira-kira alasan apa yang ia tulis. Mungkin pesan seperti ‘aku ingin menunjukkan ketangguhanku’, ‘aku siap bekerja apapun meskipun harus mengotori tanganku’, ‘aku akan efisien untuk budget kantor karena aku tidak hanya bisa jadi sekretaris tapi juga pengawal pribadi’.

Sepuluh menit…

DING.

[Itu adalah foto saya yang terbaru. Bukankah biasanya perusahaan meminta foto terbaru pelamar? Saya berada dalam situasi yang mengharuskan saya melakukan itu.]

Aku memiringkan kepala sambil menatap layar.

Sepuluh menit untuk jawaban sesingkat itu?

[Situasi seperti apa? Kami perlu memastikan bahwa kandidat karyawan perusahaan kami bukan orang yang terlibat dengan hal-hal seperti premanisme atau hal illegal lain.]

[Situasi di mana saya harus membela diri. Saya sama sekali tidak terlibat dengan premanisme. Saya cinta damai. Saya hanya pekerja di kedai roti yang pulang lembur dan dihadang preman. Sama sekali tidak ada niatan saya untuk berbuat kasar atau kekerasan.]

Aku menarik napas panjang. Jawabannya terdengar jujur tapi entah mengapa terasa ada hal yang ia sembunyikan.

Aku membutuhkan orang yang seperti ini; orang yang bisa berbohong tapi di waktu yang sama tidak mengatakan kebohongan sedikit pun.

[Baik, Anda lolos ke tahap berikutnya. Saya akan hubungi lebih lanjut untuk jadwal interview di Gedung RQL Group.]

Aku mematikan layar ponsel.

Gelap menyelimuti seluruh ruangan.

Di sampingku, Damian tertidur dengan damai, sama sekali tidak menyadari apa pun.

Tidak menyadari bahwa mungkin saja aku baru saja menemukan wanita yang akan menggantikanku.

Atau mungkin...

Wanita yang akan menghancurkannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • 1001 Cara Membuat Suamiku Selingkuh   Bab 118: Pelaku

    [Hannah]“Lucy?” Hannah menyebut namanya secara refleks.“Siapa itu?”“Sekretaris di tim asisten eksekutif sepertiku.” Hannah mengulum bibir cemas. “Aku berharap bukan dia tapi sepertinya memang iya.”“Dengar, aku sudah bilang kan kalau aku tidak tahu itu siapa. Kau harus berpikir objektif.”“Kau tidak tahu, Kevin. Dari sejak aku digosipkan di kantin, aku melihat Lucy membicarakanku di grupnya.”Hannah menggigit bibir. Sebenarnya Hannah tidak tahu siapa yang dibicarakan di grup Lucy tapi memangnya siapa lagi yang dicemooh dan ditertawakan ramai-ramai waktu itu? Dan sikap Lucy yang defensif membuatnya semakin curiga.“Kalau dipikir secara adil, banyak orang yang membicarakanmu. Kau jadi topik yang sedang ramai di forum itu. Karyawan yang aktif di sana pasti tahu lebih awal. Dan mereka mungkin menggosipkannya dengan karyawan lain yang ada di sekitar mereka di kantor.”“Kau yang bilang sendiri kan kalau subnet apa pun itu dari lantai 10?”“Ya, dan karyawan yang bekerja di lantai 10 itu b

  • 1001 Cara Membuat Suamiku Selingkuh   Bab 117: IP

    [Hannah]Hannah baru sadar bahwa ia ketiduran di sofa Kevin Liu lagi. Ia tidak ingat mengambil selimut tadi malam, tapi entah mengapa sebagian tubuhnya tertutup selimut. Mungkin Hannah mengambilnya saat mengigau karena tidak mungkin Kevin yang melakukannya.Entah kenapa, sofa Kevin selalu membuatnya ketiduran meskipun Hannah biasa kesulitan tidur saat sedang banyak pikiran. Kalau ia tidur sendiri di rumahnya, sudah pasti tidak akan sepulas ini.Hannah menjulurkan tangannya, meraba-raba meja di samping sofa untuk mengambil ponselnya. Sudah pukul 6 pagi. Kevin mungkin masih tidur di kamarnya. Ia bangkit dari sofa, kemudian menghampiri pintu kamar Kevin yang sedikit terbuka.Hannah mengetuknya dua kali sebelum mendorongnya sedikit.“Kevin?”Di kamarnya, Kevin masih terlihat duduk di depan komputernya.“Kau tidak begadang semalaman, kan?” tanya Hannah dengan mata yang masih memicing karena mengantuk sambil menghampiri lelaki itu.Dua kaleng kopi yang sudah habis di mejanya mungkin sudah c

  • 1001 Cara Membuat Suamiku Selingkuh   Bab 116: Akun

    [Hannah]“Aku mencoba menelusuri linimasa kapan pertama kali gosip itu muncul. Ada beberapa akun yang membicarakan gosip itu pada waktu yang sama.”“Beberapa? Berapa banyak?”“Lebih dari lima. Mungkin sepuluh? Aku tidak menghitungnya. Dan akun-akun itulah yang mengarahkan opini dengan membuat begitu banyak unggahan tentangmu, totalnya ratusan, mungkin ribuan. Mirip akun bayaran.”Jantung Hannah serasa diremas.“Yang membenciku sebanyak itu?”Hannah bahkan tidak mengenal sampai sepuluh orang di kantor. Ia masih bisa memahami jika ada orang yang tidak menyukainya. Ia memang bukan orang yang sempurna. Tapi membencinya sampai sesengaja itu?Sebenarnya apa salah Hannah?“Dengar, banyak akun belum tentu berarti banyak pemilik. Bisa saja semuanya dimiliki satu orang. Tidak ada proses verifikasi di forum itu. Siapa pun bisa mendaftar sebanyak

  • 1001 Cara Membuat Suamiku Selingkuh   Bab 115: Sup Ayam

    [Hannah]Pencarian dengan kata kunci “Hannah” menghasilkan lebih dari 1.000 unggahan. Tapi bukan itu saja. Mereka juga membicarakannya dengan menggunakan kata kunci “HB”, “Perusak Rumah Tangga”, atau berbagai hinaan lainnya.Hannah nyaris tidak berkedip melihat begitu banyak tulisan itu. Sebagian besar tidak berdasar dan ditulis dengan nada yang sangat merendahkan. Padahal, kemungkinan besar mereka yang menulisnya bahkan tidak mengenalnya.Bola matanya bergerak cepat membaca satu demi satu unggahan itu.[Hannah Barker ada di kantor bos lagi. Pasti sedang membahas 'sesuatu' sampai tiga jam.][Aku lihat Hannah Barker baru turun dari lantai 10. Dia lembur lagi. 'Rajin' sekali, yaaa.][Aku juga lihat Hannah Barker keluar kantor sepuluh menit setelah bosnya. Kebetulan yang sangat kebetulan.][Lucu juga, perjalanan dinas kok harus mengajak sekretaris baru yang tidak

  • 1001 Cara Membuat Suamiku Selingkuh   Bab 114: Bahagia

    [Maria]“Bagaimana menurutmu?”Damian memaksaku untuk memberi jawaban meskipun aku tidak ingin mengiyakan ataupun menolak. Membuatku terpaksa mengangguk menyetujui idenya.“Itu ide yang bagus,” kataku sambil menyuap mousse cokelat itu tanpa menatap matanya.Aku menunduk menatap makananku, tidak mencoba membaca ekspresinya. Apakah dia bahagia? Atau biasa saja?“Maria.”Ia memanggilku, membuatku sedikit tersentak.“Apa kau bahagia?”“Ya, tentu saja. Liburan ini cukup menyenangkan,” jawabku tanpa berpikir panjang.Aku tidak berbohong kali ini. Aku memang cukup puas dengan apa yang kudapatkan selama liburan. Hotel yang bagus, udara yang segar, makanan yang enak. Bahkan hal yang kupikirkan sebelum berangkat, soal pakaian dalam itu, ternyata tidak seburuk yang kubayangkan.“Bukan itu maksudku.” Damian menarik

  • 1001 Cara Membuat Suamiku Selingkuh   Bab 113: Makan Malam

    [Maria]“Maafkan aku. Seharusnya kita punya agenda lain sore ini, tapi jadi batal,” ujarnya sambil mengenakan pakaiannya kembali.“Tidak apa-apa.”Salahku juga yang tiba-tiba mengenakan pakaian itu. Pakaian seperti itu memang diperuntukkan untuk menggoda. Damian pasti menafsirkannya seperti itu.“Kau tadi...” Ia berusaha keras ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa.“Tidak apa-apa,” ulangku.Ia tidak perlu mengatakan apa-apa atau berkomentar apa-apa. Aku bahkan tidak mau membahas soal ini.“Kau tadi sangat... menggoda. Dan...” Ia memalingkan wajahnya. “Aku tidak bisa menahan diri.”Aku menundukkan kepala, menyembunyikan lengkungan senyum yang muncul di wajah.Aku mengulum bibir, menenangkan diri. Itu bukan sebuah pujian dan seharusnya aku tidak merasa senang. Itu hanya efek dari mengenakan pakaian itu. Artinya, jika Hannah Barker menggunakannya, pakaian itu akan sangat efektif u

  • 1001 Cara Membuat Suamiku Selingkuh   Bab 9: Aku Tidak Akan Membiarkanmu Bahagia

    [Cecilia]Rumahnya berisik sejak pagi. Suara bising dari para tukang masak yang menyiapkan hidangan, tukang kebun yang menata anggrek dari pintu masuk, para pelayan yang biasanya membersihkan rumah dalam senyap. Mereka selalu sibuk jika hari-hari penting seperti ini tiba.Keluarga Wang sudah terbias

  • 1001 Cara Membuat Suamiku Selingkuh   Bab 8: Semuanya Sudah Siap

    [Maria]Damian tidak ada di sampingku ketika aku bangun tidur pagi ini. Tirai di kamar masih tertutup padahal sudah jam 10. Tidak ada suara vacuum cleaner atau langkah kaki manusia di lorong. Pasti belum ada pelayan yang ke lantai dua.Aku membilas wajahku di wastafel sambil mengingat-ingat apa yang

  • 1001 Cara Membuat Suamiku Selingkuh   Bab 7: Kontrak yang Berbahaya... atau Tidak?

    [Hannah]Kedai roti yang sama, aroma butter yang sama, tapi bagi Hannah, hari ini terasa jauh lebih baik daripada sebelumnya.Tebak kenapa? Karena hari ini hari terakhirnya bekerja.Tidak, Hannah bahkan tidak bekerja. Buat apa ia bekerja kalau bosnya menolak membayar setengah gajinya karena Hannah

  • 1001 Cara Membuat Suamiku Selingkuh   Bab 6: Dia kan Anak Gundik

    [Cecilia]Dulu, Cecilia Wang kecil selalu menganggap hidupnya sempurna. Bagaimana tidak? Ia memiliki mainan yang banyak, orang tua yang penyayang, dan kehidupan yang seperti tuan puteri. Cecilia tidak pernah iri jika temannya memiliki mainan baru, karena sebelum mereka membelinya, Cecilia sudah le

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status