共有

Chapter 2

作者: ashlair
last update 公開日: 2026-06-17 13:03:00

[Hannah]

"TETAP TERSENYUM PADA PELANGGAN MESKI BIBIRMU KENA STROKE."

Adalah motto gila toko roti ini. 

Entah kenapa pemiliknya percaya diri membuat slogan semacam itu sementara karyawannya dibayar pas-pasan.

Hannah menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa kantuk. Ia datang jam 9 hari ini jadi sebagai karyawan paruh waktu, ia baru akan boleh pulang pada pukul? Yep, 10 malam. Tiga belas jam shift untuk seorang karyawan paruh waktu. Ini bahkan lebih dari full time. Dasar pemilik toko sialan.

Sudah tidak ada pembeli di toko karena toko sudah tutup. Meski begitu, ia masih harus beres-beres toko dan persiapan buka untuk besok.

“Aku tidak tahan lagi. Aku akan keluar bulan ini!”

Hannah terkejut sendiri mendengarnya. Ia kira itu suara hatinya.

Ternyata Liz, teman kerjanya, sedang mengeluh sambil mengepel. Bukan kali pertama Liz berkata begitu, tapi kenyataannya, tetap saja gadis itu tetap bekerja di toko roti ini.

“Yakin? Gajimu sejak bulan lalu belum dibayar.”

“Justru itu. Aku yakin bulan ini mereka akan menyuruh kita bersabar lagi.” Liz mendengus. “Kau tahu, aku dengar dari yang lain, keuangan bulan ini akan minus lagi karena Pak Bos menggelapkan uang untuk judi.”

“Yeah,” Hannah mengangguk pelan. Sejujurnya ia juga dengar hal itu. 

“Kau ikut, Han?”

“Ikut kemana?” tanyanya tidak acuh.

“Keluar dari toko roti sialan ini. Aku sudah benar-benar muak.”

“Ya lalu, pergi ke mana?”

Liz mengangkat bahunya.

Hannah menghela napas panjang. “Semua orang di tempat ini ingin berhenti kerja, lalu mencari pekerjaan yang lebih baik. Tapi tidak semudah itu. In this economy, mencari pekerjaan yang mau membayarmu layak saja sudah susah.”

“Well, aku sih tidak mau mencari kerja. Lebih baik aku mencari pria kaya dan jadi selingkuhan.”

“Gila.”

“Kenapa gila? Menurutku itu hidup yang lebih baik daripada jadi karyawan toko roti yang dibayar rendah. Apalagi pria hidung belang yang sudah tua. Kita ada di usia yang tepat untuk itu, Han.”

Hannah mengerutkan keningnya, tidak habis pikir dengan omongan kawannya ini. Dalam pikirannya, mungkin Liz sudah sedikit gila saking seringnya dimarahi oleh pemilik toko roti tempat mereka bekerja.

“Tidak usah sok suci. Kalau kau dapat kesempatan itu, memangnya kau mau menolaknya? Bayangkan, kau bisa punya gaya hidup mewah, apartemen gratis…”

“Bukan masalah moral, tapi realistis saja, Liz. Mau cari di mana pria kaya yang mau menafkahi gadis random di jalan? Kau pikir ini semacam drama? Kenapa jadi selingkuhan? Sekalian saja jadi istri sah, menikah resmi dengan CEO.”

“Pergaulanmu saja yang terlalu sempit. Teman SMA-ku saja–”

Omongan mereka terpaksa berhenti karena pintu dibuka. Pak Bos (nama julukan pemilik toko roti itu) tiba-tiba masuk.

Oh, rajin sekali. Baru datang 15 menit sebelum jam pulang untuk marah-marah.

“Hei, Hannah, kau mau aku diviralkan pelanggan? Apa-apaan meja sekotor ini?! Gaji buta kau, ya?!” Ia menggebrak gebrak meja yang sudah dilap sampai mengkilap. 

“Kau punya mata tidak? Pel dengan benar atau mukamu yang aku pel.” Ia menunjuk-nunjuk Liz.

Pak Bos masih teriak-teriak ke karyawan lain. Ke kasir, ke pastry chef, ke tukang cuci piring. Seperti semua orang tidak ada yang becus dalam bekerja.

Begitulah orang kalah judi. Semua salah di matanya.

“Aku capek-capek pergi keluar untuk membesarkan toko ini dan begini kerja kalian?!”

Liz dan Hannah saling bertatapan. Membesarkan toko? Yeah, right. Dengan menyumbang sebagian penghasilan toko untuk bandar judi, sungguh kerja yang bagus.

Lima belas menit dihabiskan Hannah untuk mendengar omelan yang menyakitkan hati sebelum akhirnya ia ‘diizinkan’ untuk pulang. Andai saja mendengar ocehannya termasuk dalam job description dan mendapatkan uang lembur, mungkin Hannah bisa sedikit terima.

Gadis itu mengganti baju seragamnya dengan pakaian miliknya, mengambil tas, kemudian keluar lewat pintu belakang. Satu-satunya hal baik dari tempat kerjanya ini adalah ia hanya perlu berjalan kaki 10 menit dari rumah. Setidaknya Hannah tidak perlu mengeluarkan ongkos.

Di depan rumahnya, tiga orang pria bertubuh tinggi dengan pakaian serba hitam menghampirinya.

“Hannah Barker.”

Hannah mencoba pura-pura tidak mendengar. Ia terus berjalan menjauhi orang itu. Tiba-tiba, bahunya diraih. Tangannya ditarik, ia terpaksa memutar badannya ke belakang.

“Bayar dulu utangmu. Jangan tidak tahu malu seperti itu.”

Hannah memicingkan mata. Moodnya sudah tidak bagus karena menghabiskan 15 menit terakhir untuk mendengarkan ucapan bosnya. Sekarang ia harus dimaki-maki lagi?

“Bagaimana kalau kami memberitahu tempat kerjamu kalau kau punya utang dan tidak mau bayar? Kira-kira kau akan dipecat tidak? Hahahaha…”

“Kau tuli, ya?”

“Wah, betulan tuli, dia. Kau pikir kami tidak bisa menghajar wanita, hah?”

Hannah muak sekali dengan kehidupan seperti ini.

“Kau pikir wanita tidak bisa menghajar kalian?” Hannah mengepalkan kedua tangannya.

Ketiga lelaki itu mulai mendekati Hannah.

Salah satu dari mereka mencoba memukul Hannah. Hannah dengan tangkas menghindar. Ia kemudian memberikan tendangan kaki kanan ke perutnya. Lelaki itu tersungkur ke tanah.

Dua kawannya langsung menyerang Hannah secara bersamaan. Dengan gesit, gadis itu melompat ke belakang, lalu melancarkan pukulan beruntun ke wajah kedua preman itu. Salah satu dari mereka terhuyung. Hannah dengan tenang menangkap tangannya tersebut, lalu memutarnya ke belakang hingga terdengar bunyi ‘krak’. 

“AARGH! Lepaskan! Lepaskan!”

“Sure.”

Ditendangnya lelaki itu ke arah kawannya sehingga mereka berdua terjatuh dalam posisi bertumpukan.

Hannah mengeluarkan ponselnya, membuka kamera depan. Tangan kirinya membentuk huruf ‘V’ dengan kedua jari. Sementara tangan kanannya yang memegang ponsel diulurkan untuk mengambil selfie dengan latar belakang tiga preman yang sedang tersungkur di tanah.

Dikirimkannya foto itu kepada kontak ‘Bocah Sialan’.

[Bayar utangmu.]

Si brengsek itu. Bisa-bisanya dia berutang dengan menggunakan identitas kakaknya kemudian kabur dari rumah.

Hannah menarik napas panjang sebelum masuk ke rumahnya. 

Di rumahnya ini, sejak adiknya meninggalkan rumah, Hannah hanya tinggal seorang diri.

Tiga puluh menit sebelum tidur adalah satu-satunya waktu di mana ia bisa bersantai. Tidak banyak yang ia lakukan, paling-paling cuma mendengarkan musik atau menonton video.

Notifikasi muncul di layar ponselnya. Dari portal lowongan pekerjaan yang pernah ia daftar sejak lulus kuliah.

‘Lowongan pekerjaan sekretaris’, judulnya. 

Iseng-iseng, Hannah membuka notifikasinya.

[Dicari: Sekretaris untuk Chief Strategy Officer di RQLGroup.

Kualifikasi: Wanita

Tidak perlu CV, hanya perlu lampirkan foto selfie]

Hanya itu? Tidak ada syarat harus lulus dari universitas ternama? Tidak ada syarat pernah mengambil sertifikasi ini itu? Tidak ada syarat minimal pengalaman?

“Penipuan?” Ia menggaruk pipinya bingung.

Sulit dipercaya lowongan dari perusahaan besar tidak mencantumkan syarat yang spesifik. Hanya wanita? Bahkan tidak ada syarat masih hidup. Dengan setengah mengantuk, setengah tidak percaya, Hannah menekan tombol ‘lamar’ di situsnya. Ia hanya perlu melampirkan foto kan?

File sent.

Satu detik berlalu.

Kemudian ia baru sadar.

Matanya membelalak.

“Oh no.”

Hannah mulai panik.

“Oh, no no no…”

Badannya langsung duduk tegak di atas tempat tidur, jarinya sibuk memencet tombol batal.

“Oh, shii—!”

Hannah Barker, baru saja melamar kerja.

Dengan lampiran foto menghajar preman.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • 1001 Cara Membuat Suamiku Selingkuh   Chapter 5

    [Maria]‘Maria. Aku masih ada urusan. Grace akan kukirim ke sana.’Aku meremas kuat ponselku saat menerima pesan dari Damian. Setelah seseorang dari HR department meminta dilibatkan (katanya mereka harus memastikan karyawan yang diterima memenuhi standar minimal), sekarang seorang sekretaris senior juga akan ikut. Beginilah birokrasi.Padahal aku tidak perlu mereka. Aku hanya perlu Damian memilih satu yang terlihat atraktif untuknya.Sudah jam 2 lewat. Aku membuka pintu untuk memastikan semua kandidat sudah hadir.Tiba-tiba seseorang bicara padaku, menegurku bahwa aku terlambat.Aku menahan rasa ingin tertawa. Dia tidak tahu siapa aku. Dia beruntung aku tidak akan mempermasalahkan hal kecil semacam ini.Tunggu.Aku mengenali wajahnya. Gadis penghajar preman itu. Penampilannya tidak buruk, jujur saja. Dia cukup cantik jika berdandan seperti ini. Cukup layak menjadi seorang sekretaris.Grace yang baru tiba mempersilakan aku masuk, menyarankan untuk memulai interview tanpa menunggu Damia

  • 1001 Cara Membuat Suamiku Selingkuh   Chapter 4

    [Hannah]Hannah Barker bersusah payah meminta izin pada bosnya supaya bisa izin hari ini. Tentu saja bosnya yang kikir itu tidak memberikannya izin cuma-cuma. Hannah terpaksa harus merelakan gajinya dipotong demi bisa menghadiri kegiatan maha penting hari ini: interview kerja.Blouse dengan warna pastel dan rok hitam selutut membuatnya tampak profesional dan bersahaja. Make upnya tipis saja, yang penting terlihat segar. Make up terlalu tebal akan membuatnya tidak dikenali. Hannah ingat, recruiter menerima lamarannya saat Hannah mengirimkan foto di mana wajahnya terlihat seperti busuk sekali. Melihat fotonya saja seperti bisa mencium bau lap dapur menguar dari sana. Entah ekspektasi penampilan macam apa yang mereka inginkan untuk jabatan sekretaris. Bukannya sekretaris harusnya selalu cantik dan rapi?Aneh.Tapi mungkin ini memang takdir untuknya.Hannah nyengir sendiri melihat wajahnya di cermin. “Ternyata aku tidak seburuk itu.”Persiapan fisik, done.Persiapan materi, ini yang sep

  • 1001 Cara Membuat Suamiku Selingkuh   Chapter 3

    [Maria]Aku terpaksa menutup lowongan itu lima belas menit setelah dipasang.Ponselku langsung dibanjiri notifikasi tanpa henti begitu iklan lowongan tersebut tayang, padahal saat itu sudah hampir tengah malam.Bukankah biasanya orang mulai bekerja di pagi hari, saat jam kerja?Ini juga salahku karena memasang lowongan tanpa persyaratan apa pun. Tapi sungguh, aku memang tidak membutuhkan apa-apa dari mereka. Mau mereka buta huruf sekalipun, aku tidak peduli.Aku cuma butuh wajah yang cantik. Itu saja."Maria, lampunya."Damian menutupi matanya dengan satu tangan."Kamu belum tidur?""Sebentar lagi."Ia mengerucutkan bibir seperti anak kecil yang sedang merajuk."Ya sudah, ya sudah. Aku matikan lampunya. Tidur saja lagi."Aku harus melakukan sesuatu yang sangat penting.Di dalam kamar yang gelap, berbaring di tempat tidur dengan suamiku di sampingku, aku sedang mencarikan perempuan simpanan untuknya.Aku mematikan lampu meja, menyandarkan kepala ke sandaran ranjang sambil menggulir lay

  • 1001 Cara Membuat Suamiku Selingkuh   Chapter 2

    [Hannah]"TETAP TERSENYUM PADA PELANGGAN MESKI BIBIRMU KENA STROKE."Adalah motto gila toko roti ini. Entah kenapa pemiliknya percaya diri membuat slogan semacam itu sementara karyawannya dibayar pas-pasan.Hannah menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa kantuk. Ia datang jam 9 hari ini jadi sebagai karyawan paruh waktu, ia baru akan boleh pulang pada pukul? Yep, 10 malam. Tiga belas jam shift untuk seorang karyawan paruh waktu. Ini bahkan lebih dari full time. Dasar pemilik toko sialan.Sudah tidak ada pembeli di toko karena toko sudah tutup. Meski begitu, ia masih harus beres-beres toko dan persiapan buka untuk besok.“Aku tidak tahan lagi. Aku akan keluar bulan ini!”Hannah terkejut sendiri mendengarnya. Ia kira itu suara hatinya.Ternyata Liz, teman kerjanya, sedang mengeluh sambil mengepel. Bukan kali pertama Liz berkata begitu, tapi kenyataannya, tetap saja gadis itu tetap bekerja di toko roti ini.“Yakin? Gajimu sejak bulan lalu belum dibayar.”“Justru itu. Aku yakin b

  • 1001 Cara Membuat Suamiku Selingkuh   Chapter 1

    [Maria]Damian Lee memiliki tiga hal yang tidak akan habis ia nikmati: uang, alkohol, dan wanita.Ketiganya memabukkan, tapi Damian Lee tahu cara mengontrolnya: kapan ia harus memulai; kapan ia harus berhenti.Dan klub ini dulu adalah lapaknya.Mungkin karena ini adalah salah satu dari sedikit klub yang buka lebih awal, makanya ia bisa pergi ke sini sepulang kerja. Mungkin dia memang secinta itu pada pesta makanya ia tidak mau menunggu lama.“Di mana Damian? Kenapa dia tidak ada terus sih?” ujar seorang gadis pirang di antara kumpulan para pria mabuk.Ini gadis ketiga yang kulihat mencari Damian malam ini.“SIALAN! Gara-gara dia aku putus dengan pacarku!” Pemuda di meja sebelah menggebrak mejanya. Tetesan bir tumpah ke meja beserta air mata lelaki itu. “Harusnya hari ini anniversary ketiga kami. Kalau saja dia tidak pernah kubawa ke klub ini dan bertemu bajingan itu waktu itu!”Aku menggelengkan kepala.Konon katanya, kalau Damian mengincar pacarmu, menyerah saja. Sudah pasti gadis it

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status