ログイン[Hannah]
"TETAP TERSENYUM PADA PELANGGAN MESKI BIBIRMU KENA STROKE."
Adalah motto gila toko roti ini.
Entah kenapa pemiliknya percaya diri membuat slogan semacam itu sementara karyawannya dibayar pas-pasan.
Hannah menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa kantuk. Ia datang jam 9 hari ini jadi sebagai karyawan paruh waktu, ia baru akan boleh pulang pada pukul? Yep, 10 malam. Tiga belas jam shift untuk seorang karyawan paruh waktu. Ini bahkan lebih dari full time. Dasar pemilik toko sialan.
Sudah tidak ada pembeli di toko karena toko sudah tutup. Meski begitu, ia masih harus beres-beres toko dan persiapan buka untuk besok.
“Aku tidak tahan lagi. Aku akan keluar bulan ini!”
Hannah terkejut sendiri mendengarnya. Ia kira itu suara hatinya.
Ternyata Liz, teman kerjanya, sedang mengeluh sambil mengepel. Bukan kali pertama Liz berkata begitu, tapi kenyataannya, tetap saja gadis itu tetap bekerja di toko roti ini.
“Yakin? Gajimu sejak bulan lalu belum dibayar.”
“Justru itu. Aku yakin bulan ini mereka akan menyuruh kita bersabar lagi.” Liz mendengus. “Kau tahu, aku dengar dari yang lain, keuangan bulan ini akan minus lagi karena Pak Bos menggelapkan uang untuk judi.”
“Yeah,” Hannah mengangguk pelan. Sejujurnya ia juga dengar hal itu.
“Kau ikut, Han?”
“Ikut kemana?” tanyanya tidak acuh.
“Keluar dari toko roti sialan ini. Aku sudah benar-benar muak.”
“Ya lalu, pergi ke mana?”
Liz mengangkat bahunya.
Hannah menghela napas panjang. “Semua orang di tempat ini ingin berhenti kerja, lalu mencari pekerjaan yang lebih baik. Tapi tidak semudah itu. In this economy, mencari pekerjaan yang mau membayarmu layak saja sudah susah.”
“Well, aku sih tidak mau mencari kerja. Lebih baik aku mencari pria kaya dan jadi selingkuhan.”
“Gila.”
“Kenapa gila? Menurutku itu hidup yang lebih baik daripada jadi karyawan toko roti yang dibayar rendah. Apalagi pria hidung belang yang sudah tua. Kita ada di usia yang tepat untuk itu, Han.”
Hannah mengerutkan keningnya, tidak habis pikir dengan omongan kawannya ini. Dalam pikirannya, mungkin Liz sudah sedikit gila saking seringnya dimarahi oleh pemilik toko roti tempat mereka bekerja.
“Tidak usah sok suci. Kalau kau dapat kesempatan itu, memangnya kau mau menolaknya? Bayangkan, kau bisa punya gaya hidup mewah, apartemen gratis…”
“Bukan masalah moral, tapi realistis saja, Liz. Mau cari di mana pria kaya yang mau menafkahi gadis random di jalan? Kau pikir ini semacam drama? Kenapa jadi selingkuhan? Sekalian saja jadi istri sah, menikah resmi dengan CEO.”
“Pergaulanmu saja yang terlalu sempit. Teman SMA-ku saja–”
Omongan mereka terpaksa berhenti karena pintu dibuka. Pak Bos (nama julukan pemilik toko roti itu) tiba-tiba masuk.
Oh, rajin sekali. Baru datang 15 menit sebelum jam pulang untuk marah-marah.
“Hei, Hannah, kau mau aku diviralkan pelanggan? Apa-apaan meja sekotor ini?! Gaji buta kau, ya?!” Ia menggebrak gebrak meja yang sudah dilap sampai mengkilap.
“Kau punya mata tidak? Pel dengan benar atau mukamu yang aku pel.” Ia menunjuk-nunjuk Liz.
Pak Bos masih teriak-teriak ke karyawan lain. Ke kasir, ke pastry chef, ke tukang cuci piring. Seperti semua orang tidak ada yang becus dalam bekerja.
Begitulah orang kalah judi. Semua salah di matanya.
“Aku capek-capek pergi keluar untuk membesarkan toko ini dan begini kerja kalian?!”
Liz dan Hannah saling bertatapan. Membesarkan toko? Yeah, right. Dengan menyumbang sebagian penghasilan toko untuk bandar judi, sungguh kerja yang bagus.
Lima belas menit dihabiskan Hannah untuk mendengar omelan yang menyakitkan hati sebelum akhirnya ia ‘diizinkan’ untuk pulang. Andai saja mendengar ocehannya termasuk dalam job description dan mendapatkan uang lembur, mungkin Hannah bisa sedikit terima.
Gadis itu mengganti baju seragamnya dengan pakaian miliknya, mengambil tas, kemudian keluar lewat pintu belakang. Satu-satunya hal baik dari tempat kerjanya ini adalah ia hanya perlu berjalan kaki 10 menit dari rumah. Setidaknya Hannah tidak perlu mengeluarkan ongkos.
Di depan rumahnya, tiga orang pria bertubuh tinggi dengan pakaian serba hitam menghampirinya.
“Hannah Barker.”
Hannah mencoba pura-pura tidak mendengar. Ia terus berjalan menjauhi orang itu. Tiba-tiba, bahunya diraih. Tangannya ditarik, ia terpaksa memutar badannya ke belakang.
“Bayar dulu utangmu. Jangan tidak tahu malu seperti itu.”
Hannah memicingkan mata. Moodnya sudah tidak bagus karena menghabiskan 15 menit terakhir untuk mendengarkan ucapan bosnya. Sekarang ia harus dimaki-maki lagi?
“Bagaimana kalau kami memberitahu tempat kerjamu kalau kau punya utang dan tidak mau bayar? Kira-kira kau akan dipecat tidak? Hahahaha…”
“Kau tuli, ya?”
“Wah, betulan tuli, dia. Kau pikir kami tidak bisa menghajar wanita, hah?”
Hannah muak sekali dengan kehidupan seperti ini.
“Kau pikir wanita tidak bisa menghajar kalian?” Hannah mengepalkan kedua tangannya.
Ketiga lelaki itu mulai mendekati Hannah.
Salah satu dari mereka mencoba memukul Hannah. Hannah dengan tangkas menghindar. Ia kemudian memberikan tendangan kaki kanan ke perutnya. Lelaki itu tersungkur ke tanah.
Dua kawannya langsung menyerang Hannah secara bersamaan. Dengan gesit, gadis itu melompat ke belakang, lalu melancarkan pukulan beruntun ke wajah kedua preman itu. Salah satu dari mereka terhuyung. Hannah dengan tenang menangkap tangannya tersebut, lalu memutarnya ke belakang hingga terdengar bunyi ‘krak’.
“AARGH! Lepaskan! Lepaskan!”
“Sure.”
Ditendangnya lelaki itu ke arah kawannya sehingga mereka berdua terjatuh dalam posisi bertumpukan.
Hannah mengeluarkan ponselnya, membuka kamera depan. Tangan kirinya membentuk huruf ‘V’ dengan kedua jari. Sementara tangan kanannya yang memegang ponsel diulurkan untuk mengambil selfie dengan latar belakang tiga preman yang sedang tersungkur di tanah.
Dikirimkannya foto itu kepada kontak ‘Bocah Sialan’.
[Bayar utangmu.]
Si brengsek itu. Bisa-bisanya dia berutang dengan menggunakan identitas kakaknya kemudian kabur dari rumah.
Hannah menarik napas panjang sebelum masuk ke rumahnya.
Di rumahnya ini, sejak adiknya meninggalkan rumah, Hannah hanya tinggal seorang diri.
Tiga puluh menit sebelum tidur adalah satu-satunya waktu di mana ia bisa bersantai. Tidak banyak yang ia lakukan, paling-paling cuma mendengarkan musik atau menonton video.
Notifikasi muncul di layar ponselnya. Dari portal lowongan pekerjaan yang pernah ia daftar sejak lulus kuliah.
‘Lowongan pekerjaan sekretaris’, judulnya.
Iseng-iseng, Hannah membuka notifikasinya.
[Dicari: Sekretaris untuk Chief Strategy Officer di RQLGroup.
Kualifikasi: Wanita
Tidak perlu CV, hanya perlu lampirkan foto selfie]
Hanya itu? Tidak ada syarat harus lulus dari universitas ternama? Tidak ada syarat pernah mengambil sertifikasi ini itu? Tidak ada syarat minimal pengalaman?
“Penipuan?” Ia menggaruk pipinya bingung.
Sulit dipercaya lowongan dari perusahaan besar tidak mencantumkan syarat yang spesifik. Hanya wanita? Bahkan tidak ada syarat masih hidup. Dengan setengah mengantuk, setengah tidak percaya, Hannah menekan tombol ‘lamar’ di situsnya. Ia hanya perlu melampirkan foto kan?
File sent.
Satu detik berlalu.
Kemudian ia baru sadar.
Matanya membelalak.
“Oh no.”
Hannah mulai panik.
“Oh, no no no…”
Badannya langsung duduk tegak di atas tempat tidur, jarinya sibuk memencet tombol batal.
“Oh, shii—!”
Hannah Barker, baru saja melamar kerja.
Dengan lampiran foto menghajar preman.
[Hannah]“Aku mencoba menelusuri linimasa kapan pertama kali gosip itu muncul. Ada beberapa akun yang membicarakan gosip itu pada waktu yang sama.”“Beberapa? Berapa banyak?”“Lebih dari lima. Mungkin sepuluh? Aku tidak menghitungnya. Dan akun-akun itulah yang mengarahkan opini dengan membuat begitu banyak unggahan tentangmu, totalnya ratusan, mungkin ribuan. Mirip akun bayaran.”Jantung Hannah serasa diremas.“Yang membenciku sebanyak itu?”Hannah bahkan tidak mengenal sampai sepuluh orang di kantor. Ia masih bisa memahami jika ada orang yang tidak menyukainya. Ia memang bukan orang yang sempurna. Tapi membencinya sampai sesengaja itu?Sebenarnya apa salah Hannah?“Dengar, banyak akun belum tentu berarti banyak pemilik. Bisa saja semuanya dimiliki satu orang. Tidak ada proses verifikasi di forum itu. Siapa pun bisa mendaftar sebanyak
[Hannah]Pencarian dengan kata kunci “Hannah” menghasilkan lebih dari 1.000 unggahan. Tapi bukan itu saja. Mereka juga membicarakannya dengan menggunakan kata kunci “HB”, “Perusak Rumah Tangga”, atau berbagai hinaan lainnya.Hannah nyaris tidak berkedip melihat begitu banyak tulisan itu. Sebagian besar tidak berdasar dan ditulis dengan nada yang sangat merendahkan. Padahal, kemungkinan besar mereka yang menulisnya bahkan tidak mengenalnya.Bola matanya bergerak cepat membaca satu demi satu unggahan itu.[Hannah Barker ada di kantor bos lagi. Pasti sedang membahas 'sesuatu' sampai tiga jam.][Aku lihat Hannah Barker baru turun dari lantai 10. Dia lembur lagi. 'Rajin' sekali, yaaa.][Aku juga lihat Hannah Barker keluar kantor sepuluh menit setelah bosnya. Kebetulan yang sangat kebetulan.][Lucu juga, perjalanan dinas kok harus mengajak sekretaris baru yang tidak
[Maria]“Bagaimana menurutmu?”Damian memaksaku untuk memberi jawaban meskipun aku tidak ingin mengiyakan ataupun menolak. Membuatku terpaksa mengangguk menyetujui idenya.“Itu ide yang bagus,” kataku sambil menyuap mousse cokelat itu tanpa menatap matanya.Aku menunduk menatap makananku, tidak mencoba membaca ekspresinya. Apakah dia bahagia? Atau biasa saja?“Maria.”Ia memanggilku, membuatku sedikit tersentak.“Apa kau bahagia?”“Ya, tentu saja. Liburan ini cukup menyenangkan,” jawabku tanpa berpikir panjang.Aku tidak berbohong kali ini. Aku memang cukup puas dengan apa yang kudapatkan selama liburan. Hotel yang bagus, udara yang segar, makanan yang enak. Bahkan hal yang kupikirkan sebelum berangkat, soal pakaian dalam itu, ternyata tidak seburuk yang kubayangkan.“Bukan itu maksudku.” Damian menarik
[Maria]“Maafkan aku. Seharusnya kita punya agenda lain sore ini, tapi jadi batal,” ujarnya sambil mengenakan pakaiannya kembali.“Tidak apa-apa.”Salahku juga yang tiba-tiba mengenakan pakaian itu. Pakaian seperti itu memang diperuntukkan untuk menggoda. Damian pasti menafsirkannya seperti itu.“Kau tadi...” Ia berusaha keras ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa.“Tidak apa-apa,” ulangku.Ia tidak perlu mengatakan apa-apa atau berkomentar apa-apa. Aku bahkan tidak mau membahas soal ini.“Kau tadi sangat... menggoda. Dan...” Ia memalingkan wajahnya. “Aku tidak bisa menahan diri.”Aku menundukkan kepala, menyembunyikan lengkungan senyum yang muncul di wajah.Aku mengulum bibir, menenangkan diri. Itu bukan sebuah pujian dan seharusnya aku tidak merasa senang. Itu hanya efek dari mengenakan pakaian itu. Artinya, jika Hannah Barker menggunakannya, pakaian itu akan sangat efektif u
[Maria]Kami baru tiba di Meksiko siang hari. Damian bersikeras tidak mau memberitahuku rencana perjalanan. Jadi aku tidak tahu agenda yang akan ia lakukan hari ini atau hari berikutnya.Tapi setidaknya, pasti kami akan ke hotel dulu untuk menaruh barang, kan?“Tanganmu tidak apa-apa, kan?” tanyaku sesaat setelah mendarat.Aku teringat perkataan dokter yang mengatakan turbulensi tidak bagus untuk kondisinya. Meskipun pesawat yang kami naiki tadi cukup mulus.“Tenang saja.”Tidak lama kemudian, kami langsung dijemput oleh layanan sopir pribadi, lalu diantar ke hotel. Aku tidak tahu apakah ini pilihan Damian atau Pak Ed yang merancang semua ini untuknya.Setibanya di hotel, kami diantar oleh petugas hubungan tamu ke kamar kami. Ia menjelaskan cara mengoperasikan kamar pintar dan menjelaskan fasilitas hotel.“Ini teras pribadi Anda. Sesuai jadwal, sekitar tiga p
[Hannah]“Aku sudah berhari-hari mencarinya, tapi tidak ketemu," ujar Hannah sambil menghampiri Kevin yang sedang asyik membaca buku di tangannya. “Kau yakin kau menyimpannya di buku, kan?”“Iya,” jawabnya tidak acuh, matanya tidak lepas dari buku.“Kevin!” Hannah merebut buku itu dari tangan Kevin. “Kenapa kau malah baca komik, bukannya mencari?”“Itu manga.” Kevin mengambil kembali buku itu. “Aku sedang beristirahat. Aku capek.”“Aku juga capek!”“Kalau begitu pulang saja. Tidak ada yang memaksamu mencari nama pengguna dan kata sandinya, kan?”Hannah menghela napas. Memang benar, Hannah-lah yang berkepentingan. Tapi ia juga lelah karena rasanya seperti mencari sendirian.Ini semua mungkin akan lebih cepat selesai kalau saja Kevin benar-benar mencari. Bukan tiba-tiba terdistraksi, membawa bukunya ke sofa, lalu membacanya sampai habis.Kevin membalikkan halaman buku di tangannya. Sebuah kertas kecil terselip di sana.“Ah. Ketemu.”Hannah tersenyum lebar. Kelelahan yang ia rasakan mend
[Maria]Damian tidak ada di sampingku ketika aku bangun tidur pagi ini. Tirai di kamar masih tertutup padahal sudah jam 10. Tidak ada suara vacuum cleaner atau langkah kaki manusia di lorong. Pasti belum ada pelayan yang ke lantai dua.Aku membilas wajahku di wastafel sambil mengingat-ingat apa yang
[Hannah]Kedai roti yang sama, aroma butter yang sama, tapi bagi Hannah, hari ini terasa jauh lebih baik daripada sebelumnya.Tebak kenapa? Karena hari ini hari terakhirnya bekerja.Tidak, Hannah bahkan tidak bekerja. Buat apa ia bekerja kalau bosnya menolak membayar setengah gajinya karena Hannah
[Cecilia]Dulu, Cecilia Wang kecil selalu menganggap hidupnya sempurna. Bagaimana tidak? Ia memiliki mainan yang banyak, orang tua yang penyayang, dan kehidupan yang seperti tuan puteri. Cecilia tidak pernah iri jika temannya memiliki mainan baru, karena sebelum mereka membelinya, Cecilia sudah le
[Cecilia]Rumahnya berisik sejak pagi. Suara bising dari para tukang masak yang menyiapkan hidangan, tukang kebun yang menata anggrek dari pintu masuk, para pelayan yang biasanya membersihkan rumah dalam senyap. Mereka selalu sibuk jika hari-hari penting seperti ini tiba.Keluarga Wang sudah terbias







