登入
[Maria]
Damian Lee memiliki tiga hal yang tidak akan habis ia nikmati: uang, alkohol, dan wanita.
Ketiganya memabukkan, tapi Damian Lee tahu cara mengontrolnya: kapan ia harus memulai; kapan ia harus berhenti.
Dan klub ini dulu adalah lapaknya.
Mungkin karena ini adalah salah satu dari sedikit klub yang buka lebih awal, makanya ia bisa pergi ke sini sepulang kerja. Mungkin dia memang secinta itu pada pesta makanya ia tidak mau menunggu lama.
“Di mana Damian? Kenapa dia tidak ada terus sih?” ujar seorang gadis pirang di antara kumpulan para pria mabuk.
Ini gadis ketiga yang kulihat mencari Damian malam ini.
“SIALAN! Gara-gara dia aku putus dengan pacarku!” Pemuda di meja sebelah menggebrak mejanya. Tetesan bir tumpah ke meja beserta air mata lelaki itu. “Harusnya hari ini anniversary ketiga kami. Kalau saja dia tidak pernah kubawa ke klub ini dan bertemu bajingan itu waktu itu!”
Aku menggelengkan kepala.
Konon katanya, kalau Damian mengincar pacarmu, menyerah saja. Sudah pasti gadis itu akan meninggalkan pacarnya demi kesempatan one night stand dengan Damian. Kalau kau melihat seorang pria menangis di klub ini, kemungkinan itu korban Damian.
Sepertinya rumor itu benar.
Meskipun, yah, mereka tidak bisa melakukan apa-apa untuk balas dendam.
Siapa yang berani melawan pewaris RQL group? Dia tidak bisa dijangkau hukum.
Menyentuhnya? Kau mati.
Simple.
“Jadi, apa yang kau tahu soal Damian? Apa saja. Kelemahannya, mungkin?” tanyaku pada bartender sambil menutupi wajahku dengan topi.
“Damian lagi?” Bartender itu menjawab dengan malas. “Lupakan saja dia. Dia sudah menikah.”
Aku menghela napas panjang. Sudah kuduga datang ke tempat ini adalah ide yang buruk. Tidak kutemukan apa-apa yang bisa membantuku.
Ponselku bergetar, sebuah pesan muncul di layar bersama dengan nama pengirimnya.
[Maria. Meeting baru saja selesai. Aku pulang sekarang.]
Oh, aku istrinya, ngomong-ngomong.
Yep, istri yang malang dari Damian Lee, sang playboy kelas berat.
Aku berdecak. Katanya tadi dia akan pulang ‘sangat telat’ hari ini.
Ini bahkan belum jam 8 malam!
Sebagai seorang eksekutif di kantor, bukankah harusnya dia punya banyak pekerjaan sampai lembur tengah malam? Aku akan lebih senang kalau dia pulang selarut itu. Terserah mau ke mana dulu. Ke hotel, ke beach club, ke Vegas pun. Terserah.
Asal dia kembali pada jati dirinya yang tukang party itu.
[Okay. Aku tunggu di rumah.]
Padahal sih tidak.
Aku langsung membayar bill dengan tip, mengambil tasku, lalu menyuruh chauffeur menyetir mobil secepat mungkin sampai rumah.
Sampai di rumah, masih ada waktu bagiku untuk mengganti pakaian dan merapikan rambutku. Kulihat refleksiku di cermin. Jujur, aku tahu aku tidak jelek. Sebagai istri Damian Lee, menantu keluarga RQL group, sudah sewajarnya aku memenuhi standar dalam hal penampilan.
Tapi kalau dipikir-pikir, aku tidak secantik itu sampai ia meninggalkan haremnya untukku.
Tidak mungkin kan dia sudah bertaubat?
Damian tidak mencintaiku, sama seperti aku tidak mencintainya. Kami berdua tidak menikah karena cinta.
Seperti pernikahan konglomerat lain, kesetiaan bukan bagian dari deal. Kesetiaan kami hanyalah kepada bisnis keluarga kami. Aku sengaja menyelipkan klausa khusus di perjanjian pranikah, mengenai perselingkuhan.
Jika ia selingkuh, separuh sahamnya di RQL group akan pindah ke tanganku.
Dan tentu saja, hal yang sama juga berlaku jika aku selingkuh, tapi itu tidak akan terjadi.
Kupikir menunggu tabiatnya kambuh itu mudah. Bagaimana pun, ia seorang Damian Lee. Tapi ini sudah enam bulan lebih sejak pernikahan kami dan ia tidak menunjukkan tanda-tanda berhubungan dengan gadis lain.
Aku menyambutnya pulang di depan pintu masuk.
Damian tiba bersama dengan personal assistant yang selalu menemaninya ke mana-mana, Pak Ed.
“Maria.” Ia melihatku sekilas. “Tunggu aku di meja makan,” katanya dengan dasi yang sudah dilonggarkan, seolah-olah ia terburu-buru ke sini.
Aku tersenyum padanya. Akting pura-pura jadi pengantin baru yang mesra ini kadang membuatku geli, tapi Pak Ed ada di sini. Aku harus terlihat seperti istri yang normal.
“Selamat malam, Nyonya,” katanya, “Tuan Lee sudah sampai rumah dengan aman. Saya permisi dulu.”
“Tunggu, Pak Ed,” pintaku menghentikannya. “Suamiku betul-betul langsung pulang ke rumah setelah meeting?” Aku mencoba terlihat senetral mungkin tanpa kecurigaan.
Pak Ed tersenyum. “Ya, Nyonya. Tuan Lee langsung buru-buru pulang. Beliau bahkan menolak ajakan makan malam dengan klien.”
Aku menghela napas kecewa.
“Tenang saja, Nyonya. Tuan Lee sangat setia pada Anda.”
Justru itu masalahnya, aku ingin dia supaya tidak setia.
“Bukan begitu, Pak Ed,” bantahku.
Kemudian, sebuah ide tiba-tiba terlintas di benakku.
“Pak, kalau aku tidak salah ingat, salah seorang sekretaris ada yang sedang hamil.” Aku ingat seseorang dengan perut yang membesar saat terakhir kali aku ke kantornya.
“Betul. Anda perhatian sekali, Nyonya. Seingat saya dia akan mengambil cuti melahirkan mulai bulan depan.”
“Aku akan mengurus penggantinya. Kita bisa memberikan dia cuti lebih awal, lebih panjang. Itu akan membantu citra perusahaan juga kalau benefit untuk pekerja wanita lebih baik,” ujarku. “Sebagai istrinya, aku bisa melakukan itu kan?”
“Err, soal itu, saya harus konfirmasi dulu ke Tuan Lee.”
“Aku akan bicara dengannya langsung. Bilang saja ke HR kalau aku sendiri yang akan mengurus rekrutmennya.”
“Baik kalau begitu, akan saya sampaikan. Saya permisi dulu.”
***
Makan malam Damian biasanya sunyi. Kami tidak saling mengobrol atau bertanya soal hari masing-masing kecuali soal bisnis. Tidak ada pertanyaan soal bagaimana hari di kantor. Pertanyaan personal seperti berapa ukuran sepatuku berarti ada event yang harus kudatangi dan ia harus menginformasikan itu ke tim styling pribadi keluarganya untuk menyiapkan outfitku.
Tapi hari ini tidak.
“Kau suka wanita seperti apa?”
Aku hanya ingin satu hal itu dan aku tidak ingin berbasa-basi.
Damian mematung, garpunya berhenti tepat di depan mulut.
“Maksudmu apa?”
“Tipe wanita idamanmu. Apa yang kau cari dari sisi fisik, kepribadian, latar belakang? Apa saja.”
“Maria. Kau aneh. Apakah aku dites? Kau ingin aku bilang apa? ‘Wanita sepertimu’, begitu? Rambut hitam panjang, 163 cm, kulit putih bersih, putri konglomerat.”
Dia malah menjadikan aku bahan candaan. Beraninya dia.
“Ayolah, aku serius, Damian.”
“Aku juga serius, Maria. Kenapa kau tanya itu padaku? Aku sudah menikah dan kau beruntung aku sangat setia pada istriku.”
Setia apanya. Aku akan membuatnya selingkuh apapun yang terjadi.
“Terus kenapa kalau sudah menikah? Semua orang pasti punya preferensi.”
Apalagi, kami berdua tidak menikah karena kami tipe idaman satu sama lain.
“Begitukah?” Ia meletakkan garpunya, bersandar pada kursi, menatapku lurus. “Lalu, kalau preferensimu seperti apa?”
Aku tidak menyangka ditanya balik.
“Ini bukan tentang aku,” aku berkilah.
“Kalau begitu aku juga tidak mau jawab.”
“Fine. Aku suka laki-laki yang baik, gentle, dan tahu cara memperlakukan wanita,” ujarku asal mengatakan apa saja yang tidak terdengar seperti kelakuannya.
Dan tentu saja bukan hal yang benar-benar ada di pikiranku soal ‘pria idaman’. Aku khawatir dia akan menggunakan strategi yang sama untuk menjebakku.
“Jadi, Damian, wanita seperti apa yang kau suka?”
“Yang penting cantik dan seksi.”
Dia menjawab seperti dia tidak berpikir panjang.
Ekspektasiku untuknya sudah rendah, tapi jawabannya bahkan tidak mencapai ekspektasiku. Orang biasa saja punya kriteria tertentu, sesuatu yang spesifik, standar yang lebih tinggi.
Tapi dia?
Tidak heran semua gadis di klub masuk ke target pasarnya.
Kalau kami adalah pasangan yang normal, aku mungkin akan sedikit terhina suamiku mau dengan siapa saja asal cantik dan seksi. Tapi karena kami bukan pasangan yang seperti itu, aku mencoba menerima kriterianya dengan pikiran terbuka.
“Sudah kuduga, kau tidak picky asal mereka enak dipandang.”
“Yep, yep,” jawabnya dengan santai, kembali ke makanannya.
Ruangan itu jadi sunyi lagi karena kami tidak punya topik pembicaraan lain. Aku menunggu sampai makanannya hampir habis untuk menanyakan hal yang paling penting di waktu yang tepat.
“Ngomong-ngomong, kau tidak keberatan kalau aku mencari sekretaris pengganti buatmu kan? Yang sekarang perlu cuti melahirkan.”
“Atur saja sesukamu, Maria. Aku tidak begitu peduli soal itu.”
Senyum samar muncul di wajahku. Aku bisa memulai menjalankan rencanaku.
Setelah makan malam selesai, aku buru-buru kembali ke kamar. Kuambil ponsel dan kubuat draft iklan di salah satu situs pencari kerja.
[Dicari: Sekretaris untuk Chief Strategy Officer di RQL Group.
Kualifikasi: Wanita
Tidak perlu CV, hanya perlu lampirkan foto selfie]
Kubaca ulang iklan itu sekali lagi sebelum menekan tombol posting.
Kalau Damian tidak mau mencari perempuan simpanan sendiri, aku yang akan melakukannya untuknya.
[Maria]‘Maria. Aku masih ada urusan. Grace akan kukirim ke sana.’Aku meremas kuat ponselku saat menerima pesan dari Damian. Setelah seseorang dari HR department meminta dilibatkan (katanya mereka harus memastikan karyawan yang diterima memenuhi standar minimal), sekarang seorang sekretaris senior juga akan ikut. Beginilah birokrasi.Padahal aku tidak perlu mereka. Aku hanya perlu Damian memilih satu yang terlihat atraktif untuknya.Sudah jam 2 lewat. Aku membuka pintu untuk memastikan semua kandidat sudah hadir.Tiba-tiba seseorang bicara padaku, menegurku bahwa aku terlambat.Aku menahan rasa ingin tertawa. Dia tidak tahu siapa aku. Dia beruntung aku tidak akan mempermasalahkan hal kecil semacam ini.Tunggu.Aku mengenali wajahnya. Gadis penghajar preman itu. Penampilannya tidak buruk, jujur saja. Dia cukup cantik jika berdandan seperti ini. Cukup layak menjadi seorang sekretaris.Grace yang baru tiba mempersilakan aku masuk, menyarankan untuk memulai interview tanpa menunggu Damia
[Hannah]Hannah Barker bersusah payah meminta izin pada bosnya supaya bisa izin hari ini. Tentu saja bosnya yang kikir itu tidak memberikannya izin cuma-cuma. Hannah terpaksa harus merelakan gajinya dipotong demi bisa menghadiri kegiatan maha penting hari ini: interview kerja.Blouse dengan warna pastel dan rok hitam selutut membuatnya tampak profesional dan bersahaja. Make upnya tipis saja, yang penting terlihat segar. Make up terlalu tebal akan membuatnya tidak dikenali. Hannah ingat, recruiter menerima lamarannya saat Hannah mengirimkan foto di mana wajahnya terlihat seperti busuk sekali. Melihat fotonya saja seperti bisa mencium bau lap dapur menguar dari sana. Entah ekspektasi penampilan macam apa yang mereka inginkan untuk jabatan sekretaris. Bukannya sekretaris harusnya selalu cantik dan rapi?Aneh.Tapi mungkin ini memang takdir untuknya.Hannah nyengir sendiri melihat wajahnya di cermin. “Ternyata aku tidak seburuk itu.”Persiapan fisik, done.Persiapan materi, ini yang sep
[Maria]Aku terpaksa menutup lowongan itu lima belas menit setelah dipasang.Ponselku langsung dibanjiri notifikasi tanpa henti begitu iklan lowongan tersebut tayang, padahal saat itu sudah hampir tengah malam.Bukankah biasanya orang mulai bekerja di pagi hari, saat jam kerja?Ini juga salahku karena memasang lowongan tanpa persyaratan apa pun. Tapi sungguh, aku memang tidak membutuhkan apa-apa dari mereka. Mau mereka buta huruf sekalipun, aku tidak peduli.Aku cuma butuh wajah yang cantik. Itu saja."Maria, lampunya."Damian menutupi matanya dengan satu tangan."Kamu belum tidur?""Sebentar lagi."Ia mengerucutkan bibir seperti anak kecil yang sedang merajuk."Ya sudah, ya sudah. Aku matikan lampunya. Tidur saja lagi."Aku harus melakukan sesuatu yang sangat penting.Di dalam kamar yang gelap, berbaring di tempat tidur dengan suamiku di sampingku, aku sedang mencarikan perempuan simpanan untuknya.Aku mematikan lampu meja, menyandarkan kepala ke sandaran ranjang sambil menggulir lay
[Hannah]"TETAP TERSENYUM PADA PELANGGAN MESKI BIBIRMU KENA STROKE."Adalah motto gila toko roti ini. Entah kenapa pemiliknya percaya diri membuat slogan semacam itu sementara karyawannya dibayar pas-pasan.Hannah menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa kantuk. Ia datang jam 9 hari ini jadi sebagai karyawan paruh waktu, ia baru akan boleh pulang pada pukul? Yep, 10 malam. Tiga belas jam shift untuk seorang karyawan paruh waktu. Ini bahkan lebih dari full time. Dasar pemilik toko sialan.Sudah tidak ada pembeli di toko karena toko sudah tutup. Meski begitu, ia masih harus beres-beres toko dan persiapan buka untuk besok.“Aku tidak tahan lagi. Aku akan keluar bulan ini!”Hannah terkejut sendiri mendengarnya. Ia kira itu suara hatinya.Ternyata Liz, teman kerjanya, sedang mengeluh sambil mengepel. Bukan kali pertama Liz berkata begitu, tapi kenyataannya, tetap saja gadis itu tetap bekerja di toko roti ini.“Yakin? Gajimu sejak bulan lalu belum dibayar.”“Justru itu. Aku yakin b
[Maria]Damian Lee memiliki tiga hal yang tidak akan habis ia nikmati: uang, alkohol, dan wanita.Ketiganya memabukkan, tapi Damian Lee tahu cara mengontrolnya: kapan ia harus memulai; kapan ia harus berhenti.Dan klub ini dulu adalah lapaknya.Mungkin karena ini adalah salah satu dari sedikit klub yang buka lebih awal, makanya ia bisa pergi ke sini sepulang kerja. Mungkin dia memang secinta itu pada pesta makanya ia tidak mau menunggu lama.“Di mana Damian? Kenapa dia tidak ada terus sih?” ujar seorang gadis pirang di antara kumpulan para pria mabuk.Ini gadis ketiga yang kulihat mencari Damian malam ini.“SIALAN! Gara-gara dia aku putus dengan pacarku!” Pemuda di meja sebelah menggebrak mejanya. Tetesan bir tumpah ke meja beserta air mata lelaki itu. “Harusnya hari ini anniversary ketiga kami. Kalau saja dia tidak pernah kubawa ke klub ini dan bertemu bajingan itu waktu itu!”Aku menggelengkan kepala.Konon katanya, kalau Damian mengincar pacarmu, menyerah saja. Sudah pasti gadis it







