ログイン[Maria]
‘Maria. Aku masih ada urusan. Grace akan kukirim ke sana.’
Aku meremas kuat ponselku saat menerima pesan dari Damian. Setelah seseorang dari HR department meminta dilibatkan (katanya mereka harus memastikan karyawan yang diterima memenuhi standar minimal), sekarang seorang sekretaris senior juga akan ikut. Beginilah birokrasi.
Padahal aku tidak perlu mereka. Aku hanya perlu Damian memilih satu yang terlihat atraktif untuknya.
Sudah jam 2 lewat. Aku membuka pintu untuk memastikan semua kandidat sudah hadir.
Tiba-tiba seseorang bicara padaku, menegurku bahwa aku terlambat.
Aku menahan rasa ingin tertawa. Dia tidak tahu siapa aku. Dia beruntung aku tidak akan mempermasalahkan hal kecil semacam ini.
Tunggu.
Aku mengenali wajahnya. Gadis penghajar preman itu. Penampilannya tidak buruk, jujur saja. Dia cukup cantik jika berdandan seperti ini. Cukup layak menjadi seorang sekretaris.
Grace yang baru tiba mempersilakan aku masuk, menyarankan untuk memulai interview tanpa menunggu Damian. Aku mengangguk dan langsung duduk ke kursi eksekutif. Grace dan seorang pria yang dikirim dari HR duduk di sisi kanan-kiriku.
Aku memulai proses interview dengan perkenalan satu per satu kandidat.
Satu per satu dari mereka memperkenalkan diri. Aku diberikan lembar penilaian dari Andrew dengan berbagai macam checklist dan catatan.
Di catatan itu, HR sebenarnya sudah melakukan background check kepada kandidat. Mengingat posisi ini cukup penting dan akan banyak berurusan dengan dokumen yang sifatnya sensitif dan rahasia perusahaan.
Wanita yang pertama, Emily Carter, punya pengalaman 7 tahun di bidang administrasi, lulusan universitas tier-2. Tapi itu tidak begitu penting. Menurutku dia tidak secantik foto yang dia kirimkan, tapi badannya seksi dengan tinggi semampai. Cocok untuk bersanding dengan Damian.
Yang kedua, Jasmine Brooks. Fresh graduate dengan GPA nyaris sempurna, lulusan universitas tier-1. Wajahnya manis dan menggemaskan. Hanya saja, aslinya malah terlihat lebih muda dari foto yang ia kirimkan. Berdiri di sampingnya bisa membuat Damian terlihat seperti pedofil. Tapi aku tidak tahu apakah selera dia yang seperti ini.
Yang ketiga, Lauren Mitchell, tidak kuliah. Tapi pengalaman kerjanya sebagai model majalah dewasa. Sangat cantik, sangat seksi. Bicaranya terbata-bata seperti tidak siap. Sayang sekali ada HR di sini, kalau tidak, profilnya paling cocok untuk jadi wanita simpanan Damian… oops, maksudku, sekretaris Damian.
Yang keempat, Hannah Barker. Tidak memiliki pengalaman kerja atau riwayat pendidikan yang impresif.
Tapi jawabannya sangat menarik.
Dan dia yang paling terdengar putus asa.
Akan melakukan apapun selama tidak dipecat? Ini dia yang aku cari.
Ada catatan dari HR bahwa gadis ini memiliki utang dengan nominal yang cukup besar. Meskipun menurut mereka tidak ada aturan kantor mengenai urusan utang-piutang pegawai.
Suara ketukan di pintu dari Pak Ed, tepat saat Hannah Barker selesai sesi tanya jawabnya.
Sambil berjalan masuk, Damian Lee merapikan jasnya. Aku memperhatikan ekspresi keempat kandidat yang ada di dalam.
Ooh, mereka terpesona dengan Damian.
Damian duduk di kursi Grace.
“Maria. Maaf aku terlambat,” bisiknya padaku.
Aku mengangguk kecil, nyaris tidak terlihat.
Damian berbalik memandang gadis gadis itu. “Selamat siang, saya Damian Lee.”
Aku mendekatkan wajahku ke arahnya, kemudian bicara dengan suara pelan. “Mana yang menurutmu paling cantik?”
“Di ruangan ini?”
“Yep.”
“Mm. Rok hitam,” katanya cepat tanpa sekalipun melepas pandangan dariku.
Baiklah, rok hitam berarti Hannah Barker? Aku mengangguk.
“Got it. Sudah cukup.”
“Itu saja?”
“Yep. Thank you.”
Damian segera berdiri lalu meninggalkan ruangan.
Aku menepuk tanganku sekali, mengambil perhatian orang-orang dari Damian. Setelahnya, interview aku tutup.
Para kandidat dibubarkan. Aku memberi tahu Andrew kandidat yang dipilih agar HR bisa memprosesnya lebih lanjut.
“Sebenarnya tidak ada masalah dengan profilnya, kita bisa memberikan dia kesempatan. Tapi kenapa?”
“Itu pilihan Bapak Damian Lee.”
“Baik. Kami akan mengurus ini.”
“Okay, thank you. Kalian berdua bisa kembali bekerja.”
Aku mengambil ponselku, membuka aplikasi, kemudian menekan tombol terima di profile Hannah Barker.
Sebenarnya ada yang mengganjal di pikiranku. Apakah Damian melihat rok yang ia kenakan? Bukankah sepanjang Damian datang di ruangan ini, Hannah Barker duduk di belakang meja?
***
Pukul sembilan malam, Damian sudah mengganti pakaiannya dengan piyama. Aku berbaring di tempat tidur setelah mematikan monitor tv yang tidak benar-benar kutonton. Cahaya lampu kuning yang lembut menjadi pencahayaan satu-satunya.
Kamar kami cukup besar untuk berdua, pun ranjang kami cukup luas untuk space masing-masing tidur. Meski begitu, Damian memilih untuk rebahan di sampingku.
“Maria. Kau tidak perlu begadang malam ini, kan? Semua sudah beres?”
“Yeah. Kenapa?”
“Tidak apa-apa. Hanya lega kau tidak akan begadang dengan ponselmu.”
Ah, benar. Sinar UV dan radiasi apalah itu yang mengganggu kualitas tidurnya.
Damian melingkarkan tangannya di badanku, menyenderkan kepalanya di lenganku, dan mulai menciuminya. Aku selalu membiarkannya melakukan itu, atau bahkan lebih dari itu.
Bagaimanapun Damian adalah suamiku. Meskipun ia tidak mencintaiku, tentu saja sebagai lelaki, ia memiliki kebutuhan kontak fisik atau apapun itu. Aku mengerti.
“Maria. Peluk aku.”
“Okay.”
Karena itu adalah perintah.
Ponselku berdering. Damian bangun dari posisinya.
Aku selalu mematikan suara ponselku di jam tidur. Ponselku hanya berdering di malam hari dari nomor orang-orang yang kutandai karena telepon dari mereka tidak boleh tidak kuangkat. Keluargaku.
“Aku harus angkat,” ucapku sebenarnya lebih kepada diri sendiri.
Kuraih tanganku mengambil ponsel ke nakas di samping tempat tidur.
Cecilia.
Aku berdeham sebelum mengangkatnya.
“Ya?”
“Maria, kau tidak lupa kan Sabtu ini ulang tahun ayahku?”
Tarik napas. Buang napas.
“Tidak. Aku ingat.”
“Aku tidak ingin kau datang. Tapi kau tahu, orang-orang akan berpikir aku melarangmu untuk datang. Dan itu akan membuatku seperti orang jahat.”
Tapi kau memang orang jahat.
“Jadi aku harus bagaimana?”
“Kau tidak paham ucapanku? Terserah kau datang atau tidak tapi jangan membuat orang-orang berpikir negatif tentangku.”
“Aku tidak bisa mengatur pikiran orang orang.” Aku memijat kepalaku, bicara dengannya selalu membuat kepalaku pening. “Aku akan datang. Orang-orang tidak akan peduli padaku.”
“Bagaimana mereka tidak peduli? Kau ini anak selingkuhan. Keberadaanmu akan selalu jadi fokus omongan orang karena kelahiranmu adalah aib. Pikirkan perasaan ibuku! Kau punya hati tidak?”
Aku sampai menjauhkan telingaku dari ponsel supaya tidak mendengarnya mencak-mencak tidak karuan.
Kutarik napas dalam-dalam sebelum membalas ucapannya.
“Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menarik perhatian.”
Ponsel kututup.
Setelah semua yang kulakukan untuk keluargaku, bahkan menikah dengan laki-laki yang tidak kucintai untuk mempermulus bisnis keluarga, tentu saja aku masih dianggap sampah oleh mereka.
Memangnya sejak kapan seorang anak bisa memilih ibu?
Dadaku rasanya sesak oleh rasa sakit. Kukepal tanganku kuat-kuat, tapi tidak cukup untuk menyingkirkan perasaan tidak enak di dalam dadaku. Seharusnya aku bisa menenangkan diri.
Tapi aku hanya mematung dengan napas yang naik turun.
“Maria, ada apa?”
Aku tidak ingin memikirkan Cecilia lagi. Aku tidak ingin memikirkan ibunya. Aku tidak ingin memikirkan keluargaku sama sekali.
Kulempar pandanganku yang kosong ke arah Damian.
Hanya ia yang ada di sini.
“Tidak ada apa-apa.”
Kukecup bibir lelaki itu.
Lelaki yang akan kutinggalkan jika semua berjalan sesuai rencana.
[Maria]‘Maria. Aku masih ada urusan. Grace akan kukirim ke sana.’Aku meremas kuat ponselku saat menerima pesan dari Damian. Setelah seseorang dari HR department meminta dilibatkan (katanya mereka harus memastikan karyawan yang diterima memenuhi standar minimal), sekarang seorang sekretaris senior juga akan ikut. Beginilah birokrasi.Padahal aku tidak perlu mereka. Aku hanya perlu Damian memilih satu yang terlihat atraktif untuknya.Sudah jam 2 lewat. Aku membuka pintu untuk memastikan semua kandidat sudah hadir.Tiba-tiba seseorang bicara padaku, menegurku bahwa aku terlambat.Aku menahan rasa ingin tertawa. Dia tidak tahu siapa aku. Dia beruntung aku tidak akan mempermasalahkan hal kecil semacam ini.Tunggu.Aku mengenali wajahnya. Gadis penghajar preman itu. Penampilannya tidak buruk, jujur saja. Dia cukup cantik jika berdandan seperti ini. Cukup layak menjadi seorang sekretaris.Grace yang baru tiba mempersilakan aku masuk, menyarankan untuk memulai interview tanpa menunggu Damia
[Hannah]Hannah Barker bersusah payah meminta izin pada bosnya supaya bisa izin hari ini. Tentu saja bosnya yang kikir itu tidak memberikannya izin cuma-cuma. Hannah terpaksa harus merelakan gajinya dipotong demi bisa menghadiri kegiatan maha penting hari ini: interview kerja.Blouse dengan warna pastel dan rok hitam selutut membuatnya tampak profesional dan bersahaja. Make upnya tipis saja, yang penting terlihat segar. Make up terlalu tebal akan membuatnya tidak dikenali. Hannah ingat, recruiter menerima lamarannya saat Hannah mengirimkan foto di mana wajahnya terlihat seperti busuk sekali. Melihat fotonya saja seperti bisa mencium bau lap dapur menguar dari sana. Entah ekspektasi penampilan macam apa yang mereka inginkan untuk jabatan sekretaris. Bukannya sekretaris harusnya selalu cantik dan rapi?Aneh.Tapi mungkin ini memang takdir untuknya.Hannah nyengir sendiri melihat wajahnya di cermin. “Ternyata aku tidak seburuk itu.”Persiapan fisik, done.Persiapan materi, ini yang sep
[Maria]Aku terpaksa menutup lowongan itu lima belas menit setelah dipasang.Ponselku langsung dibanjiri notifikasi tanpa henti begitu iklan lowongan tersebut tayang, padahal saat itu sudah hampir tengah malam.Bukankah biasanya orang mulai bekerja di pagi hari, saat jam kerja?Ini juga salahku karena memasang lowongan tanpa persyaratan apa pun. Tapi sungguh, aku memang tidak membutuhkan apa-apa dari mereka. Mau mereka buta huruf sekalipun, aku tidak peduli.Aku cuma butuh wajah yang cantik. Itu saja."Maria, lampunya."Damian menutupi matanya dengan satu tangan."Kamu belum tidur?""Sebentar lagi."Ia mengerucutkan bibir seperti anak kecil yang sedang merajuk."Ya sudah, ya sudah. Aku matikan lampunya. Tidur saja lagi."Aku harus melakukan sesuatu yang sangat penting.Di dalam kamar yang gelap, berbaring di tempat tidur dengan suamiku di sampingku, aku sedang mencarikan perempuan simpanan untuknya.Aku mematikan lampu meja, menyandarkan kepala ke sandaran ranjang sambil menggulir lay
[Hannah]"TETAP TERSENYUM PADA PELANGGAN MESKI BIBIRMU KENA STROKE."Adalah motto gila toko roti ini. Entah kenapa pemiliknya percaya diri membuat slogan semacam itu sementara karyawannya dibayar pas-pasan.Hannah menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa kantuk. Ia datang jam 9 hari ini jadi sebagai karyawan paruh waktu, ia baru akan boleh pulang pada pukul? Yep, 10 malam. Tiga belas jam shift untuk seorang karyawan paruh waktu. Ini bahkan lebih dari full time. Dasar pemilik toko sialan.Sudah tidak ada pembeli di toko karena toko sudah tutup. Meski begitu, ia masih harus beres-beres toko dan persiapan buka untuk besok.“Aku tidak tahan lagi. Aku akan keluar bulan ini!”Hannah terkejut sendiri mendengarnya. Ia kira itu suara hatinya.Ternyata Liz, teman kerjanya, sedang mengeluh sambil mengepel. Bukan kali pertama Liz berkata begitu, tapi kenyataannya, tetap saja gadis itu tetap bekerja di toko roti ini.“Yakin? Gajimu sejak bulan lalu belum dibayar.”“Justru itu. Aku yakin b
[Maria]Damian Lee memiliki tiga hal yang tidak akan habis ia nikmati: uang, alkohol, dan wanita.Ketiganya memabukkan, tapi Damian Lee tahu cara mengontrolnya: kapan ia harus memulai; kapan ia harus berhenti.Dan klub ini dulu adalah lapaknya.Mungkin karena ini adalah salah satu dari sedikit klub yang buka lebih awal, makanya ia bisa pergi ke sini sepulang kerja. Mungkin dia memang secinta itu pada pesta makanya ia tidak mau menunggu lama.“Di mana Damian? Kenapa dia tidak ada terus sih?” ujar seorang gadis pirang di antara kumpulan para pria mabuk.Ini gadis ketiga yang kulihat mencari Damian malam ini.“SIALAN! Gara-gara dia aku putus dengan pacarku!” Pemuda di meja sebelah menggebrak mejanya. Tetesan bir tumpah ke meja beserta air mata lelaki itu. “Harusnya hari ini anniversary ketiga kami. Kalau saja dia tidak pernah kubawa ke klub ini dan bertemu bajingan itu waktu itu!”Aku menggelengkan kepala.Konon katanya, kalau Damian mengincar pacarmu, menyerah saja. Sudah pasti gadis it







