ログイン[Hannah]
Hannah Barker bersusah payah meminta izin pada bosnya supaya bisa izin hari ini. Tentu saja bosnya yang kikir itu tidak memberikannya izin cuma-cuma. Hannah terpaksa harus merelakan gajinya dipotong demi bisa menghadiri kegiatan maha penting hari ini: interview kerja.
Blouse dengan warna pastel dan rok hitam selutut membuatnya tampak profesional dan bersahaja. Make upnya tipis saja, yang penting terlihat segar. Make up terlalu tebal akan membuatnya tidak dikenali.
Hannah ingat, recruiter menerima lamarannya saat Hannah mengirimkan foto di mana wajahnya terlihat seperti busuk sekali. Melihat fotonya saja seperti bisa mencium bau lap dapur menguar dari sana.
Entah ekspektasi penampilan macam apa yang mereka inginkan untuk jabatan sekretaris. Bukannya sekretaris harusnya selalu cantik dan rapi?
Aneh.
Tapi mungkin ini memang takdir untuknya.
Hannah nyengir sendiri melihat wajahnya di cermin. “Ternyata aku tidak seburuk itu.”
Persiapan fisik, done.
Persiapan materi, ini yang sepertinya sulit.
Hannah mengerjakan PR-nya dengan segiat mungkin. Ia banyak mencari tahu soal perusahaan RQL. Sebelumnya ia hanya tahu perusahaan ini bergerak di bidang FMCG dan sudah berskala global.
Tapi di luar itu, ia juga membaca berita soal perusahaan ini. Misalnya rencana mereka untuk mengeluarkan lini produk personal care, serta rencana ekspansi ke beberapa negara di Asia Tenggara.
“Hanya saja, konon penetrasi pasar di sana sangat sulit karena mereka sensitif dengan harga dan juga ada kendala distribusi,” Hannah menggumamkan hafalan jawabannya sambil menata rambutnya. “Whoa, aku terdengar sangat profesional.”
Satu hal yang mengganjal di pikirannya adalah tentang Damian Lee. Saat pre-screening, nama itu disebutkan. Kemungkinan besar, nama itu yang akan menjadi atasannya. Nama Damian Lee memang sering muncul di berita soal RQL group.
Masalahnya, lain cerita saat ia coba menelusuri nama itu di sosial media. Damian Lee terdengar seperti public figure. Tidak, seperti seorang idol. Dia populer dan banyak diidamkan oleh wanita random yang kehausan. Foto Damian Lee yang beredar di sosial media pun kebanyakan hanya foto blur seperti diambil dari kejauhan.
Dan mereka membuat caption seperti, ‘He’s so hot here.’
Bagaimana orang dengan wajah tidak jelas terlihat ‘HOT’. Apakah mereka punya mata batin?
Well, kita lihat saja nanti seperti apa orangnya.
***
Hannah tiba lebih awal sebelum yang lain. Resepsionis memintanya menunggu di ruang pertemuan lantai 11.
Ruangannya tidak terlalu besar dengan dua seating terpisah. Di depan, berjejer kursi untuk pimpinan dengan meja panjang. Sementara di seberangnya, kursi dan meja panjang membentuk setengah lingkaran, berhadapan dengan posisi duduk para pimpinan.
Sesuai dengan undangan, interview dilakukan langsung dengan seluruh kandidat. Hannah mengambil posisi paling dekat dengan pintu masuk.
Beberapa menit kemudian, kandidat lain mulai berdatangan. Mereka sangat cantik.
Ia menengok jam dinding di ruangan. Sudah pukul 2 lewat 5 menit. Interview seharusnya dimulai lima menit lalu.
Seorang wanita baru saja membuka pintu. Wanita yang ini cantik sekali. Dia menggunakan blazer hitam lengan panjang dan rok hitam yang membuatnya terlihat sedikit mengintimidasi. Rambut hitamnya yang lurus panjang jatuh di punggungnya..
Hannah mengerutkan dahinya mengingat-ingat apa yang barusan itu pernah dilihatnya di sebuah film. Kalau pemilihan sekretaris ini berdasarkan wajah, dengan kandidat lawan semacam ini, Hannah tidak akan lolos.
Wanita itu berdiri di depan pintu, memindai orang-orang yang ada di dalam.
“Sepertinya kau sudah telat,” Hannah, yang duduk paling dekat dengan pintu bicara padanya. “Para kandidat kan disuruh ke sini sebelum jam 2.”
Wanita itu terlihat terkejut, tapi Hannah juga sama terkejutnya atas ucapannya sendiri. Apakah insting tidak mau kalah membuatnya mengusir halus wanita itu? Ia tidak paham.
“Jadi,” ia menyelipkan rambut panjangnya di belakang telinga, “aku tidak boleh masuk sini?”
Hannah tidak tahu kenapa tapi ia merasa harus minta maaf. Kepalanya ditundukkan sedikit, “Maaf, bukan begitu maksudku.”
Dua orang dengan ID card muncul di belakang wanita itu.
“Silakan masuk, Nyonya. Tuan Lee masih ada rapat. Sebaiknya kita mulai duluan saja interviewnya,” ujar salah seorang dari mereka.
Wanita yang dipanggil Nyonya itu mengangguk kemudian melenggang ke kursi pimpinan.
‘Tamatlah sudah riwayatku,’ batin Hannah.
“Selamat siang,” wanita itu bicara di depan, “terima kasih karena sudah bersedia datang untuk interview siang hari ini. Saya Maria.” Ia memperkenalkan diri, kemudian mempersilakan orang di sampingnya untuk bicara.
“Saya Andrew, dari departemen HR.”
“Grace, senior secretary.”
Maria melanjutkan ucapannya. “Sesuai dengan yang disampaikan di iklan, kami sedang membuka posisi untuk sekretaris di executive assistant team. Tim ini langsung membawahi Bapak Damian Lee, Chief Strategy Officer di kantor ini.”
“Sebenarnya posisi ini awalnya direncanakan untuk posisi sementara. Tapi tergantung kepada performa kalian, posisi ini bisa dilanjutkan secara permanen.”
Hannah bersumpah ia melihat Maria menyeringai saat mengatakan itu.
“Silakan, para kandidat memperkenalkan diri.” Dengan gerakan tangan, Maria mempersilakan kandidat di sebelah kanan untuk mulai duluan.
Itu artinya, Hannah mendapat giliran terakhir.
Bagus? Tidak.
Mendengarkan perkenalan orang-orang dengan kualifikasi dan pengalaman yang lebih wah daripada dirinya di awal, membuat Hannah merasa ingin menyerah duluan.
Hannah menarik napas panjang sebelum gilirannya bicara.
“Saya Hannah Barker. Saya lulus dari jurusan manajemen Universitas U. Saat ini saya bekerja sebagai waitress di kedai roti. Pengalaman saya sebelumnya, pernah menjadi asisten dosen, tutor, translator, juru ketik. Sejujurnya, saya bisa bekerja apa saja selama tidak dipecat.”
“Apa saja?” Maria tertawa kecil sambil menuliskan sesuatu di kertas penilaiannya.
Hannah merasa ia melakukan sesuatu yang salah.
“Nona Hannah,” Andrew bicara padanya, “Dibanding kandidat lain, Anda tidak punya pengalaman bekerja sebagai sekretaris. Anda yakin melamar pekerjaan ini?”
Right.
“Saya tidak punya pengalaman bekerja sebagai sekretaris karena tidak diberi kesempatan bekerja sebagai sekretaris, bukan berarti tidak bisa melakukannya. Makanya saya melamar pekerjaan ini.”
Grace bicara dengan nada dingin. “Pekerjaan Anda sebelumnya hanya part time. Tidak sebesar tekanan pekerjaan full time yang harus memenuhi target, apalagi sebagai sekretaris, kami sering lembur hingga malam.”
“Saya sangat familiar dengan itu. Part time saya tiga belas jam sehari. Sehari-hari saya pulang jam 10 malam.”
Grace mengangguk, meski tanpa senyum. Kemudian menuliskan sesuatu ke lembar penilaiannya.
Hannah duduk kembali di kursinya. Ia berusaha menutupi kepasrahannya dengan membuat senyuman percaya diri di wajah.
Pintu diketuk dua kali. Seorang pria muda muncul di balik pintu. Pria itu menoleh ke belakang, membuat gestur dengan tangannya, kemudian sesosok lelaki lain masuk ke dalam ruangan.
Hannah melongo.
Sebab pria itu, tampan sekali.
Puluhan caption tentang Damian Lee yang ia baca muncul di kepalanya menjadi sangat wajar.
[He’s so hot here.]
[What a cutie.]
[Look at those eyes.]
Hannah merasa, ia bukan satu-satunya orang yang memandang pria itu lekat-lekat. Tapi di depannya ada seseorang yang begitu tampan sehingga ia tidak mau menoleh hanya untuk memastikan perasaannya benar.
Tanpa berkata apa-apa, pria itu bergegas berjalan ke depan.
Grace langsung menyingkir, mempersilakan pria itu untuk duduk di tempat duduknya. Pria itu mendekati Maria kemudian membisikkan sesuatu.
“Selamat siang, saya Damian Lee.”
Damian Lee memandang satu per satu kandidat yang ada di ruangan. Maria mendekat ke arahnya kemudian mereka berdua saling berbisik. Entah apa yang mereka katakan. Di mata Hannah, mereka seperti tidak berdiskusi tentang suatu hal yang penting. Sebaliknya, justru Damian terlihat santai.
Tidak lama setelah itu, Damian Lee meninggalkan ruangan.
Semua kandidat tercengang. Mereka pikir akan ada sesi tanya jawab dengannya. Akan tetapi tidak. Interview selesai di situ. Semua kandidat dipersilakan pulang dan seorang yang terpilih akan dihubungi kembali.
Sambil berjalan keluar, Hannah mencuri dengar kandidat lain bicara bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang diterima.
Sejujurnya masuk akal. Damian Lee sangat tidak berselera dengan kandidat yang ada sampai tidak mau mewawancara lebih lanjut, makanya wawancara langsung selesai. Well, mungkin juga karena ada batch wawancara dengan kandidat lain. Tapi apapun itu, kedengarannya berita buruk buat mereka.
“Anggap saja kita semua ditolak.”
Yang lain mengamini, kemudian mereka berpisah tidak lama setelah keluar gedung untuk pulang ke rumah masing-masing.
Di halte bus, Hannah mengeluarkan ponselnya, menyalakan ponselnya yang dimatikan selama interview. Sebuah notifikasi dari portal pencari kerja langsung muncul di layar.
[Selamat! Lamaran Anda diterima.]
“Huh?”
[Maria]‘Maria. Aku masih ada urusan. Grace akan kukirim ke sana.’Aku meremas kuat ponselku saat menerima pesan dari Damian. Setelah seseorang dari HR department meminta dilibatkan (katanya mereka harus memastikan karyawan yang diterima memenuhi standar minimal), sekarang seorang sekretaris senior juga akan ikut. Beginilah birokrasi.Padahal aku tidak perlu mereka. Aku hanya perlu Damian memilih satu yang terlihat atraktif untuknya.Sudah jam 2 lewat. Aku membuka pintu untuk memastikan semua kandidat sudah hadir.Tiba-tiba seseorang bicara padaku, menegurku bahwa aku terlambat.Aku menahan rasa ingin tertawa. Dia tidak tahu siapa aku. Dia beruntung aku tidak akan mempermasalahkan hal kecil semacam ini.Tunggu.Aku mengenali wajahnya. Gadis penghajar preman itu. Penampilannya tidak buruk, jujur saja. Dia cukup cantik jika berdandan seperti ini. Cukup layak menjadi seorang sekretaris.Grace yang baru tiba mempersilakan aku masuk, menyarankan untuk memulai interview tanpa menunggu Damia
[Hannah]Hannah Barker bersusah payah meminta izin pada bosnya supaya bisa izin hari ini. Tentu saja bosnya yang kikir itu tidak memberikannya izin cuma-cuma. Hannah terpaksa harus merelakan gajinya dipotong demi bisa menghadiri kegiatan maha penting hari ini: interview kerja.Blouse dengan warna pastel dan rok hitam selutut membuatnya tampak profesional dan bersahaja. Make upnya tipis saja, yang penting terlihat segar. Make up terlalu tebal akan membuatnya tidak dikenali. Hannah ingat, recruiter menerima lamarannya saat Hannah mengirimkan foto di mana wajahnya terlihat seperti busuk sekali. Melihat fotonya saja seperti bisa mencium bau lap dapur menguar dari sana. Entah ekspektasi penampilan macam apa yang mereka inginkan untuk jabatan sekretaris. Bukannya sekretaris harusnya selalu cantik dan rapi?Aneh.Tapi mungkin ini memang takdir untuknya.Hannah nyengir sendiri melihat wajahnya di cermin. “Ternyata aku tidak seburuk itu.”Persiapan fisik, done.Persiapan materi, ini yang sep
[Maria]Aku terpaksa menutup lowongan itu lima belas menit setelah dipasang.Ponselku langsung dibanjiri notifikasi tanpa henti begitu iklan lowongan tersebut tayang, padahal saat itu sudah hampir tengah malam.Bukankah biasanya orang mulai bekerja di pagi hari, saat jam kerja?Ini juga salahku karena memasang lowongan tanpa persyaratan apa pun. Tapi sungguh, aku memang tidak membutuhkan apa-apa dari mereka. Mau mereka buta huruf sekalipun, aku tidak peduli.Aku cuma butuh wajah yang cantik. Itu saja."Maria, lampunya."Damian menutupi matanya dengan satu tangan."Kamu belum tidur?""Sebentar lagi."Ia mengerucutkan bibir seperti anak kecil yang sedang merajuk."Ya sudah, ya sudah. Aku matikan lampunya. Tidur saja lagi."Aku harus melakukan sesuatu yang sangat penting.Di dalam kamar yang gelap, berbaring di tempat tidur dengan suamiku di sampingku, aku sedang mencarikan perempuan simpanan untuknya.Aku mematikan lampu meja, menyandarkan kepala ke sandaran ranjang sambil menggulir lay
[Hannah]"TETAP TERSENYUM PADA PELANGGAN MESKI BIBIRMU KENA STROKE."Adalah motto gila toko roti ini. Entah kenapa pemiliknya percaya diri membuat slogan semacam itu sementara karyawannya dibayar pas-pasan.Hannah menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa kantuk. Ia datang jam 9 hari ini jadi sebagai karyawan paruh waktu, ia baru akan boleh pulang pada pukul? Yep, 10 malam. Tiga belas jam shift untuk seorang karyawan paruh waktu. Ini bahkan lebih dari full time. Dasar pemilik toko sialan.Sudah tidak ada pembeli di toko karena toko sudah tutup. Meski begitu, ia masih harus beres-beres toko dan persiapan buka untuk besok.“Aku tidak tahan lagi. Aku akan keluar bulan ini!”Hannah terkejut sendiri mendengarnya. Ia kira itu suara hatinya.Ternyata Liz, teman kerjanya, sedang mengeluh sambil mengepel. Bukan kali pertama Liz berkata begitu, tapi kenyataannya, tetap saja gadis itu tetap bekerja di toko roti ini.“Yakin? Gajimu sejak bulan lalu belum dibayar.”“Justru itu. Aku yakin b
[Maria]Damian Lee memiliki tiga hal yang tidak akan habis ia nikmati: uang, alkohol, dan wanita.Ketiganya memabukkan, tapi Damian Lee tahu cara mengontrolnya: kapan ia harus memulai; kapan ia harus berhenti.Dan klub ini dulu adalah lapaknya.Mungkin karena ini adalah salah satu dari sedikit klub yang buka lebih awal, makanya ia bisa pergi ke sini sepulang kerja. Mungkin dia memang secinta itu pada pesta makanya ia tidak mau menunggu lama.“Di mana Damian? Kenapa dia tidak ada terus sih?” ujar seorang gadis pirang di antara kumpulan para pria mabuk.Ini gadis ketiga yang kulihat mencari Damian malam ini.“SIALAN! Gara-gara dia aku putus dengan pacarku!” Pemuda di meja sebelah menggebrak mejanya. Tetesan bir tumpah ke meja beserta air mata lelaki itu. “Harusnya hari ini anniversary ketiga kami. Kalau saja dia tidak pernah kubawa ke klub ini dan bertemu bajingan itu waktu itu!”Aku menggelengkan kepala.Konon katanya, kalau Damian mengincar pacarmu, menyerah saja. Sudah pasti gadis it







