Masuk[Hannah]
Kedai roti yang sama, aroma butter yang sama, tapi bagi Hannah, hari ini terasa jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Tebak kenapa?
Karena hari ini hari terakhirnya bekerja.
Tidak, Hannah bahkan tidak bekerja. Buat apa ia bekerja kalau bosnya menolak membayar setengah gajinya karena Hannah mengundurkan diri di tengah bulan.
Si pelit itu, bahkan ia meminta Hannah datang untuk menandatangani kesepakatan bahwa Hannah tidak akan menuntutnya melunasi gajinya yang bulan lalu. Hannah, dengan terpaksa melakukannya, daripada bosnya membuat masalah di tempat kerjanya yang baru.
Sesungguhnya ia merasa rugi. Tapi karena orang RQL yang menghubunginya bersikeras supaya Hannah bisa segera mulai bekerja, ia harus mengorbankan gaji yang tidak seberapa itu. Bahkan menawarkan signing bonus yang jumlahnya di atas gaji Hannah sebelumnya.
Selesai menandatangani surat kesepakatan mereka, Hannah memasukkannya ke dalam map. Habis ini ia masih harus bertemu dengan orang RQL itu, lalu ke kantor untuk menandatangani kontrak. Sengaja ia meminta bertemu dengan bosnya pagi-pagi sekali sebelum kedai buka. Beberapa pegawai juga sudah hadir, sekalian Hannah berpamitan pada mereka.
“Aku iri padamu. Harusnya aku yang resign,” ujar Liz sambil menyenggol bahu Hannah dengan bahunya. “Tapi aku ikut senang kok.”
“Thanks.” Hannah tersipu malu.
“Jadi… kau akan jadi sekretaris dari direksi muda yang tampan? Apa tugasmu juga melayaninya?” Liz mengedipkan matanya jahil.
“Heh!” Hannah melotot. “Gila!”
Liz terkekeh melihat reaksi Hannah. “Lihat saja di film-film.”
“Tidak ada yang seperti itu. Aku dengar istrinya juga terlibat dalam rekrutmen.”
“Berarti istrinya mencari yang kelihatan aman untuk suaminya. Pantas saja kau bisa terpilih?”
“Maksudmu?” Hannah menekuk alisnya. Tangannya berkacak pinggang. “Maksudmu aku tidak punya daya tarik sebagai wanita?”
Liz tertawa lagi.
Sebenarnya sedikit banyak Hannah juga berpikiran hal yang sama. Ia tidak terlalu punya daya tarik di mata pria. Hannah bahkan tidak pernah berpacaran. Ia terlalu slebor untuk menggoda pria. Mungkin itu salah satu alasan mengapa ia diterima.
Selesai berpamitan dengan rekan kerjanya, ia menuju Bellmoire Café, tempat janjiannya dengan orang RQL di situs job listing itu.
Dari namanya saja, terdengar seperti Hannah bisa menghabiskan budget makannya sehari hanya untuk jus jeruk di sana. Dalam perjalanannya satu setengah jam naik bis ke tempat itu. Hannah sudah mengecek menu, membaca seluruh review, dan memastikan ia hanya akan memesan air putih. Itu saja.
Bau kopi bercampur dengan vanilla, dan esens lain yang terasa mahal tercium begitu ia membuka pintu. Suara musik jazz mengalun lembut. Interior kayu gelap dengan cat dinding berwarna teduh. Botol wine mahal menjadi pajangan di rak.
Tidak seperti pegawai kedai rotinya yang memakai apron kumal, ia disambut oleh pelayan yang mengenakan seragam hitam licin, dengan rambut yang disisir rapi. Pelayan itu mengantarnya ke meja yang di pinggirnya dihiasi bunga lily putih segar.
“Saya menunggu seseorang, saya akan pesan nanti,” katanya sopan sambil mengembalikan buku menu.
“Baik. Silakan panggil saya jika sudah siap memesan.”
Hannah tersenyum sampai pelayannya benar-benar pergi.
Dalam hatinya, ia tidak tega memesan air putih setelah semua pelayanan ini. Hannah hanya berharap orang RQL itu segera datang.
Ah, mereka sudah bertukar nomor telepon pribadi. Jadi Hannah langsung menghubunginya dan mengabari bahwa ia sudah menunggu di café.
Tidak berapa lama, langkah kaki seseorang berhenti di mejanya.
“Hannah Barker?”
Hannah mendongakkan kepalanya dan menemukan Maria tengah tersenyum.
“Boleh aku duduk?”
“Oh, iya, silakan,” katanya canggung.
Ia tidak menduga bertemu Maria di sini. Hannah mengira, ia akan bertemu dengan seorang dari HR. Bukannya Maria itu seorang yang berjabatan cukup tinggi di sana? Yang lain memanggilnya ‘Nyonya’ waktu itu.
Maria memanggil pelayan dan menanyakan signature latte di sini dan makanan rekomendasi hari ini. Tanpa melihat buku menu atau daftar harga, ia langsung memesannya.
Hannah juga melakukan hal yang sama, memesan tanpa buku menu. Air mineral.
“Kita sudah bertemu sebelumnya saat interview, bukan?”
Hannah mengangguk. “Benar.”
“Mungkin aku harus memperkenalkan ulang. Aku Maria, istri Damian Lee.”
Huh.
Apa?
Kenapa?
Masa iya?
Hannah memang mendengar kalau istri calon bosnya ikut terlibat dalam rekrutmen. Tapi ia tidak tahu se-terlibat ini. Maksudnya, orang yang dari awal menghubunginya itu… istrinya?
Berarti Liz benar?
“Saya Hannah Barker.”
Maria tertawa kecil. “Aku tahu.”
Benar juga.
“Kau sudah mengurus pengunduran dirimu dari tempat kerjamu saat ini kan?”
“Iya, Nyonya.”
“Jangan panggil aku begitu di depanku. Panggil aku Maria saja.” Ia meyakinkan Hannah. “Saat kita berdua saja, aku tidak ingin posisiku di matamu sebagai,” ia membuat gestur tanda kutip dengan tangannya, “istri bosmu.”
‘Tapi kau memang istrinya!’ Hannah membatin. ’Kalau bukan, lalu apa hubungan kita? Temanku? Sahabat pena?’
Maria seperti bisa melihat kebingungan di mata Hannah. Ia meraih tangan Hannah sembari matanya memandang gadis itu lekat-lekat.
“Anggap aku ini klienmu.”
Hannah semakin bingung.
“Di luar pekerjaanmu, aku ingin kau melakukan apa yang aku suruh tanpa diketahui Damian atau siapapun. Kau akan melapor langsung kepadaku.”
“Semacam spy?”
“Mm, ya, seperti itu.”
Jadi, bukan hanya Hannah dianggap sebagai wanita tanpa daya tarik yang aman untuk suaminya, Maria juga menjadikannya mata-mata untuk melaporkan kegiatan suaminya. Hal yang biasanya hanya ada di cerita fiksi, ternyata betulan ada.
Hannah belum familiar dengan kehidupan yang seperti ini.
Dengan elegan, pelayan itu datang sambil meletakkan pesanan mereka.
“Thank you,” kata Maria pada pelayan.
Hannah menunggu sampai pelayan itu pergi baru ia bertanya.
"Jadi Anda sepenuhnya percaya pada saya?"
Maria chuckled. “Kau akan melakukan apa yang aku suruh, itu yang aku percaya.”
Maria mengeluarkan dua buah amplop coklat, yang satu berukuran kecil dan tebal, sementara yang satu lagi tipis dan besar.
Tangannya menyodorkan amplop yang tipis. “Ini NDA untuk kau tanda tangani”. Lalu menyodorkan amplop yang kecil dan tebal. "Dan ini bonus penandatanganan."
Hannah mengeluarkan isi dari amplop tipis. Isinya beberapa lembar dokumen berisi segala jenis ketentuan dan aturan. Tapi Hannah tidak bisa fokus membaca isi dokumen itu satu per satu. Pikirannya ada amplop kecil tebal di hadapannya.
Dilihat dari tebalnya saja, Hannah sudah tahu uang yang ada di situ banyak sekali. Apakah memata-matai suami orang layak dibayar setinggi ini?
Dengan ragu-ragu, Hannah membuka amplop itu, mengecek isinya sekilas. Hannah tidak pernah memegang uang sebanyak itu seumur hidupnya.
“Kau mau hitung dulu?”
Hannah menggeleng cepat. “Ini sungguhan?”
“Yep. Dan waktu kita tidak banyak. Bukankah setelah ini kau harus ke RQL untuk tanda tangan kontrak?” Maria melirik jam tangannya. “Kau tidak ingin terlambat kan?”
Tanpa pikir panjang, Hannah mengeluarkan pulpennya dari dalam tas. Lagipula ia tidak punya pilihan lain. Hannah sudah tidak punya pekerjaan. Dan jika ia menolak pekerjaan tambahan ini, bisa jadi Maria membatalkan rekrutmennya. Maksudnya, jika dari awal Maria yang membuat Hannah bisa terpilih, pasti ia juga punya kewenangan sejauh itu untuk menggagalkannya kan?
Maria menyesap minumannya dalam damai, melihat Hannah menandatangani dokumennya.
“Selain gaji dari RQL, kau juga akan menerima uang dariku. Jadi kau tidak usah khawatir masalah itu, aku akan memberikanmu kompensasi," katanya tenang. "Ada yang ingin kau tanyakan?"
“Err, apakah pekerjaan ini berisiko? Maksudnya, apa yang terjadi kalau saya sampai ketahuan Mr. Damian Lee?”
“Aku. Akan. Memberimu. Kompensasi.”
Hannah menarik napas panjang. Ia menyerahkan dokumen itu kepada Maria.
Sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya, tapi Hannah tidak tahu apa.
Hannah memutuskan untuk mempercayai Maria saja. Lagipula apa hal terburuk yang bisa terjadi?
Ini bukan pekerjaan yang buruk kan?
[Hannah]“Lucy?” Hannah menyebut namanya secara refleks.“Siapa itu?”“Sekretaris di tim asisten eksekutif sepertiku.” Hannah mengulum bibir cemas. “Aku berharap bukan dia tapi sepertinya memang iya.”“Dengar, aku sudah bilang kan kalau aku tidak tahu itu siapa. Kau harus berpikir objektif.”“Kau tidak tahu, Kevin. Dari sejak aku digosipkan di kantin, aku melihat Lucy membicarakanku di grupnya.”Hannah menggigit bibir. Sebenarnya Hannah tidak tahu siapa yang dibicarakan di grup Lucy tapi memangnya siapa lagi yang dicemooh dan ditertawakan ramai-ramai waktu itu? Dan sikap Lucy yang defensif membuatnya semakin curiga.“Kalau dipikir secara adil, banyak orang yang membicarakanmu. Kau jadi topik yang sedang ramai di forum itu. Karyawan yang aktif di sana pasti tahu lebih awal. Dan mereka mungkin menggosipkannya dengan karyawan lain yang ada di sekitar mereka di kantor.”“Kau yang bilang sendiri kan kalau subnet apa pun itu dari lantai 10?”“Ya, dan karyawan yang bekerja di lantai 10 itu b
[Hannah]Hannah baru sadar bahwa ia ketiduran di sofa Kevin Liu lagi. Ia tidak ingat mengambil selimut tadi malam, tapi entah mengapa sebagian tubuhnya tertutup selimut. Mungkin Hannah mengambilnya saat mengigau karena tidak mungkin Kevin yang melakukannya.Entah kenapa, sofa Kevin selalu membuatnya ketiduran meskipun Hannah biasa kesulitan tidur saat sedang banyak pikiran. Kalau ia tidur sendiri di rumahnya, sudah pasti tidak akan sepulas ini.Hannah menjulurkan tangannya, meraba-raba meja di samping sofa untuk mengambil ponselnya. Sudah pukul 6 pagi. Kevin mungkin masih tidur di kamarnya. Ia bangkit dari sofa, kemudian menghampiri pintu kamar Kevin yang sedikit terbuka.Hannah mengetuknya dua kali sebelum mendorongnya sedikit.“Kevin?”Di kamarnya, Kevin masih terlihat duduk di depan komputernya.“Kau tidak begadang semalaman, kan?” tanya Hannah dengan mata yang masih memicing karena mengantuk sambil menghampiri lelaki itu.Dua kaleng kopi yang sudah habis di mejanya mungkin sudah c
[Hannah]“Aku mencoba menelusuri linimasa kapan pertama kali gosip itu muncul. Ada beberapa akun yang membicarakan gosip itu pada waktu yang sama.”“Beberapa? Berapa banyak?”“Lebih dari lima. Mungkin sepuluh? Aku tidak menghitungnya. Dan akun-akun itulah yang mengarahkan opini dengan membuat begitu banyak unggahan tentangmu, totalnya ratusan, mungkin ribuan. Mirip akun bayaran.”Jantung Hannah serasa diremas.“Yang membenciku sebanyak itu?”Hannah bahkan tidak mengenal sampai sepuluh orang di kantor. Ia masih bisa memahami jika ada orang yang tidak menyukainya. Ia memang bukan orang yang sempurna. Tapi membencinya sampai sesengaja itu?Sebenarnya apa salah Hannah?“Dengar, banyak akun belum tentu berarti banyak pemilik. Bisa saja semuanya dimiliki satu orang. Tidak ada proses verifikasi di forum itu. Siapa pun bisa mendaftar sebanyak
[Hannah]Pencarian dengan kata kunci “Hannah” menghasilkan lebih dari 1.000 unggahan. Tapi bukan itu saja. Mereka juga membicarakannya dengan menggunakan kata kunci “HB”, “Perusak Rumah Tangga”, atau berbagai hinaan lainnya.Hannah nyaris tidak berkedip melihat begitu banyak tulisan itu. Sebagian besar tidak berdasar dan ditulis dengan nada yang sangat merendahkan. Padahal, kemungkinan besar mereka yang menulisnya bahkan tidak mengenalnya.Bola matanya bergerak cepat membaca satu demi satu unggahan itu.[Hannah Barker ada di kantor bos lagi. Pasti sedang membahas 'sesuatu' sampai tiga jam.][Aku lihat Hannah Barker baru turun dari lantai 10. Dia lembur lagi. 'Rajin' sekali, yaaa.][Aku juga lihat Hannah Barker keluar kantor sepuluh menit setelah bosnya. Kebetulan yang sangat kebetulan.][Lucu juga, perjalanan dinas kok harus mengajak sekretaris baru yang tidak
[Maria]“Bagaimana menurutmu?”Damian memaksaku untuk memberi jawaban meskipun aku tidak ingin mengiyakan ataupun menolak. Membuatku terpaksa mengangguk menyetujui idenya.“Itu ide yang bagus,” kataku sambil menyuap mousse cokelat itu tanpa menatap matanya.Aku menunduk menatap makananku, tidak mencoba membaca ekspresinya. Apakah dia bahagia? Atau biasa saja?“Maria.”Ia memanggilku, membuatku sedikit tersentak.“Apa kau bahagia?”“Ya, tentu saja. Liburan ini cukup menyenangkan,” jawabku tanpa berpikir panjang.Aku tidak berbohong kali ini. Aku memang cukup puas dengan apa yang kudapatkan selama liburan. Hotel yang bagus, udara yang segar, makanan yang enak. Bahkan hal yang kupikirkan sebelum berangkat, soal pakaian dalam itu, ternyata tidak seburuk yang kubayangkan.“Bukan itu maksudku.” Damian menarik
[Maria]“Maafkan aku. Seharusnya kita punya agenda lain sore ini, tapi jadi batal,” ujarnya sambil mengenakan pakaiannya kembali.“Tidak apa-apa.”Salahku juga yang tiba-tiba mengenakan pakaian itu. Pakaian seperti itu memang diperuntukkan untuk menggoda. Damian pasti menafsirkannya seperti itu.“Kau tadi...” Ia berusaha keras ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa.“Tidak apa-apa,” ulangku.Ia tidak perlu mengatakan apa-apa atau berkomentar apa-apa. Aku bahkan tidak mau membahas soal ini.“Kau tadi sangat... menggoda. Dan...” Ia memalingkan wajahnya. “Aku tidak bisa menahan diri.”Aku menundukkan kepala, menyembunyikan lengkungan senyum yang muncul di wajah.Aku mengulum bibir, menenangkan diri. Itu bukan sebuah pujian dan seharusnya aku tidak merasa senang. Itu hanya efek dari mengenakan pakaian itu. Artinya, jika Hannah Barker menggunakannya, pakaian itu akan sangat efektif u
[Maria]Damian Lee memiliki tiga hal yang tidak akan habis ia nikmati: uang, alkohol, dan wanita.Ketiganya memabukkan, tapi Damian Lee tahu cara mengontrolnya: kapan ia harus memulai; kapan ia harus berhenti.Dan klub ini dulu adalah rumahnya.Mungkin karena ini adalah salah satu dari sedikit klub
[Cecilia]Rumahnya berisik sejak pagi. Suara bising dari para tukang masak yang menyiapkan hidangan, tukang kebun yang menata anggrek dari pintu masuk, para pelayan yang biasanya membersihkan rumah dalam senyap. Mereka selalu sibuk jika hari-hari penting seperti ini tiba.Keluarga Wang sudah terbias
[Maria]Damian tidak ada di sampingku ketika aku bangun tidur pagi ini. Tirai di kamar masih tertutup padahal sudah jam 10. Tidak ada suara vacuum cleaner atau langkah kaki manusia di lorong. Pasti belum ada pelayan yang ke lantai dua.Aku membilas wajahku di wastafel sambil mengingat-ingat apa yang
[Cecilia]Dulu, Cecilia Wang kecil selalu menganggap hidupnya sempurna. Bagaimana tidak? Ia memiliki mainan yang banyak, orang tua yang penyayang, dan kehidupan yang seperti tuan puteri. Cecilia tidak pernah iri jika temannya memiliki mainan baru, karena sebelum mereka membelinya, Cecilia sudah le







