Mag-log in[Cecilia]
Rumahnya berisik sejak pagi. Suara bising dari para tukang masak yang menyiapkan hidangan, tukang kebun yang menata anggrek dari pintu masuk, para pelayan yang biasanya membersihkan rumah dalam senyap. Mereka selalu sibuk jika hari-hari penting seperti ini tiba.
Keluarga Wang sudah terbiasa dengan berbagai macam pesta. Sedari pagi, Cecilia sudah bangun. Ibunya bahkan sudah berdandan rapi di meja makan saat sarapan pagi ini. Lanjut ia berkeliling mengecek kerjaan para staf, mereview dekorasi, memastikan penataan kursi sudah sesuai dengan keinginannya.
Cecilia tidak dapat menghitung jumlah pesta yang ia hadiri sejak lahir, apapun bagaimanapun kondisinya. Menghadiri event sebagai sebuah keluarga adalah hal yang wajib. Ia senang sejak Maria menikah, mereka punya alasan untuk tidak mengajaknya datang ke berbagai event. Baginya lebih mudah membuat alasan mengapa Maria tidak sempat hadir daripada harus berbagi udara dengan gadis itu.
Tapi kesenangannya tidak lama, karena Maria akan datang hari ini.
Menjelang tengah hari, tamu-tamu mulai berdatangan dengan mobil mewah mereka. Bentley, BMW, Rolls-Royce, dan segala jenis mobil koleksi kebanggaan orang-orang terpandang lainnya. Yang pertama tiba, tentu saja kerabat dekat. Om dan tantenya, keponakan ayah, dan tentu saja,
Maria.
Maria tiba dengan suaminya, Damian Lee, dan dengan cepat menjadi pusat perhatian orang-orang. Dandanannya sederhana saja, rambut diurai tanpa hiasan berlebihan, gaun sutra minimalis, dan perhiasan batu giok. Damian Lee tampak gagah dengan jas Loro Piana dan rambutnya yang disisir ke belakang. Asisten mereka berjalan di belakang membawakan barang, hadiah untuk yang berulang tahun.
Cecilia mengulum bibir, menyaksikan Maria berjalan dengan wajah senyum bahagia, bergandengan tangan dengan Damian Lee.
Ia tidak suka melihat Maria bahagia.
Maria menyapa tamu undangan yang lain sekilas sambil menghampiri ayahnya.
“Selamat ulang tahun, Ayah.” Maria menyerahkan hadiahnya pada ayahnya
“Bellmoire? Whoa, ini dari tahun 1990-an.”
Maria mengangguk, senyum masih terukir di wajahnya. “Kesukaan ayah, bukan?”
“Tentu saja, terima kasih, Maria.”
Damian mengambil hadiah dari asistennya, kemudian menyerahkan ke mertuanya. “Ini juga, hadiah kecil dari kami.”
Ayahnya membuka kotak kado itu. Tersenyum lebar melihat Jaeger-LeCoultre di dalamnya. “Kalian perhatian sekali. Bagaimana kau tahu aku suka ini? Terima kasih.”
Damian tersenyum, menoleh ke istrinya. “Semua karena Maria.”
***
Acara resmi dibuka dengan champagne reception, tamu-tamu dari kalangan elite di luar keluarga mulai berdatangan.
Cecilia berada di dekat ayahnya, berdiri seperti pajangan, sementara ayahnya memperkenalkannya satu per satu kepada rekan bisnisnya. Sebagai calon penerus bisnis keluarga Wang, Cecilia paling tidak harus mampu melakukan ini.
Lagipula, ini lebih baik daripada terjebak bersama ibunya yang sibuk menyapa keluarga yang tidak terlalu dekat. Keluarga jauh. Cecilia bahkan sudah tidak tahu entah mereka keluarga dari pihak ibu atau ayah.
Cecilia lebih memilih untuk dekat kepada orang-orang yang lebih menguntungkan baginya daripada sekadar hubungan darah.
“Damian,” ayahnya membuat gerakan tangan memanggil Damian yang terlihat sedang mengobrol dengan tamu lain, “kemarilah.”
Damian mendekat, sayangnya dengan menggandeng tangan Maria.
“Ini menantuku, Damian Lee dari RQL group. Damian, ini Pak Baldwin, mantan menteri luar negeri.”
Pak Baldwin menoleh bergantian antara kepada Cecilia dan Maria.
Ayahnya meraih bahu Maria, lalu menepuknya sambil tertawa. “Ah, ini Maria. Damian menikah dengan anakku, Maria.”
“Aahh, begitu, ya.”
“Senang bertemu dengan Anda.” Damian melingkarkan tangannya di pinggang Maria. “Kalau bukan karena istriku, dan ayah, tentu, mungkin aku tidak akan bertemu orang hebat seperti Anda di sini.”
***
“Jaga ekspresimu, Cecilia.”
Ibu Cecila bicara padanya dalam nada dingin, kering, dan sama sekali tidak sesuai dengan ekspresinya yang penuh senyum ketika mengatakan hal itu.
Cecilia selalu kagum pada ibunya yang bisa tersenyum tanpa henti di depan orang lain seperti ini. Menumpuk semua perasaan, menyimpannya dalam-dalam, dan mengeluarkannya di belakang ketika sudah tidak ada orang lagi.
Sayangnya, Cecilia tidak bisa seperti itu. Ia benar-benar muak melihat Maria tersenyum bahagia dari tadi.
Dan tahu apa yang lebih memuakkan lagi? Melihat Damian Lee membela gadis itu berkali-kali.
Cecilia berusaha keras mengangkat kedua sudut bibirnya membentuk lengkungan setelah mendaratkan badannya di atas kursi. Ia duduk di sebelah kiri ayah untuk jamuan makan siang ini yang artinya, semua orang bisa melihat ekspresinya.
Maria, duduk berjarak dari keluarga mereka, karena kursi terdekat diisi tamu keluarga yang dituakan dan dihormati. Sayangnya, pemandangan Maria yang duduk di samping Damian tepat berada di depan mata Cecilia.
Merusak pemandangan saja.
Hidangan pembuka.
Mereka menikmati minuman, sampanye, teh, atau air mineral. Ibunya bekerja keras mengontrol alur, ritme, dan tentu saja, topik pembicaraan.
Cecilia tahu ibunya berusaha keras menghindari topik pembicaraan yang menyangkut Maria. Ia tidak yakin ibunya bisa menyembunyikan ekspresi tidak sukanya dengan sempurna. Ibunya bahkan dari awal sengaja mencari alibi supaya bisa berada di tempat yang berjauhan dengan Maria.
Hidangan utama.
Masakan khas tradisional, semua menu kurasi dari ibunya. Ikan kukus dan bebek panggang kesukaan ayahnya, mie untuk panjang umur, dan aneka makanan yang bisa dinikmati oleh tamu undangan.
Tamu mulai berbasa-basi dengan Cecilia, tapi gadis itu hanya menjawab ala kadarnya. Pandangannya tertuju pada Damian yang dengan santainya memisahkan tulang dan memotong bebek untuk Maria.
Beberapa tamu melihatnya dan memuji Damian. Kemudian mengaitkannya dengan Maria yang begitu beruntung memiliki suami sepertinya.
Cecilia teringat perkataan Maria tempo hari.
“Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menarik perhatian," kata anak jalang itu.
Dasar penipu.
Cecilia kehilangan selera makannya.
***
Acara makan siang telah selesai. Tamu undangan kembali ke sirkel mereka masing-masing. Sebagian tamu terlihat sudah lelah dan duduk saja di bar taman. Sebagian bahkan sudah terlihat mabuk dengan whiskey. Ada pula yang mengambil kesempatan ini untuk merokok.
Singkatnya, acara bebas.
Musik mengalun dibawakan oleh string quartet yang mereka bayar untuk mengiringi percakapan mereka. Suara jazz lembut yang hanya sekadar menjadi background, bukan penampilan utama yang ditonton orang-orang.
Background.
Cecilia teringat sesuatu.
Sebuah rencana terlintas di pikirannya.
Ia meminta pena pada server yang lewat, kemudian mengambil menu card di atas meja. Cecilia menuliskan sesuatu di belakangnya. Sesuatu yang familiar, sesuatu yang sederhana.
Tapi juga sesuatu yang bisa memberi pelajaran untuk Maria.
Midnight Glass Conversation, sebuah single modern jazz dari Julian Veyne Quartet.
Dulu, ketika pesta berakhir dan ibunya harus mengeluarkan emosinya yang terpendam, ibunya akan membawa Maria ke belakang rumah. Ibunya akan menyetel Midnight Glass Conversation keras-keras hingga lagunya terdengar dari speaker di paviliun taman, kemudian menampari Maria.
Suaranya cukup lembut untuk menyiratkan kedamaian, namun cukup keras untuk menyamarkan teriakan Maria yang kesakitan.
‘Kau mungkin tidak akan merasakan sakit betulan, tapi kamu akan teringat rasanya,” gumam Cecilia pelan.
Ia berjalan membawa kartu itu mendekat ke arah quartet yang sedang tampil. Kepalanya menoleh mencari orang yang bisa ia ajak bicara.
“Ada yang bisa kami bantu, Nona?” Seseorang mendekat ke arahnya.
“Kau managernya? Atau mungkin koordinatornya?”
“Ya, apa ada masalah? Saya bisa menyampaikannya ke band leader.”
Cecilia sumringah. “Aku ingin request ditambahkan sebuah lagu.”
“Tapi set-listnya sudah diberikan kepada kami dan sudah fix.”
“Aku mohon, ini lagu kesukaan ibuku.” Ia menaikkan telunjuknya. “Satu saja.”
Kau tidak mungkin menolak permintaan orang yang membayarmu kan?
“Baiklah, akan kucoba sampaikan.”
Cecilia menjulurkan kertas itu padanya, tapi sebelum diterima, tangan pria lain meraih tangannya dari belakang. Cecilia tersentak, dengan panik menengok ke arah pria itu.
“Apapun yang kau rencanakan, aku tidak akan melakukannya kalau aku di posisimu,” bisiknya di telinga Cecilia.
Damian Lee.
Damian Lee mengambil kartu menu di tangan Cecilia dengan halus.
“Maaf, lupakan requestnya. Mainkan sesuai setlist saja,” katanya kepada koordinator.
Wajah Cecilia memerah. Ia menarik tangannya yang dipegang Damian. Tangannya yang satu menggenggam erat tangan kanannya. Lidahnya kelu. Ia tidak bisa mengatakan apapun di hadapan Damian. Ia tidak bisa mengelak atau membuat alasan.
“Jaga perilakumu.”
Damian merobek kartu itu di hadapan Cecilia.
“Percayalah. Kau tidak akan mau keluargaku jadi musuhmu.”
[Hannah]“Lucy?” Hannah menyebut namanya secara refleks.“Siapa itu?”“Sekretaris di tim asisten eksekutif sepertiku.” Hannah mengulum bibir cemas. “Aku berharap bukan dia tapi sepertinya memang iya.”“Dengar, aku sudah bilang kan kalau aku tidak tahu itu siapa. Kau harus berpikir objektif.”“Kau tidak tahu, Kevin. Dari sejak aku digosipkan di kantin, aku melihat Lucy membicarakanku di grupnya.”Hannah menggigit bibir. Sebenarnya Hannah tidak tahu siapa yang dibicarakan di grup Lucy tapi memangnya siapa lagi yang dicemooh dan ditertawakan ramai-ramai waktu itu? Dan sikap Lucy yang defensif membuatnya semakin curiga.“Kalau dipikir secara adil, banyak orang yang membicarakanmu. Kau jadi topik yang sedang ramai di forum itu. Karyawan yang aktif di sana pasti tahu lebih awal. Dan mereka mungkin menggosipkannya dengan karyawan lain yang ada di sekitar mereka di kantor.”“Kau yang bilang sendiri kan kalau subnet apa pun itu dari lantai 10?”“Ya, dan karyawan yang bekerja di lantai 10 itu b
[Hannah]Hannah baru sadar bahwa ia ketiduran di sofa Kevin Liu lagi. Ia tidak ingat mengambil selimut tadi malam, tapi entah mengapa sebagian tubuhnya tertutup selimut. Mungkin Hannah mengambilnya saat mengigau karena tidak mungkin Kevin yang melakukannya.Entah kenapa, sofa Kevin selalu membuatnya ketiduran meskipun Hannah biasa kesulitan tidur saat sedang banyak pikiran. Kalau ia tidur sendiri di rumahnya, sudah pasti tidak akan sepulas ini.Hannah menjulurkan tangannya, meraba-raba meja di samping sofa untuk mengambil ponselnya. Sudah pukul 6 pagi. Kevin mungkin masih tidur di kamarnya. Ia bangkit dari sofa, kemudian menghampiri pintu kamar Kevin yang sedikit terbuka.Hannah mengetuknya dua kali sebelum mendorongnya sedikit.“Kevin?”Di kamarnya, Kevin masih terlihat duduk di depan komputernya.“Kau tidak begadang semalaman, kan?” tanya Hannah dengan mata yang masih memicing karena mengantuk sambil menghampiri lelaki itu.Dua kaleng kopi yang sudah habis di mejanya mungkin sudah c
[Hannah]“Aku mencoba menelusuri linimasa kapan pertama kali gosip itu muncul. Ada beberapa akun yang membicarakan gosip itu pada waktu yang sama.”“Beberapa? Berapa banyak?”“Lebih dari lima. Mungkin sepuluh? Aku tidak menghitungnya. Dan akun-akun itulah yang mengarahkan opini dengan membuat begitu banyak unggahan tentangmu, totalnya ratusan, mungkin ribuan. Mirip akun bayaran.”Jantung Hannah serasa diremas.“Yang membenciku sebanyak itu?”Hannah bahkan tidak mengenal sampai sepuluh orang di kantor. Ia masih bisa memahami jika ada orang yang tidak menyukainya. Ia memang bukan orang yang sempurna. Tapi membencinya sampai sesengaja itu?Sebenarnya apa salah Hannah?“Dengar, banyak akun belum tentu berarti banyak pemilik. Bisa saja semuanya dimiliki satu orang. Tidak ada proses verifikasi di forum itu. Siapa pun bisa mendaftar sebanyak
[Hannah]Pencarian dengan kata kunci “Hannah” menghasilkan lebih dari 1.000 unggahan. Tapi bukan itu saja. Mereka juga membicarakannya dengan menggunakan kata kunci “HB”, “Perusak Rumah Tangga”, atau berbagai hinaan lainnya.Hannah nyaris tidak berkedip melihat begitu banyak tulisan itu. Sebagian besar tidak berdasar dan ditulis dengan nada yang sangat merendahkan. Padahal, kemungkinan besar mereka yang menulisnya bahkan tidak mengenalnya.Bola matanya bergerak cepat membaca satu demi satu unggahan itu.[Hannah Barker ada di kantor bos lagi. Pasti sedang membahas 'sesuatu' sampai tiga jam.][Aku lihat Hannah Barker baru turun dari lantai 10. Dia lembur lagi. 'Rajin' sekali, yaaa.][Aku juga lihat Hannah Barker keluar kantor sepuluh menit setelah bosnya. Kebetulan yang sangat kebetulan.][Lucu juga, perjalanan dinas kok harus mengajak sekretaris baru yang tidak
[Maria]“Bagaimana menurutmu?”Damian memaksaku untuk memberi jawaban meskipun aku tidak ingin mengiyakan ataupun menolak. Membuatku terpaksa mengangguk menyetujui idenya.“Itu ide yang bagus,” kataku sambil menyuap mousse cokelat itu tanpa menatap matanya.Aku menunduk menatap makananku, tidak mencoba membaca ekspresinya. Apakah dia bahagia? Atau biasa saja?“Maria.”Ia memanggilku, membuatku sedikit tersentak.“Apa kau bahagia?”“Ya, tentu saja. Liburan ini cukup menyenangkan,” jawabku tanpa berpikir panjang.Aku tidak berbohong kali ini. Aku memang cukup puas dengan apa yang kudapatkan selama liburan. Hotel yang bagus, udara yang segar, makanan yang enak. Bahkan hal yang kupikirkan sebelum berangkat, soal pakaian dalam itu, ternyata tidak seburuk yang kubayangkan.“Bukan itu maksudku.” Damian menarik
[Maria]“Maafkan aku. Seharusnya kita punya agenda lain sore ini, tapi jadi batal,” ujarnya sambil mengenakan pakaiannya kembali.“Tidak apa-apa.”Salahku juga yang tiba-tiba mengenakan pakaian itu. Pakaian seperti itu memang diperuntukkan untuk menggoda. Damian pasti menafsirkannya seperti itu.“Kau tadi...” Ia berusaha keras ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa.“Tidak apa-apa,” ulangku.Ia tidak perlu mengatakan apa-apa atau berkomentar apa-apa. Aku bahkan tidak mau membahas soal ini.“Kau tadi sangat... menggoda. Dan...” Ia memalingkan wajahnya. “Aku tidak bisa menahan diri.”Aku menundukkan kepala, menyembunyikan lengkungan senyum yang muncul di wajah.Aku mengulum bibir, menenangkan diri. Itu bukan sebuah pujian dan seharusnya aku tidak merasa senang. Itu hanya efek dari mengenakan pakaian itu. Artinya, jika Hannah Barker menggunakannya, pakaian itu akan sangat efektif u
[Maria]‘Maria. Aku masih ada urusan. Grace akan kukirim ke sana.’Aku meremas kuat ponselku saat menerima pesan dari Damian. Setelah seseorang dari HR department meminta dilibatkan (katanya mereka harus memastikan karyawan yang diterima memenuhi standar minimal), sekarang seorang sekretaris senior
[Hannah]Hannah Barker bersusah payah meminta izin pada bosnya supaya bisa izin hari ini. Tentu saja bosnya yang kikir itu tidak memberikannya izin cuma-cuma. Hannah terpaksa harus merelakan gajinya dipotong demi bisa menghadiri kegiatan maha penting hari ini: interview kerja.Blouse dengan warna pa
[Maria]Aku terpaksa menutup lowongan itu lima belas menit setelah dipasang.Ponselku langsung dibanjiri notifikasi tanpa henti begitu iklan lowongan tersebut tayang, padahal saat itu sudah hampir tengah malam.Bukankah biasanya orang mulai bekerja di pagi hari, saat jam kerja?Ini juga salahku kare
[Hannah]"TETAP TERSENYUM PADA PELANGGAN MESKI BIBIRMU KENA STROKE."Adalah motto gila toko roti ini. Entah kenapa pemiliknya percaya diri membuat slogan semacam itu sementara karyawannya dibayar pas-pasan.Hannah menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa kantuk. Ia datang jam 9 hari ini jad







