Home / Romansa / 1001 Cara Membuat Suamiku Selingkuh / Bab 6: Dia kan Anak Gundik

Share

Bab 6: Dia kan Anak Gundik

Author: ashlair
last update publish date: 2026-06-18 10:17:49

[Cecilia]

Dulu, Cecilia Wang kecil selalu menganggap hidupnya sempurna. 

Bagaimana tidak? Ia memiliki mainan yang banyak, orang tua yang penyayang, dan kehidupan yang seperti tuan puteri. 

Cecilia tidak pernah iri jika temannya memiliki mainan baru, karena sebelum mereka membelinya, Cecilia sudah lebih dahulu dibelikan mainan yang sama. Rumahnya lebih besar daripada rumah teman-temannya. Ayahnya lebih kaya, ibunya lebih cantik, dan semua hal tentang Cecilia selalu lebih unggul.

Hidupnya sempurna sampai suatu ketika, anak itu datang ke dalam hidupnya.

Cecilia tadinya tidak sadar bagaimana ibunya menjadi dingin dengan ayahnya. Ketika ibunya diam diam lebih sering bercermin lalu memangis. Juga ketika ibunya sering terlihat dengan mata yang sembab. 

Cecilia mungkin masih terlalu kecil untuk menyadari detil itu.

Hingga pada akhirnya, Cecilia menyaksikan sendiri bagaimana ayah dan ibunya berubah menjadi orang yang tidak ia kenal.

"AKU TIDAK MAU DIA ADA DI SINI, RICHARD!"

"TAPI DIA ANAKKU!"

Ayah dan ibunya tadinya tidak pernah saling berteriak sebelumnya. Ibunya tadinya tidak pernah membanting piring dan ayahnya tadinya tidak pernah memelototi ibu sambil menunjuk-nunjuk. 

Dan yang lebih penting lagi, mereka tadinya tidak pernah menyuruh Cecilia masuk kamar dengan bentakan.

Cecilia menulis ini di buku hariannya sebagai hari terburuk dalam hidupnya.

Tapi ternyata, hari setelahnya lebih buruk lagi.

Ketika ia pulang sekolah, ibunya tidak ada di rumah. Pelayan bilang ibunya masuk rumah sakit. Mereka menemukan ibu pingsan setelah melukai pergelangan tangannya dengan pisau.

Waktu itu ayahnya berjanji sambil menangis bahwa ia akan membatalkan rencananya. 'Anak itu tidak akan tinggal di rumah ini,' katanya.

Tapi ayah berbohong.

Setahun setelahnya, anak itu menginjakkan kakinya di rumah Cecilia. Hari hari menjadi semakin buruk.

Ibu Cecilia yang dulu lembut dan penyayang, kini berubah jadi sosok yang pendiam. Cecilia sudah tidak pernah lagi bercerita tentang hari-harinya di sekolah pada ibu. Jika Cecilia bicara, ibu tidak merespons apa-apa. Jika Cecilia menceritakan hal yang lucu, ibunya tidak tertawa.

Sesekali ibu dibawa ke rumah sakit meskipun tidak sakit. Katanya, mereka mengobati jiwa ibu yang terluka. 

Jika ibu bicara, kata-kata yang keluar mulutnya adalah cerai. Cecilia dengar kata itu dari temannya. Itu artinya orang tua mereka akan berpisah dan Cecilia harus memilih akan tinggal dengan ayah atau ibunya.

Mereka tidak akan menjadi keluarga yang sempurna lagi. Cecilia tidak akan jadi anak dengan hidup yang sempurna lagi.

Cecilia tidak mau hal itu. Kenapa keluarganya harus berantakan hanya karena anak itu?

Ketika Cecilia melihat anak itu sedang bermain sendirian, dihampirinya anak itu.

"Ayahku bilang kau kakakku, tapi ibuku bilang kau pembawa malapetaka."

Cecilia biasanya tidak pernah berkata tidak sopan pada orang lain. Apalagi anak ini lebih besar darinya. Mungkin setahun atau dua tahun lebih tua.

"Ayahmu benar."

"Aku lebih percaya ibuku!" Cecilia menjerit.

"Terserah. Tapi aku memang kakakmu."

"Kau bukan kakakku! Kenapa kau harus tinggal di sini! Pergi sana!"

Sambil berkata begitu, Cecilia menjambak rambutnya. Anak itu teriak kesakitan, membuat para pelayan datang dan memisahkan mereka berdua. 

Malam harinya, Cecilia ditegur ayahnya karena berbuat kasar. Itu pertama kalinya ayahnya menegurnya.

***

Ketika Cecilia masuk SMP, kondisi ibu sudah jauh lebih baik. Mungkin itu karena ayah membuatkan bangunan terpisah di belakang rumah. Ia tinggal di sana dengan beberapa pelayan yang juga tidak boleh masuk ke rumah utama.

Cecilia berpikir, ibunya pasti lebih sehat karena tidak harus berbagi udara dengan anak itu. Anak itu kan pembawa malapetaka. 

Ia menyaksikan sendiri seringkali ibunya berubah pucat atau sampai muntah hanya karena mendengar nama anak itu. Akan lebih baik jika mereka tidak pernah melihat satu sama lain.

Meski begitu, ibunya tetap harus bertemu dengan anak itu di acara penting. Ayahnya memperkenalkan anak itu sebagai anaknya juga di depan orang-orang sehingga mereka harus muncul berempat sebagai keluarga. 

Biasanya setelah acara selesai, ibunya akan menampar anak itu beberapa kali karena anak itu sudah mempermalukannya.

Cecilia awalnya berpikir, sebetulnya anak itu tidak mempermalukan siapa-siapa di pesta. Tapi lama kelamaan, ia mengerti betapa keberadaan anak itu saja sudah membuat keluarganya malu.

Seperti yang pernah terjadi waktu pesta saat itu. Cecilia tidak ingat pesta apa, mereka selalu saja melakukan pesta yang tidak menarik buat remaja sepertinya. Terlalu sering dan terlalu membosankan.

Sama seperti pesta lainnya, ia hanya berkumpul di tengah tengah kerabat, menyapa mereka yang dihormati orang tuanya satu per satu, lalu duduk seperti anak yang manis.

Cecilia akan duduk di meja bundar sementara ayah dan ibunya berkeliling menyapa orang. Ia hanya duduk, tidak mengganggu siapa pun. Tapi kemudian akan ada orang yang menghampirinya untuk mengucapkan hal yang tidak penting.

Kadang-kadang orang memujinya dengan pujian kosong. Cecilia sudah cukup umur untuk mengerti bahwa mereka hanya menjilat karena ayahnya kaya raya. Tapi, ia tidak masalah dengan itu.

Yang ia tidak suka, ketika mereka datang untuk memuji anak itu dan membandingkan dengannya.

"Kudengar kakakmu dapat penghargaan lagi, kau harus bisa seperti dia."

"Kau harus rajin belajar supaya pintar seperti kakakmu."

"Lihat, kakakmu cantik sekali. Kenapa kau tidak mirip dia?"

Cecilia merasa muak dengan ucapan mereka.

"Tentu saja tidak mirip. Dia kan anak gundik."

Seketika acara pesta menjadi hening.

Tidak ada orang yang bicara satu pun, bahkan musik hiburan pun berhenti.

Cecilia tidak sempat melihat ekspresi kemarahan di wajah ayahnya atau kekagetan di wajah tamu undangan lain. Cecilia mengencangkan rahangnya, menjaga agar wajahnya tidak tertunduk. Ia tidak merasa mengatakan hal yang salah, ibu juga sering bilang begitu.

Cecilia mengulum bibirnya. Melihat ke sekeliling, lalu berjalan cepat keluar dari tempat itu. Ia mendengar suara ibunya, bahkan ayahnya, memanggil namanya. Tapi Cecilia tidak menghiraukan mereka.

Sepulang dari pesta,  Cecilia ditampar ayahnya karena mengatakan hal yang tidak baik di pesta. Itu pertama kalinya ayahnya menamparnya.

***

Setahun yang lalu...

Malam itu, selepas pesta ulang tahun ayahnya. Cecilia mendengar keributan di lantai satu dari ruang kerja ayahnya. Ia sudah terbiasa mendengar pertengkaran mereka sehingga suara teriakan mereka tidak menakutkan lagi.

"Aku mohon, Linda, perlakukanlah Maria dengan baik. Berhentilah mempermalukan dia di acara seperti tadi."

"Siapa suruh dia datang ke acara yang bukan keluarganya?"

"Aku keluarganya, Linda. Izinkan aku jadi ayahnya! Maria tidak punya siapa-siapa lagi, ibunya sudah tidak ada!"

"Lalu kenapa? Cecilia juga sudah tidak punya siapa-siapa. Ibu yang dulu juga sudah tidak ada, sudah mati. Dan ayahnya yang dulu juga sudah tidak ada. Sudah menjadi ayah dari anak haram."

"LINDA!" teriakan ayahnya menggema.

Dari balik jendela, Cecilia melihat ayahnya mengusap wajahnya.

"Apakah tidak cukup permintaan maafku selama ini? Apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahanku?"

"Aku ingin Cecilia hidup seperti yang seharusnya ia dapatkan. Seharusnya ia hidup bahagia dan berkecukupan. Menjadi penerusmu, pewaris perusahaanmu."

Wajah ibu Cecilia memerah, kemudian meneteskan air mata.

"Tapi Maria juga berhak..."

"Dia bukan anak sahmu, Richard! Anakmu yang sah itu Cecilia!" Ibunya meninggikan suara. "Berikan saja dia sepuluh, tidak, lima. Lima persen untuknya meskipun sebenarnya sepeser pun untuknya aku tidak sudi."

Ayah Cecilia terdiam sesaat. 

"Tapi itu terlalu tidak adil baginya..."

"Itu sudah terlalu banyak untuknya," bujuk ibu Cecilia, tangannya diletakkan di belakang punggung ayahnya. "Lima persen dari saham perusahaan sudah cukup untuk membuatnya hidup sejahtera sampai mati."

"Tapi dia juga anakku, Linda. Ia juga berhak mengelola perusahaan."

"Tapi bukan perusahaan keluarga Wang." Ibunya menyahut dingin, seolah itu adalah keputusannya yang final. "Nikahkan anak itu dengan pewaris dari keluarga lain. Biarkan ia jadi bagian keluarga mereka."

Cecilia mendengus melihat ayahnya terlihat sangat berat mengabulkan keinginan ibunya. Pria itu memijat pelipisnya seolah pusing sekali memikirkan ini semua.

"Baiklah, aku akan turuti keinginanmu."

Pandangan ibu Cecilia melunak. Senyum kemenangan samar terlihat di wajahnya.

"Tapi berjanjilah kau akan menerima Maria sebagai anakmu. Anak tirimu."

"Aku berjanji, Richard. Mulai sekarang aku akan memperlakukannya dengan baik."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • 1001 Cara Membuat Suamiku Selingkuh   Bab 118: Pelaku

    [Hannah]“Lucy?” Hannah menyebut namanya secara refleks.“Siapa itu?”“Sekretaris di tim asisten eksekutif sepertiku.” Hannah mengulum bibir cemas. “Aku berharap bukan dia tapi sepertinya memang iya.”“Dengar, aku sudah bilang kan kalau aku tidak tahu itu siapa. Kau harus berpikir objektif.”“Kau tidak tahu, Kevin. Dari sejak aku digosipkan di kantin, aku melihat Lucy membicarakanku di grupnya.”Hannah menggigit bibir. Sebenarnya Hannah tidak tahu siapa yang dibicarakan di grup Lucy tapi memangnya siapa lagi yang dicemooh dan ditertawakan ramai-ramai waktu itu? Dan sikap Lucy yang defensif membuatnya semakin curiga.“Kalau dipikir secara adil, banyak orang yang membicarakanmu. Kau jadi topik yang sedang ramai di forum itu. Karyawan yang aktif di sana pasti tahu lebih awal. Dan mereka mungkin menggosipkannya dengan karyawan lain yang ada di sekitar mereka di kantor.”“Kau yang bilang sendiri kan kalau subnet apa pun itu dari lantai 10?”“Ya, dan karyawan yang bekerja di lantai 10 itu b

  • 1001 Cara Membuat Suamiku Selingkuh   Bab 117: IP

    [Hannah]Hannah baru sadar bahwa ia ketiduran di sofa Kevin Liu lagi. Ia tidak ingat mengambil selimut tadi malam, tapi entah mengapa sebagian tubuhnya tertutup selimut. Mungkin Hannah mengambilnya saat mengigau karena tidak mungkin Kevin yang melakukannya.Entah kenapa, sofa Kevin selalu membuatnya ketiduran meskipun Hannah biasa kesulitan tidur saat sedang banyak pikiran. Kalau ia tidur sendiri di rumahnya, sudah pasti tidak akan sepulas ini.Hannah menjulurkan tangannya, meraba-raba meja di samping sofa untuk mengambil ponselnya. Sudah pukul 6 pagi. Kevin mungkin masih tidur di kamarnya. Ia bangkit dari sofa, kemudian menghampiri pintu kamar Kevin yang sedikit terbuka.Hannah mengetuknya dua kali sebelum mendorongnya sedikit.“Kevin?”Di kamarnya, Kevin masih terlihat duduk di depan komputernya.“Kau tidak begadang semalaman, kan?” tanya Hannah dengan mata yang masih memicing karena mengantuk sambil menghampiri lelaki itu.Dua kaleng kopi yang sudah habis di mejanya mungkin sudah c

  • 1001 Cara Membuat Suamiku Selingkuh   Bab 116: Akun

    [Hannah]“Aku mencoba menelusuri linimasa kapan pertama kali gosip itu muncul. Ada beberapa akun yang membicarakan gosip itu pada waktu yang sama.”“Beberapa? Berapa banyak?”“Lebih dari lima. Mungkin sepuluh? Aku tidak menghitungnya. Dan akun-akun itulah yang mengarahkan opini dengan membuat begitu banyak unggahan tentangmu, totalnya ratusan, mungkin ribuan. Mirip akun bayaran.”Jantung Hannah serasa diremas.“Yang membenciku sebanyak itu?”Hannah bahkan tidak mengenal sampai sepuluh orang di kantor. Ia masih bisa memahami jika ada orang yang tidak menyukainya. Ia memang bukan orang yang sempurna. Tapi membencinya sampai sesengaja itu?Sebenarnya apa salah Hannah?“Dengar, banyak akun belum tentu berarti banyak pemilik. Bisa saja semuanya dimiliki satu orang. Tidak ada proses verifikasi di forum itu. Siapa pun bisa mendaftar sebanyak

  • 1001 Cara Membuat Suamiku Selingkuh   Bab 115: Sup Ayam

    [Hannah]Pencarian dengan kata kunci “Hannah” menghasilkan lebih dari 1.000 unggahan. Tapi bukan itu saja. Mereka juga membicarakannya dengan menggunakan kata kunci “HB”, “Perusak Rumah Tangga”, atau berbagai hinaan lainnya.Hannah nyaris tidak berkedip melihat begitu banyak tulisan itu. Sebagian besar tidak berdasar dan ditulis dengan nada yang sangat merendahkan. Padahal, kemungkinan besar mereka yang menulisnya bahkan tidak mengenalnya.Bola matanya bergerak cepat membaca satu demi satu unggahan itu.[Hannah Barker ada di kantor bos lagi. Pasti sedang membahas 'sesuatu' sampai tiga jam.][Aku lihat Hannah Barker baru turun dari lantai 10. Dia lembur lagi. 'Rajin' sekali, yaaa.][Aku juga lihat Hannah Barker keluar kantor sepuluh menit setelah bosnya. Kebetulan yang sangat kebetulan.][Lucu juga, perjalanan dinas kok harus mengajak sekretaris baru yang tidak

  • 1001 Cara Membuat Suamiku Selingkuh   Bab 114: Bahagia

    [Maria]“Bagaimana menurutmu?”Damian memaksaku untuk memberi jawaban meskipun aku tidak ingin mengiyakan ataupun menolak. Membuatku terpaksa mengangguk menyetujui idenya.“Itu ide yang bagus,” kataku sambil menyuap mousse cokelat itu tanpa menatap matanya.Aku menunduk menatap makananku, tidak mencoba membaca ekspresinya. Apakah dia bahagia? Atau biasa saja?“Maria.”Ia memanggilku, membuatku sedikit tersentak.“Apa kau bahagia?”“Ya, tentu saja. Liburan ini cukup menyenangkan,” jawabku tanpa berpikir panjang.Aku tidak berbohong kali ini. Aku memang cukup puas dengan apa yang kudapatkan selama liburan. Hotel yang bagus, udara yang segar, makanan yang enak. Bahkan hal yang kupikirkan sebelum berangkat, soal pakaian dalam itu, ternyata tidak seburuk yang kubayangkan.“Bukan itu maksudku.” Damian menarik

  • 1001 Cara Membuat Suamiku Selingkuh   Bab 113: Makan Malam

    [Maria]“Maafkan aku. Seharusnya kita punya agenda lain sore ini, tapi jadi batal,” ujarnya sambil mengenakan pakaiannya kembali.“Tidak apa-apa.”Salahku juga yang tiba-tiba mengenakan pakaian itu. Pakaian seperti itu memang diperuntukkan untuk menggoda. Damian pasti menafsirkannya seperti itu.“Kau tadi...” Ia berusaha keras ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa.“Tidak apa-apa,” ulangku.Ia tidak perlu mengatakan apa-apa atau berkomentar apa-apa. Aku bahkan tidak mau membahas soal ini.“Kau tadi sangat... menggoda. Dan...” Ia memalingkan wajahnya. “Aku tidak bisa menahan diri.”Aku menundukkan kepala, menyembunyikan lengkungan senyum yang muncul di wajah.Aku mengulum bibir, menenangkan diri. Itu bukan sebuah pujian dan seharusnya aku tidak merasa senang. Itu hanya efek dari mengenakan pakaian itu. Artinya, jika Hannah Barker menggunakannya, pakaian itu akan sangat efektif u

  • 1001 Cara Membuat Suamiku Selingkuh   Bab 9: Aku Tidak Akan Membiarkanmu Bahagia

    [Cecilia]Rumahnya berisik sejak pagi. Suara bising dari para tukang masak yang menyiapkan hidangan, tukang kebun yang menata anggrek dari pintu masuk, para pelayan yang biasanya membersihkan rumah dalam senyap. Mereka selalu sibuk jika hari-hari penting seperti ini tiba.Keluarga Wang sudah terbias

  • 1001 Cara Membuat Suamiku Selingkuh   Bab 8: Semuanya Sudah Siap

    [Maria]Damian tidak ada di sampingku ketika aku bangun tidur pagi ini. Tirai di kamar masih tertutup padahal sudah jam 10. Tidak ada suara vacuum cleaner atau langkah kaki manusia di lorong. Pasti belum ada pelayan yang ke lantai dua.Aku membilas wajahku di wastafel sambil mengingat-ingat apa yang

  • 1001 Cara Membuat Suamiku Selingkuh   Bab 7: Kontrak yang Berbahaya... atau Tidak?

    [Hannah]Kedai roti yang sama, aroma butter yang sama, tapi bagi Hannah, hari ini terasa jauh lebih baik daripada sebelumnya.Tebak kenapa? Karena hari ini hari terakhirnya bekerja.Tidak, Hannah bahkan tidak bekerja. Buat apa ia bekerja kalau bosnya menolak membayar setengah gajinya karena Hannah

  • 1001 Cara Membuat Suamiku Selingkuh   Bab 5: Jerat Masa Lalu

    [Maria]‘Maria. Aku masih ada urusan. Grace akan kukirim ke sana.’Aku meremas kuat ponselku saat menerima pesan dari Damian. Setelah seseorang dari HR department meminta dilibatkan (katanya mereka harus memastikan karyawan yang diterima memenuhi standar minimal), sekarang seorang sekretaris senior

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status