Se connecterBayangan siluet di balik kaca jendela kamar lantai dua itu menghilang dalam sekejap begitu netra Nawa menangkap keberadaannya. Tirai tebal berwarna abu-abu tua langsung ditarik dari dalam dengan gerakan kasar, menutup rapat paviliun barat dan menyisakan kembali keheningan kelam di kaca yang berdebu.
Nawa membuang napas perlahan. Kebenaran yang baru saja dilontarkan Elian—tentang kecelakaan malam hujan tiga tahun lalu dan jemari sang pianis yang patah—menghantam benaknya dengan rasa sesak yang kian mengimpit. Arvin tidak hanya menanggung beban kelumpuhan fisiknya sendiri, tetapi juga memikul reruntuhan impian sang adik. Tanpa ragu, Nawa melangkah meninggalkan teras samping. Tangannya yang lentik menyeduh secangkir teh hangat beraroma lemon dan jahe di dapur, meletakkannya di atas nampan kayu kecil. Langkah kakinya yang beralas sandal terdengar pelan saat menyusuri tangga kayu menuju kamar utama Arvin di lantai dua. Di depan pintu jati yang kokoh itu, Nawa menghentikan langkah. Ia mengetuk dua kali. Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang seolah-olah menyedot seluruh udara di lorong. Nawa ragu sesaat sebelum memutar gagang pintu yang ternyata tidak terkunci. Kamar itu terlampau luas untuk dihuni oleh kerinduan dan keputusasaan sendirian. Bau citrus, obat antiseptik, dan kayu lapuk memenuhi udara. Lampu gantung kristal di langit-langit mati total, sementara tirai bludru tebal berwarna abu-abu tua menutupi seluruh akses cahaya matahari pagi, membiarkan ruangan tenggelam dalam remang-remang yang suram. Arvin duduk membelakangi pintu di dekat meja kerja kayu jati yang berantakan dengan tumpukan cetakan biru arsitektur tua yang melengkung dan berdebu. Bahunya tegang, jemarinya saling bertaut erat di atas pangkuan, dan kakinya lemah tak berdaya. "Kekuar, jangan pernah masuk tanpa izinku," ucap Arvin dengan suara mengudara—dingin, serak, dan tanpa memutar kursi rodanya. Nawa tidak menjawab. Ia melangkah mendekati meja kerja untuk meletakkan nampan berisi teh hangat sebelum melewati kursi roda Arvin menuju jendela kaca besar di ujung ruangan. Tangannya yang lentik meraih tirai bludru tebal itu. Srek! Brak! Dalam satu tarikan mantap, kain tebal itu tersingkap lebar. Tak hanya berhenti di situ, Nawa juga membuka jendela dan membiarkan udara segar menelusup masuk. Sinar matahari pagi yang hangat dan keemasan mendadak menerobos masuk, membelah kegelapan kamar dan menerangi setiap sudut ruangan yang terbengkalai. Debu-debu halus berterbangan, menari-nari sesaat sebelum jatuh menerpa kulit pucat Arvin secara langsung. "Nawa!" Arvin memekik panik. Pria itu sontak mengangkat tangan kiri untuk menutupi mata yang silau, sementara tangan kanannya memutar roda kursi dengan terburu-buru hingga memicu decit keras di lantai marmer. Napasnya mendadak memburu kencang, seolah-olah sinar matahari itu adalah sembilu panas yang menguliti kulitnya. "Tutup tirainya! Tutup!" bentak Arvin lagi. Nawa tidak memenuhi perintah panik itu. Ia berbalik perlahan, bersedekap di depan jendela, membiarkan pendar cahaya keemasan membingkai tubuhnya dari belakang. Angin pagi yang berembus sempat menerpa lembut rambutnya. "Ruangan ini terlalu pengap dan berbau obat, Mas. Kamu butuh udara segar dan sinar matahari pagi," tutur Nawa, suaranya tenang bagaikan alunan air jernih di antara bebatuan sungai. Arvin memicingkan mata tajam dari balik selipan jemarinya yang gemetar. Dadanya naik turun dengan kencang. Kulit wajahnya yang pucat tersiram cahaya terang, menyingkap alur ketegangan di pelipis dan urat lehernya yang menegang kaku. "Aku tidak butuh udara segar, sinar matahari, atau kepedulianmu!" bentak Arvin, suaranya bergetar menahan amarah yang meletup-letup. Ia menurunkan tangannya kasar, menatap Nawa dengan sorot mata hazelnya yang menyala-nyala oleh keputusasaan yang terluka. "Kembalikan tirai itu seperti semula, atau keluar dari kamarku sekarang juga!" Nawa berjalan mendekat, melangkah tanpa rasa ragu sedikit pun hingga berjarak satu meter di depan kursi roda Arvin. "Elian baru saja membawakan biji kopi ke rumah," ucap Nawa pelan, sengaja mengarahkan topik ke arah luka yang disembunyikan Arvin. Tubuh Arvin membeku seketika. Sorot mata hazelnya yang menyala mendadak meredup, digantikan oleh bayang kelam yang amat pekat. Jemari tangannya bergetar pelan sebelum meremas kuat kedua lututnya yang tak lagi bernyawa. "Dia menceritakan tentang tangan kanannya," lanjut Nawa, menatap lurus ke dalam pupil mata Arvin yang bergoyang hebat. "Dan tentang malam hujan tiga tahun lalu." Arvin menyunggingkan senyuman paling pahit yang pernah Nawa lihat. Sudut bibirnya tertarik kaku, menampakkan kerapuhan yang begitu telanjang di balik topeng dinginnya. "Lalu? Kamu sudah mendengarnya, bukan?" desis Arvin serak. Suaranya mengecil, nyaris menyerupai bisikan yang patah di tenggorokan. "Aku adalah monster di rumah ini, Nawa. Aku yang menghancurkan masa depan adikku sendiri. Aku yang menyeret keluarga ini ke dalam jurang." Arvin mendongak sedikit, menatap Nawa dengan mata yang memerah menahan gejolak emosi yang membakar dadanya. "Jadi tunggu apa lagi?" bisik Arvin, nadanya beracun dan sarat dengan permohonan. "Kamu sudah tahu semua kebusukan di rumah ini. Ambil bayaranmu dari Nenek, lalu pergi. Kamu tidak punya alasan untuk bertahan melayani pria pembawa sial sepertiku. Aku tidak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan. Aku hanya pria cacat yang tidak akan pernah bisa membawamu dalam kebahagiaan. Aku pria hina yang hanya akan membawamu dalam kegelapan dan kesedihan tak berujung. Pergilah sebelum semuanya terlambat, Nawa." Nawa menatap Arvin tanpa setitik pun prasangka buruk. Di mata Nawa, pria di hadapannya bukan seorang monster—melainkan seseorang dengan jiwa yang sedang membakar dirinya sendiri dalam api penyesalan yang tak kunjung padam. Nawa membungkukkan badannya sedikit, merendahkan posisinya agar sejajar dengan pandangan Arvin yang duduk di kursi roda. "Alasan saya ada di sini bukan karena Elian, bukan karena Nenek, dan bukan karena uang," bisik Nawa sangat jelas, memotong dinding dingin Arvin. "Saya bertahan di sini karena saya tidak akan membiarkan Mas mati pelan-pelan di dalam kamar gelap ini. Saya yang memilih untuk bertahan di sini." Arvin terpaku. Suara lembut Nawa merayap masuk ke celah-celah dadanya yang hampa, memicu rasa hangat asing yang membuat jantungnya berdesir aneh. Namun, ia segera memalingkan wajah sambil mendengkus kesal. Nawa kembali menegakkan tubuh. Ia mengambil buku sketsa lanskap dari dalam saku celana, meletakkannya tepat di samping cangkir teh yang masih mengepul. "Minum tehnya selagi masih hangat. Kalau Mas Arvin bosan menatap dinding kosong, Mas bisa melihat-lihat gambar yang saya buat," ujar Nawa tenang. Tanpa menunggu jawaban dari Arvin yang masih membisu dalam keterpakuannya, Nawa berbalik dan melangkah keluar kamar dengan tenang, membiarkan pintu jati itu tetap terbuka beberapa senti. Arvin kembali sendiri di tengah pendar cahaya matahari pagi yang kini memenuhi seluruh sudut kamarnya. Keheningan merayap masuk, tetapi kali ini rasa sesak yang biasa menyiksa terasa sedikit terurai oleh aroma lemon dan jahe dari teh yang ditinggalkan Nawa. Mata Arvin perlahan bergulir ke meja kecil di sampingnya. Di sana, di sebelah cangkir yang masih mengepulkan uap tipis, tergeletak sebuah buku sketsa bersampul kulit cokelat yang sengaja dibiarkan terbuka oleh Nawa. Embusan angin pagi dari celah jendela yang terbuka menggoyangkan lembaran kertas tebal bertekstur kasar itu. Halamannya tersingkap berurutan hingga berhenti tepat di sebuah lembaran bagian tengah. Jantung Arvin mendadak berdegup kencang saat matanya menangkap goresan pensil di lembaran tersebut. Itu adalah sketsa wajahnya sendiri dari samping—terlukis begitu detail dan halus. Goresan pensil Nawa menangkap bayangan rahang tegasnya, rambutnya yang acak-acakan, hingga sorot matanya yang redup. Namun, yang membuat dada Arvin terasa dihantam godam keras adalah bagaimana Nawa melukiskan pendar sinar matahari keemasan yang jatuh di pipinya, mengubah raut duka di wajah Arvin menjadi sebuah gambaran yang sangat indah, hangat, dan penuh dengan harapan. Sama seperti dirinya tiga tahun lalu sebelum kecelakaan tragis itu merenggut semua darinya. Di sudut bawah kertas sketsa itu, terdapat satu baris tulisan tangan rapi dengan tinta hitam yang ditulis Nawa: “Bahkan dalam kegelapan yang paling pekat, selalu ada celah bagi cahaya untuk masuk jika kita berani membuka pintunya. Ingatlah, selalu ada cara untuk tersenyum di setiap kesedihan karena Tuhan tahu batasanmu." Jemari Arvin bergetar pelan saat perlahan mengulurkan tangannya yang kaku, menyentuh permukaan kertas kasar itu persis di bagian gambar garis senyumnya yang terukir tipis.Pagi baru menyapa saat Nawa sudah bersiap di depan cermin kamar tamu. Ia menatap pantulan dirinya. Kemeja lengan panjang berwarna biru pastel berukuran besar dipadu dengan celana kargo warna hitam. Rambutnya diikat kuda ke atas, menampilkan leher jenjangnya yang putih dan mulus. Senyum lebar terukir di bibirnya yang merah alami.Hari itu, ia memutuskan untuk kembali merapikan taman mawar. Suatu pekerjaan yang sangat menyenangkan mengingat mawar merah adalah salah satu bunga favoritnya."Semangat, Nawa! Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin," ucapnya pada diri sendiri sambil mengepalkan tangan. Nawa mematut diri sekali lagi seraya tersenyum lebar sebelum melangkah keluar kamar. Langkahnya ringan saat menyusuri koridor lantai dua, menuruni tangga melingkar dan sampai di depan pintu kaca yang mengarah ke samping.Ia perlahan membuka pintu kaca itu dan keluar. Nawa memejamkan mata sejenak, merasakan sejuknya angin pagi yang belum terkontaminasi oleh polisi udara. Ia menarik nap
Satu per satu dahan mawar kering itu luruh ke atas tanah hitam usai dipotong oleh gunting tanaman tua. Udara pagi di pekarangan paviliun barat terasa begitu dingin, menciptakan embun tipis di udara setiap kali Nawa mengembuskan napas. Kakinya yang beralas selop katun basah oleh embun pagi, tetapi Nawa tak memedulikannya."Non Nawa, biar paman saja yang merapikan pohon mawar itu. Takutnya nanti Non Nawa tertusuk durinya."Suara berat milik Pak Usman memecah kesunyian. Pria paruh baya bertubuh tegap itu melangkah mendekat seraya membawa dua buah karung goni kosong di tangannya.Nawa menyapu keringat di pelipisnya dengan punggung tangan, lalu mengulas senyum ramah. "Tidak apa-apa, Pak Usman. Saya sekalian melatih fisik pagi ini. Lagipula, tanah di sekitar akar mawar ini harus digemburkan dulu sebelum diberi pupuk kompos baru."Pak Usman menatap Nawa dengan binar prihatin sekaligus kagum. Sudah bertahun-tahun pekarangan paviliun barat dibiarkan mati meranggas tanpa ada seorang pun yang be
"Di gudang bawah paviliun barat, dulu Kakek menyimpan banyak pot keramik tanah liat dan gunting dahan tua," tutur Nenek Halimah seraya mengusap lembut lengan Nawa usai menyantap makan siang bersama. "Kebun mawar di samping teras itu sudah bertahun-tahun tak tersentuh, Nawa. Kalau kamu tidak keberatan dan punya waktu luang, kamu boleh mengambil alat-alat itu di bawah." Nawa Kirana mengulas senyum manis sebelum menyesap sisa teh hangat dalam cangkir. "Tentu tidak keberatan, Nek. Nawa memang berniat merapikan tanahnya sore ini. Akar-akar liar di sana harus segera dipangkas supaya tanaman barunya bisa bernapas." "Baguslah kalau begitu, Nak," ucap Nenek Halimah lembut seraya bangkit dari duduk dan berjalan menuju lemari di dekat ruang keluarga, lalu kembali sambil membawa sebuah anak kunci berukir rumit yang tampak kusam digerus waktu. Ia menyerahkan benda itu ke telapak tangan Nawa. "Gudang itu agak berdebu. Hati-hati saat melangkah di tangga bawah." Sambil mengantongi kunci ter
Bayangan siluet di balik kaca jendela kamar lantai dua itu menghilang dalam sekejap begitu netra Nawa menangkap keberadaannya. Tirai tebal berwarna abu-abu tua langsung ditarik dari dalam dengan gerakan kasar, menutup rapat paviliun barat dan menyisakan kembali keheningan kelam di kaca yang berdebu. Nawa membuang napas perlahan. Kebenaran yang baru saja dilontarkan Elian—tentang kecelakaan malam hujan tiga tahun lalu dan jemari sang pianis yang patah—menghantam benaknya dengan rasa sesak yang kian mengimpit. Arvin tidak hanya menanggung beban kelumpuhan fisiknya sendiri, tetapi juga memikul reruntuhan impian sang adik. Tanpa ragu, Nawa melangkah meninggalkan teras samping. Tangannya yang lentik menyeduh secangkir teh hangat beraroma lemon dan jahe di dapur, meletakkannya di atas nampan kayu kecil. Langkah kakinya yang beralas sandal terdengar pelan saat menyusuri tangga kayu menuju kamar utama Arvin di lantai dua. Di depan pintu jati yang kokoh itu, Nawa menghentikan langkah. Ia
Embusan kata-kata dingin masih tertinggal di leher Nawa saat Arvin memutar cepat ban kursi roda serat karbonnya. Tanpa mengucap sebaris kata pamit kepada Pak Penghulu atau Nenek Halimah, Arvin meluncur menembus lorong dan menghilang di balik pintu jati paviliun barat yang langsung terkunci rapat dari dalam. Nawa berdiri mematung di sisi meja akad selama beberapa saat, membelai pelan cincin emas putih yang kini mengikat jari manisnya. Gertakan enam bulan itu bukan sekadar bualan biasa. Arvin bersungguh-sungguh dengan ancamannya. Nenek Halimah mendekati Nawa ketika melihat Arvin pergi meninggalkannya. Lalu, mengusap lembut bahu cucu menantunya itu sambil tersenyum hangat. "Jangan diambil hati sikap dan perkataan Arvin barusan, ya, Nawa. Nanti Nenek akan memperingatkannya. Sebaiknya kamu istirahat dulu di kamar." Nenek Halimah segera menyusul ke kamar Arvin dan mengetuk pintunya. Awalnya pria itu enggan membuka pintu, tetapi setelah Nenek Halimah mengetuk dengan sedikit kasar, akhi
Tatapan dingin yang menusuk dari balik jendela lantai dua tiga hari lalu itu masih membekas pekat di ingatan Nawa Kirana. Sore itu, di ruang tamu utama keluarga Raynar yang bernuansa serba putih, atmosfer hening terasa merayap lambat. Hanya ada aroma melati segar beradu dengan wangi dupa cendana lembut yang dinyalakan Nenek Halimah di sudut ruangan. Nawa duduk bersimpuh di atas karpet beludru tebal. Kebaya katun brokat berwarna putih gading menempel pas di tubuhnya, dipadukan dengan kain batik gurdo berlaris cokelat klasik. Rambut gelombangnya disanggul modern secara sederhana, meninggalkan beberapa helai anak rambut yang membingkai leher jenjangnya. "Nawa, minum teh hangat ini dulu, ya," bisik Nenek Halimah seraya mengusap lembut bahu Nawa. Wanita tua itu mengenakan kebaya encim warna krem dengan mata berbinar penuh keharuan. "Terima kasih sudah bertahan sampai titik ini." Nawa mengangguk pelan seraya menyunggingkan senyum tipis. "Nawa tidak apa-apa, Nek." Mendadak suara decit ha







