Share

Bab 53

Author: Nawasena
last update publish date: 2026-10-28 17:29:37

Pagi hari di kompleks kediaman Raynar diawali oleh embusan angin sejuk yang menyusup di antara celah-celah daun mahoni yang rimbun. Keheningan yang biasa menyelimuti rumah megah tersebut mendadak terpecah oleh sesuatu yang sudah amat lama sirna dari atmosfer tempat itu. Dari arah ruang musik kediaman utama—sebuah ruangan berlantai marmer dengan pintu kaca melengkung yang menghadap ke taman tengah—sayup-sayup terdengar nada-nada indah dari instrumen piano grand concert yang bertahun-tahun lamany
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • 180 Hari Sebelum Kau Menghilang   Bab 71

    Sinar mentari pagi di atas kota memancarkan cahaya keemasan yang lembut, menembus celah-celah dedaunan pohon kamboja di area pemakaman umum yang tenang. Di bawah langit yang biru, diiringi desau angin pagi yang berembus pelan membawa kesejukan, suasana di tempat peristirahatan terakhir itu terasa begitu damai. Di antara deretan batu nisan yang tertata rapi, Nawa Kirana melangkah perlahan menyusuri jalan setapak dari batu koral didampingi oleh Arvin Raynar yang duduk di kursi roda. Hari itu, Nawa memang meminta izin khusus kepada suaminya untuk mengunjungi makam sang adik tercinta, Raka. Mengingat hari itu pula tepat lima tahun kepergiannya yang tragis. Setiap tahun pada tanggal yang sama, Nawa selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke makam Raka. Ia sekadar bercerita atau duduk dalam diam selama berjam-jam. Setelah kepergian Raka, tak ada lagi keluarga yang tersisa. Oleh karena itu, Nawa sering merasa kesepian sebelum menikah dengan Arvin. Tanpa ragu sedikit pun, Arvin langsung

  • 180 Hari Sebelum Kau Menghilang   Bab 70

    ​Suasana malam di kediaman keluarga Raynar kembali diliputi oleh keheningan yang menenangkan selepas badai besar yang menghantam hari itu. Mobil sedan mewah hitam yang membawa Arvin Raynar dan Nawa Kirana melaju mulus memasuki gerbang utama kompleks kediaman, melewati deretan pohon mahoni yang diterangi lampu jalanan. ​Keberhasilan membongkar fitnah licik Clarissa di hadapan publik elite dalam perjamuan bisnis tadi sore telah membawa perasaan lapang dan lega yang tak terhingga bagi pasangan suami istri tersebut. Nama baik Nawa sebagai konsultan arsitek lanskap independen tidak hanya pulih sepenuhnya secara publik, melainkan kini makin melambung tinggi dan dihormati oleh jajaran petinggi korporasi pengembang properti papan atas. ​Setibanya di paviliun barat, kehangatan kompleks bangunan semi-mandiri itu menyambut kepulangan mereka. Lorong kaca beratap transparan yang menghubungkan paviliun dengan kediaman utama tampak diterangi lampu dinding kekuningan yang lembut. Arvin mengoperas

  • 180 Hari Sebelum Kau Menghilang   Bab 69

    ​Suasana di ballroom utama hotel bintang lima yang menjadi tempat diselenggarakannya perjamuan bisnis tahunan asosiasi pengembang properti nasional terasa begitu megah, glamor, dan riuh. Lampu-lampu kristal raksasa membiaskan cahaya keemasan yang mewah di atas lantai marmer mengkilap, sementara alunan instrumen musik chamber orchestra mengiringi percakapan hangat dari ratusan tamu elit yang terdiri dari para pengusaha papan atas, investor asing, pejabat pemerintah, serta sosialita kota. ​Namun, di salah satu sudut ballroom yang dikelilingi oleh jajaran direksi Nirwana Resort dan kolega bisnis elite, Clarissa Danoediredja tampak memimpin pembicaraan dengan raut wajah yang memancarkan keangkuhan dan rasa kemenangan mutlak. Mengenakan gaun malam berwarna merah menyala dengan perhiasan berlian berkilauan di lehernya, Clarissa berdiri berdampingan dengan Julian, tunangannya yang kaya raya. ​"Sangat disayangkan memang," tutur Clarissa dengan suara beracun yang sengaja dikeraskan agar me

  • 180 Hari Sebelum Kau Menghilang   Bab 68

    ​Matahari baru saja naik sepenggalah, tetapi menyebarkan kehangatan yang menembus jendela kaca besar taman kaca di paviliun barat kediaman keluarga Raynar. Nawa Kirana duduk fokus di depan meja kayu besar yang tertata rapi. Jemari lentiknya menari lincah di atas papan ketik laptop. Ia sedang melakukan penyempurnaan terakhir pada berkas laporan dan spesifikasi teknis proyek lanskap resort and spa mewah di Bali yang akan segera diserahkan kepada pihak pengembang Nirwana Resort. ​Di seberang meja kayu itu, Arvin Raynar duduk tegap di atas kursi roda otomatis barunya. Tampak mendampingi sang istri tercinta sambil membaca dokumen laporan korporasi triwulanan Raynar Group. Keharmonisan pagi itu mengalir begitu damai, memancarkan kebahagiaan rumah tangga yang baru saja menemukan bentuk sempurnanya. ​Namun, kedamaian tersebut mendadak terusik ketika layar ponsel cerdas di atas meja Nawa berdering nyaring. Suaranya memecah keheningan ruangan dengan nada panggilan yang mendesak. ​Nawa mel

  • 180 Hari Sebelum Kau Menghilang   Bab 67

    ​Kabar mengenai kembalinya Arvin Raynar ke kursi kepemimpinan Raynar Group menyebar bagaikan kilat di kalangan elite korporasi metropolitan. Tidak hanya itu, rumor mengenai kebangkitan sang Dirut yang kini tampil begitu bugar, berwibawa, dan didampingi oleh seorang wanita muda berparas anggun nan berkelas menjadi topik hangat yang paling banyak dibicarakan di pesta-pesta minum teh para sosialita papan atas. ​Namun, di sebuah penthouse mewah berlantai marmer impor di kawasan bisnis terpadu ibu kota, kabar tersebut disambut dengan aura yang jauh dari kata hangat. ​Clarissa Danoediredja berdiri di dekat jendela kaca raksasa yang menghadap ke lanskap kota. Wanita bergaun desainer warna merah hati itu menggenggam erat segelas champagne di tangan kanan hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menyipit tajam menatap pantulan dirinya di kaca, dipenuhi oleh campuran emosi yang membakar. Rasa malu atas kekalahan verbalnya di gala dinner, harga diri yang tercabik-cabik, serta kejengkelan yang

  • 180 Hari Sebelum Kau Menghilang   Bab 66

    ​Mentari baru saja merayap naik, menebarkan kehangatan yang melingkupi kediaman Raynar. Pintu kaca geser yang mengarah ke balkon sengaja dibiarkan terbuka lebar. Begitu pula dengan jendela besarnya. Tirainya tersingkap ke samping dengan rapi. Suatu hal yang tidak pernah dilakukan selama tiga tahun belakangan karena penghuninya memilih tenggelam dalam kegelapan dan keputusasaan. Semerbak wangi mawar merah di taman samping paviliun langsung menguar begitu angin berembus hingga menyusup masuk ke dalam kamar utama. Membawa kedamaian serta kehidupan baru di tempat yang selama tiga tahun ini seperti tak berpenghuni. ​Di dalam kamar utama, Arvin Raynar menikmati kenyamanan pagi pertamanya pasca perayaan ulang tahun yang begitu berkesan. Pria berusia dua puluh tujuh tahun itu sudah mengenakan kaos berkerah berwarna krem yang dipadukan dengan celana katun kasual berpotongan rapi. ​Arvin duduk tegap di atas kursi roda otomatis canggih hadiah sang nenek. Ia sedang menatap rumput di halaman

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status