共有

Bab 6

作者: Nawasena
last update 公開日: 2026-10-05 21:26:37

Satu per satu dahan mawar kering itu luruh ke atas tanah hitam usai dipotong oleh gunting tanaman tua. Udara pagi di pekarangan paviliun barat terasa begitu dingin, menciptakan embun tipis di udara setiap kali Nawa mengembuskan napas. Kakinya yang beralas selop katun basah oleh embun pagi, tetapi Nawa tak memedulikannya.

"Non Nawa, biar paman saja yang merapikan pohon mawar itu. Takutnya nanti Non Nawa tertusuk durinya."

Suara berat milik Pak Usman memecah kesunyian. Pria paruh baya bertubuh tegap itu melangkah mendekat seraya membawa dua buah karung goni kosong di tangannya.

Nawa menyapu keringat di pelipisnya dengan punggung tangan, lalu mengulas senyum ramah. "Tidak apa-apa, Pak Usman. Saya sekalian melatih fisik pagi ini. Lagipula, tanah di sekitar akar mawar ini harus digemburkan dulu sebelum diberi pupuk kompos baru."

Pak Usman menatap Nawa dengan binar prihatin sekaligus kagum. Sudah bertahun-tahun pekarangan paviliun barat dibiarkan mati meranggas tanpa ada seorang pun yang berani mengurusnya.

"Den Arvin tidak menyukai bau pupuk atau bau tanah basah, Non," bisik Pak Usman seraya berlutut untuk memunguti potongan dahan di dekat kaki Nawa. "Dulu, saat beliau masih aktif bekerja sebagai perancang cahaya, pekarangan ini selalu dipenuhi lampu-lampu sorot kecil untuk eksperimen pencahayaan. Sekarang, jangankan lampu pameran, lampu taman saja beliau minta dimatikan."

Nawa menaruh gunting tanamannya di atas meja batu, lalu ikut berlutut mengumpulkan sampah ranting. Ia melirik perlahan ke arah lantai dua paviliun. Tirai jendela kamar Arvin sedikit tersingkap, memperlihatkan siluet kursi roda yang mematung di sana.

"Pak Usman sudah berapa lama bekerja mengawal Mas Arvin?" pancing Nawa pelan, menjaga agar suaranya tidak terdengar seperti sedang menginterogasi.

"Sejak Den Arvin berusia lima belas tahun, Non. Dari zaman beliau masih suka bongkar pasang kamera analog sampai beliau memimpin proyek tata cahaya gedung-gedung pencakar langit," jawab Pak Usman dengan nada haru. "Den Arvin itu sebenarnya pria yang sangat lembut, Non. Tapi, sejak kecelakaan tiga tahun lalu dan sejak Mbak Clarissa membatalkan pertunangan mereka secara sepihak di rumah sakit, beliau langsung mengunci hatinya dari siapa pun."

Nawa terdiam. Nama Clarissa yang diucapkan Pak Usman membuat dadanya terasa agak berat.

"Mbak Clarissa benar-benar pergi begitu saja?" tanya Nawa pelan.

"Hari ketiga setelah operasi tulang belakang Den Arvin dinyatakan gagal, Mbak Clarissa datang membawa cincin pertunangan," tutur Pak Usman dengan bisikan sarat kekecewaan. "Beliau bilang, beliau tidak sanggup memiliki suami yang harus diurus seumur hidup di atas kursi roda. Sejak hari itu, Den Arvin menganggap semua wanita yang mendekatinya hanya menginginkan harta Raynar Group."

Nawa menunduk, meremas kain celananya. 'Pantas saja,' pikir Nawa. Prasangka buruk Arvin padanya di hari pernikahan bukan sekadar rasa benci biasa, melainkan topeng pelindung yang dipasang agar tidak dihancurkan untuk kedua kalinya.

"Tapi ada satu hal yang membuat paman heran belakangan ini, Non," tambah Pak Usman seraya menepuk-nepuk debu tanah di tangannya.

Nawa mendongak cepat. "Hal apa, Pak?"

"Den Arvin beberapa minggu ini sering minta dikirimkan dokumen legal dari kantor hukum keluarga. Beliau juga menolak semua berkas pengajuan proyek dari Tuan Hendra, tapi sibuk menandatangani lembar pengalihan aset kecil-kecilan." Pak Usman menggeleng bingung. "Paman takut kalau Tuan Hendra makin nekat menekan beliau."

"Pengalihan aset?" tanya Nawa dengan alis bertaut rapat. "Mas Arvin mengalihkan aset kepada siapa?"

"Paman kurang tahu pastinya, Non. Tapi beberapa kali Paman lihat sekretaris pribadi almarhum Ayahnya datang membawa stopmap merah tebal ke kamar paviliun."

Siang harinya, usai memindahkan karung-karung sampah organik ke pembuangan belakang, Nawa membawakan satu set poci teh chamomile dan beberapa lembar kertas kalkir bersih ke perpustakaan pribadi di lantai dasar paviliun. Tempat itu merupakan ruangan kerja Arvin sebelum kecelakaan, kini dipenuhi tumpukan buku arsitektur berdebu dan kardus-kardus berkas yang terbengkalai.

Saat Nawa sedang menyusun kembali buku-buku di rak paling bawah, kakinya menyenggol sebuah keranjang sampah kaleng di samping meja baca tua. Keranjang itu terguling pelan, mengeluarkan beberapa remasan kertas kalkir yang tampaknya baru saja dibuang.

Nawa berlutut untuk memunguti remasan kertas tersebut. Salah satu remasan kertas kalkir tebal menarik perhatiannya karena memiliki bekas tulisan tinta kaligrafi hitam yang tebal.

Dengan gerakan pelan, Nawa membuka remasan kertas kalkir itu hingga membentang rata di atas pangkuannya.

Garis-garis cetak biru arsitektur terlukis di sana, memperlihatkan denah struktur paviliun barat. Namun, di sudut kanan bawah kertas kalkir tersebut, terdapat coretan-coretan tangan Arvin yang sangat rapi dan tegas.

Nawa menahan napas saat menelusuri alur tulisan tangan itu:

Draf Final Pelimpahan Hak Milik Paviliun & Saham Utama Raynar Group.

Penerima Kuasa: Elian Raynar (Berlaku Efektif pada Hari ke-180).

Catatan Tambahan: Pembersihan seluruh namaku dari struktur kepemilikan perusahaan. Proses perceraian & penyelesaian kompensasi Nawa Kirana diselesaikan serentak pada tanggal tersebut.

Deg.

Jantung Nawa serasa berhenti berdetak seketika.

Darah di dalam tubuhnya mendadak terasa mendingin. Lembaran kertas kalkir di tangannya bergetar pelan saat matanya berulang kali membaca baris kalimat yang sama.

Angka 180 hari yang dilingkari merah di kalender meja kamar dan gertakan Arvin di hari pertama pernikahan. Semuanya mendadak terhubung menjadi sebuah gambaran utuh yang mengerikan.

Arvin bukan sedang merencanakan perceraian biasa atau sekadar mengusirnya dari rumah itu. Arvin sedang menyusun rencana penyerahan dirinya sendiri secara sistematis. Pria itu berniat memindahkan seluruh harta warisannya kepada sang adik, membebaskan Nawa dengan uang kompensasi, lalu menghapus keberadaan dirinya sendiri dari dunia tanpa meninggalkan jejak apa pun.

"Nawa?"

Suara panggilan lembut dari arah pintu perpustakaan membuat Nawa tersentak kaget. Ia dengan refleks melipat asal kertas kalkir tersebut dan menyembunyikan di dalam saku celana kainnya.

Nenek Halimah berdiri di pintu perpustakaan. "Kenapa melamun di sini, Nak? Apakah ada yang sedang mengganggu pikiranmu?"

Nawa menelan ludah dengan susah payah, mencoba menetralkan raut wajahnya agar tidak tampak panik. Ia berdiri perlahan, menghampiri Nenek Halimah seraya mengulas senyum tipis yang dipaksakan.

"Ah, tidak apa-apa, Nek. Nawa cuma sedang merapikan buku-buku lama di rak ini," ucap Nawa lembut.

Nenek Halimah menatap Nawa dengan kehangatan seorang ibu, lalu menghela napas panjang. "Nawa, Nenek tahu hidup di rumah ini sangat berat untukmu. Arvin pasti sering mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hatimu, kan?"

Nawa menggeleng pelan seraya menggenggam erat tangan keriput Nenek Halimah. "Mas Arvin tidak menyakiti Nawa, Nek. Nawa paham beliau cuma sedang terluka."

"Nenek hanya takut, Nawa." Air mata Nenek Halimah menggenang di pelupuk mata. "Nenek takut Arvin sudah benar-benar kehilangan alasannya untuk bernapas di dunia ini. Setiap kali Nenek melihat matanya, Arvin seolah-olah sudah siap untuk pergi kapan saja."

Kata-kata Nenek Halimah menghantam dada Nawa bagai godam besi. Nenek Halimah juga merasakannya. Rasa hampa Arvin bukan lagi sekadar depresi biasa, melainkan persiapan menuju ketiadaan—persis seperti yang dilakukan adiknya, Raka, empat tahun lalu.

"Nawa janji, Nek," ucap Nawa dengan nada bicara yang mendadak berubah sangat tegas dan mantap. Matanya berkilat oleh tekad yang baru. "Nawa tidak akan biarkan Mas Arvin pergi. Nawa tidak akan membiarkan rencana apa pun yang sedang disiapkannya berhasil."

Nenek Halimah memandang Nawa tertegun, tak mengerti sepenuhnya maksud dari kalimat Nawa. Namun, merasa sangat lega oleh keteguhan di wajah cucu menantunya itu.

Sore harinya, kabut dingin kembali turun menyelimuti pekarangan. Nawa berdiri di tengah kebun mawar yang baru setengahnya dirapikan. Tangan kanannya yang berada di saku celana mencengkeram erat kertas kalkir berisikan draf rencana 180 hari Arvin.

Nawa perlahan mendongak, menatap lurus ke arah balkon lantai dua paviliun barat.

Di atas sana, Arvin tampak sedang mendorong kursi rodanya mendekati pembatas balkon, memandang dingin ke arah Nawa di bawah. Pria itu menyilangkan kedua tangannya di dada, memancarkan aura ketidaksukaan yang amat pekat atas keberadaan Nawa di pekarangannya.

Dari jarak belasan meter, Nawa membalas sorot mata hazel yang membeku itu tanpa rasa takut sedikit pun.

'Jam hitung mundurmu sudah berjalan, Mas Arvin,' batin Nawa seraya mengetatkan rahangnya. 'Kamu pikir bisa membuang hidupmu dalam 180 hari dan menganggap semuanya selesai begitu saja? Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi.'

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • 180 Hari Sebelum Kau Menghilang   Bab 9

    Nawa melangkah keluar dari kamar Arvin dengan dada yang masih bergemuruh hebat. Kakinya terasa gemetar saat menyusuri tangga menuju lantai bawah. Setiap kali memejamkan mata, gestur Arvin—kepala yang dimiringkan, senyum tipis di sudut bibir, dan jemari yang mengusap belakang leher—terus berputar di benaknya, menghidupkan kembali bayangan almarhum adiknya, Raka, yang telah beristirahat tenang empat tahun lalu.Nawa menekan dada kirinya pelan sambil menghela napas panjang untuk menguasai diri. Namun, sebelum kakinya sempat menyentuh anak tangga terakhir menuju lantai dasar, keheningan sore paviliun barat pecah seketika oleh deru mesin mobil yang berhenti mendadak di depan teras utama.Brak!Terdengar suara pintu mobil ditutup dengan kasar, disusul ketukan nyaring sepatu hak tinggi yang beradu cepat dengan lantai marmer luar."Pak Usman, di mana Arvin?!"Suara wanita paruh baya bertonasi tinggi dan melengking memenuhi area foyer. Nawa menghentikan langkahnya dan menatap ke arah pintu dep

  • 180 Hari Sebelum Kau Menghilang   Bab 8

    Uap tipis membubung dari cangkir porselen putih yang dibawa Nawa di atas nampan kayu. Aroma chamomile dan kayu manis menyebar lembut, berusaha mengusir aroma antiseptik dan kayu lapuk yang selalu mengendap di ruang kerja Arvin.Nawa mendorong pintu kayu jati yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka. Arvin sedang berada di tepi meja kerja besar, menghadap tumpukan gulungan cetakan biru arsitektur yang sudah menguning."Saya bawakan teh hangat, Mas," ujar Nawa tenang seraya melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan.Arvin tidak memutar kursi rodanya, tetapi sudut mata hazel-nya melirik dingin pada nampan yang diletakkan Nawa di tepi meja. Pandangannya langsung tertuju pada telapak tangan kiri Nawa yang kini telah terbebat perban putih."Aku tidak minta dibuatkan teh," sahut Arvin, suaranya serak dan datar. "Dan kamu masih berkeliaran dengan tangan terluka seperti itu?"Nawa menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, lalu mengulas senyum tipis. "Tangan saya tidak apa-apa, Mas Ar

  • 180 Hari Sebelum Kau Menghilang   Bab 7

    Pagi baru menyapa saat Nawa sudah bersiap di depan cermin kamar tamu. Ia menatap pantulan dirinya. Kemeja lengan panjang berwarna biru pastel berukuran besar dipadu dengan celana kargo warna hitam. Rambutnya diikat kuda ke atas, menampilkan leher jenjangnya yang putih dan mulus. Senyum lebar terukir di bibirnya yang merah alami.Hari itu, ia memutuskan untuk kembali merapikan taman mawar. Suatu pekerjaan yang sangat menyenangkan mengingat mawar merah adalah salah satu bunga favoritnya."Semangat, Nawa! Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin," ucapnya pada diri sendiri sambil mengepalkan tangan. Nawa mematut diri sekali lagi seraya tersenyum lebar sebelum melangkah keluar kamar. Langkahnya ringan saat menyusuri koridor lantai dua, menuruni tangga melingkar dan sampai di depan pintu kaca yang mengarah ke samping.Ia perlahan membuka pintu kaca itu dan keluar. Nawa memejamkan mata sejenak, merasakan sejuknya angin pagi yang belum terkontaminasi oleh polisi udara. Ia menarik nap

  • 180 Hari Sebelum Kau Menghilang   Bab 6

    Satu per satu dahan mawar kering itu luruh ke atas tanah hitam usai dipotong oleh gunting tanaman tua. Udara pagi di pekarangan paviliun barat terasa begitu dingin, menciptakan embun tipis di udara setiap kali Nawa mengembuskan napas. Kakinya yang beralas selop katun basah oleh embun pagi, tetapi Nawa tak memedulikannya."Non Nawa, biar paman saja yang merapikan pohon mawar itu. Takutnya nanti Non Nawa tertusuk durinya."Suara berat milik Pak Usman memecah kesunyian. Pria paruh baya bertubuh tegap itu melangkah mendekat seraya membawa dua buah karung goni kosong di tangannya.Nawa menyapu keringat di pelipisnya dengan punggung tangan, lalu mengulas senyum ramah. "Tidak apa-apa, Pak Usman. Saya sekalian melatih fisik pagi ini. Lagipula, tanah di sekitar akar mawar ini harus digemburkan dulu sebelum diberi pupuk kompos baru."Pak Usman menatap Nawa dengan binar prihatin sekaligus kagum. Sudah bertahun-tahun pekarangan paviliun barat dibiarkan mati meranggas tanpa ada seorang pun yang be

  • 180 Hari Sebelum Kau Menghilang   Bab 5

    ​"Di gudang bawah paviliun barat, dulu Kakek menyimpan banyak pot keramik tanah liat dan gunting dahan tua," tutur Nenek Halimah seraya mengusap lembut lengan Nawa usai menyantap makan siang bersama. "Kebun mawar di samping teras itu sudah bertahun-tahun tak tersentuh, Nawa. Kalau kamu tidak keberatan dan punya waktu luang, kamu boleh mengambil alat-alat itu di bawah." ​Nawa Kirana mengulas senyum manis sebelum menyesap sisa teh hangat dalam cangkir. "Tentu tidak keberatan, Nek. Nawa memang berniat merapikan tanahnya sore ini. Akar-akar liar di sana harus segera dipangkas supaya tanaman barunya bisa bernapas." ​"Baguslah kalau begitu, Nak," ucap Nenek Halimah lembut seraya bangkit dari duduk dan berjalan menuju lemari di dekat ruang keluarga, lalu kembali sambil membawa sebuah anak kunci berukir rumit yang tampak kusam digerus waktu. Ia menyerahkan benda itu ke telapak tangan Nawa. "Gudang itu agak berdebu. Hati-hati saat melangkah di tangga bawah." ​Sambil mengantongi kunci ter

  • 180 Hari Sebelum Kau Menghilang   Bab 4

    Bayangan siluet di balik kaca jendela kamar lantai dua itu menghilang dalam sekejap begitu netra Nawa menangkap keberadaannya. Tirai tebal berwarna abu-abu tua langsung ditarik dari dalam dengan gerakan kasar, menutup rapat paviliun barat dan menyisakan kembali keheningan kelam di kaca yang berdebu. Nawa membuang napas perlahan. Kebenaran yang baru saja dilontarkan Elian—tentang kecelakaan malam hujan tiga tahun lalu dan jemari sang pianis yang patah—menghantam benaknya dengan rasa sesak yang kian mengimpit. Arvin tidak hanya menanggung beban kelumpuhan fisiknya sendiri, tetapi juga memikul reruntuhan impian sang adik. Tanpa ragu, Nawa melangkah meninggalkan teras samping. Tangannya yang lentik menyeduh secangkir teh hangat beraroma lemon dan jahe di dapur, meletakkannya di atas nampan kayu kecil. Langkah kakinya yang beralas sandal terdengar pelan saat menyusuri tangga kayu menuju kamar utama Arvin di lantai dua. Di depan pintu jati yang kokoh itu, Nawa menghentikan langkah. Ia

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status