Se connecter"Di gudang bawah paviliun barat, dulu Kakek menyimpan banyak pot keramik tanah liat dan gunting dahan tua," tutur Nenek Halimah seraya mengusap lembut lengan Nawa usai menyantap makan siang bersama. "Kebun mawar di samping teras itu sudah bertahun-tahun tak tersentuh, Nawa. Kalau kamu tidak keberatan dan punya waktu luang, kamu boleh mengambil alat-alat itu di bawah."
Nawa Kirana mengulas senyum manis sebelum menyesap sisa teh hangat dalam cangkir. "Tentu tidak keberatan, Nek. Nawa memang berniat merapikan tanahnya sore ini. Akar-akar liar di sana harus segera dipangkas supaya tanaman barunya bisa bernapas." "Baguslah kalau begitu, Nak," ucap Nenek Halimah lembut seraya bangkit dari duduk dan berjalan menuju lemari di dekat ruang keluarga, lalu kembali sambil membawa sebuah anak kunci berukir rumit yang tampak kusam digerus waktu. Ia menyerahkan benda itu ke telapak tangan Nawa. "Gudang itu agak berdebu. Hati-hati saat melangkah di tangga bawah." Sambil mengantongi kunci tersebut, Nawa melangkah menelusuri koridor marmer menuju pintu kayu berukir kecil di sudut tersembunyi bawah paviliun barat. Udara pengap dan dingin langsung menyergap penciumannya begitu selot besi berderit terbuka. Cahaya mentari siang menerobos lewat celah ventilasi tinggi, menerangi tumpukan kardus tua, perabot kayu yang diselimuti kain beludru tebal dan berdebu, serta aroma kayu tua yang pekat. Sebagai seorang arsitek lanskap, Nawa justru menyukai ruangan-ruangan tua seperti itu—ruangan yang menyimpan jejak memori dan sejarah yang terlupakan. Nawa menyingsingkan lengan kaosnya hingga ke siku, lalu berlutut di dekat tumpukan peti kayu di sudut ruangan. Jemari lentiknya memindahkan beberapa pot tanah liat yang tersusun rapi. Namun, saat hendak meraih gunting tanaman di bagian paling dalam peti, ujung jarinya menyenggol sebuah benda padat yang terbungkus tas kulit tebal berwarna cokelat tua. Nawa menarik tas itu perlahan. Bahannya terbuat dari kulit asli berkualitas tinggi dengan tali gesper kaku yang mulai mengelupas di beberapa sisinya. Srek ... Nawa memutar ritsleting utamanya yang agak macet oleh debu. Di dalam bantalan busa yang telah menipis, terbaring sebuah bodi kamera analog hitam berbahan cold-steel—Nikon F3 klasik dengan lensa fixed 50mm yang masih terpasang amat rapi. Di sampingnya, terdapat tiga gulungan film hitam-putih yang masih baru, filter pelindung, dan wadah cairan pembersih lensa buatan Jerman. Nawa mengusap permukaan logam dingin kamera itu dengan ibu jarinya. Benda itu dirawat dengan ketelitian yang luar biasa pada masanya. Sebagai arsitek lanskap yang kerap berkolaborasi dengan ahli tata cahaya, Nawa tahu betul betapa berharganya instrumen penangkap pendar cahaya dan bayangan itu bagi jiwa seorang Lighting Designer. Nawa membawa pot tanah liat dan gunting tanaman, lalu mengapit tas kulit kamera tua itu di lengan kirinya. Tok ... tok ... Tanpa menunggu jawaban dari dalam, Nawa memutar gagang pintu kayu kamar utama Arvin. Tirai beludru hitam yang pagi tadi disingkap Nawa masih dibiarkan terbuka separuh oleh Arvin, membiarkan bias cahaya mentari siang masuk menyinari meja kerja kayu jati di tengah ruangan. Arvin Raynar sedang terduduk di atas kursi roda, menatap kosong ke arah deretan lembar cetakan biru arsitektur yang terbengkalai. Saat mendengar langkah kaki Nawa, Arvin tidak langsung membentak seperti biasanya. Tatapan hazelnya bergulir perlahan, menyapu figur Nawa yang melangkah mendekat seraya mengapit sebuah tas kulit berdebu. "Mau apa lagi kamu ke sini, Nawa?" tanya Arvin, suaranya serak dan datar, diwarnai rasa lelah yang amat pekat. "Aku sudah bilang jangan masuk ke kamar ini tanpa izin dan mengganggu waktuku." "Saya menemukan ini di dalam peti kayu Kakek di gudang bawah saat mengambil pot dan gunting tanaman," ucap Nawa pelan, mengabaikan nada dingin pria itu. Nawa melangkah mendekat, lalu meletakkan tas kulit cokelat itu tepat di atas meja kayu jati, persis di hadapan Arvin. Dengan gerakan lembut, Nawa menarik ritsletingnya hingga terbuka lebar, menampilkan bodi kamera Nikon F3. Pupil mata hazel Arvin seketika membesar. Dada pria berkemeja hitam itu memburu naik turun. Selama beberapa detik yang mencekam, Arvin membeku total di atas kursi rodanya, seolah-olah seluruh waktu di sekitarnya mendadak berhenti berputar. Tatapannya terkunci rapat pada kamera tua tersebut dengan binar kerinduan dan kepedihan yang begitu pekat. Jemari tangan kanan Arvin yang biasanya mengepal erat di atas pangkuan kini perlahan terangkat. Dengan gerakan yang sangat pelan dan gemetar, Arvin mengulurkan tangan, menyentuh bodi cold-steel kamera itu. Ibu jarinya mengusap lembut pemutar shutter dan tuas pengokang film dengan kehati-hatian yang teramat emosional. "Nikon F3 ini," bisik Arvin. Suaranya serak, nyaris tenggelam oleh desir angin yang menerobos masuk, tetapi sarat dengan getar keharuan yang tertahan rapat di tenggorokannya. "Lensanya masih sangat bersih," sahut Nawa lembut sambil berdiri anggun setengah meter di samping meja. "Sepertinya pemilik yang dulu merawat alat ini dengan penuh kasih sayang." Arvin menghela napas panjang yang terasa begitu berat. Kelopak matanya dipejamkan sejenak, menahan gelombang ingatan masa lalu yang mendadak meledak di kepalanya—ingatan saat ia masih berdiri tegap dengan kedua kakinya, memegang kamera di atas panggung pameran pencahayaan megah yang dielu-elukan banyak orang. Saat matanya terbuka kembali, rasa tegang dan guratan kaku di rahang tegas Arvin sedikit mencair. Untuk pertama kalinya sejak Nawa menginjakkan kaki di rumah itu, sudut bibir tebal Arvin terangkat sangat tipis—sebuah kurva senyum samar, tulus, dan tak disengaja. "Aku membeli ini dengan gaji pertama hasil proyek tata cahaya gedung pencakar langit," gumam Arvin pelan, seolah-olah sedang berbicara pada kenangan lamanya sendiri. Jemarinya masih enggan melepaskan pegangan dari bodi kamera. "Dulu, aku menghabiskan waktu berjam-jam di jalanan cuma untuk menangkap bagaimana bias lampu kota memantul di kaca bangunan." Nawa merasa dadanya mendadak hangat melihat perubahan ajaib itu. Dinding es yang membentengi Arvin selama tiga tahun seakan retak oleh sebuah objek penuh kenangan. "Masih ada tiga gulungan film di dalam tas," bujuk Nawa dengan nada suara penuh harapan. "Kita bisa mencoba memotret taman mawar di samping dan mencucinya, atau—" Klak! Arvin menutup tas kamera dengan gerakan kasar. Senyum samar di wajah pria itu mendadak sirna seketika. Pria itu mendadak tersadar dari hipnosis nostalgia masa lalunya. Pandangan mata Arvin bergulir tajam, menyadari betapa dekatnya posisi Nawa dan betapa hangatnya ia merespons ucapan wanita itu. Kesadaran bahwa telah membiarkan pertahanan dirinya runtuh di hadapan Nawa menghantam Arvin dengan rasa malu dan panik yang luar biasa. Dengan gerakan mendadak dan refleks penuh ketakutan, Arvin menarik tangannya dari bodi kamera. "Cukup!" bentak Arvin, suaranya melengking tegang. Tangannya yang gemetar hebat menyambar laci meja sebelah kanan, menarik gagangnya dengan kasar hingga laci kayu itu terbuka lebar. Arvin bermaksud menyembunyikan tas berisi kamera itu ke dalam laci untuk mengakhiri pembicaraan. Namun, dorongan yang terlalu kuat dan panik membuat beberapa lembar berkas di dalam laci tersingkap dari bawah tumpukan amplop cokelat. Nawa yang berdiri di samping meja secara tak sengaja menatap ke dalam laci yang terbuka selama dua detik itu. Di sana, di antara gulungan kertas kalkir dan stempel hukum keluarga Raynar, tergeletak sebuah kalender meja kecil berukuran saku. Di lembaran bulan berjalan, terdapat garis lingkaran tinta merah tebal yang melingkari satu tanggal khusus. Di atas lingkaran merah yang pekat itu, terdapat tulisan tangan Arvin yang rapi, disertai coretan silang hitungan mundur angka yang digores satu per satu: “H-180 — Selesai.” Arvin memasukkan tas kamera ke dalam laci dengan gerakan kasar dan menutup kembali sebelum menguncinya. Pria itu menyambar anak kunci dengan cepat dan menyembunyikan ke dalam saku kemeja hitamnya dengan napas yang memburu hebat. "Keluar, Nawa!" desis Arvin dingin, sorot mata hazelnya kembali membeku total, jauh lebih kejam dan berbahaya dari sebelumnya. "Ambil pot tanamanmu dan keluar dari kamarku sekarang juga!" Nawa berdiri mematung di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Angka 180 yang dilingkari tinta merah tebal dan kata "Selesai" di kalender itu terus berputar-putar di kepalanya bagai teror yang tak kasat mata. Apa maksud dari hitungan mundur 180 hari itu? Rencana apa yang sedang disiapkan Arvin saat hari ke-180 itu benar-benar tiba? Rasa curiga dan firasat buruk mendadak mencengkeram dada Nawa, meninggalkan misteri besar yang membuat langkah kakinya keluar kamar terasa begitu berat.Pagi baru menyapa saat Nawa sudah bersiap di depan cermin kamar tamu. Ia menatap pantulan dirinya. Kemeja lengan panjang berwarna biru pastel berukuran besar dipadu dengan celana kargo warna hitam. Rambutnya diikat kuda ke atas, menampilkan leher jenjangnya yang putih dan mulus. Senyum lebar terukir di bibirnya yang merah alami.Hari itu, ia memutuskan untuk kembali merapikan taman mawar. Suatu pekerjaan yang sangat menyenangkan mengingat mawar merah adalah salah satu bunga favoritnya."Semangat, Nawa! Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin," ucapnya pada diri sendiri sambil mengepalkan tangan. Nawa mematut diri sekali lagi seraya tersenyum lebar sebelum melangkah keluar kamar. Langkahnya ringan saat menyusuri koridor lantai dua, menuruni tangga melingkar dan sampai di depan pintu kaca yang mengarah ke samping.Ia perlahan membuka pintu kaca itu dan keluar. Nawa memejamkan mata sejenak, merasakan sejuknya angin pagi yang belum terkontaminasi oleh polisi udara. Ia menarik nap
Satu per satu dahan mawar kering itu luruh ke atas tanah hitam usai dipotong oleh gunting tanaman tua. Udara pagi di pekarangan paviliun barat terasa begitu dingin, menciptakan embun tipis di udara setiap kali Nawa mengembuskan napas. Kakinya yang beralas selop katun basah oleh embun pagi, tetapi Nawa tak memedulikannya."Non Nawa, biar paman saja yang merapikan pohon mawar itu. Takutnya nanti Non Nawa tertusuk durinya."Suara berat milik Pak Usman memecah kesunyian. Pria paruh baya bertubuh tegap itu melangkah mendekat seraya membawa dua buah karung goni kosong di tangannya.Nawa menyapu keringat di pelipisnya dengan punggung tangan, lalu mengulas senyum ramah. "Tidak apa-apa, Pak Usman. Saya sekalian melatih fisik pagi ini. Lagipula, tanah di sekitar akar mawar ini harus digemburkan dulu sebelum diberi pupuk kompos baru."Pak Usman menatap Nawa dengan binar prihatin sekaligus kagum. Sudah bertahun-tahun pekarangan paviliun barat dibiarkan mati meranggas tanpa ada seorang pun yang be
"Di gudang bawah paviliun barat, dulu Kakek menyimpan banyak pot keramik tanah liat dan gunting dahan tua," tutur Nenek Halimah seraya mengusap lembut lengan Nawa usai menyantap makan siang bersama. "Kebun mawar di samping teras itu sudah bertahun-tahun tak tersentuh, Nawa. Kalau kamu tidak keberatan dan punya waktu luang, kamu boleh mengambil alat-alat itu di bawah." Nawa Kirana mengulas senyum manis sebelum menyesap sisa teh hangat dalam cangkir. "Tentu tidak keberatan, Nek. Nawa memang berniat merapikan tanahnya sore ini. Akar-akar liar di sana harus segera dipangkas supaya tanaman barunya bisa bernapas." "Baguslah kalau begitu, Nak," ucap Nenek Halimah lembut seraya bangkit dari duduk dan berjalan menuju lemari di dekat ruang keluarga, lalu kembali sambil membawa sebuah anak kunci berukir rumit yang tampak kusam digerus waktu. Ia menyerahkan benda itu ke telapak tangan Nawa. "Gudang itu agak berdebu. Hati-hati saat melangkah di tangga bawah." Sambil mengantongi kunci ter
Bayangan siluet di balik kaca jendela kamar lantai dua itu menghilang dalam sekejap begitu netra Nawa menangkap keberadaannya. Tirai tebal berwarna abu-abu tua langsung ditarik dari dalam dengan gerakan kasar, menutup rapat paviliun barat dan menyisakan kembali keheningan kelam di kaca yang berdebu. Nawa membuang napas perlahan. Kebenaran yang baru saja dilontarkan Elian—tentang kecelakaan malam hujan tiga tahun lalu dan jemari sang pianis yang patah—menghantam benaknya dengan rasa sesak yang kian mengimpit. Arvin tidak hanya menanggung beban kelumpuhan fisiknya sendiri, tetapi juga memikul reruntuhan impian sang adik. Tanpa ragu, Nawa melangkah meninggalkan teras samping. Tangannya yang lentik menyeduh secangkir teh hangat beraroma lemon dan jahe di dapur, meletakkannya di atas nampan kayu kecil. Langkah kakinya yang beralas sandal terdengar pelan saat menyusuri tangga kayu menuju kamar utama Arvin di lantai dua. Di depan pintu jati yang kokoh itu, Nawa menghentikan langkah. Ia
Embusan kata-kata dingin masih tertinggal di leher Nawa saat Arvin memutar cepat ban kursi roda serat karbonnya. Tanpa mengucap sebaris kata pamit kepada Pak Penghulu atau Nenek Halimah, Arvin meluncur menembus lorong dan menghilang di balik pintu jati paviliun barat yang langsung terkunci rapat dari dalam. Nawa berdiri mematung di sisi meja akad selama beberapa saat, membelai pelan cincin emas putih yang kini mengikat jari manisnya. Gertakan enam bulan itu bukan sekadar bualan biasa. Arvin bersungguh-sungguh dengan ancamannya. Nenek Halimah mendekati Nawa ketika melihat Arvin pergi meninggalkannya. Lalu, mengusap lembut bahu cucu menantunya itu sambil tersenyum hangat. "Jangan diambil hati sikap dan perkataan Arvin barusan, ya, Nawa. Nanti Nenek akan memperingatkannya. Sebaiknya kamu istirahat dulu di kamar." Nenek Halimah segera menyusul ke kamar Arvin dan mengetuk pintunya. Awalnya pria itu enggan membuka pintu, tetapi setelah Nenek Halimah mengetuk dengan sedikit kasar, akhi
Tatapan dingin yang menusuk dari balik jendela lantai dua tiga hari lalu itu masih membekas pekat di ingatan Nawa Kirana. Sore itu, di ruang tamu utama keluarga Raynar yang bernuansa serba putih, atmosfer hening terasa merayap lambat. Hanya ada aroma melati segar beradu dengan wangi dupa cendana lembut yang dinyalakan Nenek Halimah di sudut ruangan. Nawa duduk bersimpuh di atas karpet beludru tebal. Kebaya katun brokat berwarna putih gading menempel pas di tubuhnya, dipadukan dengan kain batik gurdo berlaris cokelat klasik. Rambut gelombangnya disanggul modern secara sederhana, meninggalkan beberapa helai anak rambut yang membingkai leher jenjangnya. "Nawa, minum teh hangat ini dulu, ya," bisik Nenek Halimah seraya mengusap lembut bahu Nawa. Wanita tua itu mengenakan kebaya encim warna krem dengan mata berbinar penuh keharuan. "Terima kasih sudah bertahan sampai titik ini." Nawa mengangguk pelan seraya menyunggingkan senyum tipis. "Nawa tidak apa-apa, Nek." Mendadak suara decit ha







