Se connecterPagi baru menyapa saat Nawa sudah bersiap di depan cermin kamar tamu. Ia menatap pantulan dirinya. Kemeja lengan panjang berwarna biru pastel berukuran besar dipadu dengan celana kargo warna hitam. Rambutnya diikat kuda ke atas, menampilkan leher jenjangnya yang putih dan mulus. Senyum lebar terukir di bibirnya yang merah alami.
Hari itu, ia memutuskan untuk kembali merapikan taman mawar. Suatu pekerjaan yang sangat menyenangkan mengingat mawar merah adalah salah satu bunga favoritnya. "Semangat, Nawa! Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin," ucapnya pada diri sendiri sambil mengepalkan tangan. Nawa mematut diri sekali lagi seraya tersenyum lebar sebelum melangkah keluar kamar. Langkahnya ringan saat menyusuri koridor lantai dua, menuruni tangga melingkar dan sampai di depan pintu kaca yang mengarah ke samping. Ia perlahan membuka pintu kaca itu dan keluar. Nawa memejamkan mata sejenak, merasakan sejuknya angin pagi yang belum terkontaminasi oleh polisi udara. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, memasukkan oksigen ke dalam rongga dadanya. Untuk sejenak, beban berat yang mengimpit akibat fakta yang baru diketahuinya kemarin menghilang, berganti dengan ketenangan yang menghanyutkan. Nawa membuka mata dan segera mengambil gunting tanaman yang disimpan di sudut taman. Lalu, meregangkan tubuh sejenak sebelum berjongkok dan memulai kegiatannya. Tangannya bergerak lincah menyisir tanaman mawar yang sudah meranggas. Lalu, memegang gunting tanaman dan mulai memotong dahan yang kering. Suara potongan dahan mawar yang meranggas kembali terdengar di pekarangan samping. Nawa bekerja sambil bersenandung lirih. Senyum simpul tak pernah lepas dari bibirnya. Beberapa saat berlalu, Nawa menghentikan aktivitasnya sesaat untuk mengelap peluh di pelipis dengan lengan bajunya. Matahari menjelang siang mulai memancarkan hawa panas, membakar sisa embun yang menempel pada kelopak-kelopak bunga liar. Nawa menatap langit yang berwarna biru cerah dengan beberapa awan yang berarak. Ia meletakkan tangan kiri di dahi untuk menghalau sinar terik mentari. Matanya menyipit, tetapi senyum lebar justru terpatri di bibirnya. Puas menikmati cuaca cerah, Nawa kembali meraih dahan tua yang menjulur berantakan di dekat pagar kayu. Jemari lentiknya menggenggam erat batang mawar tersebut dan bermaksud memotong bagian akarnya yang membusuk. "Akh, aduh!" Nawa meringis pelan sambil menarik tangannya refleks. Gunting tanaman yang dipegang meluncur jatuh di dekat kakinya. Rupanya duri tajam yang tersembunyi di balik daun kering menggores dalam telapak tangan dan menyobek kulit halus di dekat ibu jari. Darah segar berwarna merah pekat seketika merembes keluar, menetes pelan mengenai daun mawar di bawahnya. Nawa tidak menjerit. Ia menahan napas sejenak sambil menekan luka goresan itu dengan ibu jari tangannya yang lain. Dengan tenang, ia merogoh saku celana, mengeluarkan sapu tangan katun putih, lalu membalut lukanya erat-erat hingga noda merah perlahan merembes di atas kain. Di balkon depan kamar tidur utama di lantai dua paviliun barat, Arvin menyaksikan seluruh kejadian itu dengan ekspresi dingin. Pria itu duduk mematung di atas kursi rodanya, memandang Nawa dari balkon lantai dua. Tidak ada riak rasa kasihan, cemas, apalagi kepanikan di wajah pucatnya. Sorot mata hazel Arvin hanya menatap datar—dingin, lepas tangan, dan penuh ketidakpedulian. Arvin menghela napas pelan melalui hidung. Dengan gerakan pelan, ia memutar kursi rodanya dan kembali masuk ke dalam remang-remang kamarnya tanpa niat menolong sedikit pun. Sepuluh menit kemudian, Nawa melangkah masuk ke lorong utama paviliun barat seraya membawa kotak peralatan kecil dan gunting tanaman yang sudah dibersihkan. Sapu tangan putih di tangan kirinya masih terbebat rapi, memperlihatkan bercak darah yang mulai mengering. Rasa perih yang sempat datang perlahan memudar. Saat Nawa melewati persimpangan menuju tangga utama, suara derit kursi roda yang beradu dengan lantai menghentikan langkahnya. Arvin keluar dari lift khusus paviliun, memosisikan kursi rodanya tepat di tengah lorong, dan menghalangi jalan Nawa. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan lengan bawahnya yang kokoh dengan urat-urat menonjol tajam. Pandangan Arvin bergulir turun, dari wajah Nawa yang tampak lelah hingga sampai ke tangan kirinya. Pria itu menatap dingin pada balutan kain dengan noda darah mengering yang terbebat di sana. "Sudah kubilang, jangan menyentuh pekarangan itu," ucap Arvin datar. Suaranya serak dan pelan, tetapi sangat menusuk. "Kalau terluka begitu jangan bilang aku tidak pernah memperingatkanmu." Nawa mengulas senyum hangat sambil menatap Arvin tenang. "Kebun itu butuh dirapikan, Mas. Akar-akar mawarnya membusuk kalau dibiarkan. Daun-daunnya juga sudah banyak yang kering." Arvin menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya—sebuah senyuman penuh nada ejekan. "Dan kamu pikir sudah jadi pahlawan yang bisa menyelamatkan tanaman mati?" "Saya cuma mengerjakan apa yang perlu dikerjakan," balas Nawa lembut. "Sayang taman yang sebagus itu perlahan mati karena tidak pernah dirapikan dan dirawat lagi." Arvin memajukan kursi rodanya dua inci, lalu mendongak untuk menatap lurus ke dalam mata Nawa dengan sorot sinis. "Kalau kena duri saja tanganmu sudah berdarah dan merepotkan begitu, tidak usah sok sibuk merapikan rumah ini," desis Arvin dingin. "Kemasi barang-barangmu sekarang sebelum kamu terluka lebih parah dan menyalahkan rumah ini atas keteledoranmu sendiri." Nawa tidak terprovokasi. Ia tidak menunduk ataupun menunjukkan raut wajah terluka atas sindiran beracun itu. Sebaliknya, Nawa menggeser kotak peralatannya ke tangan kiri, lalu menatap Arvin dengan mata berbinar jernih. "Goresan duri mawar ini cuma melukai kulit luar, Mas," tutur Nawa, suaranya mengalir tenang tanpa getar amarah sedikit pun. "Darahnya akan berhenti, dan lukanya akan sembuh dalam beberapa hari ke depan. Asal dirawat dengan benar, lukanya pasti akan sembuh seperti sedia kala." Arvin menyipitkan mata, ketidaksukaannya makin membumbung melihat ketenangan wanita di hadapannya. "Apa maksudmu?" Nawa melangkah mendekat dua tindak, berdiri sangat dekat di depan kursi roda Arvin. Hal itu membuat Arvin harus lebih mendongak untuk menatap Nawa. "Maksud saya, luka fisik seperti ini tidak ada apa-apanya dibanding luka yang sengaja dipelihara di dalam hati," ucap Nawa pelan. "Saya tidak akan melarikan diri hanya karena goresan kecil ini, Mas Arvin. Jadi, jangan berharap terlalu tinggi. Saya pastikan akan menyelesaikan pekerjaan merapikan taman mawar itu. Lalu, menanam bibit yang baru agar taman itu kembali hidup dan menghiasi rumah ini." Arvin terpaku. Rahangnya mengeras kaku dan matanya berkilat marah mendengar balasan telak itu. Rasa jengkel merayap cepat di dadanya karena lagi-lagi, gertakan dinginnya sama sekali tidak berhasil meruntuhkan pertahanan Nawa. Tanpa menunggu balasan Arvin yang tertahan di tenggorokan, Nawa mengangguk sopan dan melangkah melewatinya begitu saja menuju arah dapur. Ia meninggalkan Arvin yang mencengkeram erat lengan kursi rodanya dalam keheningan yang membakar.Pagi baru menyapa saat Nawa sudah bersiap di depan cermin kamar tamu. Ia menatap pantulan dirinya. Kemeja lengan panjang berwarna biru pastel berukuran besar dipadu dengan celana kargo warna hitam. Rambutnya diikat kuda ke atas, menampilkan leher jenjangnya yang putih dan mulus. Senyum lebar terukir di bibirnya yang merah alami.Hari itu, ia memutuskan untuk kembali merapikan taman mawar. Suatu pekerjaan yang sangat menyenangkan mengingat mawar merah adalah salah satu bunga favoritnya."Semangat, Nawa! Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin," ucapnya pada diri sendiri sambil mengepalkan tangan. Nawa mematut diri sekali lagi seraya tersenyum lebar sebelum melangkah keluar kamar. Langkahnya ringan saat menyusuri koridor lantai dua, menuruni tangga melingkar dan sampai di depan pintu kaca yang mengarah ke samping.Ia perlahan membuka pintu kaca itu dan keluar. Nawa memejamkan mata sejenak, merasakan sejuknya angin pagi yang belum terkontaminasi oleh polisi udara. Ia menarik nap
Satu per satu dahan mawar kering itu luruh ke atas tanah hitam usai dipotong oleh gunting tanaman tua. Udara pagi di pekarangan paviliun barat terasa begitu dingin, menciptakan embun tipis di udara setiap kali Nawa mengembuskan napas. Kakinya yang beralas selop katun basah oleh embun pagi, tetapi Nawa tak memedulikannya."Non Nawa, biar paman saja yang merapikan pohon mawar itu. Takutnya nanti Non Nawa tertusuk durinya."Suara berat milik Pak Usman memecah kesunyian. Pria paruh baya bertubuh tegap itu melangkah mendekat seraya membawa dua buah karung goni kosong di tangannya.Nawa menyapu keringat di pelipisnya dengan punggung tangan, lalu mengulas senyum ramah. "Tidak apa-apa, Pak Usman. Saya sekalian melatih fisik pagi ini. Lagipula, tanah di sekitar akar mawar ini harus digemburkan dulu sebelum diberi pupuk kompos baru."Pak Usman menatap Nawa dengan binar prihatin sekaligus kagum. Sudah bertahun-tahun pekarangan paviliun barat dibiarkan mati meranggas tanpa ada seorang pun yang be
"Di gudang bawah paviliun barat, dulu Kakek menyimpan banyak pot keramik tanah liat dan gunting dahan tua," tutur Nenek Halimah seraya mengusap lembut lengan Nawa usai menyantap makan siang bersama. "Kebun mawar di samping teras itu sudah bertahun-tahun tak tersentuh, Nawa. Kalau kamu tidak keberatan dan punya waktu luang, kamu boleh mengambil alat-alat itu di bawah." Nawa Kirana mengulas senyum manis sebelum menyesap sisa teh hangat dalam cangkir. "Tentu tidak keberatan, Nek. Nawa memang berniat merapikan tanahnya sore ini. Akar-akar liar di sana harus segera dipangkas supaya tanaman barunya bisa bernapas." "Baguslah kalau begitu, Nak," ucap Nenek Halimah lembut seraya bangkit dari duduk dan berjalan menuju lemari di dekat ruang keluarga, lalu kembali sambil membawa sebuah anak kunci berukir rumit yang tampak kusam digerus waktu. Ia menyerahkan benda itu ke telapak tangan Nawa. "Gudang itu agak berdebu. Hati-hati saat melangkah di tangga bawah." Sambil mengantongi kunci ter
Bayangan siluet di balik kaca jendela kamar lantai dua itu menghilang dalam sekejap begitu netra Nawa menangkap keberadaannya. Tirai tebal berwarna abu-abu tua langsung ditarik dari dalam dengan gerakan kasar, menutup rapat paviliun barat dan menyisakan kembali keheningan kelam di kaca yang berdebu. Nawa membuang napas perlahan. Kebenaran yang baru saja dilontarkan Elian—tentang kecelakaan malam hujan tiga tahun lalu dan jemari sang pianis yang patah—menghantam benaknya dengan rasa sesak yang kian mengimpit. Arvin tidak hanya menanggung beban kelumpuhan fisiknya sendiri, tetapi juga memikul reruntuhan impian sang adik. Tanpa ragu, Nawa melangkah meninggalkan teras samping. Tangannya yang lentik menyeduh secangkir teh hangat beraroma lemon dan jahe di dapur, meletakkannya di atas nampan kayu kecil. Langkah kakinya yang beralas sandal terdengar pelan saat menyusuri tangga kayu menuju kamar utama Arvin di lantai dua. Di depan pintu jati yang kokoh itu, Nawa menghentikan langkah. Ia
Embusan kata-kata dingin masih tertinggal di leher Nawa saat Arvin memutar cepat ban kursi roda serat karbonnya. Tanpa mengucap sebaris kata pamit kepada Pak Penghulu atau Nenek Halimah, Arvin meluncur menembus lorong dan menghilang di balik pintu jati paviliun barat yang langsung terkunci rapat dari dalam. Nawa berdiri mematung di sisi meja akad selama beberapa saat, membelai pelan cincin emas putih yang kini mengikat jari manisnya. Gertakan enam bulan itu bukan sekadar bualan biasa. Arvin bersungguh-sungguh dengan ancamannya. Nenek Halimah mendekati Nawa ketika melihat Arvin pergi meninggalkannya. Lalu, mengusap lembut bahu cucu menantunya itu sambil tersenyum hangat. "Jangan diambil hati sikap dan perkataan Arvin barusan, ya, Nawa. Nanti Nenek akan memperingatkannya. Sebaiknya kamu istirahat dulu di kamar." Nenek Halimah segera menyusul ke kamar Arvin dan mengetuk pintunya. Awalnya pria itu enggan membuka pintu, tetapi setelah Nenek Halimah mengetuk dengan sedikit kasar, akhi
Tatapan dingin yang menusuk dari balik jendela lantai dua tiga hari lalu itu masih membekas pekat di ingatan Nawa Kirana. Sore itu, di ruang tamu utama keluarga Raynar yang bernuansa serba putih, atmosfer hening terasa merayap lambat. Hanya ada aroma melati segar beradu dengan wangi dupa cendana lembut yang dinyalakan Nenek Halimah di sudut ruangan. Nawa duduk bersimpuh di atas karpet beludru tebal. Kebaya katun brokat berwarna putih gading menempel pas di tubuhnya, dipadukan dengan kain batik gurdo berlaris cokelat klasik. Rambut gelombangnya disanggul modern secara sederhana, meninggalkan beberapa helai anak rambut yang membingkai leher jenjangnya. "Nawa, minum teh hangat ini dulu, ya," bisik Nenek Halimah seraya mengusap lembut bahu Nawa. Wanita tua itu mengenakan kebaya encim warna krem dengan mata berbinar penuh keharuan. "Terima kasih sudah bertahan sampai titik ini." Nawa mengangguk pelan seraya menyunggingkan senyum tipis. "Nawa tidak apa-apa, Nek." Mendadak suara decit ha







