Share

Bab 8

Author: Nawasena
last update publish date: 2026-10-06 22:56:33

Uap tipis membubung dari cangkir porselen putih yang dibawa Nawa di atas nampan kayu. Aroma chamomile dan kayu manis menyebar lembut, berusaha mengusir aroma antiseptik dan kayu lapuk yang selalu mengendap di ruang kerja Arvin.

Nawa mendorong pintu kayu jati yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka. Arvin sedang berada di tepi meja kerja besar, menghadap tumpukan gulungan cetakan biru arsitektur yang sudah menguning.

"Saya bawakan teh hangat, Mas," ujar Nawa tenang seraya melangkah masuk tanpa me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • 180 Hari Sebelum Kau Menghilang   Bab 9

    Nawa melangkah keluar dari kamar Arvin dengan dada yang masih bergemuruh hebat. Kakinya terasa gemetar saat menyusuri tangga menuju lantai bawah. Setiap kali memejamkan mata, gestur Arvin—kepala yang dimiringkan, senyum tipis di sudut bibir, dan jemari yang mengusap belakang leher—terus berputar di benaknya, menghidupkan kembali bayangan almarhum adiknya, Raka, yang telah beristirahat tenang empat tahun lalu.Nawa menekan dada kirinya pelan sambil menghela napas panjang untuk menguasai diri. Namun, sebelum kakinya sempat menyentuh anak tangga terakhir menuju lantai dasar, keheningan sore paviliun barat pecah seketika oleh deru mesin mobil yang berhenti mendadak di depan teras utama.Brak!Terdengar suara pintu mobil ditutup dengan kasar, disusul ketukan nyaring sepatu hak tinggi yang beradu cepat dengan lantai marmer luar."Pak Usman, di mana Arvin?!"Suara wanita paruh baya bertonasi tinggi dan melengking memenuhi area foyer. Nawa menghentikan langkahnya dan menatap ke arah pintu dep

  • 180 Hari Sebelum Kau Menghilang   Bab 8

    Uap tipis membubung dari cangkir porselen putih yang dibawa Nawa di atas nampan kayu. Aroma chamomile dan kayu manis menyebar lembut, berusaha mengusir aroma antiseptik dan kayu lapuk yang selalu mengendap di ruang kerja Arvin.Nawa mendorong pintu kayu jati yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka. Arvin sedang berada di tepi meja kerja besar, menghadap tumpukan gulungan cetakan biru arsitektur yang sudah menguning."Saya bawakan teh hangat, Mas," ujar Nawa tenang seraya melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan.Arvin tidak memutar kursi rodanya, tetapi sudut mata hazel-nya melirik dingin pada nampan yang diletakkan Nawa di tepi meja. Pandangannya langsung tertuju pada telapak tangan kiri Nawa yang kini telah terbebat perban putih."Aku tidak minta dibuatkan teh," sahut Arvin, suaranya serak dan datar. "Dan kamu masih berkeliaran dengan tangan terluka seperti itu?"Nawa menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, lalu mengulas senyum tipis. "Tangan saya tidak apa-apa, Mas Ar

  • 180 Hari Sebelum Kau Menghilang   Bab 7

    Pagi baru menyapa saat Nawa sudah bersiap di depan cermin kamar tamu. Ia menatap pantulan dirinya. Kemeja lengan panjang berwarna biru pastel berukuran besar dipadu dengan celana kargo warna hitam. Rambutnya diikat kuda ke atas, menampilkan leher jenjangnya yang putih dan mulus. Senyum lebar terukir di bibirnya yang merah alami.Hari itu, ia memutuskan untuk kembali merapikan taman mawar. Suatu pekerjaan yang sangat menyenangkan mengingat mawar merah adalah salah satu bunga favoritnya."Semangat, Nawa! Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin," ucapnya pada diri sendiri sambil mengepalkan tangan. Nawa mematut diri sekali lagi seraya tersenyum lebar sebelum melangkah keluar kamar. Langkahnya ringan saat menyusuri koridor lantai dua, menuruni tangga melingkar dan sampai di depan pintu kaca yang mengarah ke samping.Ia perlahan membuka pintu kaca itu dan keluar. Nawa memejamkan mata sejenak, merasakan sejuknya angin pagi yang belum terkontaminasi oleh polisi udara. Ia menarik nap

  • 180 Hari Sebelum Kau Menghilang   Bab 6

    Satu per satu dahan mawar kering itu luruh ke atas tanah hitam usai dipotong oleh gunting tanaman tua. Udara pagi di pekarangan paviliun barat terasa begitu dingin, menciptakan embun tipis di udara setiap kali Nawa mengembuskan napas. Kakinya yang beralas selop katun basah oleh embun pagi, tetapi Nawa tak memedulikannya."Non Nawa, biar paman saja yang merapikan pohon mawar itu. Takutnya nanti Non Nawa tertusuk durinya."Suara berat milik Pak Usman memecah kesunyian. Pria paruh baya bertubuh tegap itu melangkah mendekat seraya membawa dua buah karung goni kosong di tangannya.Nawa menyapu keringat di pelipisnya dengan punggung tangan, lalu mengulas senyum ramah. "Tidak apa-apa, Pak Usman. Saya sekalian melatih fisik pagi ini. Lagipula, tanah di sekitar akar mawar ini harus digemburkan dulu sebelum diberi pupuk kompos baru."Pak Usman menatap Nawa dengan binar prihatin sekaligus kagum. Sudah bertahun-tahun pekarangan paviliun barat dibiarkan mati meranggas tanpa ada seorang pun yang be

  • 180 Hari Sebelum Kau Menghilang   Bab 5

    ​"Di gudang bawah paviliun barat, dulu Kakek menyimpan banyak pot keramik tanah liat dan gunting dahan tua," tutur Nenek Halimah seraya mengusap lembut lengan Nawa usai menyantap makan siang bersama. "Kebun mawar di samping teras itu sudah bertahun-tahun tak tersentuh, Nawa. Kalau kamu tidak keberatan dan punya waktu luang, kamu boleh mengambil alat-alat itu di bawah." ​Nawa Kirana mengulas senyum manis sebelum menyesap sisa teh hangat dalam cangkir. "Tentu tidak keberatan, Nek. Nawa memang berniat merapikan tanahnya sore ini. Akar-akar liar di sana harus segera dipangkas supaya tanaman barunya bisa bernapas." ​"Baguslah kalau begitu, Nak," ucap Nenek Halimah lembut seraya bangkit dari duduk dan berjalan menuju lemari di dekat ruang keluarga, lalu kembali sambil membawa sebuah anak kunci berukir rumit yang tampak kusam digerus waktu. Ia menyerahkan benda itu ke telapak tangan Nawa. "Gudang itu agak berdebu. Hati-hati saat melangkah di tangga bawah." ​Sambil mengantongi kunci ter

  • 180 Hari Sebelum Kau Menghilang   Bab 4

    Bayangan siluet di balik kaca jendela kamar lantai dua itu menghilang dalam sekejap begitu netra Nawa menangkap keberadaannya. Tirai tebal berwarna abu-abu tua langsung ditarik dari dalam dengan gerakan kasar, menutup rapat paviliun barat dan menyisakan kembali keheningan kelam di kaca yang berdebu. Nawa membuang napas perlahan. Kebenaran yang baru saja dilontarkan Elian—tentang kecelakaan malam hujan tiga tahun lalu dan jemari sang pianis yang patah—menghantam benaknya dengan rasa sesak yang kian mengimpit. Arvin tidak hanya menanggung beban kelumpuhan fisiknya sendiri, tetapi juga memikul reruntuhan impian sang adik. Tanpa ragu, Nawa melangkah meninggalkan teras samping. Tangannya yang lentik menyeduh secangkir teh hangat beraroma lemon dan jahe di dapur, meletakkannya di atas nampan kayu kecil. Langkah kakinya yang beralas sandal terdengar pelan saat menyusuri tangga kayu menuju kamar utama Arvin di lantai dua. Di depan pintu jati yang kokoh itu, Nawa menghentikan langkah. Ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status