Share

Bab 9 Bukan mimpi yang manis

Aku yang mendengar ucapan perempuan itu sontak kaget, aku mulai berpikir sesuatu telah menimpa keluargaku disana. Aku berpikir perempuan ini telah membunuh keluargaku. Sontak aku langsung syok, dan menangis. Aku tidak langsung mematikan ponselku, melainkan segera menyimpan rekaman perbincangan yang kudengar lewat ponsel ini. Ponselku selalu melakukan hal otomatis saat menghubungi seseorang. Ponselku telah mengatur rekaman ini sejak awal, dan aku secepatnya menyimpan rekaman ini lalu mengakhiri komunikasi ini.

Aku tidak boleh panik dan menduga berlebihan tentang keluargaku, aku pun secepatnya meminta bantuan orang lain yang tidak lain adalah tetanggaku yang dulu, dan kini dia sudah pindah tetapi aku masih menyimpan ponselnya saat aku masih serumah dengan ibuku. Aku pun mengirimkan pesan padanya, “Pagi Bibi Mei, ini aku An. Aku baik- baik saja disini. Aku ingin meminta bantuan bibi, bisakah bibi datang ke rumah ibuku? Aku merasa ibuku dalam bahaya. Sekarang aku tidak bisa kesana, aku tidak tahu aku dimana. Ibuku memintaku untuk tidak pulang ke rumah. Bibi, jangan katakan pada siapapun jika aku telah mengirimi bibi pesan. Kumohon pada bibi untuk segera menghapus pesan ini secepatnya, dan datang lah ke rumah ibuku. Katakan padaku, apa yang telah terjadi disana.”

Mengirim pesan seperti itu tidaklah membuatku tenang, aku semakin memikirkan keadaan ibuku disana. Tetapi bagaimana caraku pulang ke rumah? Tempat ini tidak terdeteksi oleh ponsel canggihku. Semakin lama memikirkan dua hal, kepalaku dibuat pusing.

Sementara di bawah pohon besar ini. Empat orang laki- laki sibuk berlatih, mereka saling mengadu kekuatan mereka. Mereka semua menguasai ilmu seni bela diri dengan pedang. kakak terakhir menghentikan latihannya sesaat, ia melihat ke arah empat saudaranya.

“Kakak, sebentar lagi ada festival kerajaan. Kali ini apa yang harus kita lakukan? Ayah dan ibu sudah pasti akan meminta kita mendekati para putri. Aku tidak suka! Mereka semua terlihat manis di depan, di belakang mereka menghina dan mencaci maki. Mereka selalu ingin disanjung, tapi karena satu hal saja mereka menghukum orang lain tanpa ampun!” ucap Pangeran Kazexian.

Ketiga saudaranya yang mendengar ucapan kakak bungsu itu pun segera menghentikan latihan. Mereka semua melihat ke arah kakak bungsu.

Pangeran pertama, Pangeran Kim melihat his kakak dengan tatapan cemberut dan dia berucap “Sudahlah, lakukan saja seperti dulu! Melarikan diri dari gadis- gadis itu adalah jalan terbaik. Ayah dan ibu hanya tidak tahu sosok sebenarnya di balik kecantikan para gadis. Mereka menyeramkan, dan seperti tidak punya sopan santun.”

“Ya, apa yang dikatakan oleh kakak pertama memang benar. Aku setuju saja jika ayah dan ibu berniat mendekatkan para putri pada kita. Tetapi setidaknya ayah dan ibu tahu akan sikap mereka yang sebenarnya. Apakah kita perlu membuka kedok mereka?” ucap Pangeran Kanzuka.

“Ya, aku rasa tidak perlu. Kita tidak perlu melakukan itu, mungkin saja para gadis memang tidak menyukai kita. Kita tidak perlu bersikeras. Tetap saja jadi diri sendiri, menjadi seperti mereka tidak akan menyelesaikan apapun” jawab kakak pertama.

“Tapi apa mungkin ayah dan ibu membiarkan kita kabur lagi? Terakhir mereka tidak membiarkan kita sendiri, dan hampir tidak memiliki kesempatan melarikan diri!” ucap Pangeran Kazame mengingat acara terakhir mereka.

“Ya, benar juga. Aku masih ingat soal itu, beruntung sekali masih ada celah ya!” ucap Pangeran Kazexian sembari tertawa kecil.

Kemudian tawa kecil itu diiringi oleh tawa kakak lain. Semua tertawa disini, yang secepat kilat tawa itu segera berakhir. Lalu mereka semua kembali bicara.

“Sebenarnya apa tujuan ayah dan ibu membuat acara yang membosankan?” tanya Pangeran Kanzuka.

“Entahlah, tetapi sangat tidak baik seperti itu. Ayah dan ibu melakukan pemborosan uang kerajaan dengan kegiatan tak berguna!” ucap Pangeran Kazame.

“Ya benar, tapi jangan khawatir. Sekarang kerajaan kita sedang dalam masa kejayaan, rakyat sejahtera dan semuanya damai. Ya walaupun tidak begitu tenang. Kita memang masih memiliki masalah dengan klan vampir, terutama pada si raja vampir. Kita semua harus waspada. Aku tahu kenapa ayah dan ibu melakukan hal seperti ini, aku pernah mendengar beberapa kalimat dari perbincangan ayah dan ibu. Mereka ingin kita segera menikah, dan aku benci itu!” ucap Pangeran Kim sembari memukul pohon besar dengan sekuat tenaganya.

Pukulan Pangeran Kim pada pohon besar itu menimbulkan getaran yang hebat hingga dedaunan berjatuhan, daun- daun itu jatuh ke arah ke empat pangeran.

Bersamaan dengan itu, aku yang berada di atas pohon tiba- tiba merasakan guncangan. Mendapat guncangan tak terduga, aku secepatnya berpegangan pada batang pohon besar ini. Aku hampir saja jatuh dibuatnya jika tidak cepat berpegangan.

“Huh, syukurlah! Apa yang terjadi? Apakah ada binatang buas di bawah?” tanyaku pada diri sendiri. Aku terus berpegangan beberapa saat hingga getarannya benar- benar menghilang.

Di bawah pohon ini, ke empat pangeran masih saja membicarakan tentang pesta itu.

“kakak pertama, kamu memukulnya terlalu keras. Semua daun berjatuhan, bisakah tidak berlebihan?” tegur Pangeran Kazexian.

“Ah, ya maaf! Aku tidak sengaja.”

“Jadi karena itu ya? Tetapi menurutku sih ayah dan ibu berlebihan” ucap Pangeran Kanzuka.

“Ya benar, aku benar- benar tidak mengerti. Mengapa ayah dan ibu selalu mengurus hal seperti ini? Aku tidak keberatan jika diriku harus belajar lebih giat atau berlatih atau apapun, tetapi aku keberatan jika di jodohkan dengan gadis yang tidak tahu diri atau gadis yang pura- pura baik. Mereka seperti barang yang tidak berkualitas, sampah!” ucap Pangeran Kim sembari memukul pohon besar itu lagi dengan sekuat tenaganya.

Dedaunan kembali berjatuhan.

Sementara di atas pohon besar ini, diriku telah melihat siapa yang membuat getaran hebat dan hampir membuatku jatuh dari pohon ini. Dia tidak lain adalah seorang laki- laki yang memukul pohon dengan sekuat tenaganya, bersama ketiga teman pria. Dia melakukannya lagi, dan aku tidak bisa bertahan dengan baik. Aku terlepas dari pengganganku, dan aku terjatuh dari atas pohon bersamaan dedaunan yang berjatuhan.

“Aaaaa......!!!” teriakku dengan ketakutan yang hampir membuatku mati.

Aku pikir jatuh dari pohon itu akan membuatku mati, tetapi kenyataannya tidak. Aku jatuh dan menimpa seseorang di bawah.

“Brukk!” suara jatuh diriku menimpa seorang pria di bawahnya. Terjatuh menimpa pria itu dengan posisi berada diatas tubuhnya, karena jatuh dari pohon yang tinggi aku pun langsung tak sadarkan diri. Aku jatuh pingsan bukan hanya karena tubuhku membentur tubuh pria ini, tetapi juga karena jantungku yang melemah. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu, semuanya telah menjadi gelap gulita.

Pangeran Kim memukul pohon besar dua kali kini menerima karmanya, sebagai akibatnya dia dijatuhi seorang gadis. Seluruh kakak kaget, mereka pun segera menolong kakak pertama.

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Suci Saraswati
Lanjutkan thor!!!
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

DMCA.com Protection Status