03. Titik Henti

Kelas X3 kosong saat jam istirahat. Hanya ada beberapa siswa yang makan bekal mereka di kelas, salah satunya Sari. Sedangkan sisanya pergi ke kantin ataupun bermain bola di lapangan.

Bangku sebelah Sari kosong. Mega pergi ke ruang guru untuk mengumpulkan tugas, lalu mampir ke kamar mandi. Dan setelah kembali ke kelas, Mega berlari dengan wajah panik. Derap langkah terdengar di sepanjang koridor, Sari sampai menoleh sebelum Mega sampai di pintu.

"Sari ayo, Ri! Felix! Felix! Kasihan Felix, ayo!"

"Felix? Felix kenapa Felix?" Sari berusaha tenang.

"Felix kesurupan!"

Sari mendelik seketika mendengar itu. Ia pun langsung menutup kotak bekalnya dan berlari ke ruang kesehatan bersama Mega. Antara takut dan khawatir bercampur menjadi satu, tapi yang penting sekarang adalah mendampingi teman mereka.

Mega langsung menjeblak ruang kesehatan saat ia tiba. Seketika mereka melihat Felix yang duduk tenang di atas ranjang, dengan teh hangat di tangannya, tatapan polos menatap ke arah mereka.

Mega yang melihat itu pun jadi bingung sendiri. Padahal beberapa saat yang lalu Felix berteriak dan mengamuk heboh. Mega sampai memanggil guru bimbingan konseling. Saking hebohnya, Mega memanggil Adam di lapangan untuk menghampiri Felix saat Mega memanggil Sari di kelas.

Tapi lihat sekarang. Felix normal, benar-benar sangat normal.

"Kamu gapapa, Lix? Kepalamu pusing? Ada yang sakit?" 

Mega langsung duduk di pinggir kasur sambil menghujani Felix dengan ribuan pertanyaan. Padahal di hari-hari biasa mereka seperti tikus dan kucing yang tidak pernah akur. Oh, lihat juga raut wajah Mega. Sangat khawatir.

Sari pun ikut mendekat. "Kamu habis dari mana, Lix?"

"Ri, Ga, jangan bilang guru-guru, ya." Felix diam sejenak, ia meneguk ludah dengan dramatis, lalu melanjutkan. "Aku sebenernya pura-pura kesurupan. Aku gak sengaja senggol cotekan mangga ke Pak Tirto. Aku kan takut ya, jadi aku pura-pura kesurupan tadi pas kamu di sebelahku."

Mega terdiam.

Sari pun merapatkan bibir.

Adam datang dengan bubur hangat.

"Dam, gak usah bawa bubur. Sebenernya tadi—"

Felix tak melanjutkan kalimatnya saat Mega sudah menjambak rambutnya dengan brutal. Membuat Felix berteriak mengaduh, seperti orang yang benar-benar kesurupan. Sari pun hanya menghela napas pendek. 

"Kamu udah makan?" 

Sari menoleh pada Adam, lalu melirik bubur di tangannya, dan mendongak lagi pada Adam. "Udah, makan aja." jawab Sari tersenyum tipis.

"Iya." jawab Adam singkat. Adam duduk di sebelah Mega yang ribut dengan Felix, membuat Sari pun ikut duduk di pinggir kasur. Tidak berniat memisahkan Mega dan Felix. "Nanti masih ada Jumat bersih loh,"

Mega yang mendengar itu pun seketika berhenti, lalu menoleh. "Aduh! Aku lupa bawa alat kebersihan!"

"Aku bawa dua," sahut Sari cepat. 

"Yo wes, sip." ujar Mega seketika tenang. 

Sementara itu Felix pasrah melihat rambut pirangnya yang banyak rontok karena dijambak tanpa ampun. Tapi Mega sebagai pelaku nampak tak peduli. Ia malah ikut mencomot bubur yang dimakan Adam.

"Padahal aku lagi makan," Sari menghela napas pendek dan berdiri. "Lanjut di kelas aja, yok." sambung Sari, Adam menganggu setuju, diikuti dengan Mega. 

"Eh, bentar. Tehku," sahut Felix. "Di sini aja, bisa bikin teh."

Kalimat terakhir Felix berhasil mendapat hadiah toyoran dari Mega. Padahal baru beberapa saat lalu mereka berdamai.

***

Beberapa siswa benci jadwal Jumat bersih yang ditaruh sepulang sekolah. Bayangkan saja, tubuh lelah berkeringat, tapi sebelum pulang masih harus bersih-bersih. Kelas X3 kali ini mendapat porsi membersihkan lapangan dan sekitarnya, termasuk pos satpam dan taman depan.

"He, bolos aja yok." bisik Mega muak dengan semua ini. Panas.

"Ck, gak boleh gitu." sahut Sari menegur. Kalau Sari yang dulu, langsung setuju dengan Mega. Toh, dia tidak terlalu peduli hal lain selain menyanyi, termasuk sekolahnya.

"Ayo, Ri. Kenapa tidak?" ujar Felix malah ikut mengompori.

Sari melirik, lalu mendengus pendek. "Memang mau bolos ke mana?"

"Naik that trash train," tunjuk Felix pada sebuah gerobak pembawa sampah kering, penuh dengan daun-daun jatuh yang sudah dikumpulkan siswa.

"Kok trash train? Apa sih?" kata Mega mengernyit bingung.

"Dam, stt ssttt!"

Adam menoleh saat mendengar namanya dipanggil Felix. Pemuda yang sedang sibuk mencabut rumput liar dengan teman-teman kelas yang lain pun seketika beranjak menghampiri Felix, Mega, dan Sari.

"Kenapa?" tanya Adam.

"Kowe mau drive that train?" tunjuk Felix kembali pada gerobak sampah kering berwarna kuning.

"Apa maksudnya?" ucap Adam tak mengerti.

"Bolos, Dam." Mega langsung menyahut. Lalu ikut mengernyit bingung. "Eh, apa maksudnya bolos pake gerobak sampah, Lix?"

"Naik, Ga." jawab Felix.

Mega seketika bersiap menghajar Felix dengan ide absurdnya, tapi Sari menahan Mega. Entah kenapa ia merasa justru ini akan jadi kesempatan baik. 

"Pura-pura aja bantuin Adam dorong," ujar Sari dengan bahagia. Felix yang merasa mendapat dukungan langsung bertos dia dengan Sari.

"Yo wes, ayo! Apapun demi bolos!" Mega mendorong dua temannya dari belakang. Adam pun ikut ditarik oleh Felix.

Dengan membagi rata bagian, empat orang itu mendorong gerobak sampah dengan semangat jiwa muda mereka. Yah, walau semua itu cuma pencitraan. Semua ini demi bolos Jumat bersih.

Mereka mendorong gerobak itu sampai pojok pembuangan sampah sekolah, niatnya nanti semua daun kering ini akan dijadikan pupuk. Perlahan-lahan mereka memindahkan semua sampah yang ada di sana sampai gerobak kosong.

"Terus, sekarang apa?" tanya Mega.

"Udah, santai aja di sini," jawab Felix duduk duluan. Tempat ini memang agak tertutup karena berada di belakang ruang perpustakaan. Sari yang seakan setuju pun langsung ikut duduk di sana. Lalu disusul Mega dan Adam. "Gini kan enak, tenang. Gak usah bersih-bersih." 

Mega mengangguk setuju. Walau jarang sekali dia terlihat damai dengan Felix lebih dari lima menit. Tapi perlu Mega akui, ide tuan muda Felix Wang yang terhormat cukup brilian.

"Kalo kita dicari Pak Tirto gimana?" celetuk Adam.

Mereka semua seketika terdiam, tidak memikirkan rencana lanjutan sampai ke sana. Mega pun meneguk ludah. "Pak Tirto gak mungkin patroli ke sini, kan?"

Sari mengumpat kasar dalam hati, kebiasaannya. Ia langsung berdiri mendekati gerobak itu. "Ayo, nanti gerobaknya dicariin."

Mereka semua seketika berdiri. Namun lagi-lagi, tuan muda Felix Wang punya ide cemerlang dalam otaknya yang sempit itu. "Mau coba naik, nggak?"

Felix, Adam, Mega, dan Sari terdiam saling menatap. Tapi siapa sangka, dari kalimat itu mereka berteriak heboh. Felix mendorong gerobak dari belakang, sementara Adam, Mega, dan Sari naik ke atas gerobak. Mereka menjadi pusat perhatian.

Mega adalah yang paling heboh. Dia berkelakuan seperti layaknya coboy yang mengendarai kuda. Sari sendiri antara ingin tertawa dan takut juga kalau sampai gerobak ini nyusruk, toh tidak ada yang tahu otak bejat Felix Wang. 

Sementara Adam, oh. 

Adam tersenyum lebar, menampilkan gusi merah mudanya. Sebuah senyum yang jarang ada dalam diri Adam. Rambutnya yang hitam tebal itu terbang seiring arah angin. Para perempuan yang melihat pun akan terpana ketika tahu siapa itu Adam. Tapi di sisi lain, mereka juga akan langsung menyerah karena sikap dingin dan tidak peka Adam yang bukan main.

Atau, sekali lagi. Adam hanya peduli dan peka pada beberapa orang.

Mungkin, orang itu termasuk Sari. Sari yang berjongkok takut di gerobak itu sambil menatap Adam dari bawah. Atas hal-hal manis yang membuat Sari jatuh cinta pada Adam, mungkin itu juga yang membuat Sari menjatuhkan harga dirinya sendiri.

Adam yang mungkin sadar terus diperhatikan pun menunduk pada Sari. "Kenapa? Kamu mau muntah?"

Sari menggeleng cepat. "Enggak kok," ujarnya langsung berdiri seperti yang lain. Mega masih saja asyik bertingkah layaknya coboy

"Lix, Lix. Mandek'o." ujar Adam seketika.

Felix mengernyit, tanda tak mengerti. "Hah? Apa artinya?"

Adam seketika melompat turun dari gerobak. Membuat gerobak itu sempat oleng, tapi Adam justru membantu Felix ikut mendorong gerobak itu. 

"Berat kalo satu orang dorong tiga orang," ujar Adam seakan tahu Felix meminta penjelasan tanpa berucap.

Felix menyengir lebar. Perlahan dia juga ikut bersorak heboh dengan Mega. Walau pada akhirnya, mereka semua dihukum bersama-sama karena menyalahgunakan gerobak sampah.

***

Pendopo desa, cuitan burung, para petani yang membajak sawah. Felix menghela napasnya berat siang ini. Di depannya sudah ada lembar kertas untuk menjawab soal ujian, sebagai hukuman tadi. Namun sudah sepuluh menit berlalu, otak Felix tidak juga bisa berfungsi karena semua suara bising ini.

"ARGHH!!!" Felix melempar pensilnya frustasi. Membuat pensil itu memantul mengenai wajah Mega. "Piye mau bisa fokus, berisik kabeh ngene!"

"Ya santai, DONG!!!" amuk Mega melempar balik pensil ke wajah pemiliknya. Lalu terjadi pertengkaran seperti biasa.

Adam yang melihat pertengkaran itu seketika duduk tegak, hendak melerai tapi melihat mereka sendiri yang tidak ingin dilerai pun membuat Adam urung. Ia menghela napas pendek dan kembali menyandar pada papan pendopo.

"Bisa?"

Sari yang merasa diperhatikan oleh Adam pun melirik, "bisa." jawabnya pendek lalu kembali merunduk mengerjakan.

Ah, sebenarnya tidak. Semua ini tidak masuk akal bagi Sari, jangan heran kalau peringkatnya di kelas selalu tidak memuaskan. Toh, Felix juga sama saja. Nilainya cuma tinggi di bahasa Inggris. Sari sendiri nilainya cuma tinggi di pelajaran seni.

"Sini coba liat,"

Sari tersentak kaget saat Adam mendekat. Adam merunduk, memperhatikan lembar jawab Sari. Sementara di sisi lain, dari sini Sari bisa memperhatikan dengan jelas rahang tajam Adam. Hidung yang bangir, mata kecil, dan bibirnya yang tebal. Lalu, Sari juga baru sadar bulu mata Adam tebilang lentik untuk ukuran anak laki-laki.

"Ini—"

Adam tak melanjutkan ucapannya saat ia menoleh, dan mendapati jarak wajah Sari dengan wajahnya sangat dekat. Adam pun terdiam sejenak, ikut membeku bersama momen ini.

"Bulu matamu panjang ya,"

Adam tersentak dengan kalimat Sari. Seketika ia berkedip, lalu duduk mundu. "Iya, haha," jawabnya dengan kekehan kecil, yang ragu dan canggung. Ah kenapa dia begini.

"Ga, jawabanmu kok udah jauh? Ajarin lah!" protes Felix melihat lembar jawab Mega yang sudah banyak terisi.

Mega tersenyum sombong. "Iya dong, namanya juga kerja."

Felix menatap Mega sinis. Dan tebak saja, Felix selanjutnya justru merengek minta diajari oleh Mega. Sari semakin lama sudah semakin menyerah tentang Felix dan Mega. Ia hanya menatap mereka dengan senyuman tipis.

Kehebohan mereka, keributan ini, Felicia tidak punya kehidupan yang seperti ini. Sepanjang harinya hanya dipenuhi oleh jadwal, jadwal, dan jadwal. Kalau dibilang menikmati hidup dengan jet pribadi dan lain-lain, sebenarnya Felicia tidak sebahagia Sari.

Kalau boleh, Sari ingin hidupnya berhenti di titik ini. 

Di titik tenang hidupnya. Titik paling bahagia.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status