04. Felix dan Rintik

"SARI, IT'S RAINING!!!"

Felix masuk ke kelas yang sedang tak diawasi guru dengan senyuman gembira, dia menari-nari senang dan tersenyum lebar. Mega pun seketika tersenyum lebar. Dia ikut berdiri dan bergabung heboh dengan Felix. 

Sari melirik ke jendela, awan mendung yang sedari tadi menggantung akhirnya pun menjatuhkan air hujan. Kalau begini sudah pasti guru tidak akan masuk ke kelas. Jarak ruang guru dan ruang kelas yang terlalu jauh hanya akan membuat para guru kebasahan kalaupun memakai payung sekalipun.

Hujan semakin deras dalam waktu singkat. Sari tersenyum tipis dan akhirnya ikut bergabung dengan Felix dan Mega bermain air. Seperti anak kecil, mereka tertawa dan tersenyum lebar, saling menyiram air pada seragam satu sama lain.

Siswa lain ikut keluar dari kelas. Baik anak kelas X3 maupun kelas lain. Mereka bermain air, dari menampung sampai saling siram. Ada yang melepas kemeja pramuka dan berguling di lantai yang licin. 

Felix yang melihat itu pun mendapatkan ide. Cowok itu langsung berlari ke ujung koridor, lalu berteriak dengan bangga. "Lihat nih, freestyle!"

Felix berlari kencang, hebatnya dia tak sampai oleng. Sampai di dekat koridor, Felix memajukan satu kakinya dan mendarat di atas lantai yang licin dengan gaya. Mega mendadak tak mau kalah dari Felix. Dia mengangkat tinggi roknya dan ikut berlari dengan gaya.

Sari tertawa puas melihat Felix dan Mega yang malah adu gaya. Gadis itu pun ikut berlari ke ujung lorong, namun seketika dia terdiam.

Maksud Sari adalah, memangnya masih pantas ia melakukan ini?

Oh, sisi Felicia muncul. Sari lupa ini adalah hidupnya. Semua hal ini adalah hidup Felicia ketika masih muda. 

Sari pun tersenyum lebar dan ikut berlari seperti Felix. Dia memajukan satu kakinya, tapi kaki Mega yang bersilangan arah justru membuat Sari tersandung. Felix yang ada di belakang mereka hendak melompat menghindar, tapi terlambat. Mereka bertiga jatuh bersama seperti domino.

Mega mengumpat kasar. Ia langsung menyingkirkan punggung Felix yang menutupi wajahnya. Sari juga bangkit dengan sendirinya. Kemeja pramukanya mulai basah di beberapa sisi. Dia hanya menghela napas pendek, lalu tersenyum tipis melihat Felix dan Mega yang sudah berdebat lagi.

Namun di tengah kehebohan itu, para siswa mendadak kembali ke kelas melihat Pak Mulyono yang datang dari kejauhan. 

Sari, Mega, dan Felix duduk tegang di meja masing-masing. Seragam mereka benar-benar dalam kondisi berantakan dan basah. Sudah pasti ketahuan kalau mereka bermain air hujan. Tiga siswa itu hanya bisa menunggu cemas sementara Pak Mulyono masuk ke kelas X1 dan X2.

"Ri, gimana nih?" ujar Mega khawatir.

"Udah, gapapa. Dihukumnya bareng-bareng kok," jawab Sari. Mengingat kemarin mereka dihukum berempat untuk mengerjakan soal ujian dari awal semester setelah memakai gerobak sampah sebagai kereta mainan.

Mega dan Sari tersentak kaget saat Pak Mulyono menjeblak pintu. Pria tua itu berjalan ke tengah kelas sambil membawa penggaris panjang, lengkap dengan peluit yang dikalungkan di lehernya. 

"Kalian tahu ini hujan, kan? Kelas sebelah juga sudah sepi."

Sari meneguk ludah, mendadak agak panik juga.

"Sudah, sana pulang."

Kelas mendadak hening, hening sekali. Hanya terdengar suara benturan air hujan dengan genteng sekolah dan suara kipas angin tua yang masih beroperasi.

"Pulang awal hari ini. Sudah, sana."

Satu detik, dua detik, tiga detik.

"HOREEE!!!!!"

Para siswa bersorak bahagia dan berdiri dari bangku mereka masing-masing. Mega langsung membereskan barang-barangnya di laci. X3 mendadak lupa siapa yang piket hari ini. Semua siswa langsung berhamburan keluar kelas setelah bersalaman dengan Pak Mulyono begitu saja. 

"Duluan ya, trash!" ujar Mega menendang tas Felix dari belakang.

Felix hampir saja mengumpat dalam bahasa mandarin. Tapi ditahan ketika melihat Mega yang sudah berlari duluan meninggalkan sekolah dengan jas hujan lengkap. Mega pun tersenyum jahil, mengejek pada Felix. Felix yang tadinya sudah menyabarkan diri seketika mengumpat.

Felix hendak menyusul Mega, membalas tendangan gadis itu. Tapi urung ketika melihat Sari hanya terdiam di depan kelas.

"Kamu gak pulang? Waiting for someone?" tanya Felix.

"Ha?" Sari mengangkat alis tak mengerti. "Enggak. Aku gak bawa jas hujan, payung juga gak bawa."

"Mau pinjam ke guru?"

"Hujannya sederas ini, Lix. Percuma." jawab Sari. Mengingatkan pada Felix kalau hujan deras kali ini disertai angin kencang.

"Iya juga sih," kata Felix melengkungkan bibir ke bawah, sedih. 

Sari merunduk, ikut sedih juga. Padahal sore ini Sari harus menyanyi. Kalau hari ini juga terlambat, bisa-bisa mulut Tias berkoar lagi. 

"Oh, terobos aja!"

Sari seketika mengangkat wajahnya, melihat senyuman cerah Felix. Sari mengernyit, tak paham dengan jalan pikir Felix. "Kalau kesambar petir gimana?"

"Ya cuma kesambar, kan." ujar Felix santai. Ia langsung melepas dua sepatunya lalu memasukan sepatunya ke tas. "Ayo, cepetan."

Sari terdiam tak mengerti, tapi akhirnya mengikuti Felix untuk melepas sepatunya dan memasukan dua sepatunya ke tas. "Kalau kesambar mati loh, Lix."

"Ya cuma mati, kan." jawab Felix santai.

"HEH, LIX!" Sari tersentak kaget saat Felix menarik tangannya.

Mereka berdua berlari telanjang kaki di bawah hujan, melewati jalanan yang tidak sepenuhnya rata. Beberapa kali Felix mengumpat saat kakinya tersandung batu. Sari hanya tertawa karena Felix memang tak pernah hati-hati.

Seolah mendapat karma Sari pun menginjak batu tajam. Membuat Sari kesulitan untuk berlari seketika. "Lix,"

Seakan tidak mendengar panggilan Sari di tengah derasnya air hujan yang diiringi suara-suara lain, Felix terus berlari kencang sambil menarik tangan Sari begitu saja.

"Lix!" panggil Sari lagi, Felix masih tidak dengar. "FELIX!"

Felix tersentak kaget. Seketika ia terhenti dan menoleh, melihat Sari yang berjalan pincang karena kakinya terluka. "Eh, kenapa? Kakimu kenapa?"

"Kena batu, Lix. Pelan-pelan aja larinya," ujar Sari pelan.

Felix mengangguk mengerti. Mereka pun mulai berlari kembali, kali ini lebih pelan. Namun Sari hampir saja terpeleset, membuat Felix seketika langsung memegang tangannya erat, untuk memastikan agar Sari tidak jatuh.

Mereka berhenti sejenak. Felix mengernyit khawatir Sari tidak bisa melanjutkan ini. Tapi Sari meyakinkannya. Di tengah rintik hujan, mereka pun berlari pelan menuju ke rumah.

Hanya saja sayangnya, Sari tak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

***

Sari selesai menyanyi lebih cepat dari malam sebelumnya. Hal ini pun karena Sari datang lebih awal. Tias juga nampak belum ada, mungkin belum pulang sekolah.

"Suara lo agak gak beraturan. Lo sakit, Ri?" tanya Bang Setyo sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dari kantongnya. 

"Oh, iya, Bang. Maaf tadi aku kehujanan, jadi agak flu," jawab Sari dengan nadanya yang pelan. 

"Sebagai penyanyi lo juga harus jaga kesehatan. Kesehatan itu penting. Lo jangan sampe hujan-hujanan," ujar Bang Setyo menyodorkan uang pada Sari. "Nih,"

"Makasih, Bang."

Bang Setyo hanya mengangkat dua alisnya. Sari pun berpamitan dengan orang-orang lain yang berada di belakang panggung. Keluar dari daerah panggung, Sari terdiam karena tidak ada Adam. Tidak ada Adam dengan sepedanya.

Oh, memangnya kenapa?

Sari terkekeh pelan, menyadari dirinya mulai bergantung pada Adam. Ia menggeleng singkat untuk menyadarkan diri, lalu berjalan pulang ke rumahnya yang tidak dekat dari tempat konser dangdut ini. 

Tak jarang konser memang diadakan di kampung lain. Membuat Sari harus berjalan lebih jauh. Lelah? Jelas lelah. Felicia biasanya diantar dengan mobil ke sana kemari. Kalau sekiranya jarak terlalu jauh, Felicia bisa menaiki jet pribadi. 

Sementara Sari? Sari tersenyum tipis. Ini kehidupannya yang asli, kehidupannya yang dulu. Mau tidak mau harus terbiasa. Toh, dulu dia juga bisa terbiasa.

Suara dering sepeda terdengar. Sari mengangkat kepalanya dan melihat Adam dengan sepeda hitamnya dari kejauhan mengarah pada Sari. Sari tersenyum tipis, tipis sekali. Entahlah, Sari tetap Sari yang jatuh cinta pada Adam. Tapi Sari juga sudah melihat masa depan dari Felicia. Hal itu kadang yang membuat perasaan Sari menjadi campur aduk ketika melihat Adam.

Padahal di saat lelah begini, melihat Adam sudah menjadi isi ulang energi tersendiri bagi Sari. Tapi, "muka kamu kenapa?"

"Eh?" Adam mengangkat alis saat Sari menyentuh wajahnya. Tepat pada tulang pipi yang terluka. "Oh, ini. I-ini jatuh,"

"Jatuh?" Sari mengeryit.

"Iya, jatuh."

Sari mengernyit, diam sejenak menatap Adam. Entah sejak kapan, tapi Sari selalu tahu kalau Adam berbohong. 

Memilih masa bodoh, Sari mendengus pendek. Mungkin memang ada beberapa hal yang tidak harusnya Sari tahu. Setiap orang punya rahasia masing-masing, kan.

"Aku telat ya," Adam memutar sepedanya. "Ayo naik."

Sari terdiam sesaat, lalu baru ia menggunakan pundak Adam sebagai tumpuan untuk naik ke pijakan belakang sepeda. Setelah memastikan Sari sudah naik, Adam pun mulai mengayuh sepedanya. 

Angin sore menerbangkan rambut hitam tebal Adam. Bau segar mint dari shampoo Adam masuk ke hidung Sari. Hangat sinar matahari sore pun memeluk kulit. Sari melirik Adam dari belakang, lalu tersihir sesaat melihat postur tegap Adam yang masih nampak sempurna walau dari belakang. Sampai Sari menyadari, seragam yang Adam pakai berantakan.

Adam masih memakai seragam coklat pramuka. Memang salah Sari hanya memperhatikan Adam. Namun pada detik itu juga, Sari tahu ada yang Adam sembunyikan. Ini juga perihal luka di bawah tulang pipinya.

Seperti, seseorang yang sehabis berkelahi.

"Kamu bertengkar sama bapakmu, Dam?" tanya Sari berhati-hati, tidak ingin menaruh pikiran negatif terlebih dahulu. Karena Sari tahu, Adam bukan tipe pembuat onar.

Adam bukan tipikal anak nakal yang sering pembuat masalah, tukang tawuran, genit pada setiap perempuan, atau jenis-jenis lainnya. Adam ya Adam. Cuma cowok biasa yang tidak banyak bicara. Cowok yang keberadaannya hampir tidak terdeteksi dan lebih memilih bermain bola di lapangan bersama teman-teman sekelasnya kalau jam pelajaran kosong.

"Enggak. Kenapa?" ujar Adam bertanya balik.

Sari mengernyit, "terus? Kamu bertengkar sama siapa?"

Adam melebarkan mata mendengar pertanyaan itu. Ia diam sejenak, tidak langsung menjawab. "Ini jatuh, tadi..." ujarnya pelan.

Sari terdiam dengan dahinya yang masih berkerut. Jawabannya justru terasa semakin jelas saat Adam menyangkal. Namun Sari memilih untuk tidak mengungkit. Toh, bukan kewajiban Adam untuk jujur dan menceritakan semua hal padanya.

"Ohh," Sari berpura-pura mengangguk mengerti. Membiarkan Adam dan rahasianya melebur seiring berjalannya waktu.

****

Senin pagi menyambut, Sari berjalan ringan ke kelasnya. Namun raut wajahnya seketika berubah ketika melihat Mega nampak murung menaruh kepalanya pada lipatan tangan di atas meja. 

"Kenapa?" tanya Sari duduk menaruh tasnya.

"Hm?" Mega memiringkan wajahnya ke samping. "Apanya?"

"Kamu." jawab Sari jelas. Namun seketika meralat ketika melihat kursi belakang mereka yang kosong. "Felix gak masuk?" tanya Sari heran. Mengingat Felix adalah orang yang biasa datang paling pagi di antara mereka bertiga.

Melihat musuh bebuyutan Mega yang tidak masuk, Sari seketika paham. Mega sedih tidak ada yang bisa dihajar pagi ini.

"Felix sakit." ujar Mega singkat.

"Sakit?" Sari mengernyit, ragu ada penyakit yang mau mendekati Felix. Tahu otaknya yang absurd saja kuman mana pun pasti minder.

Sampai Sari ingat, Sabtu kemarin ia pulang bersama Felix di tengah derasnya hujan. Mungkin saja tubuh Felix belum bisa menyesuaikan diri sehingga dia ambruk ketika diterjang hujan sekali.

"Ya udah, jangan sedih. Kan masih ada aku," ujar Sari menghibur Mega.

Namun bibir Mega malah makin melengkung ke bawah. "Khawatir, Ri. Kalo Felix masuk angin lebih dari sehari, pasti dia belum pernah kerokan. Kasihan, bule kayak dia pasti kulitnya rentan."

"Felix bukan bayi ah, Ga." sahut Sari tidak ingin berlebihan. 

Mega mengehela napas sedih. Kentongan sekolah pun berbunyi, para siswa yang tadinya duduk santai di pinggir lapangan seketika masuk ke kelas. Sari menatap lurus, matanya melebar ketika melihat Adam menjadi salah satu dari mereka.

Adam melirik ke arah Sari, pandangan mereka pun bertemu sesaat. Sampai Adam langsung memalingkan muka. Sari hanya terdiam melihat kelakuan Adam yang itu. Menahan tanda tanya tentang apa yang merubah Adam.

Sari sadar Adam mulai berubah. Tapi Sari tidak tahu apa penyebabnya.

Semoga, itu tidak ada kaitannya dengan Felix.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status