06. Langkah Untuk Memperbaiki

Mega menghela napas berat. Ia menyangga dagu dengan tangan kanannya sambil memainkan pulpen di tangan kiri. Pandangannya tertunduk ke buku tulis yang masih kosong setengah, tapi niat untuk mengerjakan tugas sudah habis.

Yah, memang terkadang mengumpulkan niat itu hal sulit.

Mega melirik ke samping. Pekerjaan Sari malah belum sampai seperempat, tapi tatapan matanya sudah kosong melamun ke ruang tamu rumah Mega.

"Kenapa sih, Ri?" tanya Mega menyenggol pundak Sari pelan.

Sari pun menoleh, tapi tatapannya masih kosong. "Felix, Ga." jawabnya pelan. "Felix kenapa sih sebenernya? Tadi di kelas juga gak banyak omong sama kita. Lebih suka ngumpul sama yang cowok-cowok." 

Mega terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. "Ya gimana ya, Ri. Felix kan juga cowok. Mungkin dia juga pengen punya temen cowok. Masa konconan sama awake dewe terus."

Sari tidak langsung menjawab. Ada jeda sesaat.

"Eh?"

Mega menoleh. "Apanya yang 'eh'?"

"Ah, enggak." jawab Sari mengulum bibir ke dalam.

Jawaban Mega masuk akal juga. Sebentar lagi kenaikan kelas, sudah sewajarnya kalau anak laki-laki berteman dengan sesama anak laki-laki. Selama setengah semester sejak Felix pindah dulu, sulit baginya untuk berteman dengan anak-anak di kelas. Semua itu kembali pada aksen bahasa Jawa Felix yang mengambang. Bahkan waktu pertama kali pindah, Felix belum bisa bahasa Jawa sama sekali. 

Memang normalnya orang yang akan pindah ke Indonesia akan belajar bahasa Indonesia, tapi mungkin Felix lupa kalau ia sekolah di desa. Jadi mau tidak mau mengikuti budaya yang ada.

Awal belajar bahasa Jawa, banyak anak kelas yang menertawai Felix. Itulah yang membuat Felix jadi tidak percaya diri. Tapi tidak dengan Mega.

Mega jadi orang yang paling peduli soal Felix. Ia mengenalkan Felix tentang sekolah, mengajari Felix bahasa Jawa, sampai membantu Felix menyesuaikan diri di Indonesia. Tidak ada yang menyangka kalau pada akhirnya Felix dan Mega justru jadi partner yang tidak pernah absen untuk berdebat setiap hari.

Jangan lupakan sikap Sari juga yang mudah terbuka. Sehingga mereka pun selalu berteman bertiga sampai sekarang. Hingga pada akhirnya, Felix mulai berteman dengan orang lain. Mega dan Sari agak tidak rela.

"Sepi ya gak ada Felix." ujar Sari sedih, dari hati yang terdalam.

Walau memang kalau ada Felix dan ada Mega, artinya akan ada perdebatan. Tapi hal itu yang justru menghidupkan suasana.

"Anakku punya temen baru, huuu..." sahut Mega lebih sedih. Mengingat masa-masa Felix yang masih ramah dan menggemaskan saat pertama kali belajar bahasa Jawa dengan Mega. Felix yang masih polos, Felix yang murah senyum, dan Felix yang semangat belajar.

Sari mengehela napas berat. Bayangan Felix dengan senyuman pada wajahnya yang penuh lebam di balik pintu kembali menghantui Sari. Membuat hati Sari tergerak untuk bertanya-tanya semakin dalam. 

"Tapi Felix gak cerita ya, sama kita. Kenapa wajahnya jadi begitu," celetuk Sari, sengaja untuk memancing Mega.

"Iya, sih. Kayak ada yang disembunyiin Felix." sahut Mega murung.

Sari mendengus pendek. Mega pun menyadari ada yang mengganjal. Kalau memang Felix sudah tidak ingin berteman dengan mereka dan lebih memilih untuk berteman dengan anak laki-laki di kelas, seharusnya dia tidak perlu dipukuli.

Hening di antara mereka sore itu menyisakan pertanyaan. Tentang siapa yang memukul Felix dan hal yang sebenarnya terjadi di balik semua itu.

***

Kentongan sekolah berbunyi, menandakan berakhirnya jam pelajaran. Pak Tirto menutup buku dan mengakhiri materi hari itu, kemudian menyuruh ketua kelas untuk memimpin doa pulang. Setelah selesai, Catur langsung menyambar tasnya dan beranjak dari kursi.

"Oi, Lix! Ayo!" kata Catur menepuk pundak Felix.

Kursi Felix ada tepat di belakang Sari dan Mega, Sari yang mendengar ajakan Catur pun melirik. Ia memperhatikan Felix yang masih merapikan buku dan barang-barang lainnya di meja. 

"Sek, sediluk." jawab Felix tenang.

"Aku numpak di belakangmu ya," kata Catur menyahut.

"Halah, opo Felix kuat?" sahut Sadewo berjalan ke meja Felix. "Karo aku wae, kalo sama Felix bisa jatuh. Badannya kecil gitu."

Iya, Felix memang punya postur tubuh lebih kecil kalau dibandingkan dengan gambaran bule pada umumnya. Rambutnya pirang dan matanya biru sipit, tinggi badannya tak lebih tepat dari 170 cm dan tubuhnya juga kurus. Identik dengan campuran Amerika-Asia.

Beberapa teman kelas seperi Catur yang badannya lebih berisi dengan otot bahkan nampak lebih besar dari Felix.

"Ri, ayo." kata Mega berdiri dari kursinya.

Sari tersadar dari lamunan. Ia mengangguk cepat dan segera menyampirkan tasnya di pundak lalu keluar dari kelas. Mereka berjalan pelan menuju ke arah gerbang. Sampai Mega menyadari ada Satrio, pacarnya yang sudah menunggu di depan gerbang.

"Ri, aku duluan ya!" pamit Mega segera.

"Eh? Iya, sana." sahut Sari cepat. Mega pun mengacir pergi begitu saja.

Mega terlihat berlari ke arah Satrio dengan senyuman lebar. Satrio tiga tahun lebih tua dari Mega dan ia adalah pemilik toko sembako muda di kampung. Mega naik ke jok belakang motor Satrio, lalu mereka pergi begitu saja.

Dan Sari tidak melanjutkan jalan pulang. Ia malah berbalik mengarah ke parkiran sepeda. Dari percakapan Felix dengan Catur dan Sadewo, Sari tahu kalau Felix membawa sepeda.

Entah mereka akan pergi ke mana, yang jelas ini kesempatan bagi Sari untuk bicara dengan Felix tanpa ada Mega. Benar-benar secara pribadi. Ini tentang alasan Felix menghinadri Sari hari itu. Saat Sari menjenguknya.

Tiba di parkiran, Sadewo nampak sudah jalan duluan dengan membonceng Catur di belakangnya. Sementara Felix baru saja menurunkan standar belakang sepedanya dan hendak mendorongnya keluar dari parkiran.

"Lix," panggil Sari.

Felix berhenti, lalu menoleh. Raut wajahnya seketika berubah melihat Sari. Namun Felix nampak sebisa mungkin menyembunyikan semua itu. "Oh. Kenapa, Ri?" tanya Felix berusaha bersikap tenang.

Sari menghela napas pendek, "mau ke mana?"

"Gak kemana-mana. Pulang."

Sari mengernyit tipis. "Bisa ngomong sebentar?"

Raut wajah Felix kembali berubah. Namun Felix masih ahli menyembunyikan semua itu. Sari hanya sadar satu hal, cahaya di matanya sudah sirna. Seperti Felix yang di depannya ini bukan Felix yang jahil, bukan yang biasanya.

"Mau ngomong apa?" kata Felix berusaha tenang. Ia menurunkan standar belakang sepedanya kembali.

Melihat itu, Sari mengehela napas pendek. "Mukamu kenapa?"

"Hm?" Felix mengangkat alis, seakan tidak paham. "Apanya yang kenapa?"

"Kenapa biru-biru gitu?" tanya Sari tak lagi segan.

"Oh, ini..." Felix melirik ke pipinya. "Kelahi, sama orang."

"Kok gak cerita?" tanya Sari bertubi-tubi. "Cerita dong, kalo ada masalah. Biasanya kan juga gitu. Kalo udah gak mau temenan sama kita gak papa, tapi jangan ngilang gini, dong. Kasih tau aku salahnya di mana."

Felix terdiam mendengar kalimat Sari. Ia merunduk sambil mengusap tengkuknya, ada jeda cukup panjang. Seakan Felix berat hati. Namun akhirnya, satu kalimat benar-benar keluar dari mulut Felix. "Iya..."

"Apanya yang iya?"

"Temenan sama kalian. Aku..." Felix mengepalkan tangan, pandangannya masih ke bawah, tidak berani menatap Sari. "Ri, aku gak bisa."

Sari terdiam, menahan rasa terkejut dalam batin. Sebab seharusnya tidak begini, pada alur aslinya Felix tidak pernah mengatakan ini. Mungkin ini kejujuran yang Felix sembunyikan, kejujuran yang selama ini tak pernah Felix katakan. 

Meski menyakitkan, ini kenyataan.

Kenyataan yang Felix rasakan selama ini.

"Aku ngerasa gak bisa cerita—" Felix mengangkat wajah dan terdiam seketika tidak lagi melanjutkan kalimatnya. Felix kembali merunduk mendorong sepedanya keluar begitu saja. Dan hal itu jelas membuat Sari bingung bertanya-tanya.

"Lix, mau ke mana?" tanya Sari mengikuti.

"Mau pulang, kan."

Sari tersentak kaget mendengar sahutan dari belakang. Ia melebarkan mata, familiar dengan suara ini. Namun ia tetap menoleh untuk memastikan, dan Sari pun mendapati Adam berdiri di belakang Sari. Tepat.

"Astaga, Dam! Apa sih, bikin kaget aja!" Sari mendengus keras.

Adam tak merespons Sari. Ia malah menatap punggung Felix yang pergi dari belakang, diam dan tidak mengucapkan apapun. Adam mengambil sepedanya, dan menuntunnya keluar dari parkiran. 

Sari yang sadar sudah diabaikan pun terdiam. Mendadak ingat sudah menuduh Adam yang macam-macam. "Dam!"

Adam berhenti dan menoleh saat Sari menyusul dengan langkah ringan. "Apa?"

"Emm... soal yang waktu itu, aku bertengkar sama kamu di koridor," Sari mengulum bibir ke dalam, agak tidak enak. "Maaf ya."

Adam tak langsung menjawab, ia diam sesaat menatap Sari. Namun ia hanya berbalik dan menaiki sepedanya. "Jangan merasa bersalah." jawab Adam singkat. Lalu mengayuh sepedanya pergi.

Sari terdiam mendengar jawaban itu. Ia berdiri dalam sepi melihat Adam pergi dengan sepeda hitamnya. Pelahan mulai terbiasa dengan pemandangan Adam yang selalu pergi. Padahal itu adalah hal yang paling Sari benci seumur hidupnya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status