07. Rujak, Piring Persahabatan

Sari kembali ke rumah saat hari sudah malam. Ia mengulum bibir ke dalam dan beberapa kali meneguk saliva. Dengan langkah pelan dan hati-hati, Sari harus memastikan ayahnya belum pulang dari sawah.

Masalahnya, Sari tidak memakai baju ganti. Masih dengan dress ungu yang biasa ia kenakan saat bernyanyi di panggung hajatan. Tentu akan sulit berbohong kalau Sari bermain ke rumah Mega karena dress ungu ini.

Seiring langkah yang semakin dekat ke rumah, Sari bisa mendengar suara ayahnya yang jelas terdengar. Sari pun terdiam, mengutuk dalam hati. Sekarang mau beralasan bagaimana pun, pasti ketahuan. 

Jawaban amannya sekarang cuma ada satu. Memutar ke rumah Mega dan meminjam bajunya supaya seolah-olah Sari memang berkunjung ke sana. Memang jauh, tapi mau bagaimana lagi. Semua ini demi menghindari konflik di rumah.

Sari membalikkan tubuh dan hendak berjalan pergi. Namun sepertinya, semua itu sudah terlalu terlambat.

"SARI! MAU KE MANA KAMU!?"

Sari tersentak kaget mendengar suara pintu rumah yang dibuka dengan kasar. Juga diiringi suara bentakan dan derap langkah cepat. Saat Sari menoleh, rambut panjangnya langsung ditarik oleh ayahnya dengan kasar.

"ANAK PEREMPUAN, SUSAH BANGET DIBILANGIN!" bentak ayah Sari.

Ibu Sari menyusul ke luar, dan terkejut melihat pemandangan Sari yang dijambak kasar oleh ayahnya sampai hampir oleng. "PAK, UDAH PAK!"

"UDAH, APANYA YANG UDAH! ANAK KEBANYAKAN DIBELAIN JADI BANDEL BEGINI! ANAK SIAPA SIH KAMU!"

Sari merintih kesakitan sembari memegangi kulit kepalanya untuk mengurangi rasa pedih. Tapi ayahnya tidak juga berhenti. Ia justru mendorong kepala Sari sampai Sari jatuh tersungkur di depan rumah.

"Udah bapak bilang gak usah nyanyi! Kamu mau jadi lacur!?" bentak ayah Sari melayangkan sebuah tamparan di pipi Sari. "Apa-apaan baju kayak gini? Gak ada guru yang pakaiannya kayak gini!"

"Pak mbok ya udah! Sari ki anak wadon!" ujar ibu Sari berusaha menarik ayah Sari agar menjauh dari anaknya itu.

Sementara Sari sendiri hanya bisa diam menunduk. Diam dan tidak berkata-kata apapun, hanya merasai pedih di sekujur tubuhnya setelah dijambak, didorong, dan ditampar oleh ayahnya. 

"Sekali lagi Bapak liat kamu nyanyi, Bapak bakar semua!" kata ayah Sari mengancam. Lalu berbalik dan masuk ke rumah dengan membanting pintu.

Sari hanya bisa terdiam melihat sikap keras bapaknya yang tidak pernah berubah. Bahkan dulu pernah saat Felicia menyempatkan diri datang ke kampung, Bapak tidak pernah mau mengakui Felicia. Bapak hanya ingin anaknya menjadi guru, selebihnya tidak diakui. Meski harus hidup menderita kesusahan makan sekali pun.

"Kan udah dibilang to, Nok. Gak usah nyanyi lagi," ibu mendatangi Sari dan membantu anak gadisnya itu untuk berdiri. "Sakit?"

Sari menggeleng pelan dengan kepala tertunduk. Ibu sama saja, tapi lebih abu-abu. Ibu tidak pernah melarang Sari mengejar cita-citanya. Hanya saja, Ibu tidak ingin melihat Sari dipukuli Bapak. 

Mungkin, selamanya, impian dan keluarga Sari adalah dua hal yang sangat bertolak belakang. Tidak pernah bisa berjalan bersama. 

"Ayo masuk." ajak ibu Sari.

Sari tak menjawab. Tanpa ada gelengan atau anggukan, Sari hanya diam saat ibunya menarik tangannya masuk ke rumah. Merelakan ego dan sakit di hatinya atas kata-kata dan perlakuan Bapak.

Ibu mengantar Sari masuk ke kamarnya, lalu pergi dengan menutup pintu kamar. Seakan memberi Sari waktu. Waktu untuk semuanya. Untuk sendiri, untuk merenung, dan untuk menyembuhkan diri. Seperti setiap kali Sari dimarahi bapaknya.

Namun, Sari bukan orang yang bisa cepat berdamai. Merelakan ego dan sakit di hatinya atas kata-kata dan perlakuan Bapak. Sari menghapus jejak air matanya, lalu beranjak keluar dari kamar.

Sari keluar dari rumahnya dan mengarah ke pendopo yang sepi. Tempat di mana Sari dan tiga temannya sempat mengerjakan tugas hukuman bersama. Sari duduk sendirian di sana. Masih dengan dress ungu gelapnya.

Malam hening. Nyamuk dan jangkrik saling bersahutan. Sari memandang ke langit yang bertaburan bintang. Sampai tanpa sadar, air matanya pun jatuh.

Padahal Sari sudah pernah melewati semua ini. Segala pertengkarannya di masa muda, tentang keluarga atau mimpi. Namun pada akhirnya saat waktu berputar dan Sari kembali mengalami semua ini, hatinya tetap sakit. Air matanya tetap jatuh.

Entah ini bentuk dari lemahnya hati Sari, atau memang Sari sudah terlalu nyaman berada di kehidupan yang ini. Mengulang semuanya. Bahkan sampai merelakan semua sudut pandang Felicia dan terus mengikuti kata hatinya. Tentang apa yang ia mau di kehidupan yang ini, bukan menuruti alur yang seharusnya.

Setelah hidup sebagai Felicia, mungkin terjebak dalam masa muda ini pun tidak masalah bagi Sari.

***

"Ri. Sari,"

Mega menggoyangkan lengan Sari beberapa kali, membuat tubuh itu bergerak ke kanan dan ke kiri. Tapi Sari tetap menenggelamkan kepala di atas lipatan dua tangannya. Mega mengernyit tipis, heran kenapa Sari bisa se-kebo ini.

"Ri, kebakaran!" usil Mega yang mulai ketularan Felix.

Tapi Sari masih sama. Tidur dalam posisi duduk meringkuk di pendopo. Sampai Mega pun harus berulang kali membangunkan Sari. Mulai dari menepuk-nepuk pundak Sari, sampai menjahilinya dengan peringatan banjir.

Dan di tengah semua usaha itu, Sari tiba-tiba membuka mata sambil mengangkat wajahnya. "Hahh!!" teriak Sari sadar.

"HUAH!" kaget Mega terlonjak ke belakang.

Sari terdiam beberapa saat. Ia memegangi kepalanya dengan pandangan mata kosong dan dahi yang berkerut. "Ck, kenapa mimpi itu lagi sih!"

"Mimpi apa?" sahut Mega mendekat.

Sari tersentak kaget melihat Mega sudah ada di sampingnya. Ia melotot kaget sambil memegangi dada. Membuat Mega bingung setengah mati melihat sikap Sari yang seperti ini.

"Eh?" Sari mengangkat dua alisnya tinggi. "Elo..."

"Dih, elo! Cuih!" sahut Mega merinding mendengar cara bicara Sari. "Kesurupan? Siapa sih ini? Siapa?" sambung Mega lebih heboh.

Sari terdiam. Diam cukup lama, sampai air mata jatuh dengan sendirinya. Mega yang melihat itu pun kaget, bingung, dan khawatir pada saat yang sama. "Kenapa? Ada apa? Masih sakit gara-gara dipukul bapakmu?"

Sari tidak menjawab 'iya' atau 'tidak', melainkan langsung memeluk Mega. Membuat Mega semakin bingung karena Sari tidak biasanya memeluk orang lain, bahkan Mega yang sudah jadi teman dekatnya sangat lama. Tapi pada akhirnya, Mega mengerti. Ia memeluk Sari balik.

"Sabar, Ri. Sabar. Nanti juga Pak Joko bakal dukung kamu jadi penyanyi, kok." kata Mega berusaha menenangkan.

Sari menggeleng. Masalahnya bukan soal dukungan dari Bapak, tapi karena semua kejadian dari masa depan yang muncul kembali sebagai mimpi buruk. Terus berputar di kepala seperti film hitam putih dari sebuah kaset rusak.

Ia melihat Mega yang akhirnya menjadi manager Sari. Namun tidak ada yang baik-baik saja dengan hal itu. Karena Mega jadi orang yang berbeda. Jadi sosok pribadi dingin yang hanya ingin berurusan dengan Sari kalau soal pekerjaan. Sisanya, mereka adalah orang asing.

Tapi, Mega yang ada di depannya ini adalah temannya. Teman dekatnya sejak sekolah menengah pertama yang benar-benar memahami Sari. Selalu mendukung dan selalu bersama Sari.

"Aku tadi ke rumahmu. Tapi kamu gak ada di rumah," ujar Mega.

Sari perlahan melepas pelukannya. "Terus?"

"Ya aku cari ke sini. Aku bilang kamu udah pergi dari pagi gara-gara kita janjian buat cari yuyu kangkang."

Sari terkekeh pelan. Ia selalu tahu Mega dari dulu adalah orang yang paling bisa diajak berkompromi. Kalau Mega tidak berbohong kalau Sari pergi dengannya, ibu bisa marah karena Sari pergi kabur tanpa izin.

Sari juga tidak heran kalau Mega tahu Sari ada di pendopo, bahkan saat Sari tidak bilang kalau dia akan ada di sini. Karena bagi mereka, pendopo adalah tempat persekutuan yang cukup sakti. Felix bahkan juga tahu itu.

"Ganti dulu. Mau di rumahku atau di rumahmu?"

"Hm?" Sari mengangkat satu alis. "Mau main ke mana?"

"Ke rumah Felix."

"Felix?" ujar Sari mengulang, memastikan kalau dia tidak salah dengar.

"Iya, Felix." Mega mendengus kasar. "Kamu lupa ingatan abis dipukul?"

"Enggak," jawab Sari ringan sambil mengusap tengkuknya. Ia menurunkan kaki dan memasangkan sandalnya. Kemudian beranjak bangkit dari pendopo. "Ayo ke rumahmu. Aku mau pinjem baju."

Mega mengangguk pelan. Ia beranjak dari pendopo, kemudian berjalan kaki ke rumahnya bersama Sari.

***

"Ga, geser kek. Susah banget mau nyolek sambel,"

Mega melirik tajam. Ia mendengus keras, lalu bergeser ke kiri dan membiarkan Felix mencolek sambel ke buah mangga. Bersama dengan Sari, mereka bertiga asyik ngerujak di pekarangan rumah Felix. Ditemani es teh manis sinar matahari yang terhalang pohon rambutan, momen ini sangat sempurna.

Mereka seakan lupa pernah ada masalah. Pernah ada cerita tersembunyi. Dan pernah ada retak pada piring persabatan mereka. Ya, semua berjalan menua dengan waktu begitu saja.

"Bentar lagi udah kenaikan kelas," Mega mencolek sambel pada ujung potongan buah belimbingnya. "Kalian mau duduk di mana?"

"Belakang lagi lah, biasa." sahut Felix cepat.

"Gak mau di depan aja? Atau engga, agak di tengah gitu." jawab Sari.

"Hah?" Felix menoleh dengan kerutan di dahi. "Mabok rujak kamu, Ri?"

"Ck, apa sih, Lix." Mega langsung menyikut bahu Felix.

"Ya kalo yang duduk di depan kan pasti ngejar sesuatu, Ga. Kayak nilai sama materi dari guru gitu," Felix menoleh heran pada Sari. "Kamu mau ngejar apa?"

Sari tertawa pelan. Dia menyandarkan punggungnya ke dinding. "Gak ada. Aku udah gak ngejar apa-apa."

Felix menatap Sari sesaat, masih tidak yakin jawaban seperti itu bisa terlontar dari mulut Sari. Lagi pula, Felix adalah orang kedua setelah Mega yang paling hapal kalau Sari akan selalu lebih mementingkan karir menyanyi dari pada urusan sekolah.

Tapi Sari yang ini?

Sari yang ini lebih memilih dunia sekolah. Walau tidak terlalu suka belajar, Sari tetap memilih sekolah karena ada Mega dan Felix. Setelah diberi kesempatan hidup kedua, Sari tidak mungkin menyia-nyiakan kehidupan masa muda dan sahabatnya. Hidup sebagai Felicia satu kali sudah cukup baginya.

"Aku udah berhenti nyanyi. Aku mau sama kalian aja."

Mega sontak terbatuk mendengar itu. Felix pun sampai menganga lebar. Kalimat itu keluar dari mulut Sari dengan sebuah senyum tipis. Mungkin sedikit manis bagi Sari, tapi tidak dengan Mega yang merasa geli dan Felix yang merinding.

"Apa sih, gila ya!" ujar Mega mendorong Sari dengan kakinya.

"OH MY GOD!" teriak Felix menggila. Cowok itu berdiri dan mengusap sekujur tubuh dengan tangannya sendiri. "ARGH, BADANKU! LORD PLEASE—"

"FELIX JANGAN TERIAK-TERIAK!"

Felix sontak mengatupkan bibir dan kembali duduk dian seketika. Membuat Mega tertawa puas karena Felix ditegur oleh Mama Felix dari dalam rumah.

"Lagian sih, pake heboh banget." kata Sari santai. Dia menarik piring sambel mendekat untuk mencocol sambel ke potongan buah nanasnya.

"Ya kamu yang bikin heboh!" sahut Mega dan Felix kompak. 

Sari tertawa pelan, "kompak banget, awas jadian."

"Dih, ya enggak bakal! Aku kan udah ada Mas Satrio, kamu aja yang sama Felix!" jawab Mega ketus.

"Ya udah, terserah, nggak papa. Sumpahin aja biar kejadian. Kasihan Sari gak pernah punya pacar," kata Felix menyahut dengan tenang.

"Ngeledek ya!?" Sari melotot tak terima. "Emang kamu pernah punya?"

"Punya! Namanya Meghan, orang Florida!" sambar Felix berapi-api.

"Mirip Mega." Sari mengambil gelas es tehnya dan meminumnya santai. "Mega kalo gak lahir di Florida, tapi lahir di Jawa, namanya jadi Mega."

"Aku siram nih ya," muak Mega karena namanya terus dibawa-bawa sambil menyodorkan piringan sambel ke wajah Sari.

"Kalo sama Mas Satrio doang, kamu gak punya pengalaman." jawab Sari menggoda Mega semakin menjadi-jadi.

"Tapi aku pernah pulang bareng sama Mas Satrio. Kamu yang gak pernah pulang bareng sama cowok selama 16 tahun diem aja." balas Mega makin kesal.

"EKHEM." Felix berdeham keras. Membuat Mega menoleh, hingga raut wajahnya pun berubah seketika.

"Ah, sorry, sister. Kadang aku lupa kamu beda jenis sama kita." kata Mega tanpa beban. Kemudian ia kembali menatap Sari. "Kamu yang gak pernah pulang bareng sama cowok selama 16 tahun selain Felix diem aja." katanya mengulang.

Felix mencibir. Namun ia enggan ikut perdebatan antara dua cewek. Hingga Felix pun memilih diam menyandarkan punggung ke tembok. 

"Pernah kok, kamu aja gak tau!" balas Sari malah tak mau kalah.

"Oh ya? Ada yang mau? Siapa, ha?" sahut Mega meninggikan suara.

"Adam! Gak di sekolah tapi dia datengin—"

"Eh?"

"Ha?"

Felix dan Mega kompak menoleh. Mereka membuka mulut dan melebarkan mata melihat Sari yang terdiam membatu dengan kalimatnya sendiri yang kebablasan. Felix dan Mega diam memandangi Sari lama sampai Sari mengatupkan bibir dan meneguk ludah.

Sari berdeham, "aku mau ngampirin Bang Satrio dulu." pamitnya langsung beranjak pergi dari pekarangan rumah Felix.

Felix tersentak kecil. "Eh, Ri! Sari!" panggilnya menahan saat Sari sudah berdiri.

Sari merutuk dalam hati, lalu menoleh.

"Sandalmu salah sebelah! Yang kanan itu punya ibuku!" kata Felix menunjuk ke arah kaki Sari. Yang satu warna kuning dan yang satu warna merah.

Sari mendengus, malu sendiri. Dia meraih sandalnya kemudian berbalik pergi sambil berlari kecil meninggalkan rumah Felix begitu saja.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status