Reunited Worlds
Reunited Worlds
Author: Thia_yoel21
Bab 1 : Pertama

Hanya Tuhan yang tahun atas jalan hidup Aletta ke depannya. Mencoba untuk selalu tersenyum. Memperlihatkan dirinya tegar, kuat menghadapi rintangan. Faktanya Aletta muak dengan semua itu, ia ingin cepat-cepat meninggalkan dunia ini. Ingin tidur selama-lamanya. 

Pada suatu hari Aletta mendengar kalau dirinya akan dijodohkan oleh tetangganya yang bernama Algara.

Marcel dan Renaldo tengah berbincang serius. Kedua orang dewasa ini sepakat kalau Anak mereka saling dijodohkan. Padahal Aletta masih kelas 1 SMA sama seperti Anaknya Renaldo. Dan Algara bukan orang yang mudah bersosialisasi. Bahkan membuat Aletta kesal jika menyapa cowok itu dengan ramah. Pasti akan dibalas dengan tatapan datar. 

Semua berjalan begitu cepat, kini Aletta menjalin hubungan pertunangan dengan Algara. Sudah hampir 1 tahun.Tapi, Algara tidak pernah mengubah sikapnya, cuek dan tidak memperdulikan Aletta sedikitpun.

Aletta selalu berusaha menakhlukan hati Algara, sampai gunung pun akan ia daki. Tidak peduli berapa kali Algara membuat dadanya sesak. Bahkan sering diabaikan saat berbicara, meninggalkan saat Aletta curhat.

"Alga, lo dengerin gue nggak sih?" tanya Aletta seraya mengegaskan suaranya. 

"Nggak," jawabnya singkat menatap cewek itu dengan tatapan malas. 

****

Aletta melirik jam tangan kecil berwarna pink di tangannya. Cewek itu langsung beranjak mengambil ranselnya lalu memakai sepatu. Ada beberapa pembantu di sini, mereka ada tugas masing-masing. Tetap saja Aletta tidak membutuhkan mereka semua. 

Dengan malas Aletta melangkah keluar, merapikan rambutnya sebentar lalu menerbitkan senyum paling ceria. Untuk menutupi rasa kecewa, kesal dan sedih Aletta mencoba tersenyum setiap hari dan setiap saat. 

Aletta yakin dia kuat, ia tidak selemah Orang tuanya kira. Langkah kakinya tepat di hadapan mobil yang siap untuk mengantarkannya ke sekolah. Pak Kodir supir pribadi sekaligus seseorang yang selalu ada untuk Aletta. 

"Pak kodir, Aletta mau berangkat bareng Alga aja."  ucap Aletta seraya tersenyum genit, memperlihatkan gigi gingsulnya. 

"Siap non," balas Pak Kodir. 

"Aletta berangkat dulu ya pak, dadah." pamit Aletta sembari melambaikan tangannya dadah. Lalu berlari kecil membuat rok pendeknya berayun-ayun. 

Pak Kodir membalas lambaian tangan dadah kepada Aletta sembari tersenyum. 

Aletta tidak perlu lagi jauh-jauh menghampiri Algara. Karena memang tetanggaan, dan seharusnya Algara yang menjemput Aletta, tapi memang begitulah sosok tunangan Aletta yang super cuek. 

Ketika Algara akan melajukan motornya, tiba-tiba Aletta menghadangnya dengan merentangkan kedua tangan."Kenapa nggak nungguin aku ih," pekik Aletta, membuat cowok itu berdecih, dan menatap malas ke arah Aletta. 

Belum mendapat jawaban dari Algara, cewek itu langsung menangkring di atas motor sembari memeluk erat Algara. Seperti inilah Aletta yang selalu manja, selalu menempel pada Algara. Dimana ada Algara pasti ada Aletta, mereka selalu bersama-sama. 

Dengan memeluk Algara seperti ini Aletta mendapatkan kenyamanan tersendiri. Ada yang mampu membuatnya semangat, semringah meski respon Algara terlalu cuek. Terasa risih Algara dengan cepat memberontak kasar agar tangan Aletta melepaskan pelukannya. 

Gagal, Aletta tetap kekeh. 

"Gue bilangin Papa mertua loh, lagian gue mau pulang sama siapa, Alga." rengeknya seraya mengancam, pinterkan. 

Algara mendengus sabar, percuma marah-marah buang tenaga.Aletta juga nggak ngerti bahasa manusia, anjim banget emang. "Bisa nggak sih nggak usah meluk. Sesak nih," protes Algara kesal, 

"Gue longgarin aja, karena meluk saat naik motor itu wajib!" balas Aletta, ia hanya melonggarkan pelukannya. Tidak peduli dengan decihan Algara, Aletta tetap cengar-cengir tanpa berdosa. 

"Sakit jiwa ni cewek," cetusnya kesal, 

"Karena lo penyebabnya," jawabnya spontan. Algara sengaja mengendarai motor dengan ngebut. Tapi ini malah menjadi kesempatan Aletta semakin erat memeluknya. 

****

"Gue tadi liat lo bareng sama Algara, terus Nara sama Zaenal berduaan juga. Duh, gue jomblo iri njir!" celoteh Meira sembari memasang wajah lesu. Kedua sahabatnya sudah memiliki pasangan masing-masing, tapi dia masih jomblo. 

"Yaelah, daripada lo mikirin yang kagak jelas, mending kerjain tugas deh." sahut Nara sembari melemparkan buku cetak yang akan dipelajari hari ini. 

"Napa lo bagiin buku? Buk--"

"Bu mitha nggak berangkat, jam kosong lagi hari ini." sewot Nara, Meira menipiskan bibirnya lalu membuka buku dengan kasar. 

"Al, halaman berapa sih?" tanya Meira kepada Aletta yang sebangku dengannya. Tidak tahu kalau cewek itu sedang tidur sembari menelungkupkan kedua tangan. 

"Etdah ni anak ternyata molor." cibir Meira sembari mengguncangkan lengan Aletta. Kebiasaan Aletta kalau pelajaran kosong pasti molor. Kesempatan bagi Aletta. 

"Meira, biarin aja napa. Orang lagi tidur juga lu gangguin." celetuk Nara seraya duduk kembali ke tempat duduknya. 

"Kayak orang begadang aja, tidurnya nyenyak banget." ujar Meira, kemudian membiarkan Aletta tidur dengan nyenyak. 

Keasikan tidur membuat Aletta tidak mengerjakan tugas. Entahlah pagi ini matanya sangat lengket, karena memang semalam Aletta tidak tidur semalaman. Kebiasaan yang benar-benar merugikan Aletta sendiri. 

****

Di malam yang sepi ini Aletta menikmati lagu yang ia dengarkan lewat Earphone nya. Gadis itu memejamkan matanya sejenak, di atas balkon sendirian. Matanya melihat ada orang di jalan menuju ke rumahnya. Ia langsung membuka matanya, ternyata benar itu adalah Algara. Malam-malam cowok itu datang, tumben. Ketika akan turun, Aletta mendapat pesan dari Algara. 

Ayang galak

[Gue di depan rumah lo!]


Aletta bergegas untuk turun, lagian di rumah sedang sepi. Entah kemana sang ibu pergi dengan selingkuhannya. 

"Ada apa?" tanya Aletta seraya senyam-senyum bahagia Algara datang tiba-tiba. 

"Dari Mommy," sembari memberikan bingkissan putih pada Aletta. 

"Paling lo kangen sama gue, alesan ngasih beginian haha." ledeknya, 

"Ge'er, ogah ngangenin lo!" cetus Algara. 

Lagi-lagi mata Algara menangkap sesuatu yang aneh di tubuh Aletta. Lengan mulusnya terdapat biru-biru lebam, apa mungkin dia jatuh? Masa iya? Algara tidak mau tahu tentang Aletta. Masa bodoh, cowok itu bergegas untuk pulang lagi. Baru akan melangkah pergi, pergelangan tangannya di cekal oleh Aletta mencuri cium kilas di pipi Algara. 

"Muuuach, hati-hati di jalan sayang. Salam buat Ibu mertua. Makasih bingkisannya," ucap Aletta dengan senang hati, bahagia. Tapi Algara hanya menatapnya dengan ogah. Kemudian kembali melangkah pergi meninggalkan Aletta. 

Aletta memastikan kalau Algara sudah benar-benar pulang. Cowok itu masuk ke pekarangan rumahnya. Punya pacar tetangga memang asik ya, hanya 5 langkah saja. 

"Waah, seblak terus jus buah. Ya ampun Ibu mertua pengertian banget kalau mantunya belum makan malam." gumam Aletta, raut cerianya memudar air matanya membendung penuh. Ia langsung masuk ke dalam rumah. Mengambil piring untuk makan malam sendiri. Aletta menginginkan keluarga yang harmonis. Mama dan papa ada di sampingnya, kasih sayang yang tidak terukir bentuknya. Berkumpul bercanda ria, kapan Aletta akan merasakan itu. Bahkan tidak pernah sedikitpun. Dari kecil sudah dibiasakan mandiri. Mandiri tanpa dipedulikan oleh sang mama dan papa. 

Setelah menghabiskan seblak dengan lahap, Aletta meminum jus buah. Enak sekali, calon mertuanya sangat pandai membuat sesuatu. Apalagi soal makanan, hem Aletta ingin belajar bersamanya. Andai, Aletta memiliki ibu seperti calon mertuanya. Pasti akan sangat bahagia sekali. 

Tidak! Tidak boleh, Aletta harusnya bersyukur masih di urus dan di sekolahkan oleh ibu-nya. 

Waktu sudah menunjukkan 22.00 malam, Alana belum pulang. Membuat Aletta kepikiran, meski sudah biasa ditinggal setiap malam. Aletta merasa khawatir padahal Ibu-nya itu sedang foya-foya bersama lelaki lain. Tetap saja toh, sang anak khawatir pada Ibu-nya. 

Terdengar pintu utama terbuka, Aletta hanya mengawasinya dari atas kamar. Tidak berniat untuk menggangu, terlalu takut. Wanita itu sepertinya sedang mabuk, sudah pasti. Jalan saja terhuyung-huyung sampai kamar. Miris sekali rasanya, huh. Cewek itu menetikkan air matanya, berharap semuanya akan berlalu dan kembali normal. Tapi kapan? 

Alana memang sudah berselingkuh di belakang Marcel. Makanya, Marcel sering sekali marah-marah dan menunduh yang memang benar terjadi. Itu membuat Aletta semakin terpuruk dan trauma, mentalnya terganggu. Dan juga kekerasan yang sedari kecil ia terima. 

Terimakasih sudah membaca. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status