My Partner of Doctor Mafia
My Partner of Doctor Mafia
Author: Puji Rahayu
Chapter 1 Prolog tragedy

Dor! Dor! Dor!

Suara bunyi tembakan saling bersahutan.

"Tamat riwayatmu tuan Salamo," ucap sang Musuh sambil membidikkan pistol ke arah kepala tuan Salamo, lanjut ke jantung istrinya.

Malam itu, menjadi saksi bisu di rumah tua bergaya klasik. Seorang anak yang masih berusia tujuh tahun, dengan mata kepalanya sendiri melihat keluarganya dibantai.

Darah terus mengalir dari kepala sang Ayah dan Ibu. Tubuh anak kecil itu bergetar, namun mulutnya tetap membisu. Anak kecil itu bersembunyi di bawah kolong meja.

"Cepat cari anak itu. Jangan sampai keluarga Salamo hidup." teriak sang Ketua memberi perintah agar segera menggeledah rumah.

"Tapi Bos! kita harus segera pergi. Polisi sudah datang dan akan mengepung rumah ini."

Gerombolan orang yang membantai keluarga Salamo, langsung membubarkan diri saat mendengar lampu sirene polisi. Sebelum polisi menemukan mayat orang tuanya. Bocah berusia tujuh tahun menghampiri mayat kedua orang tuanya. Dia berjanji akan menemukan siapa yang membantai keluarganya dan membalas dendam.

Dua puluh tahun telah berlalu sejak tragedi mengerikan tersebut, menimpa keluarga Salomo.

Seorang pria yang nyentrik, berdiri dalam ruangan yang hanya diberi penerangan lampu bolam berwarna kuning. Dia menatap nanar musuh bebuyutannya.

“Mari, selesaikan urusan kita,” ucap Brain.

Tanpa basa basi Brain langsung membidikkan senjata api miliknya ke arah sang Musuh. Dor ... Peluru itu hanya mengenai lengan sang Musuh yang bernama Alex.

“Sial! Dasar bajingan tengik! Serang ...,” teriak Alex.

Aksi tembak menembak berlangsung hingga anak buah Alex berguguran. Dengan sisa anak buah yang tinggal 20 orang. Alex berlari untuk menyelamatkan nyawanya menuju ruang rahasia.

"Sial! lenganku kena peluru bajingan itu." kesal Alex.

Anak buah Alex yang masih tersisa, hanya dapat mendengar teriakan Alex yang sedang kesakitan.

"Hai! Apa kau bodoh? Cepat hubungi dokter Marko!" seru Alex sambil menarik pelatuk pistolnya. Dor ... Anak buah Alex meninggal seketika. Peluru pistol itu mengenai jantungnya.

"Dasar tidak berguna."

"Bos! Saya sudah menghubungi dokter Marko. Dia akan kesini secepatnya," ucap anak buah kepercayaan Alex.

Tidak lama Marko datang, dengan menutup wajahnya menggunakan baf berwarna hitam dan bergambarkan tengkorak berwarna putih. Tanpa menunggu perintah dari Alex, Marko langsung membuka alat operasinya. Alat-alat direndam dalam cairan steril, lampu dipasang agar mudah melihat peluru yang sedang bersarang di lengan Alex.

Setelah itu dituangkannya cairan antiseptik ke lengan Alex. Lalu membedah lengan itu menggunakan pisau bedah. Dengan ketangkasan Marko yang sudah terbiasa melakukan pengobatan di dunia mafia, yang tak memikirkan benar atau salah cara pengobatannya, dia langsung menemukan di mana peluru itu bersarang dan menghentikan pendarahan.

Dengan pinset dia mencabut peluru tersebut. Setelah keluar dia menjahit kembali lengan yang sudah dibedahnya. "Bagaimana keadaanmu bos?" tanya Marko.

"Dokter macam apa kau! bertanya keadaan pasien? harusnya kau lihat aku sekarang bagaimana?" jawab Alex yang geram dengan pertanyaan Marko.

"Saya rasa bos sudah baik, dilihat dari cara menjawab pertanyaan saya," ucap Marko dengan sikap dinginnya.

"Sial bocah tengik, kau sudah tidak sayang dengan nyawa, kau?" Alex mulai mengarahkan pistolnya ke Marko.

Dengan senyum sinis tertutup dengan baf. Namun, expresi dari gestur tubuhnya tak dapat berbohong jika Marko, tidak takut dengan ancaman Alex. Perlahan tapi pasti Marko mendekati Alex. "Jangan pernah mengancam, ku. Aku bisa jadi bom waktu yang bisa membuatmu hancur dalam sekejap." ancam Marko balik

Terdengar suara tawa yang menggema di ruangan itu. "Kau tidak pernah berubah. Masih bisa membuat aku mati kutu, bayaran kau akan aku transfer. Namun, sebelumnya kau bantu aku habisi bajingan gangster Blackbrain."

"Tidak masalah." jawab Marko dengan entengnya lalu mengambil pistol yang disembunyikan di sepatu boot terbuat dari kulit buaya. Tanpa membuang waktu dia keluar dari tempat rahasia itu. Lalu terjadi tembak menembak dan baku hantam.

"Siapakah dia bos? hanya sekali libas Blackbrain tinggal nama?" tanya anak buah Alex.

"Dia adalah Marko Rifaldo Salamo. Dokter mafia terkejam yang tak segan membunuh lawannya. Jika merasa terancam." jawab Alex

"Jangan lupa transfer bayaran ku. Jika lupa nyawa kau bakalan seperti mereka," ucap Marko penuh penekanan. Lalu Marko meninggalkan tempat Alex dengan mengendarai motor sport menuju apartemen miliknya.

Apartemen yang terlihat mewah berisikan macam-macam minuman beralkohol dengan sedikit penerangan. Marko, membuka baf yang menutupi wajahnya yang menawan, lalu membuka baju yang dikenakan. Dilihat ada darah yang memulai mengalir bersumber dari dadanya.

Sahabat Marko yang tadi sudah dihubungi kini datang menemuinya. "Kau pergi lagi ke dunia itu?” Alberto menatap jengah sahabatnya. “Apa kau, tidak sayang dengan nyawamu ini?" Omel Alberto

"Kau gak usah berisik. Aku, menyuruh kau kesini untuk mengobatiku." jawab Marko yang kini sedang menahan sakit.

Merasa geram dengan jawaban Marko, Alberto menekan peluru yang bersarang di dada Marko. "Apa kau gila! kau mau membunuhku?" bentak Marko, tapi tidak dihiraukan Alberto.

Beberapa menit berlalu. Kini peluru yang bersarang di dada Marko sudah dikeluarkan oleh Alberto. Lalu Alberto menjahit kembali dada yang tadi disobek nya.

"Beruntung, peluru itu tidak terlalu dalam menembus dada mu."

"Kalau dalam aku gak bakalan di sini, aku sudah ke rumah sakit. Aku juga gak mau jadi kelinci percobaan kau!" jawab Marko.

Alberto langsung memukul dada bekas jahitan tadi. "Sialan kau ...." teriak Marko.

"Aku berdoa agar kau, cepat ketemu jodoh. biar kau cepat insaf." celetuk Alberto yang kini mendapatkan tatapan tajam dari Marko.

***

Di dalam pesawat terbang seorang wanita berambut pendek kini sedang melakukan panggilan video dengan Ibunya. "Lihatlah Bu, kota ini begitu indah pemandangannya. Singa yang mengeluarkan air dan bangunan yang tinggi menjulang," ucapnya.

"Wah ... Benar indah Nak, Ibu gak salah memilih tempat itu, kamu belajar yang benar. Raih sarjana ekonomi di sana. Tapi, Ibu ingin lihat wajahmu!"

Kini wanita itu terlihat bingung karena pemandangan yang dilihatnya berasal dari wallpaper bergerak yang ada di laptopnya. Dengan kecerdasan yang maksimal, dia melihat ada kipas angin milik anak kecil yang duduk di samping bangku penumpang.

Didekatkan kipas itu lalu berpamitan pada sang Ibu. "Bu, sepertinya di sini akan hujan, ini angin sudah kencang sekali. Aku matiin dulu, nanti kita sambung lagi, bay Bu," ucapnya tanpa mendengar jawaban dari sang Ibu.

Anak yang tadi disampingnya merasa heran dengan tingkah wanita itu. Hingga mulutnya berbentuk O sambil memegang permen. Wanita itu langsung memasukkan permen kedalam mulut sang Anak.

"Bu, maafkan aku. Aku ingin mengejar cita-citaku menjadi pengacara, bukan sebagai sarjana ekonomi," ucapnya.

Para penumpang yang terhormat, selamat datang dipenerbangan dengan tujuan London. Mendengar ucapan itu dia langsung mematikan telepon genggam, dengan hati yang berdegup kencang dia memulai perjalanannya.

Wanita itu adalah Felysia Ines Lateshia. Dia mendapatkan tawaran magang sebagai pengacara di London. Karena Ibunya tidak menyetujui dia dikirim ke Singapura, untuk berkuliah lagi meraih gelar sarjana ekonomi.

Perjalanan dari Paris ke London memerlukan waktu 2 jam. Kini El sudah berada di bandara London. El menghubungi saudaranya yang tak lain bernama Alberto.

Tiga kali bunyi Tut ... Kini telepon sudah diangkat. "Kakak di mana? Aku sudah di bandara ini?"

"Maaf kakak tidak bisa menjemput. Jangan khawatir, kakak sudah menyuruh teman kakak untuk menjemputmu."

"Apa kakak bilang? kakak ingin mati di tanganku!"

"Cantik maaf. Pasien kakak lebih penting, jadi sudah ya terima nasibmu."

Telepon langsung dimatikan oleh Alberto. "Dasar punya kakak sepupu gila, bagaimana aku mengenali temannya itu. Aku bunuh kau nanti!"

Saat El terus bergumam, tiba-tiba ada seorang bapak setengah baya yang lewat di depannya kemudian pingsan. El yang tepat berhadapan langsung dengan bapak itu, panik dan langsung minta tolong.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status