5. Kesempurnaan

Sia terbangun karena nama lengkapnya dipanggil dengan lembut oleh Limora Catty.

“Bisakah kita bicara? Aku punya berita baik untukmu.” Limora tersenyum. Keramahan yang tampak memiliki maksud dan tujuan tertentu.

Sia mengangguk. Menarik tubuhnya untuk duduk bersandar di kepala ranjang.

“Kau pasti ingin hidup dengan kedua kakimu sendiri, bukan?”

“Ya, tentu saja.”

Limora tersenyum senang, karena dia menang. “Seseorang membutuhkan tenagamu untuk membantu mereka membersihkan rumah dan memasak. Apa kau bersedia?”

Sia tertegun sesaat, dia harus memikirkan semua kemungkinan terburuk yang akan terjadi di masa depan. Tapi di saat seperti ini apa dia membutuhkan sebuah pertimbangan? Tidak, dia tidak butuh harga diri yang terlalu tinggi untuk bisa menerima pekerjaan itu.

Sia tidak ingat siapa dia yang dulu. Di mana dia bekerja, tinggal, siapa teman-temannya, bahkan nama lengkapnya pun dia baru berhasil mengingat itu saat Limora Catty menanyakannya kemarin.

“Ya. Aku bersedia.” 

“Bagus.” Untuk kesekian kalinya, Limora merasa bahwa Sia bukan hanya si berlian berkilau, tapi juga sosok wanita cantik yang polos dan patuh.

Mengejutkan bagi Limora bahwa masih ada wanita secemerlang Sia di saat ini, di zaman hidup penuh kepalsuan dan sikut menyikut satu sama lain untuk bertahan hidup.

Bukan pertama kali Limora berinteraksi bahkan bernegosiasi dengan wanita yang tampak polos seperti Sia. Mereka hanya berusaha menarik simpati untuk bertahan hidup. Tapi Limora sesadar mungkin, tahu bahwa sorot kedua mata Sia tidak menyiratkan itu.

Sia murni, Limora yakin akan hal itu.

*****

Peraturan menyenangkan bagi Sia, bahwa si pemilik rumah menginginkan dia datang membersihkan rumahnya di jam delapan pagi, dan harus selesai di jam empat sore.

Sia tidak perlu menetap. Dipersilahkan pulang setelah semua pekerjaan selesai. Dan yang paling menyenangkan, tentu saja, Sia tidak perlu bertemu siapapun di rumah mewah nan luas itu karena si pemilik rumah tinggal seorang diri, dan hanya seorang pelayan pria yang selalu berada di sampingnya kemanapun si pemilik rumah pergi.

“Jangan ada kesalahan. Ingat, pemilik rumah ini seseorang yang sangat menginginkan kesempurnaan. Kau tidak perlu bekerja tergesa-gesa. Pastikan hasil pekerjaanmu tidak membuatku mendapatkan teguran,” kata Limora, sebelum Sia masuk ke rumah megah di depannya.

Sia mengangguk, “Terima kasih, Catty.”

“Oh, panggilan darimu manis sekali, sayang.” Limora mengerjap-ngerjapkan kedua matanya dengan senang. “Masuklah. Segera kerjakan tugasmu.” Limora mendorong pelan punggung Sia yang menatapi rumah mewah itu tanpa berkedip.

Sia masuk dengan perasaan ragu. Mencoba membiasakan diri dan memulai pekerjaan yang dia sendiri tidak ingat, apakah dia bisa atau tidak. Di rumah Josie, Sia tidak mengerjakan apapun, kecuali membersihkan kamar yang ditempatinya selama ini.

Satu jam, dua jam, dan akhirnya Sia menyelesaikan tugasnya sebelum jam empat sore. Setelah meregangkan tubuh, Sia keluar dari rumah itu dengan perasaan senang karena dia berhasil membersihkan rumah dan menyebabkan lantainya harum hingga menguar ke udara di seluruh rumah.

Tepat ketika Sia menaiki taksi yang akan mengantarkannya pulang, mobil si pemilik rumah memasuki gerbang.

Rigel Auberon, si pemilik rumah, keluar dari mobilnya bersama Yoan Bailey si pelayan setia yang siap sedia mengambil tas Rigel dan membawanya dengan hati-hati.

Hidung Rigel mengendus aroma segar apel hijau yang membuatnya tenang. Dia memandang lantai rumahnya yang bersih dan mengkilap, seolah tak ada cela yang tergambar di sana. Setiap sudut rumah dia periksa dan hasilnya, sempurna.

“Kerja bagus!” seru Rigel, mengejutkan Yoan yang mengikutinya dari belakang.

“Ya, Tuan?”

“Aku senang kau berhasil menemukan seorang pekerja yang sekompeten dirimu. Beri dia bonus setiap akhir bulan dan hari libur dua hari dalam satu bulan.” Rigel mengusap meja makan dengan kelima jari-jari tangannya, dan tidak menemukan sedikitpun debu di sana.

“Baik, Tuan.”

“Apa kau menyuruhnya membersihkan kamarku juga?”

“Tidak, Tuan. Seperti keinginan Anda sebelumnya.”

Rigel duduk di sofa dengan tenang, merasakan kesempurnaan dalam setiap sudut rumah besarnya. “Mulai besok, katakan padanya untuk membersihkan kamarku juga. Dan jangan ubah letak benda-benda walau itu benda yang kecil sekalipun di kamarku.”

“Baik, Tuan.”

Sementara Sia bersiap turun di pemukiman kumuh, Limora menghubunginya melalui ponsel butut yang diberikan Limora secara cuma-cuma tadi pagi, sebelum mereka tiba di gerbang rumah tempat Sia bekerja.

“Sia, sebaiknya kau tidak pulang ke Lauht. Aku sudah menyewa sebuah rumah kecil tak jauh dari tempatmu bekerja. Jadi tinggallah di sana. Aku akan datang setiap bulan untuk membayarkan gajimu,” jelas Limora dari seberang.

“Oh, begitukah?” Sia menutup kembali pintu taksi.

“Ya, kenapa? Apa ada masalah?” Limora di seberang, baru saja kedatangan seorang tamu. Dia bukan sedang berada di Lauht, tapi di sebuah bar tempatnya bekerja.

“Tidak, tidak ada.”

“Kau sudah mendapatkan bayaran di muka. Jadi aku sudah meninggalkan amplop berisi sejumlah uang yang akan lebih untukmu hidup, sampai bulan depan.” Limora melirik tamunya yang sudah duduk di hadapannya, memberi isyarat agar si tamu mau menunggu. “Kurasa itu saja untuk saat ini. Aku tutup dulu, sampai nanti, Sia.”

Panggilan berakhir dan sebuah pesan masuk berisi alamat rumah baru Sia, yang jaraknya memang bisa ditempuh dengan berjalan kaki ke tempatnya bekerja.

Sedangkan Limora tersenyum senang, ketika tamunya memesan minuman termahal yang ada di bar itu. Semua seakan berjalan sangat mulus seperti harapan besarnya.

“Berikan nomor si pelayan itu, Limora Catty.” Si tamu mendorong ponsel miliknya ke hadapan Limora.

“Ada apa? Tuanmu ingin memarahinya?” Meski bertanya seperti itu, tapi Limora tetap mengetik dan menyimpan nomor kontak Sia di dalam ponsel si tamu.

“Tidak. Justru aku mendengar Tuan Rigel memuji pekerjaan Anak buahmu. Jadi kurasa, itu pertanda baik.”

“Lalu untuk apa kau perlu nomor kontaknya?” Limora menyerahkan ponsel itu pada pemiliknya.

“Untuk memberi perintah secara langsung. Kurasa mulai sekarang, aku yang akan berkomunikasi langsung dengannya.” Si tamu merogoh sakunya, meletakkan beberapa lembar ratusan ribu, lalu beranjak dari kursinya.

“Aku harap, kau juga akan menghubungiku sesekali,” tawa Limora, dia mendadak tertarik pada pelayan setia Rigel Auberon, Yoan Bailey. Meski Limora sadar, dia lebih tua hampir lima belas tahun dari pria muda berkulit putih pucat itu.

Si tamu, Yoan Bailey berhenti bergerak. Menatap Limora dalam pandangan penuh kehati-hatian. “Aku rasa, kau paham, bahwa aku terlalu muda untukmu.”

“Aku bercanda.” Limora mengibaskan tangannya, beruntung kondisi bar sedang dalam keadaan sepi pengunjung, sehingga rasa malunya tidak terlihat jelas. “Jangan terlalu serius dalam menjalani hidupmu, jika kau tidak ingin cepat mati.”

Setelah mendengus dan memilih tidak menjawab, Yoan berbalik dan benar-benar pergi kali ini.

Di luar, sebelum masuk ke mobilnya, dia menyempatkan diri untuk menghubungi gadis bernama Galexia Pandora. Yoan penasaran pada Sia, gadis yang bisa membuat Tuannya merasakan kesempurnaan seperti yang diinginkan seorang Rigel Auberon.

Bersambung.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status