7.

“Bisa jadi, kan aslinya terbuat dari jantung Kakek Karlos dan bisa saja pandora heart pergi menyusul kakek Karlos ke alam kematian. Sewaktu Kakek Karlos masih hidup. Kita hanya di perlihatkan duplikat yang mirip dengan aslinya,” jelas Raven yang mencoba mengingat-ingat kemasa lalu. di mana Zeus di perintahkan oleh Kakeknya untuk memperlihatkan Pandora heart sebesar jantung manusia kepada dirinya dan Romeo. Kemudian kakek Karlos mengatakan kepada mereka berdua. Bahwa pandora Heart tidak berguna lagi di masa kini dan keturunan mendatang. Karena iblis dalam pandora Heart sudah menghilang, saat tujuan pandora heart terselesaikan dan semua akan menjadi legenda dan mitos di masa depan maupun seterusnya.

“Lalu untuk apa, musuh mengincar pandora heart lagi? Seharusnya mereka sudah tahu, kalau Pandora heart yang asli sudah menghilang lama?” tanya Romeo yang masih belum mengerti bagian ini, sehingga ia dan kembarannya selalu menjadi incaran para musuh. Karena di anggap sebagai pewaris Pandora heart di masa kini.

“Bisa jadi mereka tidak percaya dengan apa yang terjadi. tepatnya menganggap keluarga Van Diora hanya seorang penipu dari masa ke masa untuk melindungi pandora Heart asli,” jelas Raven yang sudah menguapyang menandakan sudah mengantuk berat. sampai mengusap kedua matanya dengan jemari.

Tatapan mata Romeo melihat ke arah Raven sejak tadi. ia tahu Raven sudah lelah dan capek.

“Ayo kita pergi tidur, kedepan kita beda kamar untuk berapa minggu. Sampai tujuan kita berhasil,” saran Romeo yang di tangkapi dengan wajah cemberut oleh Raven. Ia tidak terima harus berpisah kamar dengan kembarannya dari janin sampai sekarang yang selalu bersama-sama karena seorang wanita yang akan hadir dalam kehidupan mereka tak lama lagi. Wanita yang katanya masih polos dan perawan. Dengan status istri Romeo Van Diora.

“Ck ck ck, aku akan melihat wanita itu bisa sampai mana bertahan dengan Romeo!” batin jahat Raven dengan taktik busuknya untuk mengusir setiap wanita yang tidak baik, yang hadir dalam kehidupan Romeo. tepatnya, Romeo hanya milik dirinya seorang dan tidak ada boleh yang memilikinya.

***

Siang hari yang cerah, Sebuah taxi berhenti di depan gedung perkantoran yang menjulang tinggi dengan segala kemewahan terlihat dari desain gedung perkantoran tersebut. Ruster keluar dari dalam taxi online, menengadahkan kepalanya menatap ketinggian gedung itu sampai terkagum-kagum melihat tulisan nama perusaha terpapang dengan ukuran besar.

"Van Diora, ini kah nama perusahan tempat Romeo bekerja?" gumam Ruster dengan wajah polosnya. yang mengira Romeo adalah seorang pekerja di perusahan sebesar ini.

 Ruster melangkah bingung memasuki area perkantoran, pandangannya memperhatikan sekeliling ruangan yang karyawannya terlihat super sibuk sana sini. rasa ingin bertanya kepada mereka, menjadi tidak bisa. karena para karyawan berjalan dengan langkah super cepat.

Ruster berdiri tidak bergeming, bingung harus melangkah ke arah mana. lalu bagaimana ia bisa menemui Romeo.

"Nona anda sedang mencari siapa?" tanya seorang wanita dengan stelan pakaian kantornya menghampiri Ruster yang kebinggungan sejak tadi. yang di anggap sungguh mencurigakan.

"Saya ingin bertemu dengan tuan Romeo,” jawab Ruster jujur dengan maksud kedatangannya saat ini dan memperlihatkan kartu nama yang di tangannya kepada karywan yang menyapanya barusan itu.

Wanita itu mengangkat alisnya ke atas memperhatikan penampilan Ruster yang sangat sederhana tanpa make up di wajah. Dengan memperlihatkan sudut bibir yang mencibir penampilan wanita di depannya.

“Maksudmu CEO Romeo, nama anda siapa?" Tanya wanita itu dengan mata melihat kartu nama khusus yang di tangan Ruster.

"Ruster Heart,” balas Ruster dengan senyuman yang di anggap menjijikkan oleh wanita berpakaian stelan kantoran minim.

"Ikut dengan saya, CEO Romeo sudah menunggu kedatangan anda!" kata wanita itu melangkah yang di iringi Ruster di belakangnya.

"CEO, jadi Romeo seorang CEO di perusahan ini?" batin Ruster yang super kaget.

Mereka berdua masuk ke dalam lift menuju lantai atas. Kemudian, Pintu lift terbuka dengan angun wanita itu melangkah duluan menunjukan ruangan Romeo berada. yang di ikutin oleh Ruster dari arah belakang dengan jantung berdebar-debar. berharap kedatangannya tidak menganggu pekerjaan Romeo atau mempermalukannya. mengingat pakaian yang ia pakai sangat sederhana sekali.

Tok tok tok

Wanita itu mengetuk pintu ruangan CEO Romeo.

“Masuk!” suara terdengar dari dalam ruangan.

"CEO Romeo berada di dalam, anda silahkan masuk saja." Kata wanita itu berlalu pergi dengan memperlihatkan wajah tidak senangnya kepada Ruster.

Dengan canggung Ruster membuka ganggang pintu, mengintip di celahnya memperhatikan sekeliling ruangan yang di desain dengan corak putih dan abu-abu pudar di setiap ukiran di dinding.

"Romeo!" sapa Ruster pada pria yang berdiri yang membelakanginya. pria itu terlihat sibuk mencari sesuatu di rak bukunya. tepatnya ia menyembunyikan berapa alat pemuas nafsu yang di kirim oleh Jack untuk mengerjainnya.

Romeo menoleh pada Ruster. lalu melangkah menghampiri Ruster dengan senyuman lembut .

"Sayang, akhirnya kau datang! aku menunggumu sejak tadi," ucap = Romeo membimbing Ruster duduk di sofa tamu dengan sikap seperti kekasih benaran.

"Kau mau minum sesuatu?" tawar Romeo ramah.

"Tidak perlu Romeo," tolak  Ruster halus.

Romeo tersenyum, menatap wajah Ruster yang duduk di sampingnya.  perlahan tangan Romeo merapikan rambut Ruster. menyampingkannya ke belakang telinga wanita itu. untuk melihat wajah Ruster secara jelas.

Ini pertama kalinya, Romeo melihat wajah wanita tidak memakai make up sama sekali dan kulit wajahnya terlihat halus. padahal wanita lain, memakai make up sampai menor dan seperti semen yang di tumpuk-tumpuk dan saat senyum. terlihat retak di sudut bibir atau di bawah garis mata.

"Kau gugup?" tanya Romeo.

"Sedikit, apakah kau berkerja di sini?" balas Ruster dengan pertanyaan baliknya.

"Ya, aku dan kakakku adalah CEO pemilik perusahaan ini!" balas Romeo yang masih dengan senyuman lembutnya yang mematikan dan secara terang-terangan membocorkan status kedudukan di dalam perusahan Van Diora.

Jantung Ruster semakin berdetak kencang, setiap kali melihat senyuman Romeo yang melelehkan hatinya. Bahkan merasakan getaran aneh di dalam tubuhnya dengan bagian bawah mendenyut hebat.

"Mari ku kenalkan dengan kakakku. aku yakin dia pasti senang melihatmu, ucap Romeo yang berdiri dengan menarik tangan Ruster dengan lembut.

Ruster membalas dengan senyuman manis kepada Romeo yang mengajaknya untuk menemui kakak Romeo di ruangan lain.

keduanya melangkah keluar dari ruangan, berjalan di koridor tidak lama berhenti di depan sebuah pintu yang langsung di buka oleh Romeo.

"Ini ruangan kakakku, dia suka ketenangan. Jadi kantornya agak jauh dariku," ucap Romeo yang mengajak Ruster masuk ke dalam.

Ruster menatap sekeliling ruangan, kali ini dengan desain corak serba putih yang terkesan dingin. Dari tirai hingga berapa peralatan berwarna putih semua. Kecuali meja kerja dan sofa yang berwarna cream pudar.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status