Chapter 5: Manusia (4)

Manusia berkulit putih kemerahan itu berjalan menggunakan kedua kaki, terlihat tanpa busana. Kakinya penuh luka lecet akibat ranting beserta kerikil yang tersebar di tanah. Sementara kedua lengan menempel lekat pada badan.

Saat itu, betisnya mulai berguncang hebat, ia tersungkur karena tidak sanggup menahan berat tubuh. Napas beradu cepat sejalan dengan dada yang naik turun. Garis rahang yang tegas menandakan bahwa ia seorang laki-laki. Rambutnya yang seputih susu kini lusuh dan lepek penuh keringat, sangat mirip dengan uban.

Monyet-monyet ekor panjang mulai turun dari pohon-pohon besar untuk mengamati. Mereka berkomunikasi dengan sesama, namun tidak berani untuk mendekati si laki-laki. Saat matanya menjeling, para monyet berlarian ke segala arah lalu memanjat pohon-pohon di sekitar. Laki-laki itu memperhatikan cara berjalan dan kabur kumpulan monyet tadi.

Laki-laki itu mulai menjejakkan kaki dengan tangan sebagai penopang tubuh, berusaha meniru gaya berdiri monyet. Akan tetapi usahanya gagal. Yang ada, dia terjerembab dengan wajah mencium tanah lagi. Rasa sakit bukan kepalang pada hidung, membuat matanya terpejam erat.

Walhasil, dia berjalan layaknya burung lagi, walaupun sering jatuh karena sulit menyeimbangkan badan. Hingga dirinya sampai di sebuah gua. Dari kejauhan terdapat papan nama bertuliskan ‘Gua Parat’. Ia segera masuk ke gua dan beristirahat di sana.

Laki-laki itu duduk dekat batu stalagmit dengan lengan yang masih merapat ke badan. Sejenak, ia terpejam dalam diam sebelum akhirnya mengusap butiran tanah yang menempel pada lengan dengan bibir dan pipi. Netranya lalu memandangi badan sendiri. Semua bagian tubuh terlihat asing baginya. Dari kaki hingga dada, ia tidak pernah membayangkan atau memimpikan bisa seperti ini. Penglihatan pun berubah dan menurun kualitas visualnya dalam menangkap cahaya yang masuk.

Mengapa aku jadi seperti ini? Semua buluku hilang dan tubuh ini terasa berat, pikirnya lalu menatap langit gua penuh kelelawar. Meski berisik, hal itu tidak begitu mengganggu. Ingatannya justru melayang pada sebuah kenangan dengan sang kekasih. Syukurlah ia tidak lupa, walau pun memori bersama orang tua telah lenyap.

Di luar gua tiba-tiba terdengar keributan. Kelelawar yang bertengger di langit-langit tampak beterbangan keluar. Sedangkan dirinya meloncat seraya mengepakkan tangan berniat terbang. Namun, bukannya terbang dirinya malah terjengkang kebelakang. Ia berputar-putar untuk mengekspresikan rasa sakit di kepala. Insting unggasnya mengatakan, ada banyak sekali manusia di luar.

Aku, aku harus sembunyi! pikirnya. Segera berjalan dengan kaki berjinjit dan terjatuh beberapa kali. Kedua mata tidak dapat melihat apapun, sangat gelap dan pengap. Beruntung, para manusia bergerak lambat, sehingga dirinya memiliki waktu untuk bersembunyi di balik bebatuan besar yang ada di dalam gua.

Laki-laki itu berjongkok saat bersembunyi. Suara para manusia sangat menakutkan baginya sekarang. Bahkan ketika seorang remaja menemukannya, ia kian panik dan meloncat di hadapan manusia itu. Dirinya berlari ke dalam untuk bersembunyi di balik bebatuan, tidak ingin melihat rupa manusia.

***

Beberapa jam setelah kekacauan terjadi berkat teriakan Zaara, orang-orang penting dari kepolisian dan puskesmas setempat berdatangan. Mereka mengangkut si pejantan ke dalam mobil ambulans—yang mereka kira sebagai orang cacat mental.

Sementara Zaara, segera dipapah oleh Yulia keluar Cagar Alam untuk menghindari keramaian setelah sadar dari pinsan. Pak Amar terlihat berbincang dengan pengurus Cagar Alam, sedangkan semua murid kelas 11-F diarahkan ke dalam bus, biarpun kegiatan wisata belum selesai.

Yulia membawa sebotol Nizone kemudian memberikannya pada Zaara yang sedang duduk di tangga bus.

“Makasih.” Zaara meraih botol tersebut, menghela sejenak. Ia kemudian membuka botol dengan jemari yang masih gemetar.

Yulia berjongkok di depan, ia memperhatikan bahasa tubuh Zaara. “Lo, liat apa tadi?”

Ara mengatupkan bibir. Genggaman pada botol bertambah kuat. “Cowok. Seumuran kita,” lirihnya.

Alis Yulia bertaut. Lengannya memeluk lutut, mulai penasaran. “Serius?”

“Ya, gue ngeliat dia putih banget, kayak orang sakit. Rambutnya putih tapi kotor. Dia ....” Ara terkenang kejadian beberapa jam lalu, laki-laki yang ia temukan bertingkah layaknya unggas. Mengepakkan lengan seperti sayap dan suaranya mirip kicauan burung merpati.

“Dia apa?”

Pertanyaan Yulia membuat Zaara menatapnya. Di depan, Pak Amar berjalan mendekat. Zaara lantas berdiri diikuti Yulia. “Pak Amar!” seru mereka berdua.

Pak Amar memerhatikan Zaara yang memegang botol biru dengan kedua tangan. Senyumnya tersungging penuh kelegaan. “Zaara, kamu gak apa-apa?”

Zaara mengangguk lalu menjawab, “Iya, saya baik-baik aja, Pak.”

“Bagus, kamu gak perlu bingung. Biar orang dewasa yang mengurus semuanya.”

“I-iya, Pak.” Zaara memandangi sepatu hitamnya. Jujur saja, dirinya ingin bertanya soal laki-laki yang ia lihat itu. Tetapi, kalimat dari Pak Amar seakan-akan menegaskan bahwa tidak boleh ada pertanyaan atau apapun tentang peristiwa ini. Alhasil, Zaara hanya diam.

“Oke, sekarang kamu dan Yulia masuk dulu. Bapak masih ada urusan.”

“Um, anu, Pak. Jadi liburan kita gimana? Apa langsung pulang aja?” tanya Yulia.

“Tidak, kegiatan wisata akan dilanjutkan. Tapi, tidak di sini. Mending, kalian masuk bus aja sekarang.”

“Siap, Pak.”

Zaara dan Yulia memasuki bus, sementara Pak Amar berjalan menjauhi bus. Punggungnya hilang tertutup oleh kerumunan orang dekat ambulans. Mereka ada yang memegang ponsel, kamera, bahkan peralatan syuting dengan seorang wanita yang memegang mic.

Teman sekelas Zaara menonton dari balik jendela. Sementara, Zaara duduk di pinggir seperti biasa. Dirinya mulai memasang earphone dan memeluk tas gendongnya.

“Kayaknya cowok liar itu bakal viral deh. Banyak banget orang dewasa yang kerja di stasiun TV ikut ngeliput. Liat tuh, Ara,” ucap Yulia, badannya sedikit terangkat, mencoba mengintip dari kursi sambil menepuk berkali-kali punggung tangan Zaara.

Zaara meringkuk, bersandar pada kursi. Tidak peduli dengan kata-kata Yulia. “Hm, terserah. Gak ada urusannya sama gue.”

Seketika Yulia mengerucutkan bibir kesal. Ia memutuskan untuk bangkit dan ikut mengintip bersama teman lainnya.

***

Seorang pria dengan rambut penuh uban, terlihat nyalakan televisi layar datar kemudian menyimpan kembali remote di meja kaca. Ia menonton berita yang sedang hangat-hangatnya. Pada sisi layar terdapat judul berita terbaru yaitu ‘Manusia Tanpa Busana Ditemukan di Cagar Alam Pangandaran’. Keningnya yang sudah dipenuhi kerutan semakin jelas terlihat ketika mengernyit. Ia mengusap dagu, fokus pada layar TV berbodi tipis.

Tak lama, dari samping kanan, seorang wanita menghampirinya. Tampak mengenakan pakaian berwarna putih. Pada pelipis sebelah kiri,nya terdapat sebuah lampu LED berwarna biru berbentuk lingkaran. Wanita itu menyimpan secangkir kopi di meja lalu berdiri tegap kembali dengan nampan dipeluk. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun.

Pria itu menyeduh kopi panas perlahan lalu mematikan televisi. Dirinya bangkit seraya menyambar jas hitam miliknya pada sofa berwarna krem. “Tak ada waktu untuk berleha-leha. Ayo bereskan sekarang,” titahnya pada diri sendiri.

Sorot matanya berubah serius, ia berjalan keluar dari apartemen dan turun menggunakan lift. Pria berjambang tipis itu pergi dengan mobil Mercedes berwarna hitam mengkilap.

Bersambung...

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status