Dipaksa Nikah
Dipaksa Nikah
Author: Abarakwan
1. Benjamin si Duda

"Ben... Benjamin!" Panggil seorang perempuan paruh baya di bawah sebuah tangga besar di rumah megah yang terletak tak jauh dari Bandar Seri Begawan.

"Iya Ibu..." Jawabku. Aku terburu-buru membenarkan jasku yang kupakai asal tadi saat keluar dari kamar. Aku berlari menuruni tangga sudah lengkap dengan pakaian kerja dan rambut tersisir rapih.

"Kamu jadi hari ini ....kan? Ada penerbangan ke Jakarta?" Tanya ibunya. Nyonya Fatimah istri dari mendiang Bapak Yusuf.

"Iya. Nanti siang aku ada penerbangan ke Jakarta, sekarang aku mau ke kantor dulu."

"Oh ya. Kirim salam ya...dengan keluarga Bapak Reza. Ibu sudah lama tidak melihat anaknya mungkin ia sudah besar sekarang." Ucap sang Ibu membenarkan letak jas yang dipakai olehku. 

"Iya Bu!" Jawabku melihat kerutan di dahi ibu. Aku adalah anak pertama, namun satu-satunya anak ibu yang masih mau tinggal di rumah ini. Adikkku, Salim memilih tinggal di apartemen tak jauh dari perusahaan milik ayah. Kami berdua bekerja sama menjalankan bisnis milik ayah, walaupun aku lebih tertarik untuk menekuni hanya di bidang seni. Aku lebih memfokuskan diri di beberapa usaha lainnya di luar negri, sementara Salim diberi kepercayaan penuh untuk menjadi pimpinan perusahaan ayah di sini. Aku hanya diminta sesekali datang untuk membantu atau sekedar untuk menghadiri rapat direksi.

"Iya Bu. Aku berangkat dulu."

"Kau jangan lupa... untuk bertemu dengan Pak Reza yaa! Jangan lupa berikan titipan ibu."

"Bungkusan di kamarku itu, maksudnya Ibu?"

"Iya tentu saja."

"Iya Bu. Aku berangkat dulu!" Aku mengecup punggung tangan ibuku. Satu-satunya orang tua yang kupunya saat ini.

Sebenarnya aku agak berat untuk meninggalkan ibu di sini sendirian, mengingat kebanyakan pekerjaanku dan waktuku, kuhabiskan di Seoul. Aku menjadi seorang produser musik dari salah satu agensi ternama di sana, untuk beberapa bisnis lainnya... aku hanya memantaunya melalui video conference, walaupun beberapa kali... aku harus berpergian mengunjungi beberapa perusahaan itu di waktu senggangku.

Apabila ada jadwalku untuk pergi ke Jakarta, ibu selalu mengingatkanku untuk mampir di salah satu rumah kerabatnya di Jakarta, Bapak Reza. Bahkan aku sudah hafal namanya, karena setiap aku akan terbang ke Jakarta... pasti ibu menyebut nama itu, bapak Reza mempunyai istri yang dulunya adalah sahabat Ibuku dan istrinya sudah lama meninggal. Ibu merasa kasihan dan simpati kepada anaknya. Anak itu sudah harus ditinggal oleh ibunya di usia sangat muda. Oleh karena itu setiap, aku pergi ke Jakarta, ibu selalu menitipkan beberapa barang untuk diberikan kepada Pak Reza untuk selanjutnya diberikan kepada anak perempuannya itu.

Setelah ini, aku harus masuk ke kantor dan mengikuti rapat sampai jam 8. Setelahnya aku harus langsung terbang ke Jakarta. Aku memiliki beberapa urusan yang harus diselesaikan di Jakarta, dan semoga dalam satu hari, urusan itu bisa selesai. Aku akan bertemu dengan salah satu pengacaraku, karena aku sedang mengurus untuk membeli sebidang tanah untuk dijadikan properti baruku. Aku sendiri sedang merintis bisnis properti di beberapa negara, tapi aku sendiri tidak akan memegangnya... aku sudah terlalu sibuk untuk bersenang-senang di dunia keartisan. 

Aku tertawa dalam hati, kalau saja ayahku sekarang masih hidup, ia pasti sudah menjewer telingaku sampai sakit, karena bisa-bisanya aku bekerja dengan para artis yang berpakaian seksi itu, sedangkan dari kecil ayah selalu berpesan... untuk tidak dekat-dekat dengan perempuan semacam itu  bisa menjerumuskan. Tapi aku sekarang sudah besar, tidak mungkin aku terpengaruh dengan hal-hal seperti itu. Aku hanya menikmati membuat musik dan melihatnya ditampilkan dengan sempurna oleh artis-artis berbakat. Aku tidak mendapatkan gaji yang besar dari pekerjaan yang satu itu. Tapi aku sangat puas dan menikmati hasilnya. Sebuah karya musik yang indah dan dibawakan dengan sempurna.

Aku tiba di ruangan Salim. Ia sudah siap untuk rapat, aku sudah bilang padanya... bahwa aku hanya bisa mengikuti rapat sampai dengan jam 8 dan akhirnya ia hanya mengangguk pasrah dan setuju.

Kami berjalan bersama menuju ruangan rapat, di perjalanan... adikku memperhatikan penampilanku dari atas ke bawah.

"Kudengar, setelah ini... katanya kau mau ke Jakarta." Tanya adikku yang lebih muda 5 tahun dariku.

"Iya." Jawabku singkat sekali. Salim memiliki perawakan yang lebih mirip dengan ibuku. Ia memiliki wajah yang lebih lembut dengan garis-garis wajah maskulin. Sedangkan aku, memiliki paras wajah kasar  yang diwarisi dari perawakan Ayah, wajahku cenderung kotak dengan rahang yang sangat tajam. Tubuhku berisi, walaupun aku sudah berusaha setengah mati untuk mengurangi berat badan ke gym... justru tubuhku tidak bisa kurus sepenuhnya seperti Salim, tubuhku berisi dan berotot... namun justru dengan penampilan seperti ini para perempuan di Seoul sana, semakin tergila-gila kepadaku. Mungkin perempuan-perempuan itu sudah bosan dengan lelaki-lelaki kurus yang hobi berjoget dan berwajah lembut mulus. Mungkin mereka sedang mencari sensasi baru, mencari pria berotot dan besar dengan perawakan kasar sepertiku. Ha! Aku hanya bisa tersenyum miris.

Rapat direksi sudah selesai, aku sedang menuju parkiran dan pulang ke rumah untuk berganti pakaian. Aku tadi sudah berpesan kepada Salim agar ia sesekali menengok ibu di rumah yang hanya dijawab anggukan lemas darinya. Ia orang yang sangat bebas, Salim sangat menikmati masa sendirinya, berbeda denganku, aku tersiksa dengan kesendirianku.

Aku seorang duda, dan beberapa kali gagal mau menikah. Aku pernah menikah dengan sorang perempuan asal Malaysia. Bella namanya, kami bercerai karena aku memergoki dirinya selingkuh, padahal kami sudah lima tahun menikah… dan kami telah memiliki anak berusia satu tahun, Alissa. Aku sangat mencintai Bella dan Alissa, sampai aku memergokinya dengan pria yang ternyata selama ini selalu bersamanya disaat aku sedang keluar rumah, bahkan saat aku memeriksa Alissa dan kecocokan DNA, terbukti malaikat kecil itu bukanlah anakku. Aku hancur, kalau diibaratkan sebuah rumah… aku sudah hancur berkeping-keping akibat sebuah bom yang meledakkan seisi rumah beserta fondasinya.

Aku bercerai dari Bella beberapa tahun yang lalu. Sejak saat itu aku mulai tinggal dengan ibu, mungkin ibu paham dengan situasiku, ia berusaha menjodohkanku dengan Aisha… anak dari paman jauhku.. kami masih sepupu jauh. Aisha gadis cantik dan sangat alim, ia berprofesi sebagai ustadzah di sebuah pondok pesantren. Aku menyukainya… ralat, aku mencintainya.. sangat dalam, karena memang beberapa kali kami pernah bertemu untuk pertemuan keluarga. Aku menyukai perangainya yang kalem dan suka dengan anak kecil. Saat itu aku sangat sibuk dengan bisnis propertiku di Bangkok, dan walaupun ibu terus memintaku untuk melamar Aisha… aku belum sempat melakoninya, sampai satu bulan setelahnya aku dapat kabar Aisha akan menikah dengan calon dari Ayahnya. Ah… bukan jodoh. Apa aku sakit hati? Tentu. Apa aku patah semangat? Ya, pasti. Tapi semua itu tak kutunjukkan kepada ibu, biarlah kulampiaskan semua sakit dengan cara bekerja.

Aku menyelesaikan projek Bangkok, dan sejak saat itu aku memilih menikmati hidup dan menjalani passionku terhadap musik. Aku kenal beberapa idol asuhan sebuah manajemen asal Korea Selatan, ia memperkenalkanku dengan salah satu bosnya, kami cocok… dan ia memintaku menjadi produser atas artis asuhannya, jadilah sejak saat itu aku merangkap bekerja sebagai produser musik. Tugasku adalah menciptakan lagu yang hits dan laku di pasar.

Aku memakirkan mobil di depan rumah. Aku akan berganti baju dan membawa titipan ibu yang akan kusampaikan kepada Pak Reza di Jakarta. Aku berganti pakaian lebih santai, sebuah jeans hitam dan kemeja berwarna hitam. Aku membawa sebuah tas ransel dan bingkisan titipan Ibu, aku pamit dan mengecup punggung tangannya. Aku pamit dan baru akan pulang bulan depan. Aku berencana langsung terbang ke Seoul setelah urusan Jakarta selesai.

Aku sedang di bandara Soekarno Hatta, Jakarta, menunggu jemputanku. Pengacaraku berjanji akan menjemputku di bandara dan langsung ke lokasi. Aku membuka notifikasi ponselku, aku baru mengganti sim untuk digunakan di Jakarta. Aku memang menyimpan beberapa Sim card, mengingat aku sering berpergian antar negara. Ada sebuah pesan lewat salah satu messenger yang terinstal di ponselku. Dari Bella. Walau dengan sangat malas, aku tetap membukanya karena penasaran, mau apa lagi perempuan itu.

“Alissa sakit, ia meracau memanggil namamu, Ben.” Isi pesannya.

Ah… Bella selalu menggunakan Alissa sebagai senjata, sudah kesekian kalinya ia berbuat hal yang sama… walau dengan alasan berbeda. Kali ini Alissa sakit, kemarin Alissa minta bertemu karena kangen, lalu Alissa akan tampil dalam kejuaraan balet di sekolahnya… Alissa memang sudah kuanggap anakku sendiri, malaikat kecil yang tak berdosa… semua kerumitan ini diakibatkan oleh ibunya, Bella.

“Aku di Jakarta, dan masih harus terbang ke Seoul. Bawa Alissa ke dokter.” Balasku sedikit mencebik.

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mach fudli
wow keren keren keren
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status