MY BOY'S REVENGE
MY BOY'S REVENGE
Author: Reinee
KELUARGA BARU SANG AYAH

"Itu papa kan?" tanya Rio sedikit berteriak ke Raka yang sedang duduk dihadapannya. 

 

"Mana?" Raka yang sedang menikmati makan siangnya mendongak dan menoleh ke arah yang ditunjuk sang adik. 

 

"Tuh!" tunjuk Rio lagi ke arah seorang lelaki berpenampilan kantoran yang sedang berjalan menggandeng wanita cantik dan seorang anak perempuan berusia sekitar 6 tahunan. Tak banyak bicara, Raka segera bangkit dari bangku foodcourt tempatnya makan bersama adiknya siang itu. 

 

"Kak, mau kemana?" Rio, remaja 15 tahun yang masih mengenakan seragam sekolah menengah pertamanya itu menyusul kakaknya dengan wajah panik. Mendadak dia menyesal kenapa harus memberitahu kakaknya tentang keberadaan ayah mereka di mall tempatnya hang out bersama sang kakak siang itu.

 

"Pah!" teriak Raka sambil setengah berlari mengejar langkah lelaki yang beberapa saat yang lalu ditunjuk oleh sang adik.

 

Romi, lelaki berusia 40 tahun yang merasa sangat kenal dengan suara yang baru saja memanggil, menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Dia sangat kaget saat melihat dua anak lelakinya sedang berjalan cepat menghampirinya yang sedang bersama anak dan istri mudanya.

 

"Ngapain Papa disini?" tanya Raka, anak sulungnya yang saat ini berusia 17 tahun itu sedikit membentak. Wajah remaja dengan seragam Sekolah Menengah Atas itu nampak merah padam menatap ke arahnya. Sementara Rio, sang adik, yang berhasil menyusulnya, segera memegang lengan kakaknya dengan wajah cemas. 

 

"Kak, sudahlah, ayo pulang!" ajaknya.

 

"Kalian berdua ngapain di sini?" tanya Romi mencoba bersikap wajar. Namun sikap tenangnya itu justru semakin memicu kemarahan anak sulungnya. 

 

"Harusnya kita yang tanya, ngapain Papa disini? Dan ini apa?" tunjuk remaja berwajah tampan dengan tinggi 170 cm itu ke arah wanita cantik dan anak perempuan yang berdiri di samping ayahnya. 

 

Si wanita yang usianya terlihat jauh lebih muda dari ibunda Raka itu nampak sedikit panik, mempererat pegangan tangannya pada sang suami. Sementara anak perempuannya refleks merapatkan tubuhnya ke ibunya, nampak sangat ketakutan melihat Raka. 

 

"Sudahlah Ka, jangan bikin ribut disini. Ini tempat umum. Nanti Papa jelaskan di rumah," kata lelaki itu bersikap sok bijak. 

 

"Gue nggak perlu penjelasan lo, brengs*k!" Tak disangka, Raka tiba-tiba mendaratkan pukulan telak ke wajah sang ayah hingga lelaki itu terhuyung hampir jatuh. Gerakan remaja itu yang begitu cepat hingga tak sempat membuat ayahnya yang masih terlihat gagah itu menghindar. 

 

Suasana menjadi gaduh. Wanita bernama Mayang, istri muda sang ayah berteriak histeris dan bergegas menghampiri suaminya untuk memeganginya. Sementara anak perempuannya yang cantik dengan rambut panjang sepinggang itu langsung menangis ketakutan berpegangan pada tali tas selempang ibunya. Kemudian orang-orang yang kebetulan berada di sekitar tempat itu pun segera berkerumum untuk melihat apa yang terjadi. 

 

Romi memegangi hidungnya yang berdarah akibat pukulan sang anak saat beberapa petugas keamanan datang. Sementara Raka yang terlihat sangat puas telah melampiaskan amarahnya pada sang ayah hanya tersenyum sinis dan bahkan tidak melakukan perlawanan saat petugas keamanan membawanya ke kantor. Sama sekali tidak ada sedikitpun penyesalan di wajah remaja berwajah tampan itu. 

 

Sambil berjalan digandeng dua petugas keamanan mall, Raka sesekali melihat ke ayahnya dengan senyum penuh kemenangan. Akhirnya dia bisa juga mengeluarkan beban yang selama beberapa bulan ini dipendamnya. Rio, sang adik, mengikuti rombongan petugas yang membawa kakaknya tanpa bicara sedikitpun. Anak remaja itu sudah bisa membayangkan bagaimana kemarahan ayahmya saat nanti mereka sampai di rumah. 

.

.

.

Dan dugaan Rio ternyata tidak salah. Saat dia sampai di rumah sore itu dengan membonceng motor sport kakaknya, ayahnya sudah duduk berhadapan dengan sang ibu di ruang tengah. Lelaki itu nampak sesekali masih menutupi hidungnya dengan sapu tangan, sementara ibunda mereka hanya tertunduk lesu di hadapannya. 

 

Melihat dua anak lelakinya datang, Rani segera bangkit. 

 

"Kalian dari mana saja? Kenapa baru pulang?" tanyanya dengan nada cemas. Sang ayah memandangi ketiganya bergantian dengan raut wajah raut suka. 

 

"Duduk kalian semua!" bentak lelaki itu. Rani dan anak bungsunya segera menuju ke sofa untuk duduk, sementara Raka tak bergeming di tempatnya berdiri semula. 

 

"Kamu tidak mau duduk, anak bandel?!" Romi mulai menampakkan emosi dengan sikap anak sulungnya. 

 

"Kalau mau ngomong, ngomong aja! Nggak perlu nyuruh-nyuruh duduk," ketus remaja itu sambil menatap tajam ayahnya, membuat mata sang ibu membelalak. 

 

"Raka, Sayang, jangan bicara seperti itu sama papa, Nak!" ujarnya. 

 

"Raka nggak punya papa seperti itu!" tunjuknya ke lelaki yang kemudian refleks berdiri setelah mendengar kalimat anaknya yang dirasanya sangat kasar.

 

"Kamu lihat, Ran? Seperti itu kamu didik anak kamu? Lihatlah hasil dari didikanmu itu!" Romi balik menunjuk ke anak sulungnya, bermaksud  menunjukkan pada istrinya bahwa anak lelaki yang dibanggakannya itu telah bertingkah sangat tidak sopan pada ayahnya. Dengan wajah pucat Rani pun bangkit menghampiri sang anak. 

 

"Ka, kamu jangan mempersulit mama. Duduklah, Nak, dengarkan papa kamu!" Wanita itu memegang lengan anaknya dengan nada memohon. 

 

"Enggak! Raka nggak akan dengar apapun omong kosongnya itu, Mah," sungut remaja itu. 

 

"Anak kurang ajar kamu! Tidak tahu diuntung. Kamu pikir selama ini kamu hidup dengan harta siapa, hah?" Romi mulai tidak bisa mengendalikan diri lagi. Sebagai ayah, dia merasa sudah sangat tidak dihargai oleh anaknya sendiri. 

 

Rani panik melihat kemarahan suaminya yang tiba-tiba bergerak maju bermaksud melayangkan pukulan ke Raka. Namun dengan gesit remaja itu menghindar. Senyum sinisnya mengembang menatap sang ayah. 

 

"Sudah, Pah, sudah! Dia itu anakmu," ujar wanita 39 tahun itu sambil memegangi lengan suaminya.

 

"Anak tidak tahu diri! Mulai hari ini dia sudah bukan anakku lagi. Pergi kamu dari rumah ini, anak kurang ajar!" ucap Romi yang sedang penuh amarah itu.

 

Raka tidak kaget dengan apa yang dikatakan ayahnya. Raka sadar sejak dirinya mengetahui perselingkuhan papanya beberapa bulan yang lalu, rasa hormatnya pada lelaki itu hilang sudah, berganti kebencian. Kian hari sikap Raka pada ayahnya juga semakin berubah. Maka Raka pun tak heran jika ayahnya akhirnya mengusirnya dari rumah. Bahkan remaja itu sudah menanti saat-saat ayahnya mengatakan hal itu. Lalu dengan senyum tipis, Raka pun membalikkan badan dan segera berlalu keluar rumah. 

 

Rani yang menyadari apa yang dilakukan oleh anak sulungnya segera mengejarnya dengan panik. Berulang kali wanita itu berteriak memanggil nama anaknya. Namun Raka tak sedikitpun menoleh. Bahkan melajukan motor sportnya dengan kencang tanpa mempedulikan lagi sang ibu yang menangisi kepergiannya.

 

Rani kembali ke teras rumah dengan gontai, ambruk bersimpuh menangis di lantai. Hatinya memang sangat hancur saat beberapa bulan yang lalu akhirnya dia mengetahui bahwa suami yang sangat dibanggakannya selama ini ternyata bertahun-tahun telah membohonginya dengan menikahi perempuan lain yang lebih muda. Tapi kali ini jauh lebih menyakitkan, ketika dia menyaksikan suaminya mengusir anak yang dilahirkannya dari rumah mereka.

 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status