Share

8. Keputusan Jevin

Safia diam termangu dalam kamarnya. Kepalanya pusing memikirkan keruwetan hidup yang tengah menimpa. Tetiba saja telepon pintarnya bergetar. Diraihnya benda tipis itu. Ada sebuah chat masuk. Pesan dari Jevin.

[ Datang ke taman dekat tempat tinggalmu. Aku menunggu!]

'Ada apa Jevin ingin bertemu dengan aku lagi?' batin Safia heran.

Safia menengok jam kotak kecil yang bertengger di atas nakas kamar. Baru pukul tiga sore, tetapi awan sejak lepas dhuhur tadi tampak kelabu. Diprediksi hujan bisa turun kapan saja. Udara juga semilir lembap. Makanya hari Minggu ini ia gunakan untuk bermalas-malasan saja di kamar. Bergelung seharian di kasur sembari terus memikirkan nasibnya ke depan.

Ponselnya bergetar lagi. Chat dari Jevin masuk lagi. Gadis itu hendak mengetik balasan. Namun, belum sempat dia menjawab pesan, sang ibu berteriak memanggil namanya dari bawah.

"Fiaaa! Cepetan turun!"

Gadis itu melempar ponsel yang dipegang ke ranjang. Dia urung membalas chat Jevin. Segera Safia menuruni tangga untuk menemui ibunya yang ternyata sudah rapi.

"Temani Ibu belanja," ajak Ibu begitu melihat Safia mendekati. "Besok kita mau ke rumah Bu Jenni lagi." Bu Ratih menambahkan.

"Untuk apa?" sahut Safia malas. "Bu ... aku malas ke rumah Bu Jenni." Safia menggeleng. "Tekadku sudah bulat. Aku tidak mau menikah dengan-"

"Sudahlah, keburu hujan nanti!" potong ibu cepat.

Wanita paruh baya itu menarik lengan sang anak ke luar rumah tanpa minta persetujuan anaknya. Safia tidak mampu menolak. Dia hanya terdiam menuruti perintah sang ibu. Dengan berat hati, Safia mengeluarkan motor matic kesayangan dari garasi.

Usai memakai helm dan ibu telah nangkring di jok belakang, Safia memacu kuda besinya perlahan. Gadis itu mengarahkan motornya menuju sebuah pusat perbelanjaan. Di jalan taman, Safia melihat Jevin baru turun dari mobilnya. Dengan memasukkan kedua tangan di saku, terlihat Jevin berjalan ke arah bangku taman.

"Lihat awan sudah mendung," ujar ibu di belakang. "Kencangkan laju motormu!" Ibu memerintah. Safia menurut. Gadis itu kembali fokus menatap ke depan, tidak meleng seperti tadi. Dia pun menambah kecepatan  laju motornya.

Begitu sampai di tujuan, Safia lekas memarkirkan motornya. Dia dan ibunya masuk ke pusat perbelanjaan itu. Bu Ratih mengajak Safia ke toko baju. Wanita itu tampak memilah-milah dress yang cocok untuk dikenakan anak gadisnya. Tidak tanggung-tanggung ada enam dress manis yang ia ambil.

"Banyak sekali," tegur Safia begitu heran melihat ibunya jadi gila belanja seperti itu.

"Dua untuk Sabira dan selebihnya buat kamu," terang ibu disertai senyuman semringah.

"Tapi dalam rangka apa, Bu? Fia kan sedang tidak berulang tahun." Safia masih menegur heran. Uang yang ada di dompetnya tinggal beberapa selip saja. Gadis itu takut uang ibu kurang nantinya.

"Ssttt ... gak usah bawel gitu! Kamu tinggal nemenin ibu belanja saja kok," tukas ibu masih dengan wajah yang semringah.

Ibu Ratih membopong belanjanya sampai ke meja kasir. Wajah dengan rasa heran, Safia mengikuti langkah ibu. Gadis itu melongo menatap angka yang tertera di layar. Lalu dia menelan saliva melihat ada banyak lembaran merah pada dompet ibu.

Setelah membayar semua belanjaan, ibu mengajak Safia masuk ke salon kecantikan. Lagi-lagi dia tidak bisa menolak. Dan gadis itu juga diam pasrah saat para pelayan salon memanjakan tubuhnya.

Rambut Safia dicuci dan di-creambath. Mukanya di-facial. Badannya di pijat dan lulur. Serta kuku tangan dan kaki pun tak lupa untuk dirawat.

Ibu Ratih sendiri meninggalkan anak gadisnya untuk berbelanja kebutuhan dapur dan kebutuhan roti. Wanita itu kembali ke salon tepat setelah Safia merampungkan seluruh treatment-nya.

Merasa lelah Safia merengek minta pulang. Namun, rupanya hujan telah membungkus kota ini sedari beberapa waktu lalu. Terpaksa mereka menunda jadwal pulang. Perut yang keroncong membuat Bu Ratih mengajak Safia makan sembari menunggu hujan reda.

Namun, rasanya alam masih ingin berlama menumpahkan air langitnya. Hanya saja curahnya sudah mulai menyurut. Karena merasa bosan menunggu, ibu mengajak Safia pulang walau masih gerimis.

Hati-hati Safia melakukan motornya di jalanan yang begitu licin. Lalu ketika melewati jalan taman, gadis itu melihat Jevin masih duduk setia di bangku berwarna merah itu. Tampak Jevin duduk dengan memeluk kedua pundaknya. Tubuhnya bergetar. Terlihat sekali pemuda itu menggigil kedinginan.

'Apakah dia menungguku?' Safia membatin. Gadis itu menghela napas. Namun, ia tidak berucap apa-apa. Dirinya mempercepat laju motornya sampai ke rumah.

***

Keesokan harinya, begitu Safia pulang dari kantor, Bu Ratih langsung mendadani anaknya sedemikian rupa. Tangan Bu Ratih lincah melukis wajah Safia dengan kuas dan sapu kecantikan. Semuanya pas dan tidak berlebihan. Dengan dress putih selutut yang baru dibeli kemarin, penampilan Safia paripurna cantiknya.

"Memangnya kita mau ke mana, Bu?" tanya Safia sembari mengikuti Ibu menuruni tangga.

"Rumahnya Jevin," sahut Bu Ratih singkat.

"Mau apa, Bu?" tanya Safia terkejut. Gadis itu menghentikan langkah. Bu Ratih pun membalikkan badan menghadap sang putri.

"Kita mau membahas rencana pernikahan kalian." Ibu menjawab dengan semangat.

Safia menggeleng tegas. "Bu ... sudah berapa kali Fia bilang, Fia menolak perjodohan ini," tutur gadis itu bertekad. "Fia tidak mau menyakiti hati Embun. Dan yang terlebih lagi, Jevin tidak mencintai Fia. Fia gak mau terluka nantinya, Bu." Safia beralasan dengan memelas.

"Tapi ... ini atas kemauan Nak Jevin sendiri," balas Ibu tenang. Dan Safia melongo tidak percaya. "Jangan sampai air matamu merusak make-up ya!" Ibu berucap lagi dengan datar.

Lalu tanpa bersuara lagi, wanita itu melangkah menuju pintu luar. Safia menggeleng. Sungguh ia heran dibuatnya. Jevin yang menentang keras perjodohan ini, tiba-tiba membuat kabar yang mengejutkan. Setelah beberapa kali menarik napas lamat-lamat, Safia menderap langkah mengekor ibunya.

Seperti biasa, Bu Ratih sengaja memesan taksi online untuk mengantar dirinya berserta sang anak  ke rumah calon besan. Wanita itu membiarkan anaknya diam termenung sepanjang perjalanan. Baru ketika sampai, Bu Ratih mengingatkan sang putri yang masih terdiam di taksi untuk lekas turun.

Safia turun dari taksi dengan gontai. Sungguh ia malas menginjakkan kaki di rumah ini lagi  Begitu Bu Ratih memencet bel, pelayan membuka pintu dengan ramah. Lalu ibu dan anak itu disambut hangat oleh Bu Jenni di ruang tamu.

Bu Jenni dan Bu Ratih saling berpelukan dan cipika-cipiki khas basa-basi. Begitu juga dengan Safia. Gadis itu menyambut pelukan hangat Bu Jenni dengan senyum yang dipaksakan. Tampak Jevin duduk santai di sofa tamu dengan wajah yang pucat. Pemuda itu hanya melempar senyum tipis guna beramah tamah palsu pada Bu Ratih.

"Kenapa Nak Jevin terlihat begitu puas? Sakit kah?" tanya Bu Ratih peduli sembari meletakan sebuah kotak besar. Kotak putih itu berisi red velvet buatan tangannya sebagai oleh-oleh untuk calon besan.

"Dia sedikit demam." Bu Jenni yang menjawab. "Sudah gede masih suka hujan-hujanan," lanjut wanita itu berkelakar.

Bu Ratih tersenyum mendengarnya. Sementara Safia menatap Jevin dengan seksama. Gadis itu teringat kejadian kemarin. Jevin duduk sendiri di bangku taman berguyur air hujan. Jevin sendiri melengos ditatap sedemikian rupa oleh Safia.

" Begini Safia ...." Bu Jenni memulai obrolan. "Jevin meminta tante untuk segera menentukan hari pernikahan kalian," lanjut Bu Jenni dengan binar kebahagiaan. Begitu juga Bu Ratih. 

Safia menganga mendengar kalimat yang diucapkan Bu Jenni. Sungguh ia tidak menduga sama sekali. Gadis itu menatap Jevin guna meminta penjelasan. Akan tetapi yang ditatap justru diam tak menggubrisnya.

"Jevin minta pernikahan kalian dilangsungkan di bulan ini juga," lanjut Bu Jenni semangat, "iyakan Je?" Mata Bu Jenni mengerling pada sang putra.

"Iya," sahut Jevin datar. "Tapi ingat! Tidak ada yang namanya pesta, honeymoon dan tetek bengek lainnya." Jevin mengajukan syarat dengan nada dingin.

"Oke," sahut Bu Jenni semringah bahagia.

"Tante ... bisakah tinggakan kami berdua sebentar?" Safia memberanikan diri bersuara

"Oh tentu," sahut Bu Jenni menganguk semangat. "Mari Ratih! Kita biarkan kedua anak muda ini saling bicara dari hati ke hati," ajak Bu Jenni pada Bu Ratih. Bu Ratih pun mengangguk setuju. Kedua wanita itu berlalu ke belakang.

"Apa maksudnya ini, Je?" tanya Safia bingung begitu ibu dan calon mertuanya pergi.

"Bukankah ini yang kamu inginkan?"  Jevin balik tanya dengan datar. Matanya enggan menatap Safia.

"Maksud kamu apa, Jevin?!" Safia sedikit berseru. Hatinya merasa agak emosi. Jujur Safia merasa terhina.

"Entah apa yang dibilang ibumu pada mamaku dua hari yang lalu," tutur Jevin masih tanpa mau menatap Safia, "sehingga membuat wanita yang paling kusayangi itu menangis tersedu-sedu dan memohon untuk segera menikahimu," terang Jevin dingin. Pada kalimat 'menikahimu' dia menatap tajam Safia.

"Bahkan ketika aku bilang bahwa kau menolak, mama tidak percaya. Dia justru mengancam hendaj bunuh diri jika aku tak mau menikahimu," papar Jevin dengan suara yang terdengar bergetar.

Pemuda itu berusaha keras meredam emosinya. Tangannya meremas celana di pahanya guna menyalurkan kegelisahan yang ia rasa. Safia sendiri tercekat tak percaya mendengar penuturan Jevin.

"Kemarin aku menunggumu di taman." Jevin bicara lagi. "Aku bermaksud mengajakmu untuk menemui dan membujuk Mama, tapi kamu malah tiadk datang." Jevin tersenyum miris.

"Kemarin ... ibu memintaku menemaninya belanja. Mafkan aku,"sesal Safia tidak enak hati.

"Dalam chat sudah kubilang, kalo kamu tidak datang ... berarti kamu menerima perjodohan ini." Safia terbelalak kaget mendengar penuturan Jevin. Ekspresi sedih Jevin pun semakin membuat hatinya diliputi perasaan tidak nyaman.

"Tiga jam aku menunggumu dalam hujan," desis Jevin sembari mengacungkan ketiga jarinya ke udara. Senyum getir pemuda itu membuat Safia kian merasa tidak enak hati.

Safia yang semakin bingung gegas mengambil ponselnya dari dalam tas. Dirinya langsung membaca pesan Jevin yang belum sempat ia baca kemarin.

Kalo kamu tidak datang, berarti kamu menyetujui perjodohan ini.

Gadis itu menitikkan air matanya membaca isi pesan itu.

"Jevin ...." Lirih Safia memanggil. "Aku  minta maaf," ucap gadis itu parau, "sungguh aku tak bermaksud untuk ...."

"Sudahlah!" sergah Jevin cepat  "Mungkin inilah takdirku. Harus menikah dengan orang yang sama sekali tidak kucinta," lanjut Jevin dingin dan lemah.

Namun, terasa begitu menyakitkan hati Safia. Dalam diam Jevin berlalu, meninggalkan Safia masih terisak sedih tidak enak hati.

Bersambung.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status