LOGINSetelah pintu batu terbuka, ruangan itu langsung terang benderang.Ruang makam ketiga sangat luas. Di dinding sekelilingnya menyala banyak lampu abadi. Entah sudah berapa lama lampu-lampu itu ada, tetapi nyalanya masih sangat terang."Tempat ini terlihat seperti ruang duka," kata penjaga gunung."Percayalah pada dirimu, hilangkan kata 'terlihat'. Tempat ini memang ruang duka," kata Nazar. "Mari kita masuk dan lihat."Mereka pun masuk.Tak lama kemudian mereka melihat, di depan dinding sebelah timur terdapat sebuah meja altar yang panjang. Di atas meja itu ada sebuah papan arwah. Dari jauh, Ewan sudah melihat dua kata terukir di atasnya.Makam Mardasa!Ewan bertanya, "Tua bangka, siapa Mardasa? Kamu pernah dengar?"Nazar menggelengkan kepala. "Belum pernah."Penjaga gunung bertanya, "Apakah itu mungkin sebuah kode?"Nazar langsung mengangkat tangan hendak menamparnya, tetapi kali ini penjaga gunung sudah bersiap. Dia buru-buru bersembunyi di belakang Tandi. Nazar berkata dingin, "Kamu p
Tandi terdiam sejenak, lalu berkata, "Menurutku perkataan Paman Penjaga Gunung ada benarnya.""Lihat, Pak Tandi juga menganggap aku benar." Penjaga gunung akhirnya menemukan seseorang yang setuju dengannya dan langsung menjadi sangat bangga.Plak!Nazar kembali menampar dahi penjaga gunung itu dan memarahinya, "Nggak punya wawasan.""Apakah di zaman kuno hanya kaisar yang boleh memakai jubah naga?""Banyak raja pemberontak lainnya semua pernah menyebut diri sebagai kaisar dan mengenakan jubah naga."Penjaga gunung tertegun. "Maksud Master, orang di dalam peti mati ini adalah raja pemberontak?"Nazar berkata, "Apakah dia raja pemberontak atau kaisar, aku nggak tahu. Tapi menurutku, makam ini dibangun sebesar ini dan bahkan memiliki peti mati giok putih kelas tertinggi. Semua ini menunjukkan bahwa identitas lelaki tua di dalam peti mati itu luar biasa.""Ini adalah ruang makam utama. Ayo kita cari lagi. Mungkin kita bisa menemukan sesuatu yang bisa membuktikan identitasnya."Kemudian, be
Beberapa orang menatap lelaki tua di dalam peti mati itu, semuanya ingin tahu identitasnya.Siapa sebenarnya dia?Ewan menyapu pandangannya dan menemukan bahwa selain jasad lelaki tua tersebut di dalam peti mati itu, hanya ada sebuah kotak kayu merah berbentuk persegi. Tidak ada benda pemakaman lain."Apa isi kotak kayu itu?" tanya Tandi."Mungkin di dalam kotak itu ada sesuatu yang bisa membuktikan identitas lelaki tua ini," kata penjaga gunung.Nazar berkata, "Bocah, ambil kotak itu dan lihat."'Kenapa bukan kamu sendiri yang ambil?'Ewan melotot pada Nazar. Tua bangka ini jelas takut ada bahaya, jadi dia menyuruh Ewan yang mengambilnya.Namun, Ewan tidak takut. Dia mengulurkan tangan dan mengambil kotak kayu merah itu. Seketika dia merasakan telapak tangannya turun sedikit karena beratnya."Berat sekali." Ewan membolak-balik kotak kayu itu dan berkata, "Kotak ini terbuat dari kayu phoebe emas.""Kayu phoebe emas?" Mata penjaga gunung langsung membelalak. "Di zaman kuno hanya keluarg
"Kalau memang nggak punya niat itu, bagus. Tapi kalau kamu berani punya niat seperti itu, aku akan membunuhmu."Setelah berkata demikian, Nazar memandang Ewan sambil tersenyum dan berkata, "Bocah, nanti bantu aku pindahkan peti mati ini ke Akademi Nagendra. Setelah aku mati, aku akan berbaring di dalamnya."Penjaga gunung yang mendengar kata-kata itu, langsung marah hingga wajahnya memucat. Dia menatap Nazar dengan kesal.Ternyata orang tua ini juga sedang mengincar peti mati itu, benar-benar tidak tahu malu.Sebelum membuka peti mati, biasanya tiga batang lilin akan dinyalakan di sudut tenggara. Ada pepatah yang mengatakan, "Manusia menyalakan lilin, hantu meniup lampu." Jika lilin itu padam, orang yang masuk ke makam harus segera keluar dari ruang makam dan tidak boleh membawa satu pun benda pemakaman."Perlu nyalakan lilin?" tanya Ewan."Nggak perlu," kata Nazar. "Para perampok makam sudah sampai ke sini, jadi nggak perlu nyalakan lilin. Lagian, aku nggak bawa lilin."Ewan terdiam.
Ewan berdiri di anak tangga terakhir. Saat ini, di hadapannya muncul sebuah aula yang luas.Di tengah aula itu berdiri sebuah peti mati dari giok putih. Di tanah di sekitar peti mati itu berserakan tulang-belulang. Setidaknya ada 20 hingga 30 kerangka. Di mana-mana terlihat darah yang sudah mengering. Di samping tulang-belulang itu juga ada sekop makam, tali, dan beberapa peralatan lainnya."Orang-orang yang mati ini seharusnya perampok makam," kata Nazar dengan terkejut. "Para perampok makam ini cukup hebat, mereka bahkan berhasil sampai ke tempat ini.""Bagaimana mereka mati?" tanya penjaga gunung dengan ketakutan. "Apakah mereka terkena jebakan?"Ewan tidak menjawab. Dia berjalan ke sebuah kerangka lalu berjongkok dan memeriksanya dengan teliti. Karena yang tersisa hanya tulang tanpa kulit, maka memeriksa penyebab kematian menjadi jauh lebih sulit.Ewan memeriksa sejenak, lalu akhirnya menemukan sebuah bekas tebasan pedang pada tulang tenggorokan kerangka itu. Setelah itu, dia memer
"Pak Ewan, kamu nggak salah lihat? Ini jelas diukir, mana mungkin seseorang menulisnya dengan jari?"Penjaga gunung itu melanjutkan, "Lagian, siapa yang punya kekuatan sebesar itu?"Ewan tidak menanggapi Nazar, lalu bertanya, "Apakah kamu bisa melakukannya?""Aku nggak bisa," jawab Nazar. "Walaupun aku bisa menulis di batu dengan jari, kalau harus sedalam tiga inci seperti ini, aku nggak mampu. Nak, kalau kamu gimana? Bisa nggak kamu melakukannya?""Aku juga belum bisa melakukannya sekarang," kata Ewan. "Menulis dengan jari bukan hanya membutuhkan kultivasi yang sangat kuat, tetapi juga membutuhkan pengendalian kekuatan yang sudah mencapai puncak kesempurnaan.""Kekuatan Pedang Enam Nadi memang cukup, tapi kalau menggunakan energi pedang untuk menulis, energi pedang itu akan menembus batu prasasti dan nggak bisa sehalus ini."Nazar berkata dengan suara berat, "Orang yang menulis ini pasti seorang ahli super, setidaknya sudah melatih enam aliran energi murni."Begitu kata-katanya selesa
"Anak takdir, malapetaka menjadi keberuntungan!"Saat Rindra melihat kata-kata itu, dadanya seketika sesak. Selesai sudah! Ewan benar-benar celaka!Rindra sangat memahami Master Nazar. Orang tua itu terkenal tak bisa diandalkan soal ramalan, kebanyakan ramalannya harus dibaca terbalik. Kalau Master
Ammar berkata, "Kalau aku nggak salah lihat, sepertinya Pak Ewan sedang mencari petunjuk."Jessie memutar matanya. 'Siapa yang nggak tahu kalau itu? Sudah jelas begini.'Beberapa menit kemudian ...."Eh?" Ewan tiba-tiba berseru pelan."Ada temuan?" tanya Tandi cepat.Ewan mengangguk singkat, lalu me
Ewan berdiri di depan pintu batu. Begitu pintu itu terbuka sepenuhnya, hal pertama yang terlihat olehnya adalah sebuah gundukan makam tanah.Lalu muncul makam kedua, ketiga, keempat, kelima .... Sampai dia menghitung seluruhnya ada 99 makam tanah di sana. Masing-masing makam tingginya sekitar satu m
Ewan melirik cepat. Total ada 20 orang!Orang-orang itu semuanya orang asing, pria dan wanita, mengenakan pakaian kamuflase dan sepatu bot kulit. Penampilan khas tentara bayaran.Selain itu, Ewan juga merasakan bahaya dari sudut tersembunyi. Itu berarti, di tempat gelap sana masih ada tentara bayara







