LOGIN"Menurut yang aku tahu, peta harta karun itu nggak utuh. Peta itu terbagi menjadi tiga bagian.""Ayahku memiliki satu bagian peta yang nggak lengkap. Karena kalian menyerangnya, kemungkinan besar kalian juga memegang satu bagian peta yang nggak lengkap, bukan?"Mardasa menatap Ewan dengan penuh keterkejutan, seolah bertanya "bagaimana kamu bisa tahu?".Begitu melihat ekspresi Mardasa, Ewan langsung tahu bahwa tebakannya benar. Kota Terlarang memang memiliki satu bagian peta yang tidak lengkap.Peta harta karun itu terbagi menjadi tiga bagian. Sekarang dua bagiannya sudah berada di tangan Ewan, hanya tersisa bagian terakhir.Ewan bertanya, "Masih ada satu pertanyaan terakhir. Rahasia apa sebenarnya yang tersembunyi di dalam peta harta karun itu?"Dia tahu bahwa peta itu pasti sangat penting. Jika tidak, Kota Terlarang tidak mungkin mengerahkan begitu banyak tenaga untuk membunuh ayahnya.Ekspresi Mardasa berubah menyeramkan. Dia menyeringai dan berkata, "Heh ... kamu mau tahu ... aku ..
Ces!Jarum emas itu langsung menembus masuk ke dalam kepala Mardasa."Aaah ...." Mardasa berteriak kesakitan. Reaksinya sangat cepat. Begitu menyadari bahwa dia diserang secara diam-diam oleh Ewan, tangan kanannya langsung menghantam ke belakang dengan sebuah pukulan.Karena Ewan sudah memilih untuk bergerak, dia sama sekali tidak akan memberi Mardasa kesempatan untuk hidup. Dia menghindari pukulan itu dengan cepat, lalu mengangkat tangannya dan langsung menggunakan Pedang Enam Nadi.Sreet!Sreet!Sreet!Tiga aliran energi pedang melesat dengan cepat dan tajam.Mardasa sebenarnya sudah merasakan bahaya itu, tetapi tubuhnya sulit bergerak. Setelah berhasil menghindari satu aliran energi pedang, dua serangan lainnya tidak dapat dihindari. Satu menghantam punggungnya dan satu lagi menembus tenggorokannya.Dalam sekejap, darah menyembur keluar tanpa henti dari tenggorokannya.Pada saat itu, Nazar juga bergerak. Dia melemparkan sebuah jimat petir.Bum!Sebuah kilat muncul dari udara dan men
"Bisa," kata Ewan. "Bagiku, luka lama Tuan Mardasa hanyalah hal kecil."Wajah Mardasa langsung menunjukkan kegembiraan. "Benar yang kamu bilang itu?"Ewan mengangguk. "Benar sekali.""Kalau begitu, cepat obati aku." Mardasa tampak tidak sabar. Selama luka lamanya sembuh, dia tidak perlu lagi bantuan siapa pun dan bisa kembali ke Kota Terlarang sendiri.Ewan bertanya, "Tuan Mardasa, apakah kita mulai sekarang?""Segera obati aku." Nada Mardasa tidak memberi ruang untuk menolak.Ewan mengeluarkan penjepit jarum dari sakunya. Dengan sedikit kibasan tangan, penjepit itu terbuka dan kilatan emas muncul.Jarum emas.Ekspresi Mardasa menjadi bersemangat. Walaupun dia tidak menguasai ilmu pengobatan, dia tahu bahwa hanya tabib dengan kemampuan luar biasa yang bisa menggunakan jarum emas.Ewan memegang sebuah jarum emas dan berkata, "Tuan Mardasa, sebentar lagi aku akan menusukkan dua jarum di bagian atas kepala Anda. Satu jarum adalah teknik Jarum Sakti Agung Api, satu lagi adalah Jarum Sakti
"Tuan Mardasa, mohon berikan pergelangan tangan Anda. Aku akan memeriksa denyut nadi Anda," kata Ewan dengan hormat.Mardasa mengulurkan tangan kirinya ke depan Ewan. Ewan memperhatikan bahwa tangan kanan Mardasa masih mengepal, seolah siap menyerang kapan saja. Tua bangka ini memang cukup waspada.Ewan mengulurkan jarinya dan menempelkan pada denyut nadi Mardasa. Dia menutup mata dan merasakan denyut nadinya dengan saksama.Tidak lama kemudian, hati Ewan bergetar. Mardasa telah melatih sembilan aliran energi murni.Namun sesaat kemudian, Ewan malah merasa sangat gembira.Karena dia menemukan bahwa Mardasa tidak hanya terluka parah, tetapi juga aliran energi dan darah di dalam tubuhnya bergolak. Sembilan aliran energi murni itu bergerak terbalik di dalam meridiannya. Ini jelas merupakan gejala penyimpangan dalam latihan.Beberapa saat kemudian, Ewan melepaskan pergelangan tangan Mardasa."Anak muda, apa yang kamu temukan?" kata Mardasa dengan nada menguji.Ewan bertanya, "Tuan Mardasa,
Mardasa berkata, "Awalnya aku berniat menunggu kakak tertua dan beberapa adikku datang ke sini. Nggak kusangka malah kalian yang datang.""Nazar, aku juga cukup memahami keadaan Akademi Nagendra. Dalam beberapa tahun terakhir mereka terus merosot. Kalau terus seperti ini, cepat atau lambat Akademi Nagendra akan dihapus dari kalangan Taoisme.""Gimana kalau aku bantu kamu? Aku akan menghidupkan kembali kejayaan Akademi Nagendra, menjadikanmu pemimpin seluruh aliran Taoisme di dunia dan membuat Akademi Nagendra kembali berjaya di tanganmu."Nazar agak terkejut.Akademi Nagendra dan Kota Terlarang selama ini tidak pernah memiliki hubungan. Namun, dari perkataan Mardasa malah terdengar sedikit niat baik.Nazar bukan orang bodoh. Dia tahu bahwa niat baik Mardasa pasti ada konsekuensinya.Setelah bertahun-tahun hidup di dunia persilatan, Nazar sangat memahami hubungan antar manusia. Dia tidak langsung menolak, melainkan berkata, "Terima kasih atas penghargaan Tuan Mardasa. Aku ingin tahu, ap
Wajah Ewan penuh keterkejutan. Dia tidak menyangka bahwa makam ini ternyata adalah makam leluhur Keluarga Sinaga. Namun, tak lama kemudian dia merasa hal itu masuk akal.Jika bukan Keluarga Sinaga, mana mungkin orang biasa bisa menemukan tempat fengsui sebaik ini?Jika bukan Keluarga Sinaga, mana mungkin orang biasa mampu menggunakan peti mati giok putih kelas tertinggi seperti itu?Selain itu, ambisi orang-orang dari Kota Terlarang itu sangat besar. Dari tindakan mereka saja sudah terlihat bahwa leluhur mereka pasti seorang tokoh besar yang luar biasa. Jika tidak, mereka tidak mungkin berani menyebut diri sebagai yang nomor satu di bawah langit.Mardasa kemudian berkata, "Kejadian di ibu kota lebih dari 20 tahun yang lalu ... kamu pernah mendengarnya, bukan?"Nazar segera bertanya, "Apakah yang dimaksud Tuan Mardasa adalah Ega?""Benar, dia." Kilatan dingin muncul di mata Mardasa. "Lebih dari 20 tahun yang lalu, tidak lama setelah peristiwa itu berlalu, kami menerima kabar bahwa makam
Nenek Aneh tiba-tiba berteriak pilu. Ewan tak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan sekali langkah cepat, tendangannya menghantam tepat di dada Nenek Aneh. Tubuh keriput itu langsung terpental ke belakang.Serang saat lawan sedang lemah ... itulah saat paling tepat untuk menghabisinya!Ewan segera menyu
"Baiklah." Neva langsung menyetujui."Bibi, aku juga ingin makan pangsit," kata Lisa dengan manja."Lisa, kalau kamu mau makan, nanti ikut saja," ucap Aruna sambil tersenyum."Kalau begitu sudah sepakat, nanti biar Ewan yang menjemputku.""Baik."Lisa tersenyum sambil melirik ke arah Neva, wajahnya
Ruang rawat hening tak bersuara. Mereka bisa mendengar detak jantung satu sama lain.Melihat bayi itu, pupil Cakra seketika menyempit. Dia terkejut dan bertanya, "Kok bisa begini?""Ah ... makhluk apa ini?" Pemuda itu ketakutan dan berteriak kencang, seolah-olah melihat hantu.Sementara itu, Neva le
Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa, malam pun tiba.Nazar bertanya kepada Kirin, "Apa pesananku sudah sampai?""Pesanan apa?" Kirin balik bertanya."Ular!" kata Nazar. "Aku masih menunggu untuk makan bersama arak."'Dasar congok!' Kirin menghela napas dalam hati, mengeluarkan ponsel dan menelepo







