LOGINWajah Ewan tampak terkejut.Setelah dia menarik daun bambu itu, aroma arak yang sangat kuat langsung menyebar dari dalam tabung bambu. Ewan menunduk dan melihat cairan di dalamnya berwarna kehijauan, dengan aroma buah kiwi yang sangat jelas."Ini arak monyet?"Ewan tidak ragu lagi. Dia langsung meneguk habis seluruh arak di dalam tabung bambu itu dalam satu tegukan. Begitu arak itu masuk ke tenggorokannya, rasanya harum, manis, dan lembut.Ewan pernah minum arak tua berumur 50 tahun, juga pernah minum arak koleksi 30 tahun. Kedua arak itu sudah termasuk kelas tertinggi di antara minuman keras. Namun dibandingkan dengan arak monyet ini, baik aroma maupun rasanya terasa seperti langit dan bumi.Bukan hanya itu, dengan pengetahuannya tentang arak, Ewan bisa memastikan bahwa arak monyet ini setidaknya telah berumur 100 tahun.Ewan menjilat bibirnya, masih merasa belum cukup."Bocah, sisakan sedikit untukku!" teriak Nazar yang baru tersadar. Dia buru-buru merebut tabung bambu dari tangan Ew
Harimau Siberia itu terkejut dan langsung melepaskan anak monyet, lalu menoleh menatap Ewan dengan tajam. "Lihat apa? Pergi!" bentak Ewan dengan suara berat.Namun sebagai raja hutan, harimau Siberia itu tampaknya tersulut amarah oleh Ewan."Auuum!"Harimau itu mengaum ke arah Ewan hingga mengguncang seluruh hutan. Matanya menatap tajam ke arah Ewan, berjalan mondar-mandir di tempat dengan sorot mata yang penuh keganasan."Nggak dengar kata-kataku? Kalau kamu nggak pergi sekarang, jangan salahkan aku kalau aku bertindak kasar." Ewan mengangkat tangannya, dan di ujung jarinya energi pedang berkilat-kilat.Harimau Siberia itu ketakutan. Ia melompat beberapa kali lalu langsung masuk ke dalam hutan pegunungan. Nazar mencibir, "Bagaimanapun juga dia raja hutan, tapi kenapa begitu nggak punya harga diri. Sudah dua kali ditakuti sampai kabur hari ini.""Dia memang binatang, tapi bukan bodoh. Dia tahu bakal dipukul kalau nggak lari," kata Ewan. Setelah itu dia berjalan menuju anak monyet tadi.
Ewan mengikuti arah yang ditunjuk oleh jari Nazar. Begitu melihatnya, wajahnya langsung dipenuhi kegembiraan. "Ginseng seratus tahun!"Di pangkal pohon tua itu tumbuh sebuah tanaman ginseng. Batangnya tampak seperti pohon kecil, daunnya rimbun, dan di atasnya dipenuhi buah-buah kecil berwarna merah cerah.Menurut pengetahuan Ewan, batang ginseng biasanya hanya setinggi 30 sampai 60 sentimeter. Namun, ginseng di depan mereka ini memiliki batang lebih dari satu meter."Bocah, aku nggak salah bilang, 'kan? Tempat harimau berdiam pasti menyimpan harta," kata Nazar dengan bangga."Kali ini kamu kebetulan benar," kata Ewan. Setelah itu, dia bersiap maju untuk menggali ginseng tersebut. Namun tanpa diduga, Nazar melangkah maju dan berdiri menghalangi Ewan."Tua bangka, kamu mau apa?" tanya Ewan dengan ekspresi tidak ramah.Nazar tersenyum. "Aku yang nemu ginseng ini. Jadi, sebenarnya itu milikku. Tapi karena kamu suka, aku akan bermurah hati dan memberikannya kepadamu. Tapi, kamu nggak boleh
Saat berjalan ....Tiba-tiba, Nazar yang memimpin di depan berhenti melangkah."Kenapa berhenti?" tanya Ewan.Nazar menoleh dan menatap Ewan sambil menyeringai. "Bocah, mau makan torpedo harimau?"Ewan menjulurkan kepala melihat ke depan. Dia mendapati sekitar 50 meter di depan ada sebuah pohon tua besar. Di pangkal pohon itu, seekor harimau Siberia sedang berbaring dan tidur nyenyak.Harimau itu bertubuh sangat besar, panjangnya lebih dari dua meter. Seluruh tubuhnya dipenuhi garis-garis hitam. Kepalanya besar dan bulat, di dahinya ada beberapa garis hitam melintang."Kenapa, kamu mau menyembelihnya?" tanya Ewan.Nazar tersenyum dan berkata, "Aku sudah hidup sampai usia segini, tapi belum pernah makan torpedo harimau liar. Katanya kalau direndam dalam arak, efek penambah keperkasaannya luar biasa. Mau coba?"Ewan memaki dengan kesal, "Coba apanya! Harimau Siberia itu hewan yang dilindungi. Kalau kamu berani membunuhnya, kamu bisa ditembak."Nazar tidak peduli. "Di hutan pegunungan ter
Setelah keluar dari makam. Nazar memberi perintah kepada Tandi, "Setelah peti mati giok putih terbaik itu dikeluarkan, langsung ledakkan makam ini.""Kenapa?" Tandi tidak mengerti.Nazar berkata, "Ini adalah makam leluhur Keluarga Sinaga, nggak perlu dibiarkan tetap ada. Aku ingin memutus garis leluhur Keluarga Sinaga dan memotong keberuntungan mereka.""Tandi, lakukan saja seperti yang dikatakan orang tua ini," kata Ewan. "Kalau nanti orang-orang dari Kota Terlarang bertanya, kamu bilang saja dia yang melakukannya."Nazar langsung melotot. "Bocah sialan, jangan jebak aku seperti itu."Ewan tertawa kecil. "Aku cuma bercanda, jangan dianggap serius."Tandi segera berkata, "Master Nazar, masih ada satu hal lagi yang perlu kamu bantu tangani."Nazar bertanya, "Yang kamu maksud tujuh pohon pinus berusia ratusan tahun itu?"Tandi mengangguk."Cuma masalah sepele. Aku akan langsung menyelesaikannya."Setelah berkata demikian, Nazar berjalan cepat ke depan tujuh pohon pinus tua itu dan melemp
"Pergi!" Nazar menatap tajam Tandi, lalu berjalan keluar ruang makam dengan marah.Ewan berbisik kepada Tandi, "Setelah kami pergi, segera kirim peti mati giok putih terbaik ini."Tandi bertanya, "Kamu mau? Lalu bagaimana dengan Master Nazar ...."Ewan memotong perkataannya dan berkata, "Kalau nanti orang tua itu bertanya, bilang saja ini perintah Dewa Perang. Peti mati giok putih terbaik ini sangat berharga dan merupakan harta nasional, seharusnya diserahkan kepada negara."Baru saat itu Tandi mengerti bahwa Ewan tidak berniat memilikinya sendiri. Dia langsung mengangguk dan berkata, "Baik!"Ewan lalu berpesan kepada Tandi dan penjaga gunung, "Oh ya, sebelum Kota Terlarang dimusnahkan, identitasku nggak boleh diumumkan. Kalian harus merahasiakannya."Tandi mengangguk. "Aku mengerti."Penjaga gunung juga berkata, "Pak Ewan tenang saja. Aku nggak akan membocorkan sepatah kata pun."Ewan mengangguk pelan. Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara ledakan dari luar. Mereka segera meninggal
Seperti tebakan Eko sebelumnya, orang-orang Desa Jager yang mati dengan cara aneh itu semuanya berubah menjadi zombie.Melihat pemandangan itu, Gatra ketakutan sampai berlinang air mata. "Ini ... dosa apa yang mereka lakukan? Kenapa mereka semua jadi zombie?"Ewan tidak berkata apa-apa. Tatapannya h
"Sudah begini masih bilang bukan ayahnya, siapa yang mau percaya." Eko mencibir.Tak lama kemudian, muncul rasa iri di wajahnya. Ewan masih muda, tetapi sudah menjadi Kepala Departemen Pengobatan Tradisional. Bukan hanya itu, dia juga punya keluarga yang bahagia dan lengkap. Sungguh bikin iri.Hanya
Ewan berpikir dengan cepat.Tak lama kemudian, dia menemukan sebuah mantra dari "Kitab Jimat Akademi Sidoar" yang memang khusus untuk menaklukkan mayat dan zombie. Itu adalah Jimat Penakluk Mayat.Ewan menggigit ujung jari tengah kanannya. Sambil menggambar jimat, dia menggumamkan mantra.Syut! Tiga
Tok, tok! Millie menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuk pintu rumah."Siapa itu?" Dari dalam terdengar suara tua.Beberapa saat kemudian, pintu perlahan terbuka. Seorang pria tua beruban, memakai kaus singlet, keluar dari dalam."Millie?" Ketika melihat Millie, pria tua itu pun tertegun di tempat.







