FAZER LOGINPfft! Darah segar muncrat. Kadal itu langsung mati."Lihat? Sekali lagi kita lolos dari bahaya," kata Nazar dengan penuh kebanggaan.Ewan tidak memedulikan Nazar. Pandangannya menyapu sekeliling. Dia merasa agak aneh.Lingkungan di sini sebenarnya tidak cocok untuk tempat hidup kadal, tetapi tak disangka justru ada kadal yang muncul. Sepertinya Gunung Chabari, wilayah terlarang ini, memang penuh dengan berbagai misteri."Cepat lanjutkan perjalanan," ujar Nazar, lalu kembali memimpin jalan di depan.Setelah berjalan beberapa meter lagi, Nazar berhenti dan menunjuk ke kejauhan. "Bocah, lihat itu apa?"Ewan memandang ke kejauhan. Dengan bantuan cahaya bulan, dia melihat sebuah gunung tunggal.Gunung itu tingginya sekitar ribuan meter, ditumbuhi vegetasi lebat, bentuknya seperti sebuah lonceng raksasa.Di kedua sisi gunung tunggal itu masing-masing terdapat dua pegunungan besar yang memanjang, tampak megah, sementara gunung tunggal itu tepat berada di tengah-tengah, diapit oleh kedua pegun
Nazar mengeluarkan sebuah tempurung kura-kura dari lengan jubahnya, lalu menaruhnya di telapak tangan.Ewan memperhatikan bahwa tempurung kura-kura itu tampak belang-belang, hitam bercampur putih, dan di atasnya terukir pola delapan trigram. Sekilas saja sudah terlihat bahwa benda itu berasal dari zaman yang sangat kuno.Apa yang ingin dilakukan orang tua ini? Meramal?Baru saja Ewan memikirkan hal itu, dia melihat Nazar memegang tempurung kura-kura dengan kedua tangan, lalu mulai menggoyangkannya. Dari dalam tempurung terdengar suara dentang.Sepuluh detik kemudian, Nazar membuka tempurung itu. Tiga keping koin tembaga jatuh ke tanah, membentuk susunan sebuah karakter."Gimana?" tanya Ewan.Nazar menyimpan kembali koin tembaga dan tempurung kura-kura itu, lalu menjawab dengan gembira, "Pertanda sangat baik."Mendengar itu, wajah Ewan langsung berubah pucat. Dia sangat mengenal Nazar. Orang tua ini sangat tidak dapat diandalkan. Ramalannya hampir tidak pernah tepat, bahkan biasanya har
"Ahli itu bersiap memutus nadi naga Pegunungan Chabari. Tapi saat dia hendak melakukannya, tiba-tiba muncul tanda aneh di langit. Awan petir bergulung, angin kencang dan hujan badai datang, lalu sebuah petir menyambar dari langit dan membunuh ahli itu.""Master Shadala mengatakan bahwa nadi naga lahir sesuai kehendak langit. Tapi, ahli itu malah bertindak melawan kehendak langit, sehingga akhirnya membuat langit murka dan mati karena hukuman langit.""Beberapa ratus tahun kemudian, Pegunungan Chabari benar-benar melahirkan seorang kaisar sejati. Dialah leluhur Dinasti Caraka, Nurhaci.""Nurhaci bangkit dari wilayah timur laut dan meletakkan dasar yang kuat bagi berdirinya Dinasti Caraka. Bisa dibilang tanpa dia, tidak akan ada Dinasti Caraka di kemudian hari."Ewan semakin bingung dan bertanya, "Apa hubungannya dengan Kolam Surgawi yang ingin kamu cari?""Bocah, jangan terburu-buru. Dengarkan aku pelan-pelan," kata Nazar.Nazar melanjutkan, "Setiap kepala akademi di Akademi Nagendra ad
Nazar mengangkat kepala dan melihat ke depan. Seketika, pupil matanya menyusut. Sekitar 80 meter di depan, ada sebuah batu besar. Saat ini di atas batu itu berdiri seekor musang kuning setinggi setengah meter.Bulu musang itu berkilau, seluruh tubuhnya tidak memiliki satu pun bulu yang bercampur warna lain. Kedua cakarnya dirapatkan seperti orang berdoa dan ia sedang menyembah bulan.Penuh hormat dan sangat khusyuk.Nazar langsung teringat catatan dalam kitab kuno Akademi Nagendra. "Musang kuning menyembah bulan, siapa yang menemukannya akan mendapat keberuntungan besar."Mungkinkah kali ini dia benar-benar akan menemukan sesuatu yang dia cari?Nazar tersenyum semringah.Setelah menyembah bulan, musang kuning itu melompat turun dari batu dan segera menghilang tanpa jejak. Ewan menoleh dan melihat Nazar tersenyum lebar. Dia bertanya, "Tua bangka, kamu tertawa apa?""Hehe ...." Nazar hanya tertawa kecil.Ewan berkata lagi, "Baru pertama kali aku lihat musang sebesar itu."Nazar berkata,
Ewan menangkap bahu Nazar dengan sigap dan menariknya keluar dari rawa."Bocah, sepertinya kamu benar. Kita memang harus lebih berhati-hati," kata Nazar.Dia menunjuk ke depan dan berkata, "Di depan ada hamparan rawa. Kita memutar saja."Keduanya segera mengambil jalan memutar. Di sepanjang perjalanan, mereka juga bertemu banyak makhluk beracun. Ular piton sepanjang 20 sampai 30 meter, kelabang sepanjang setengah meter, kalajengking sepanjang lebih dari setengah meter ....Jumlahnya tak terhitung.Tempat ini adalah hutan purba sekaligus wilayah terlarang. Sudah bertahun-tahun tidak ada manusia yang datang. Tanahnya tertutup lapisan daun kering yang tebal.Saat mereka berjalan.Krek!Terdengar suara derakan.Ewan berhenti melangkah dan berkata, "Tua bangka, sepertinya aku menginjak sesuatu.""Buka dan lihat," kata Nazar. Dia mengambil sebatang ranting kering, lalu menyingkirkan daun-daun di bawah kaki Ewan.Tak lama kemudian, sebuah kerangka putih muncul di hadapan mereka."Kenapa ada k
Ewan dan Nazar terus berjalan ke arah barat.Setelah berjalan lebih dari satu jam, Ewan mengangkat kepala dan melihat ke depan. Yang tampak di hadapannya masih rangkaian pegunungan yang tak berujung.Sejauh mata memandang."Tua bangka, kita mau ke mana sebenarnya?" tanya Ewan akhirnya.Nazar menyeringai. "Jangan terburu-buru. Nanti kalau sudah sampai, kamu akan tahu.""Masih seberapa jauh?" tanya Ewan lagi."Sudah dekat, sudah dekat," jawab Nazar sambil terus memimpin jalan di depan.Beberapa saat kemudian, Nazar tiba-tiba menyadari bahwa Ewan tidak terlihat di belakangnya. Dia langsung berteriak, "Bocah, kamu ke mana?"Tidak ada jawaban."Bocah? Ke mana dia?" Nazar meninggikan suaranya dan berteriak lagi.Tetap tidak ada jawaban."Jangan-jangan Ewan mengalami sesuatu?"Wajah Nazar menjadi serius. Dia segera berbalik untuk mencari Ewan sambil tetap waspada.Tempat ini adalah wilayah terlarang yang sangat dalam di Pegunungan Chabari. Tidak ada yang tahu hal aneh apa yang bisa muncul. Na
"Barangkali ada yang belum mengetahui asal-usul Token Mahaguru. Saya bisa menjelaskannya.""Konon, Token Mahaguru adalah sebuah tanda komando yang dipahat oleh pendiri Akademi Nagendra menggunakan kayu tersambar petir. Benda ini adalah salah satu dari tiga pusaka penjaga gunung milik Akademi Nagendr
Ewan kembali ke kursinya dan duduk dengan wajah penuh senyum. Menghabiskan 20 miliar demi mendapatkan sebuah artefak ... suasana hatinya sekarang hanya bisa digambarkan dengan kata "Puas!".Nazar menatapnya dengan mata merah penuh iri. "Bocah nakal, kamu bisa dapat Pedang Rajawali itu semua berkat a
Ewan tanpa ragu menyalurkan seberkas energi dalam ke tubuh Nazar, berusaha membangkitkan kembali vitalitasnya. Namun hasilnya nihil, tak ada reaksi sedikit pun."Nggak ada gunanya. Luka akibat serangan balik dari Mantra Lima Petir itu seperti luka jalan spiritual para kultivator kuno. Mustahil disem
Peta harta karun!Begitu mendengar tiga kata itu, dada Ewan langsung bergetar. Dia langsung teringat pada peta harta karun yang dulu diberikan oleh Abdi Hantu kepadanya. Saat ini, di tubuhnya masih tersimpan setengah lembar peta yang dia temukan di makam Rayanza di barat laut.Ewan bertanya, "Paman,







