Share

Bab 1869

Author: Rexa Pariaman
Harimau Siberia itu terkejut dan langsung melepaskan anak monyet, lalu menoleh menatap Ewan dengan tajam. "Lihat apa? Pergi!" bentak Ewan dengan suara berat.

Namun sebagai raja hutan, harimau Siberia itu tampaknya tersulut amarah oleh Ewan.

"Auuum!"

Harimau itu mengaum ke arah Ewan hingga mengguncang seluruh hutan. Matanya menatap tajam ke arah Ewan, berjalan mondar-mandir di tempat dengan sorot mata yang penuh keganasan.

"Nggak dengar kata-kataku? Kalau kamu nggak pergi sekarang, jangan salahka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1870

    Wajah Ewan tampak terkejut.Setelah dia menarik daun bambu itu, aroma arak yang sangat kuat langsung menyebar dari dalam tabung bambu. Ewan menunduk dan melihat cairan di dalamnya berwarna kehijauan, dengan aroma buah kiwi yang sangat jelas."Ini arak monyet?"Ewan tidak ragu lagi. Dia langsung meneguk habis seluruh arak di dalam tabung bambu itu dalam satu tegukan. Begitu arak itu masuk ke tenggorokannya, rasanya harum, manis, dan lembut.Ewan pernah minum arak tua berumur 50 tahun, juga pernah minum arak koleksi 30 tahun. Kedua arak itu sudah termasuk kelas tertinggi di antara minuman keras. Namun dibandingkan dengan arak monyet ini, baik aroma maupun rasanya terasa seperti langit dan bumi.Bukan hanya itu, dengan pengetahuannya tentang arak, Ewan bisa memastikan bahwa arak monyet ini setidaknya telah berumur 100 tahun.Ewan menjilat bibirnya, masih merasa belum cukup."Bocah, sisakan sedikit untukku!" teriak Nazar yang baru tersadar. Dia buru-buru merebut tabung bambu dari tangan Ew

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1869

    Harimau Siberia itu terkejut dan langsung melepaskan anak monyet, lalu menoleh menatap Ewan dengan tajam. "Lihat apa? Pergi!" bentak Ewan dengan suara berat.Namun sebagai raja hutan, harimau Siberia itu tampaknya tersulut amarah oleh Ewan."Auuum!"Harimau itu mengaum ke arah Ewan hingga mengguncang seluruh hutan. Matanya menatap tajam ke arah Ewan, berjalan mondar-mandir di tempat dengan sorot mata yang penuh keganasan."Nggak dengar kata-kataku? Kalau kamu nggak pergi sekarang, jangan salahkan aku kalau aku bertindak kasar." Ewan mengangkat tangannya, dan di ujung jarinya energi pedang berkilat-kilat.Harimau Siberia itu ketakutan. Ia melompat beberapa kali lalu langsung masuk ke dalam hutan pegunungan. Nazar mencibir, "Bagaimanapun juga dia raja hutan, tapi kenapa begitu nggak punya harga diri. Sudah dua kali ditakuti sampai kabur hari ini.""Dia memang binatang, tapi bukan bodoh. Dia tahu bakal dipukul kalau nggak lari," kata Ewan. Setelah itu dia berjalan menuju anak monyet tadi.

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1868

    Ewan mengikuti arah yang ditunjuk oleh jari Nazar. Begitu melihatnya, wajahnya langsung dipenuhi kegembiraan. "Ginseng seratus tahun!"Di pangkal pohon tua itu tumbuh sebuah tanaman ginseng. Batangnya tampak seperti pohon kecil, daunnya rimbun, dan di atasnya dipenuhi buah-buah kecil berwarna merah cerah.Menurut pengetahuan Ewan, batang ginseng biasanya hanya setinggi 30 sampai 60 sentimeter. Namun, ginseng di depan mereka ini memiliki batang lebih dari satu meter."Bocah, aku nggak salah bilang, 'kan? Tempat harimau berdiam pasti menyimpan harta," kata Nazar dengan bangga."Kali ini kamu kebetulan benar," kata Ewan. Setelah itu, dia bersiap maju untuk menggali ginseng tersebut. Namun tanpa diduga, Nazar melangkah maju dan berdiri menghalangi Ewan."Tua bangka, kamu mau apa?" tanya Ewan dengan ekspresi tidak ramah.Nazar tersenyum. "Aku yang nemu ginseng ini. Jadi, sebenarnya itu milikku. Tapi karena kamu suka, aku akan bermurah hati dan memberikannya kepadamu. Tapi, kamu nggak boleh

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1867

    Saat berjalan ....Tiba-tiba, Nazar yang memimpin di depan berhenti melangkah."Kenapa berhenti?" tanya Ewan.Nazar menoleh dan menatap Ewan sambil menyeringai. "Bocah, mau makan torpedo harimau?"Ewan menjulurkan kepala melihat ke depan. Dia mendapati sekitar 50 meter di depan ada sebuah pohon tua besar. Di pangkal pohon itu, seekor harimau Siberia sedang berbaring dan tidur nyenyak.Harimau itu bertubuh sangat besar, panjangnya lebih dari dua meter. Seluruh tubuhnya dipenuhi garis-garis hitam. Kepalanya besar dan bulat, di dahinya ada beberapa garis hitam melintang."Kenapa, kamu mau menyembelihnya?" tanya Ewan.Nazar tersenyum dan berkata, "Aku sudah hidup sampai usia segini, tapi belum pernah makan torpedo harimau liar. Katanya kalau direndam dalam arak, efek penambah keperkasaannya luar biasa. Mau coba?"Ewan memaki dengan kesal, "Coba apanya! Harimau Siberia itu hewan yang dilindungi. Kalau kamu berani membunuhnya, kamu bisa ditembak."Nazar tidak peduli. "Di hutan pegunungan ter

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1866

    Setelah keluar dari makam. Nazar memberi perintah kepada Tandi, "Setelah peti mati giok putih terbaik itu dikeluarkan, langsung ledakkan makam ini.""Kenapa?" Tandi tidak mengerti.Nazar berkata, "Ini adalah makam leluhur Keluarga Sinaga, nggak perlu dibiarkan tetap ada. Aku ingin memutus garis leluhur Keluarga Sinaga dan memotong keberuntungan mereka.""Tandi, lakukan saja seperti yang dikatakan orang tua ini," kata Ewan. "Kalau nanti orang-orang dari Kota Terlarang bertanya, kamu bilang saja dia yang melakukannya."Nazar langsung melotot. "Bocah sialan, jangan jebak aku seperti itu."Ewan tertawa kecil. "Aku cuma bercanda, jangan dianggap serius."Tandi segera berkata, "Master Nazar, masih ada satu hal lagi yang perlu kamu bantu tangani."Nazar bertanya, "Yang kamu maksud tujuh pohon pinus berusia ratusan tahun itu?"Tandi mengangguk."Cuma masalah sepele. Aku akan langsung menyelesaikannya."Setelah berkata demikian, Nazar berjalan cepat ke depan tujuh pohon pinus tua itu dan melemp

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1865

    "Pergi!" Nazar menatap tajam Tandi, lalu berjalan keluar ruang makam dengan marah.Ewan berbisik kepada Tandi, "Setelah kami pergi, segera kirim peti mati giok putih terbaik ini."Tandi bertanya, "Kamu mau? Lalu bagaimana dengan Master Nazar ...."Ewan memotong perkataannya dan berkata, "Kalau nanti orang tua itu bertanya, bilang saja ini perintah Dewa Perang. Peti mati giok putih terbaik ini sangat berharga dan merupakan harta nasional, seharusnya diserahkan kepada negara."Baru saat itu Tandi mengerti bahwa Ewan tidak berniat memilikinya sendiri. Dia langsung mengangguk dan berkata, "Baik!"Ewan lalu berpesan kepada Tandi dan penjaga gunung, "Oh ya, sebelum Kota Terlarang dimusnahkan, identitasku nggak boleh diumumkan. Kalian harus merahasiakannya."Tandi mengangguk. "Aku mengerti."Penjaga gunung juga berkata, "Pak Ewan tenang saja. Aku nggak akan membocorkan sepatah kata pun."Ewan mengangguk pelan. Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara ledakan dari luar. Mereka segera meninggal

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 784

    Zayn terkejut bukan main. Dia sama sekali tak menyangka kondisi mata Ivana begitu parah, bahkan sampai mengancam nyawa. Sementara Betandi dan teman-temannya semakin marah dan mengumpat dengan kesal."Memakai cara sekeji itu pada seorang gadis, sungguh biadab!" maki Eko.Betandi juga berkata, "Kalau

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 735

    Teja memarahi anggota timnya, lalu menatap Ewan dan berkata, "Kamu sudah bicara lancang. Kamu harus minta maaf pada kami.""Minta maaf? Minta maaf saja sama nenekmu!" balas Ewan tanpa sungkan sedikit pun. "Kamu yang duluan bilang ilmu pengobatan tradisional kami itu sampah. Kenapa kamu nggak minta m

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 770

    Jauh di Kota Papandaya, Neva sama sekali tidak tahu bahwa sebuah konspirasi besar sedang perlahan menjeratnya. Saat itu, dia sedang duduk di kursi penumpang depan, menemani Ewan dalam perjalanan pulang.Di tengah jalan, Neva membuka ponselnya dan mulai menggulir berita. Tak lama kemudian, dia menole

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 774

    Jenderal Umay sudah kritis? Ewan terkejut.Ewan masih ingat, Neva pernah mengatakan bahwa tubuh kakeknya memang tidak sehat, tapi ... kenapa secepat ini? Apakah ada sesuatu yang janggal?Ewan bertanya, "Kak Neva, barusan siapa yang menelepon kamu?""Sepupuku, Willy," jawab Neva.Entah kenapa, meskip

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status