Share

Bab 719

Author: Rexa Pariaman
Selesai mandi, Ewan mengganti pakaian bersih, lalu berbaring kembali di tempat tidur. Namun, rasa kantuk sama sekali tidak datang.

Akhirnya, dia mengambil ponselnya dan mulai membaca novel. Belakangan ini, dia sedang mengikuti sebuah novel berjudul "Dokter Sakti Penguasa Dunia", karya seorang penulis yang katanya adalah cowok muda super tampan.

"Sial, kemarin cuma update satu bab! Si author ini lagi ngapain sih? Pas lagi seru-serunya malah berhenti! Dasar, nulisnya bagus sih, tapi kelakuannya ba
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2985

    Dewa Pedang Mabuk marah. "Enam, jangan sombong. Dengan kemampuanmu yang segitu, kamu masih belum mampu membunuhku.""Oh ya?" Tetua Keenam meraung. "Matilah kamu!"Pagoda Hitam Putih yang melayang tinggi di atas kepalanya tiba-tiba menghantam ke arah Dewa Pedang Mabuk.Dewa Pedang Mabuk tak mau kalah. Dia mengayunkan lengannya. Pedang Surya Tujuh Warna membelah langit, lalu menghantam Pagoda Hitam Putih dengan keras."Cepat mundur." Ketiga ahli lainnya segera mundur setelah melihat hal itu.Bum! Pagoda Hitam Putih dan Pedang Surya Tujuh Warna beradu di kehampaan. Dalam sekejap, gelombang suara mengerikan membentuk lingkaran-lingkaran riak yang menyebar dengan cepat ke segala arah.Apa pun yang dilewatinya berubah menjadi abu.Tetua Keenam dan Dewa Pedang Mabuk sama-sama mundur sejauh lima kilometer, lalu saling menatap. Niat membunuh mereka sangat kuat.Dewa Pedang Mabuk mengulurkan tangannya. Pedang Surya Tujuh Warna mengecil dan jatuh ke telapak tangannya, memancarkan ketajaman yang t

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2984

    Aliran Hitam Putih memiliki sebuah Balai Penjaga Jiwa. Di sana, setiap orang penting di dalam sekte memiliki sebuah lampu nyawa yang diawasi oleh para ahli.Kalau lampu nyawa tetap menyala, itu berarti pemiliknya masih hidup. Jika lampu nyawa padam, itu berarti pemiliknya sudah mati.Sekte-sekte lain di Hutan Belantara Timur juga memiliki tempat seperti Balai Penjaga Jiwa itu.Setelah Tetua Keenam melihat pesan di Giok Komunikasi, tubuhnya seolah disambar petir."Apa?! Ananta mati?"Tetua Keenam sulit memercayainya. Dia sangat memahami kultivasi Ananta. Secara nalar, dengan kekuatan Ananta, sekalipun dia tidak mendapatkan warisan mahasuci, dia seharusnya tidak akan mati.Sebenarnya, apa yang terjadi di dalam makam?Setelah kebingungan, Tetua Keenam langsung diliputi amarah yang menggelegar. Ananta bukan hanya murid pribadinya, tetapi juga pengusung seluruh harapannya."Ananta mati. Sebenarnya siapa yang membunuh Ananta?"Setelah berpikir sejenak, tatapan Tetua Keenam tertuju pada Dewa

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2983

    Nazar berkata, "Kalau kita keluar melalui jalan semula, kemungkinan besar kita akan ketemu dengan murid-murid sekte besar.""Kita cuma perlu lebih berhati-hati dan sebisa mungkin menghindar. Jangan sampai kita terlibat konflik dengan mereka," sahut Ewan.Midori berkata, "Kalaupun ketemu mereka, nggak masalah. Ananta sendiri yang bilang kalau orang-orang dari sekte lain bukan tandingannya, 'kan? Pada akhirnya dia tetap dibunuh oleh Tuan Ewan. Asalkan ada Tuan Ewan, apa lagi yang perlu kita takutkan?""Nona Midori benar. Dengan adanya bocah sialan ini, kita nggak perlu takut sama mereka." Nazar tertawa. "Ayo!"Mereka pun meninggalkan Gunung Ungu dan kembali melalui jalan semula.Meskipun tidak takut pada murid-murid dari sekte-sekte besar itu, mereka tetap sangat berhati-hati karena tidak ingin menimbulkan masalah yang tidak perlu.Mereka terus berjalan.Nazar mengernyit. "Aneh, kenapa sampai sekarang kita belum melihat orang-orang dari sekte besar itu? Jangan-jangan Ananta tadi bohong?"

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2982

    Pada saat kepala Ananta hancur, roh primordialnya langsung memelesat ke luar, berusaha melarikan diri dari tempat itu.Namun, Ewan sudah berniat membunuhnya. Mana mungkin dia membiarkannya kabur?Wuss! Cambuk Pemukul Dewa diayunkan dan tepat mengenai roh primordial Ananta.Puh! Roh primordial Ananta hancur. Dia tewas tanpa meninggalkan jejak.Ewan memegang Cambuk Pemukul Dewa. Tubuhnya bermandikan cahaya keemasan, membuatnya tampak seperti dewa perang yang tak tertandingi."Bocah, kamu memang hebat!" Nazar berteriak keras, lalu bergegas maju dan mengambil Pedang Suci Hitam-Putih."Hehe, pedang ini akhirnya jadi milikku." Setelah berkata demikian, Nazar segera meneteskan darah untuk mengikat pedang itu sebagai miliknya.Seketika, dia merasakan hubungan yang tak dapat dijelaskan antara dirinya dan Pedang Suci Hitam-Putih. Setelah memerintahkan dalam pikirannya, pedang panjang itu langsung terhunus dan berdiri di hadapannya, mengeluarkan suara dengungan pedang yang seolah bersorak kegiran

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2981

    Kelihatannya sangat sederhana, tetapi justru membuat Ewan tidak punya jalan untuk mundur. Bahkan, Ewan sampai terpengaruh oleh tekad pedang itu dan hampir lupa untuk melawan."Memang pantas dia jadi Putra Suci Aliran Hitam Putih. Meskipun otaknya agak bodoh, dia tetap punya kelebihan."Ewan diam-diam memuji. Dia tidak mengeluarkan Pedang Kaisar Abadi dan juga tidak berniat menghadapinya secara langsung.Bagaimanapun, dengan tingkat kultivasinya saat ini, tanpa bantuan dari luar, dia sama sekali bukan tandingan Ananta.Karena itu, senjata andalannya tetaplah Cambuk Pemukul Dewa.Tak peduli setinggi apa kultivasi lawan, sekuat apa pun jurus pedang lawan, asalkan Ewan mengeluarkan Cambuk Pemukul Dewa, itu sudah cukup.Serangan apa pun yang digunakan lawan akan dihancurkan dengan sekali cambuk. Sungguh tak terkalahkan!Ctar! Ewan mengayunkan Cambuk Pemukul Dewa dan melecutkannya ke arah Pedang Suci Hitam-Putih.Serangan ini terlihat biasa saja, bahkan sedikit pelan, seolah tak memiliki kek

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2980

    "Kenapa bisa begini?"Ananta tercengang.Labu Hitam Putih merupakan salah satu kartu truf terkuatnya. Meskipun kekuatannya tidak sehebat artefak suci lainnya, kemampuan pertahanannya sangat kuat. Kenapa labu itu langsung hancur hanya karena bertabrakan sekali dengan senjata ilahi?Hati Ananta terasa seakan-akan berdarah."Ananta, labumu itu terbuat dari tanah liat, ya? Rapuh sekali."Suara Nazar terdengar. "Kamu perlakukan benda itu kayak harta karun, jadi kukira benda itu hebat sekali. Kenapa sekali dihantam langsung hancur?""Ananta, kamu benaran Putra Suci Aliran Hitam Putih, nih? Apa semua Putra Suci Aliran Hitam Putih sama bodohnya kayak kamu? Barang rongsokan saja dianggap harta karun?""Tutup mulutmu!"Ananta kembali terpancing amarah. Dengan wajah muram, dia berkata, "Hari ini, nggak seorang pun dari kalian akan kubiarkan hidup.""Wah, di saat begini masih berani sesumbar?" Nazar berkata, "Kalau aku jadi kamu, aku sudah terlalu malu untuk hidup. Lebih baik benturkan saja kepala

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status