Teilen

Bab 162

last update Veröffentlichungsdatum: 17.03.2026 18:36:38

Revano langsung menghampiri Arka, menepuk bahunya. "Akhirnya selesai juga, ya, Bro! Keren banget scene tadi. Kamu beneran total. Kayak, bukan akting."

Revano menyeringai, tahu ada cerita di balik mata Arka yang dalam. Mereka berjabat tangan erat, ikatan persahabatan mereka terasa makin kuat.

Tak lama kemudian, Sasha datang, membawa buket bunga mawar merah yang besar. Dengan senyum manis, ia membagikan bunga kepada Mas Seno, Keyla, dan beberapa pemain utama lainnya, termasuk Arka.

"Selamat ya, s
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • 365 Hari Jadi Istrimu   Bab 162

    Revano langsung menghampiri Arka, menepuk bahunya. "Akhirnya selesai juga, ya, Bro! Keren banget scene tadi. Kamu beneran total. Kayak, bukan akting."Revano menyeringai, tahu ada cerita di balik mata Arka yang dalam. Mereka berjabat tangan erat, ikatan persahabatan mereka terasa makin kuat.Tak lama kemudian, Sasha datang, membawa buket bunga mawar merah yang besar. Dengan senyum manis, ia membagikan bunga kepada Mas Seno, Keyla, dan beberapa pemain utama lainnya, termasuk Arka."Selamat ya, semuanya! Akhirnya selesai juga," kata Sasha, suaranya ceria. Namun, saat menyerahkan bunga kepada Arka, matanya memancarkan sesuatu yang lebih dari sekadar ucapan selamat. Ada kilatan licik di sana, seolah ia baru saja berhasil menjalankan bagian dari rencananya."Terima kasih, Sa," Arka menjawab singkat, mencoba bersikap normal. Ia mengambil bunga itu, jantungnya berdebar samar. Apakah dia tahu sesuatu?Arka mengangkat pandangan, dan matanya menangkap sosok Raka yang berdiri agak jauh, di balik

  • 365 Hari Jadi Istrimu   Bab 161

    Raka tersenyum tipis. Ia menatap jam di pergelangan tangannya. "Wah, aku harus pergi. Ada urusan di lokasi syuting. Senang sekali bisa bertemu denganmu, Alya. Lain kali kita bisa mengobrol lebih banyak lagi."Raka bangkit dari kursi, melangkah pergi dengan gerakan yang anggun dan percaya diri, meninggalkan Alya dalam keheningan yang menyesakkan. Aroma maskulin parfumnya masih tertinggal, bercampur dengan wangi kopi dan kayu cendana, namun kini terasa menjebak, bukan menenangkan.Alya menatap tehnya yang sudah dingin, uapnya sudah lama menghilang. Pikirannya kalut. Kata-kata Raka berputar-putar di kepalanya, menanamkan benih keraguan yang dalam. Apakah Arka benar-benar jujur padaku? Apakah ada sisi gelap dari suamiku yang belum aku ketahui? Rasa takut itu datang lagi, bukan takut pada Raka, tapi takut pada ketidakpastian dalam hubungan mereka.Ia mengeluarkan ponselnya, berniat menghubungi Arka. Ia harus menceritakan ini. Arka harus tahu bahwa Raka sudah menemuinya. Arka pasti bisa men

  • 365 Hari Jadi Istrimu   Bab 160

    Alya melirik sekeliling kafe. Hanya ada beberapa pengunjung, tidak ada yang terlihat mencurigakan. Pak Tanaka pasti menunggu di luar."Tentu," jawab Alya, mencoba terdengar seramah mungkin. "Silakan."Raka tersenyum lebih lebar, duduk di kursi di depan Alya. Dari dekat, ia terlihat lebih tampan dari yang Alya bayangkan. Mata hitamnya memancarkan kecerdasan, dan senyumnya terlalu mempesona untuk ukuran seorang pria yang menyimpan dendam."Aku senang sekali bisa bertemu denganmu," Raka memulai, suaranya tenang. "Arka sering cerita tentangmu. Katanya kamu istri yang hebat. Aku percaya itu."Alya hanya tersenyum tipis, tidak tahu harus merespons apa. Arka cerita tentangku pada dia? Tapi kan mereka bermusuhan? Pikirannya kacau."Aku kerja sebagai produser di proyek Arka sekarang," Raka melanjutkan, seolah membaca kebingungan di wajah Alya. "Jadi kami sering bertemu, banyak bicara. Aku juga melihat foto-fotomu di media sosialnya. Kalian terlihat sangat bahagia.""Terima kasih," kata Alya, h

  • 365 Hari Jadi Istrimu   Bab 159

    Arka menelepon Kevin, tapi hanya suara nada sambung yang terdengar. Ia mencoba lagi, namun hasilnya sama. Kevin tidak mengangkat telepon."Kenapa, Ka?" tanya Alya.Arka menghela napas, meletakkan ponselnya. "Nggak diangkat. Mungkin dia masih sibuk mengurus kasus Rio di Jakarta. Pasti banyak sekali yang harus dibereskan di sana.""Jadi... kita tidak bisa menghubungi siapa-siapa?" Alya bertanya, rasa khawatir kembali merayap."Kita akan cari cara lain," Arka meyakinkan, meski nada suaranya masih menyimpan kegelisahan. "Aku akan pikirkan ini. Kamu nggak usah khawatir, ya."Ia menarik Alya untuk berbaring di tempat tidur. Mereka berpelukan erat di bawah selimut tebal. Arka mencium puncak kepala Alya, menghirup aroma rambut istrinya yang menenangkan. Alya menyandarkan kepalanya di dada Arka, mendengarkan detak jantung suaminya yang masih berdetak cepat."Tidur, Sayang," bisik Arka, mengusap lembut lengan Alya. "Sudah ada aku di sini. Nggak akan ada yang bisa mengganggu kamu."Alya mengangg

  • 365 Hari Jadi Istrimu   Bab 158

    Arka menghela napas panjang, mengumpulkan setiap keping ingatannya yang menyakitkan. "Namanya Raka Adhitya. Dia... dia sahabat terbaikku waktu kuliah. Kami dulu punya mimpi yang sama, yaitu ingin menaklukkan dunia entertainment.""Kalian satu jurusan?""Satu jurusan, satu teater kampus. Kami berdua sama-sama gila akting. Aku sering melatihnya, dia juga sering memberiku masukan. Dia punya bakat yang luar biasa dalam menulis naskah, dan aku selalu bilang padanya kalau dia pasti akan jadi penulis naskah hebat," cerita Arka, senyum pahit tersungging di bibirnya."Kami bersumpah akan selalu bersama, jadi tim yang tak terkalahkan. Aku aktornya, dia penulis naskahnya."Alya mendengarkan, merasakan kehangatan dari tangan Arka. Ia bisa membayangkan dua pemuda dengan mata berbinar, penuh mimpi di masa depan."Lalu datanglah audisi besar itu," lanjut Arka, suaranya berubah dingin. "Untuk peran utama di sebuah film independen yang kala itu sangat digadang-gadang. Kami berdua daftar. Aku dan Raka.

  • 365 Hari Jadi Istrimu   Bab 157

    "Sudah bicara dengan Raka?" tanya Sasha tanpa mengalihkan pandangan dari skripnya.Arka berhenti di depan mejanya. "Kamu yang membawanya ke sini, kan?"Sasha tertawa pelan, suara tawanya terdengar merdu namun penuh duri. "Aku hanya memberikan rekomendasi produser yang kompeten, Ka. Lagipula, kalian kan berteman lama. Harusnya kamu berterima kasih padaku karena sudah mempertemukan kalian lagi.""Jangan bermain api, Sasha," desis Arka."Aku tidak bermain api," sahut Sasha sambil berdiri. Ia mendekati Arka, menatapnya dengan mata yang dipenuhi dendam yang sama besarnya dengan Raka. "Aku hanya ingin memastikan semua orang mendapatkan apa yang pantas mereka dapatkan. Termasuk kamu. Dan termasuk istri tercintamu itu."Sasha melangk

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status