MasukAlya terbangun dengan kepala berat dan mata bengkak. Tidur tiga jam setelah drama tengah malam ternyata tidak cukup untuk memulihkan energinya. Ponselnya terus bergetar di atas meja, membuatnya mengerang kesal. Dengan enggan, dia meraih benda persegi itu dan melihat layarnya.
28 pesan baru dari grup "SMA Tanpa Drama". 17 pesan pribadi dari Luna. 5 panggilan tak terjawab dari Nadia. 3 pesan suara dari Wulan.
"Ya Allah, mereka tidak bisa membiarkanku tidur dengan tenang sedikit saja?" gumam Alya sambil mengucek matanya.
Dia membuka pesan pribadi dari Luna terlebih dahulu.
"ALYA! BANGUN! INI DARURAT!" "KAMU HARUS KE SALON NADIA SEKARANG!" "AKU SUDAH TEMUKAN FAKTA BARU TENTANG FARIS!" "DIKA ITU AKTOR TEATER!" "ALYA JAWAB DONG!" "AKU TAHU KAMU BACA PESANKU!"
Alya memutar matanya. Luna dan obsesinya terhadap "fakta-fakta" selalu membuatnya geli. Sebagai detektif swasta, Luna memang terbiasa menggali informasi hingga ke akar-akarnya, tapi kadang temannya itu terlalu bersemangat.
Alya memutuskan untuk menelepon Luna daripada membalas pesannya satu per satu.
"AKHIRNYA!" teriak Luna begitu mengangkat telepon. "Kamu ke mana aja?!"
"Tidur, Luna. Itu yang biasanya dilakukan orang normal di hari Minggu pagi."
"Normal? Setelah apa yang terjadi semalam? Alya, kamu mengomentari foto Faris dengan suaminya, dan dia membalas! Lalu kalian ngobrol lewat pesan pribadi! Dan sekarang kamu bilang itu normal?"
Alya menghela napas. "Oke, mungkin tidak sepenuhnya normal. Tapi aku butuh tidur."
"Tidur bisa nanti! Sekarang kamu harus siap-siap. Kita semua sudah di salon Nadia. Rapat darurat!"
"Rapat darurat? Luna, ini hari Minggu. Aku ada kelas mengajar jam 12."
"Masih ada empat jam lagi sampai jam 12. Pokoknya cepat ke sini. Bawa kotak merah dari bawah tempat tidurmu itu."
Alya tersentak. "Kotak apa? Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan."
Luna mendengus di seberang telepon. "Jangan pura-pura, Alya Safitri. Kotak merah berisi 17 surat cinta dari Faris. Yang surat pertamanya kamu laminating."
"Bagaimana kamu bisa tahu isi kotaknya?!" Alya menjerit, kaget dan malu sekaligus.
"Karena aku melihatnya waktu membantumu pindah kost dua tahun lalu. Ayolah, jangan malu. Kita semua tahu kamu masih naksir Faris."
"Aku tidak..."
"Bohong lagi dan aku akan menyebarkan foto kamu menangis meraung-raung saat nonton film India tahun lalu."
Alya mengerang. "Kamu kejam sekali, Luna."
"Kejam tapi sayang padamu. Sekarang cepat siap-siap. Kami tunggu di salon Nadia dalam 30 menit. Bawa kotak merahnya!"
Sebelum Alya sempat memprotes lebih jauh, Luna sudah memutuskan panggilan. Alya menatap ponselnya dengan kesal, tapi tidak bisa menahan senyum kecil. Luna memang kadang menyebalkan, tapi dia tahu temannya itu melakukan semua ini karena peduli.
Dengan enggan, Alya bangkit dari tempat tidur dan mulai bersiap-siap. Dia mandi secepat kilat, mengenakan jeans belel favoritnya dan kemeja flanel biru yang nyaman, lalu menyisir rambutnya yang masih basah. Setelah berdebat dengan dirinya sendiri selama beberapa menit, akhirnya dia memutuskan untuk membuka laci di bawah tempat tidurnya dan mengeluarkan kotak merah yang disebut Luna.
Kotak itu tidak besar, hanya seukuran kotak sepatu anak-anak. Tapi isinya adalah harta karun bagi Alya. 17 surat cinta dari Faris, disusun berdasarkan kronologi. Dari yang pertama saat mereka kelas 1 SMA, hingga yang terakhir, saat Faris memberitahu bahwa dia mendapat beasiswa ke luar negeri dan harus mengakhiri hubungan mereka.
Alya membuka kotak itu dan mengambil surat pertama, yang memang telah dia laminating untuk melindunginya dari kerusakan. Tulisan tangan Faris yang rapi dan teratur terpampang di kertas HVS biasa, tanpa hiasan atau wewangian seperti surat cinta pada umumnya.
"Alya, secara matematis, probabilitas kita berjodoh adalah 83,7%. Aku sudah menghitungnya berdasarkan variabel kecocokan kita. Maukah kamu membuktikan perhitunganku dengan menjadi pacarku? Tertanda, Faris."
Alya tersenyum kecil. Faris dan cara uniknya mengungkapkan perasaan. Tidak ada kata-kata romantis atau puitis, hanya angka dan perhitungan. Tapi justru itulah yang membuatnya spesial.
Dengan hati-hati, Alya menutup kembali kotak itu dan memasukkannya ke dalam tas selempangnya. Entah apa yang direncanakan Luna dan yang lainnya, tapi dia tahu mereka akan meminta bukti bahwa dia masih menyimpan semua surat itu.
Tiga puluh menit kemudian, Alya tiba di Nadia Beauty House, salon milik Nadia yang terletak di kawasan Kemang. Salon itu tidak terlalu besar tapi sangat elegan, dengan nuansa pink pastel dan putih yang menenangkan. Di bagian depan terdapat area resepsionis dan ruang tunggu yang nyaman, sementara di bagian dalam terdapat area perawatan, lengkap dengan kursi-kursi salon modern dan peralatan kecantikan terkini.
"AKHIRNYA!" seru Luna begitu melihat Alya masuk. Dia langsung menarik tangan Alya dan menyeretnya ke ruangan pribadi Nadia di bagian belakang salon.
Di dalam ruangan itu, Alya menemukan ketiga sahabatnya sudah berkumpul dengan wajah serius seperti sedang merencanakan perampokan bank.
Nadia, dengan jilbab pink pastel yang serasi dengan dekorasi salonnya, duduk di balik meja kerjanya yang dipenuhi katalog dan sampel produk kecantikan. Di sampingnya, Indah, si psikolog dengan kacamata bundar ala Harry Potter, sibuk mencatat sesuatu di buku tebalnya yang selalu dia bawa ke mana-mana. Sementara Wulan, pengacara galak yang selalu berpakaian formal bahkan di hari Minggu, berdiri di dekat papan tulis putih yang entah dari mana datangnya, dengan spidol di tangan, siap menuliskan strategi.
"Akhirnya datang juga si putri tidur," sindir Wulan, tapi senyumnya hangat.
"Aku masih tidak mengerti kenapa harus ada rapat darurat sepagi ini," keluh Alya sambil menjatuhkan diri ke sofa empuk di sudut ruangan.
"Sepagi ini? Alya, ini sudah jam 9 pagi!" Luna mengingatkan.
"Hari Minggu, Luna. Hari Minggu."
"Sudah, sudah," Nadia menengahi dengan suara lembutnya yang khas. "Yang penting Alya sudah di sini. Sekarang kita bisa mulai rapat darurat kita."
"Jadi, apa agenda rapat darurat ini?" tanya Alya, masih dengan nada malas.
Luna, yang tampaknya telah menjadikan dirinya ketua tak resmi dari kelompok itu, berdiri di samping Wulan dan mengambil alih spidol.
"Agenda hari ini: Operasi 'Bikin Faris Menyesal'!" Luna menulis dengan huruf besar di papan tulis.
"Memangnya Faris punya apa yang harus disesali?" tanya Alya, pura-pura tidak mengerti.
"Oh, please," Luna memutar matanya. "Dia memutuskanmu lewat surel delapan tahun lalu tanpa diskusi, kemudian menghilang, dan sekarang muncul dengan 'suami' barunya? Dia harus merasakan apa yang kamu rasakan, Alya!"
Alya mengernyitkan dahi. "Luna, kamu tahu itu surel resmi dari kampusnya, berisi pemberitahuan bahwa dia mendapat beasiswa penuh S2 di MIT. Aku yang memintanya untuk fokus pada studinya dan tidak memikirkan hubungan jarak jauh."
"Tapi dia setuju terlalu cepat!" protes Luna.
"Dan dia tidak pernah menghubungimu lagi setelah itu," tambah Nadia.
"Sampai semalam," koreksi Indah, akhirnya mengangkat wajah dari bukunya. "Aku sudah menganalisis percakapan kalian di I*******m. Dari sudut pandang psikologis, Faris menunjukkan tanda-tanda seseorang yang masih memiliki ketertarikan pada mantannya. Cara dia langsung merespons komentarmu, dan bagaimana dia mengajak bertemu di reuni, itu semua indikator kuat."
"Oh ya? Bukannya itu juga bisa jadi tanda bahwa dia hanya ingin bersikap sopan pada teman lama?" bantah Alya.
"Tengah malam? Saat dia baru saja mengumumkan ke dunia bahwa dia gay dan sudah menikah? Itu bukan waktu yang tepat untuk sekadar bersikap sopan pada teman lama," Indah mendebat balik. "Ini lebih mengarah pada cognitive dissonance, di mana dia mengalami konflik internal antara orientasi seksual barunya dan perasaan lamanya padamu."
"Atau," Luna menyela, "semuanya hanya akting. Dika itu aktor teater, Alya. Aku sudah menyelidikinya semalam. Dia bergabung dengan kelompok teater Sanggar Angin tiga tahun lalu dan cukup terkenal di kalangan teater independen Jakarta. Spesialisasinya adalah akting improvisasi dan method acting."
Alya mengerjapkan mata, mencoba mencerna informasi itu. "Maksudmu, Faris menyewa aktor untuk berpura-pura jadi suaminya?"
"Itu hipotesis yang masuk akal," Wulan mengangguk serius. "Secara hukum, tidak ada catatan pernikahan atas nama Faris Aditya dengan siapapun dalam lima tahun terakhir. Aku sudah mengeceknya."
"Kamu bisa mengakses catatan pernikahan orang?" tanya Alya tak percaya.
Wulan mengangkat bahu. "Aku punya kenalan di Kementerian Agama."
"Tapi itu ilegal, kan?"
"Yang ilegal adalah kalau aku membagikan informasi itu ke publik. Ini hanya untuk konsumsi pribadi," Wulan berkilah dengan santai. "Lagipula, ini untuk kebaikanmu, Alya. Kita perlu tahu apa yang kita hadapi."
Alya menghela napas panjang. "Kalian semua sudah gila. Faris gay atau tidak, sudah menikah atau tidak, itu bukan urusan kita. Hubungan kami sudah berakhir delapan tahun lalu."
"Tapi kamu masih menyimpan kotak merah itu," Luna menunjuk tas Alya. "Ayo, tunjukkan pada kami."
Dengan enggan, Alya mengeluarkan kotak merah dari tasnya dan meletakkannya di atas meja. Luna langsung membukanya dengan antusias, sementara Nadia, Indah, dan Wulan mendekat untuk melihat isinya.
"Oh my God, kamu benar-benar menyimpan semuanya!" pekik Nadia, matanya melebar melihat tumpukan surat yang tersusun rapi.
"Dan ini," Luna mengangkat surat pertama yang dilaminasi, "adalah bukti bahwa kamu belum move on, Alya Safitri."
Alya merasa wajahnya memanas. "Aku hanya menyimpannya sebagai kenangan. Sama seperti kalian menyimpan foto-foto SMA atau barang-barang dari mantan."
"Aku membakar semua pemberian mantanku," kata Wulan datar.
"Aku memberikannya pada adikku," kata Nadia.
"Aku menyimpannya sebagai studi kasus," kata Indah.
"Aku menjualnya di pasar loak," kata Luna, membuat semua mata tertuju padanya. "Apa? Daripada jadi sampah, lebih baik dijual."
Alya menggelengkan kepala. "Intinya, ini hanya kenangan. Tidak berarti aku masih punya perasaan pada Faris."
"Alya," Indah menutup bukunya dan menatap Alya dengan serius, "sebagai psikolog profesional, aku bisa mengatakan dengan pasti bahwa denial adalah tahap pertama dari kesedihan. Dan kamu sudah terjebak di tahap itu selama delapan tahun."
"Aku tidak denial!"
"Nah, itu tandanya kamu denial," kata Indah dengan senyum puas.
Alya melemparkan bantal sofa ke arah Indah, yang dengan gesit menghindarinya.
"Oke, cukup bermain-mainnya," Luna mengambil alih lagi. "Kita perlu strategi untuk reuni minggu depan. Faris akan datang dengan 'suami' palsunya, dan kamu, Alya, harus tampil maksimal!"
"Maksimal bagaimana?" tanya Alya, mulai penasaran meski masih bersikap skeptis.
Luna menunjuk Nadia. "Nadia akan mengurus penampilanmu. Rambut, makeup, perawatan kulit, semua yang kamu butuhkan untuk terlihat stunning. Biar Faris melihat apa yang dia lewatkan selama delapan tahun ini."
Nadia mengangguk bersemangat. "Aku sudah punya beberapa ide untuk rambutmu, Alya. Mungkin highlight caramel untuk mencerahkan wajah? Atau mungkin potong pendek model bob yang chic? Atau mungkin..."
"Stop, stop," Alya mengangkat tangannya. "Aku tidak mau mengubah rambutku terlalu drastis."
"Kita lihat nanti," Nadia mengedipkan sebelah matanya, membuat Alya curiga.
Luna melanjutkan, menunjuk Indah. "Indah akan membantumu dengan persiapan mental dan emosional. Bagaimana cara bersikap saat bertemu Faris, apa yang harus dikatakan, bagaimana merespons pertanyaan tentang kehidupan pribadimu, dan sebagainya."
Indah mengangguk serius, membuka bukunya lagi. "Aku sudah menyusun beberapa skenario potensial dan respons optimal untuk masing-masing. Kita akan latihan role-play nanti."
Luna kemudian menunjuk Wulan. "Wulan akan mengurus aspek legal dan investigatif. Mencari tahu lebih banyak tentang Dika, hubungannya dengan Faris, dan apakah ada kontrak di antara mereka."
"Aku juga akan menyiapkan surat somasi jika ada yang berani mengganggu atau mempermalukan kamu di reuni nanti," tambah Wulan dengan wajah serius.
"Wulan, kamu tidak bisa mengancam orang dengan somasi hanya karena mereka membuatku tidak nyaman," Alya mengingatkan.
"Watch me," balas Wulan dengan senyum misterius.
"Dan aku," Luna menunjuk dirinya sendiri, "akan menjadi koordinator operasi. Aku akan mengumpulkan semua informasi, memastikan semua berjalan sesuai rencana, dan memberikan dukungan real-time selama reuni nanti."
Alya menatap keempat sahabatnya dengan takjub. Mereka benar-benar serius dengan rencana gila ini.
"Kalian yakin ini perlu? Maksudku, aku hanya perlu datang ke reuni, bertemu teman-teman lama, mengobrol sebentar, lalu pulang, kan?"
"Alya, Alya, Alya," Luna menggelengkan kepala dengan dramatis. "Ini bukan sekadar reuni. Ini adalah kesempatan untuk menunjukkan pada Faris apa yang dia lewatkan. Untuk membuatnya menyesal telah melepaskanmu. Untuk membuatnya mengakui bahwa keputusannya delapan tahun lalu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya!"
"Dan jika dia benar-benar gay?" tanya Alya.
"Maka kita akan mendukungnya," kata Nadia lembut. "Tapi setidaknya kamu akan mendapatkan closure yang kamu butuhkan."
"Aku tidak butuh closure," bantah Alya.
"Denial lagi," gumam Indah, yang langsung mendapat tatapan tajam dari Alya.
"Dengar," Luna duduk di sebelah Alya dan merangkul bahunya, "kamu mungkin tidak menyadarinya, tapi kamu belum benar-benar move on dari Faris. Delapan tahun, Alya. Delapan tahun kamu tidak pernah serius dengan lelaki manapun. Delapan tahun kamu masih menyimpan semua surat cintanya. Delapan tahun kamu masih membuka profilnya di media sosial setiap kali kamu merasa sedih."
"Bagaimana kamu bisa tahu itu?" tanya Alya, merasa terekspos.
"Karena aku temanmu," jawab Luna sederhana. "Dan karena aku pernah melihat riwayat pencarianmu waktu meminjam ponselmu."
"Luna!"
"Maaf, kebiasaan detektif. Intinya, kamu perlu closure, Alya. Dan reuni ini adalah kesempatanmu untuk mendapatkannya."
Alya terdiam, mencerna kata-kata Luna. Mungkin temannya itu benar. Mungkin dia memang belum benar-benar move on dari Faris. Bagaimana bisa, jika perpisahan mereka begitu tiba-tiba dan tanpa penjelasan yang memuaskan?
"Baiklah," kata Alya akhirnya. "Aku akan ikut rencana kalian. Tapi dengan satu syarat."
"Apa?" tanya Luna.
"Tidak ada yang boleh mempermalukan Faris atau Dika di reuni nanti. Jika mereka benar-benar pasangan, kita harus menghormati itu."
Keempat temannya saling pandang, lalu mengangguk setuju.
"Deal," kata Luna. "Tapi jika terbukti mereka hanya berpura-pura, kita akan membongkar kebohongan mereka."
"Dan mengirim surat somasi," tambah Wulan, yang langsung mendapat tatapan heran dari yang lain. "Apa? Berbohong tentang status pernikahan bisa masuk kategori penipuan, tahu."
"Terserah," Alya mengangkat tangannya menyerah. "Jadi, apa langkah pertama dari rencana gila ini?"
Luna tersenyum lebar, jenis senyuman yang selalu membuat Alya sedikit khawatir. "Pertama, kita mulai dengan transformasimu. Nadia, salon sudah siap?"
Nadia mengangguk antusias. "Semua peralatan sudah siap. Perawatan lengkap untuk Alya: facial, creambath, manicure, pedicure, dan tentu saja, konsultasi gaya rambut."
Alya menelan ludah. "Aku tidak yakin ini ide bagus..."
"Ini ide terbaik!" Luna menyela. "Kita akan membuat Faris menyesal sudah melepaskanmu!"
"Aku masih punya kelas mengajar jam 12," Alya mengingatkan.
"Tidak masalah. Kita fokus pada perawatan dasar hari ini. Besok dan lusa kita lanjutkan dengan transformasi yang lebih serius," kata Nadia.
"Dan aku perlu lihat isi lemarimu," tambah Luna. "Kita perlu memastikan kamu punya pakaian yang tepat untuk reuni nanti."
"Memangnya ada yang salah dengan pakaianku?" tanya Alya, menunduk melihat outfit-nya hari ini.
Ketiga temannya saling pandang dengan ekspresi yang tidak perlu dijelaskan.
"Alya sayang," Nadia berkata hati-hati, "kamu guru TK yang luar biasa. Tapi selera fashionmu... sedikit terlalu nyaman."
"Maksudmu jelek," koreksi Luna tanpa basa-basi.
"Luna!" tegur Nadia.
"Apa? Dia perlu dengar kebenaran. Alya, kamu cantik. Tapi cara berpakaianmu seperti nenek-nenek yang siap pensiun."
"Hei, aku mengajar anak TK. Aku perlu pakaian yang nyaman dan praktis," bela Alya.
"Untuk mengajar, ya. Tapi untuk reuni? Kamu perlu sesuatu yang membuat semua orang, terutama Faris, menoleh dua kali saat melihatmu," kata Luna.
"Menurut analisis psikologisku," Indah kembali membuka bukunya, "pakaian yang kamu pilih untuk reuni harus mencerminkan tiga hal: kepercayaan diri, kesuksesan, dan kematangan emosional. Ini akan memberikan pesan subliminal pada Faris bahwa kamu telah berkembang dan bahagia tanpanya."
"Dan dari segi hukum," Wulan tidak mau kalah, "penampilan yang menarik bisa meningkatkan kredibilitasmu jika nanti terjadi konfrontasi verbal."
Alya menatap keempat temannya dengan tak percaya. "Kalian semua sudah gila."
"Gila karena sayang padamu," Luna tersenyum lebar. "Jadi, kita mulai?"
Alya menghela napas panjang, tapi akhirnya mengangguk pasrah. "Baiklah. Tapi ingat, aku ada kelas jam 12."
"Sempurna!" Luna bertepuk tangan. "Nadia, kamu bisa mulai sekarang. Indah, siapkan daftar pertanyaan untuk sesi role-play nanti. Wulan, lanjutkan investigasimu tentang Dika. Dan aku," dia mengeluarkan buku catatan kecil dari tasnya, "akan mempersiapkan timeline operasi kita untuk seminggu ke depan."
Saat Nadia mulai menuntunnya ke area perawatan salon, Alya tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Luna, apa kamu tidak punya kehidupan selain mengurusi masalahku?"
Luna tersenyum misterius. "Oh, aku punya banyak kehidupan, Alya. Tapi tidak ada yang lebih menarik daripada misi 'Bikin Faris Menyesal' ini. Trust me, ini akan jadi minggu yang tidak akan pernah kamu lupakan."
Dan entah mengapa, kata-kata Luna itu membuat Alya merasa gugup dan bersemangat sekaligus. Mungkin, hanya mungkin, ini memang kesempatannya untuk mendapatkan closure yang dia butuhkan. Atau mungkin, sesuatu yang lebih dari sekadar closure.
"Kita bikin dia menyesal meninggalkan lo!" seru Luna, mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk tos.
Dan meski masih ragu, Alya tidak bisa menahan diri untuk membalas tos itu dengan senyum kecil di wajahnya.
Aula SMA Pelita Harapan kembali dihias dengan indah, kali ini untuk acara yang berbeda namun sama istimewanya: Reuni Akbar Satu Tahun Pernikahan. Spanduk besar terbentang di atas pintu masuk, "SELAMAT DATANG DI REUNI SATU TAHUN PERNIKAHAN MASSAL ANGKATAN 2015".Alya berdiri di depan cermin panjang yang dipasang di ruang persiapan, merapikan jilbab baby blue-nya yang senada dengan gamis panjang yang dia kenakan. Di sampingnya, putra kecilnya yang berusia tiga bulan tertidur pulas dalam gendongan Faris."Kamu yakin Faiz akan baik-baik saja?" tanya Alya untuk kesekian kalinya, melirik khawatir pada bayi mungilnya. "Mungkin kita datang terlalu cepat. Bagaimana kalau dia terbangun dan menangis di tengah acara?"Faris tersenyum menenangkan. "Faiz akan baik-baik saja, sayang. Dia bayi yang tenang. Lagipula, kita tidak sendiri. Ada banyak bayi lain di sini, ingat?"Alya mengangguk, masih sedikit cemas tapi mencoba tenang. Faris benar, mereka tidak s
Maya mengelus perutnya yang mulai membesar dengan sayang. Tujuh bulan kehamilannya telah memberikan perubahan signifikan pada tubuhnya, tapi dia tidak keberatan. Setiap gerakan kecil dari bayi di dalam perutnya adalah pengingat akan keajaiban yang sedang dia alami."Kamu baik-baik saja?" tanya Rizky, melirik istrinya dengan khawatir dari balik kemudi. "Perjalanan ini tidak terlalu melelahkan?""Aku baik-baik saja," Maya meyakinkan dengan senyum. "Bayi kita juga baik-baik saja. Dia sepertinya bersemangat sekali hari ini, tidak berhenti bergerak.""Mungkin dia juga tidak sabar melihat sekolah kita," Rizky tertawa kecil. "Tempat ayah dan ibunya pertama kali bertemu."Maya menatap keluar jendela mobil. Jalanan Jakarta di pagi hari masih ramai meski ini hari Minggu. Hari ini adalah hari yang sangat spesial peluncuran novel terbarunya, "7 Hari Sebelum Reuni: Misi Mantan Terindah", yang diadakan di aula SMA lama mereka. Bukan hanya itu, acara ini j
Alya merapikan meja kerjanya di sudut ruang guru TK Pelangi Ceria. Jam dinding menunjukkan pukul tiga sore, dan anak-anak sudah dijemput oleh orang tua mereka masing-masing. Hanya tersisa beberapa guru yang masih menyelesaikan pekerjaan mereka."Alya, ponselmu berbunyi," seru Bu Rini, kepala TK, dari mejanya.Alya menoleh ke arah tasnya yang tergeletak di sofa ruang guru. Dia bisa mendengar deringan samar dari sana. Dengan cepat, dia menghampiri tas dan mengambil ponselnya. Nama Maya muncul di layar."Halo, Maya," sapa Alya, menjepit ponsel di antara telinga dan bahunya sementara tangannya melanjutkan merapikan barang-barangnya."Alya! Akhirnya!" suara Maya terdengar sangat bersemangat. "Aku sudah meneleponmu tiga kali.""Maaf, tadi sedang mengajar," Alya tersenyum. "Ada apa? Kamu terdengar seperti baru memenangkan lotere.""Lebih baik dari lotere," jawab Maya. "Aku hamil!"Alya terkesiap, nyaris menjatuhkan beberapa lem
Maya duduk di sudut ruangan, notebook kecilnya terbuka di pangkuan. Sementara teman-temannya masih asyik bernostalgia dan mengobrol, dia mengambil waktu sejenak untuk merefleksikan semua yang telah terjadi malam ini. Tangannya bergerak lincah di atas kertas, mencatat setiap detail, setiap momen, setiap ekspresi yang dia lihat."Masih bekerja bahkan di pesta sendiri?" sebuah suara mengejutkannya.Maya mendongak dan melihat Rizky berdiri di sampingnya dengan dua gelas minuman. Dia tersenyum, menerima salah satu gelas dari suaminya."Bukan bekerja," Maya mengoreksi lembut. "Mengabadikan momen."Rizky duduk di sampingnya, mengintip isi notebook tersebut. "Dan bagaimana kesimpulanmu tentang malam ini, Nyonya Penulis?"Maya menutup notebooknya dan menatap ke arah teman-teman mereka yang masih berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, tertawa dan berbagi cerita. "Sempurna," jawabnya. "Dalam segala ketidaksempurnaannya.""Ketidaksempurnaan?" Rizky me
Maya tidak bisa menahan senyumnya saat melihat Alya menunjukkan cincin safir pemberian Faris kepada teman-teman mereka. Rencananya berhasil bahkan melampaui ekspektasi. Bukan hanya Alya dan Faris yang kembali bersama, tapi juga Bimo dan Nadia yang bertunangan, serta Luna dan Dika yang menemukan chemistry tidak terduga."Kamu tampak sangat puas dengan dirimu sendiri," bisik Rizky di telinga Maya."Tentu saja," Maya menyeringai. "Lihat mereka semua. Bahagia berkat sedikit... intervensi dariku.""Dan konspirasi besar," tambah Rizky dengan tawa kecil. "Jangan lupa bagian itu.""Well, setiap penulis yang baik tahu kapan harus sedikit memanipulasi plot," Maya mengangkat bahu dengan jenaka.Saat mereka sedang asyik berbincang, pintu ballroom terbuka, dan sesosok pria tinggi dengan penampilan rapi masuk dengan langkah mantap. Seluruh ruangan mendadak hening, semua mata tertuju pada pendatang baru tersebut."Gibran?" bisik Luna, matanya
Alya menatap pantulan dirinya di cermin toilet wanita hotel dengan senyum kecil. Rambutnya yang dipotong pendek ternyata tidak seburuk yang dia bayangkan. Justru, potongan bob pendek ini membingkai wajahnya dengan sempurna, membuatnya terlihat lebih segar dan dewasa."Siapa sangka krisis rambut bisa berakhir sebagai blessing in disguise," gumamnya sambil merapikan anak rambut yang sedikit berantakan.Pintu toilet terbuka, dan Luna masuk dengan wajah berseri-seri."Disini kamu rupanya!" seru Luna. "Aku mencarimu kemana-mana.""Ada apa?" tanya Alya, mengalihkan perhatiannya dari cermin."MC baru saja mengumumkan bahwa acara akan berakhir dengan dansa terakhir," Luna menjelaskan dengan mata berbinar. "Seperti di prom night kita dulu. Dan kamu tahu lagunya apa? 'A Thousand Years'! Lagu yang kamu dan Faris dansa terakhir kali sebelum putus yang ke-17!"Alya terkesiap. "Kamu bercanda?""Tidak sama sekali," Luna menggeleng. "Ini pasti bagian







