ログインAlya Safitri, guru TK pemalu dengan julukan “Dewi Galau”, hanya punya tujuh hari sebelum reuni akbar SMA. Selama ini ia masih dibayangi luka lama: kisah cinta putus-nyambung tujuh belas kali bersama Faris Aditya, si jenius matematika yang kini sukses sebagai direktur perusahaan fintech syariah. Hidup Alya terguncang ketika sebuah siniar viral menampilkan Faris dengan seorang lelaki muda yang mengaku sebagai “suaminya”. Di mata dunia, Faris sudah taken tapi di balik layar, “suami” itu hanyalah aktor bayaran untuk menutupi perjodohan paksa. Alya pun terjebak dalam drama baru, didorong oleh sahabat-sahabatnya yang meluncurkan misi “Glow Up Alya” agar ia tampil menawan di reuni. Sementara itu, rahasia demi rahasia terbuka: Maya, si pendiam yang dulu tak dianggap, ternyata menjadi dalang sekaligus penulis romansa terkenal yang sengaja merancang skenario mempertemukan kembali pasangan-pasangan lama. Konspirasi ini membuat Alya dan Faris harus menghadapi masa lalu mereka yang penuh gengsi, luka, dan cinta yang belum selesai. Dalam hitungan hari, Alya dipaksa memilih: tetap bertahan dalam bayang-bayang masa lalu, atau menerima kenyataan bahwa cinta sejati kadang tiba-tiba menjadi milikmu di saat paling tak terduga. Dengan bumbu humor persahabatan, drama keluarga, serta intrik sosial media yang membuat segalanya viral, kisah ini menghadirkan tawa, air mata, dan keyakinan bahwa kesempatan kedua selalu ada asal berani membuka hati.
もっと見るAula SMA Pelita Harapan kembali dihias dengan indah, kali ini untuk acara yang berbeda namun sama istimewanya: Reuni Akbar Satu Tahun Pernikahan. Spanduk besar terbentang di atas pintu masuk, "SELAMAT DATANG DI REUNI SATU TAHUN PERNIKAHAN MASSAL ANGKATAN 2015".Alya berdiri di depan cermin panjang yang dipasang di ruang persiapan, merapikan jilbab baby blue-nya yang senada dengan gamis panjang yang dia kenakan. Di sampingnya, putra kecilnya yang berusia tiga bulan tertidur pulas dalam gendongan Faris."Kamu yakin Faiz akan baik-baik saja?" tanya Alya untuk kesekian kalinya, melirik khawatir pada bayi mungilnya. "Mungkin kita datang terlalu cepat. Bagaimana kalau dia terbangun dan menangis di tengah acara?"Faris tersenyum menenangkan. "Faiz akan baik-baik saja, sayang. Dia bayi yang tenang. Lagipula, kita tidak sendiri. Ada banyak bayi lain di sini, ingat?"Alya mengangguk, masih sedikit cemas tapi mencoba tenang. Faris benar, mereka tidak s
Maya mengelus perutnya yang mulai membesar dengan sayang. Tujuh bulan kehamilannya telah memberikan perubahan signifikan pada tubuhnya, tapi dia tidak keberatan. Setiap gerakan kecil dari bayi di dalam perutnya adalah pengingat akan keajaiban yang sedang dia alami."Kamu baik-baik saja?" tanya Rizky, melirik istrinya dengan khawatir dari balik kemudi. "Perjalanan ini tidak terlalu melelahkan?""Aku baik-baik saja," Maya meyakinkan dengan senyum. "Bayi kita juga baik-baik saja. Dia sepertinya bersemangat sekali hari ini, tidak berhenti bergerak.""Mungkin dia juga tidak sabar melihat sekolah kita," Rizky tertawa kecil. "Tempat ayah dan ibunya pertama kali bertemu."Maya menatap keluar jendela mobil. Jalanan Jakarta di pagi hari masih ramai meski ini hari Minggu. Hari ini adalah hari yang sangat spesial peluncuran novel terbarunya, "7 Hari Sebelum Reuni: Misi Mantan Terindah", yang diadakan di aula SMA lama mereka. Bukan hanya itu, acara ini j
Alya merapikan meja kerjanya di sudut ruang guru TK Pelangi Ceria. Jam dinding menunjukkan pukul tiga sore, dan anak-anak sudah dijemput oleh orang tua mereka masing-masing. Hanya tersisa beberapa guru yang masih menyelesaikan pekerjaan mereka."Alya, ponselmu berbunyi," seru Bu Rini, kepala TK, dari mejanya.Alya menoleh ke arah tasnya yang tergeletak di sofa ruang guru. Dia bisa mendengar deringan samar dari sana. Dengan cepat, dia menghampiri tas dan mengambil ponselnya. Nama Maya muncul di layar."Halo, Maya," sapa Alya, menjepit ponsel di antara telinga dan bahunya sementara tangannya melanjutkan merapikan barang-barangnya."Alya! Akhirnya!" suara Maya terdengar sangat bersemangat. "Aku sudah meneleponmu tiga kali.""Maaf, tadi sedang mengajar," Alya tersenyum. "Ada apa? Kamu terdengar seperti baru memenangkan lotere.""Lebih baik dari lotere," jawab Maya. "Aku hamil!"Alya terkesiap, nyaris menjatuhkan beberapa lem
Maya duduk di sudut ruangan, notebook kecilnya terbuka di pangkuan. Sementara teman-temannya masih asyik bernostalgia dan mengobrol, dia mengambil waktu sejenak untuk merefleksikan semua yang telah terjadi malam ini. Tangannya bergerak lincah di atas kertas, mencatat setiap detail, setiap momen, setiap ekspresi yang dia lihat."Masih bekerja bahkan di pesta sendiri?" sebuah suara mengejutkannya.Maya mendongak dan melihat Rizky berdiri di sampingnya dengan dua gelas minuman. Dia tersenyum, menerima salah satu gelas dari suaminya."Bukan bekerja," Maya mengoreksi lembut. "Mengabadikan momen."Rizky duduk di sampingnya, mengintip isi notebook tersebut. "Dan bagaimana kesimpulanmu tentang malam ini, Nyonya Penulis?"Maya menutup notebooknya dan menatap ke arah teman-teman mereka yang masih berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, tertawa dan berbagi cerita. "Sempurna," jawabnya. "Dalam segala ketidaksempurnaannya.""Ketidaksempurnaan?" Rizky me
Maya duduk di tepi ranjang kamar hotel, jemarinya dengan lincah mengetik di laptop. Malam sudah larut, tapi matanya masih terjaga, dipenuhi inspirasi yang mengalir deras seperti air bah. Di sampingnya, Rizky tertidur pulas, kelelahan setelah hari yang panjang dan penuh emosi.
Faris menatap bayangannya di cermin kamar hotel, merapikan dasi putih yang terasa sedikit mencekik lehernya. Jas putih dengan aksen emas yang dipilih Andi tampak sempurna di tubuhnya, tapi tidak mengurangi kegugupan yang ia rasakan. Hari ini, dalam beberapa jam lagi, ia akan menikah
"Nadia, itu sangat mencurigakan!"Suara Luna menggelegar memenuhi salon kecantikan Nadia yang masih tutup di Sabtu pagi itu. Empat wanita duduk mengelilingi meja bundar di area tunggu salon, masing-masing dengan secangkir kopi di tangan dan wajah yang mencerminkan berbagai tingkat kelelaha
Rizky memegang erat kemudi mobilnya, jantungnya berdebar kencang seperti genderang perang. Jalanan Jakarta yang macet di sore hari menjadi lawan yang menyebalkan dalam misinya menemukan Maya. Mobilnya bergerak maju sedikit demi sedikit, terlalu lambat untuk kegelisahan hatinya."Ya Allah,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビュー