LOGIN"Pwede bang ako naman, Blaze? Pwede bang ako naman ang piliin mo?” nagmamakaawang wika ni Jane sa harapan ni Blaze. “Don't get me wrong, nagpakasal ako sa 'yo hindi dahil kamukha mo na si Gizelle kundi para manahimik na ang mga magulang natin. Kahit pagbali-baliktarin mo man ang utak ko, si Gizelle pa rin ang mamahalin ko. Siya at siya lang. Apelyido ko lang ang gamit mo pero kahit kailan hindi mo ako magiging pagmamay-ari! ” Para kay Jane, ang pagsusuot ng maskara lamang ang tanging sagot upang tanggapin siya ng lalaking mahal niya. Ngunit kailan nga ba siya matatanggap? Hanggang saan ang kaya niyang tiisin? Hanggang saan pa ang kaya niyang gawin sa ngalan ng pag-ibig? Hanggang kailan siya magpapanggap bilang ibang tao? May patutunguhan pa rin kaya ang pagmamahal niya para kay Blaze?
View MoreByur!
Suara air yang pecah dengan keras itu membelah keheningan sore di kediaman mewah keluarga Pratama. Di tengah riak air itu, sesosok tubuh berjuang dengan dramatis, tangan-tangannya menggapai udara seolah sedang ditarik ke dasar neraka. "Tolong! Tolong aku! Kak Bintang, kenapa... uhuk... tolong!" Teriakan itu melengking, memicu kepanikan. Pintu-pintu kaca geser menuju area kolam terbuka lebar, semua berhamburan keluar dengan wajah pucat pasi. Bintang berdiri terpaku di tepi kolam. Tangannya masih gemetar, bukan karena habis mendorong seseorang, melainkan karena syok melihat sandiwara yang begitu rapi dimainkan di depan matanya. Monik, adik tirinya yang datang dengan dalih berkunjung baru saja menjatuhkan diri dengan sengaja. Namun, kejutan sebenarnya bukan pada jatuhnya Monik. Dalam hitungan detik, sebuah pemandangan yang mustahil terjadi di depan mata Bintang. Rendi, suaminya yang selama setahun terakhir hanya bisa terduduk lemah di atas kursi roda, tiba-tiba bangkit. Tanpa ragu kakinya menapak kokoh di atas lantai batu alam. Dengan gerakan yang sangat tangkas, Rendi berlari dan melompat masuk ke dalam air. Byur! Dunia seolah melambat bagi Bintang. Jantungnya terasa berhenti berdetak saat melihat Rendi berenang dengan kuat, merengkuh tubuh Monik ke dalam pelukan, dan membawanya ke tepi kolam dengan kekuatan seorang pria yang sangat sehat. Rendi mengangkat Monik ke atas permukaan, membiarkan wanita itu terbatuk-batuk manja di dadanya. Bintang masih membeku. Nafasnya tercekat di tenggorokan. Fokusnya bukan pada Monik yang basah kuyup, melainkan pada dua kaki Rendi yang sekarang berdiri tegak, menyangga beban tubuhnya sendiri dengan sempurna. "Mas, kamu... Kamu bisa berdiri?" bisik Bintang, suaranya nyaris hilang ditelan angin sore. Rendi tidak langsung menjawab. Wajahnya merah padam, bukan karena lelah, melainkan karena amarah yang meluap-luap. Dia melepaskan Monik dengan hati-hati, lalu melangkah lebar mendekati Bintang istrinya. PLAK! Tamparan itu mendarat begitu keras di pipi kiri Bintang hingga kepalanya terhentak ke samping. Suara hantaman kulit itu bergema di area terbuka tersebut, diikuti oleh kesunyian yang mencekam. "Siapa yang menyuruhmu mendorongnya, hah?!" raung Rendi. Suaranya menggelegar, penuh dengan kebencian yang selama ini ia simpan rapat-rapat. "Sudah tidak berguna, tidak bisa memberikan anak, sekarang kamu mau menjadi pembunuh di rumahku sendiri?" Bintang memegangi pipinya yang mulai terasa panas dan berdenyut. Namun, rasa sakit di kulitnya tidak sebanding dengan rasa hancur di dalam dadanya. Dia menatap Rendi dengan mata yang mulai berkaca-kaca, mencoba mencari sisa-sisa kejujuran di wajah pria yang setahun ini dia layani seperti raja. "Aku tidak mendorongnya, Mas... Dia jatuh sendiri," suara Bintang bergetar hebat. "Tapi itu tidak penting sekarang. Kamu... kamu sudah bisa berjalan? Sejak kapan? Bukanlah dokter bilang kamu lumpuh permanen?" Rendi sempat tertegun sejenak, menyadari bahwa penyamarannya terbongkar karena kepanikan sesaat. Namun, egonya jauh lebih besar daripada rasa bersalahnya. Dia membusungkan dada, menatap Bintang dengan jijik. "Ya, aku sudah bisa berjalan! Baru saja! Rasa panik karena melihat kekejamanmu pada Monik membuat keajaiban terjadi. Tuhan menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya hari ini!" jawab Rendi dengan logika yang bengkok. Monik, yang kini sudah diselimuti handuk oleh adik Rendi, mulai terisak lebih keras. "Jangan salahkan Kak Bintang, Mas Rendi... Mungkin Kak Bintang hanya tidak sengaja. Mungkin dia sedang lelah karena mengurus Mas, jadi dia sedikit emosi padaku..." "Lihat!" teriak wanita paruh baya yang bergabung. Dia adalah mertua Bintang, yang langsung menghampiri dan menunjuk wajah Bintang. "Bahkan Monik yang kamu celakai masih berusaha membelamu! Dasar menantu tidak tahu diuntung! Kami memberimu tempat tinggal, martabat, dan ini balasanmu? Mencoba membunuh tamu di rumah ini?" "Ma, aku benar-benar tidak melakukannya!" "Diam!" potong Shinta, adik ipar Bintang, dengan tatapan sinis. "Semua orang lihat bagaimana kamu berdiri paling dekat dengannya tadi. Kamu iri kan karena Monik jauh lebih cantik dan disukai Kak Rendi daripada kamu yang hanya bisa bermuka sedih setiap hari? Dasar pembawa sial! Gara-gara kamu, Kak Rendi harus menderita setahun ini, dan sekarang kamu mau mencelakai orang lain?" Hinaan demi hinaan dilemparkan ke arah Bintang seperti batu yang dilemparkan pada pesakitan. Bintang berdiri di tengah-tengah mereka, basah oleh air kolam yang menciprat, sendirian di bawah tatapan benci keluarga yang selama ini dia bela dengan seluruh tenaganya. Air mata Bintang jatuh mengalir, membasahi pipinya yang merah bekas tamparan. Dia merasa kecil, tidak berarti, dan benar-benar hancur. Selama setahun dia mengabdikan diri untuk keluarga suaminya, bahkan pembantu disana lebih dihargai ketimbang dirinya yang merupakan seorang menantu Tiba-tiba Suara bariton terdengar, yang seketika membungkam semua makian. "Ada keributan apa ini?" Dari arah pintu muncul sosok pria tinggi dengan setelan jas lengkap. Langkah kakinya yang tenang namun mantap bergema di atas lantai batu. Itu adalah Angkasa. Kakak tiri Rendi, kepala keluarga Pratama yang sesungguhnya. Angkasa berhenti beberapa langkah dari kerumunan itu. Matanya yang tajam menyapu pemandangan di depannya. Suasana menjadi sangat kaku. Ibu Rendi segera mengubah ekspresinya menjadi wajah yang mencari perlindungan. "Angkasa, kamu sudah datang? Maaf baru pulang dari luar negeri kamu justru mendapati pemandangan seperti ini.” “Ada apa ini, Ma?” Suara dingin Angkasa menginterupsi. Nada bicaranya yang datar membuat semua orang di sana saling pandang dengan gugup. “Lihatlah apa yang dilakukan istri adikmu! Dia mendorong adiknya sendiri ke dalam kolam!" adu sang ibu dengan nada berapi-api. Angkasa tidak langsung menanggapi aduan ibu tirinya. Matanya justru terkunci pada Bintang. Dia bisa melihat bahu wanita itu naik turun karena nafas yang sesak menahan tangis, serta air mata yang terus mengalir tanpa suara di pipinya yang mulai memerah. Tatapan Angkasa kemudian beralih perlahan pada Rendi yang kini berdiri tegak di hadapannya tanpa kursi roda. "Rendi," panggil Angkasa. Nadanya datar, namun terasa sangat tajam dan menusuk. "Kamu sudah sembuh?" Rendi menelan ludah dengan susah payah. Nyalinya menciut seketika setiap kali harus berhadapan dengan sang kakak tiri. "I-iya, Mas," jawab Rendi sambil tertawa hambar dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, berusaha keras menyembunyikan rasa gugupnya. "Melihat orang mau tenggelam... aku refleks, dan tiba-tiba bisa berdiri." Angkasa hanya tersenyum kecut. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai sinis yang mengintimidasi. "Baru tahu aku... hanya dengan melihat orang nyaris tenggelam, saraf kaki yang diklaim mati total bisa sembuh seketika," sindir Angkasa telak. Angkasa jelas bukan orang bodoh yang bisa dikelabui dengan alasan murahan seperti itu. Semua orang di sana pun sebenarnya tahu bahwa alasan Rendi adalah sebuah kebohongan besar yang konyol. Keheningan kembali mencekam. Raut wajah Rendi mendadak pucat pasi; dia tahu persis kakaknya sama sekali tidak mempercayai omong kosongnya. Kini, tatapan Angkasa kembali mengarah kepada Bintang, wanita yang sejak tadi hanya bisa diam menerima cacian dan hinaan keluarganya. "Apakah tanganmu yang mendorongnya?" tanya Angkasa. Matanya menatap sangat dalam ke netra Bintang yang basah dan merah. Bintang menggeleng lemah, bibirnya bergetar hebat. "Tidak, Mas Angkasa. Aku bersumpah... aku tidak melakukannya." Angkasa kembali menatap keluarganya. Bibirnya membentuk senyum tipis yang tidak mencapai matanya, sebuah senyum berbahaya yang menandakan badai besar akan segera datang. "Semua orang di sini tahu kalau Bintang yang mendorong adiknya ke kolam, Mas!" sela Rendi dengan nada menggebu-gebu, berusaha mengalihkan perhatian dari kebohongan kakinya. "Aku tidak melakukannya, Tiba-tiba saja Monik menceburkan dirinya sendiri ke dalam air," Bintang mencoba membela diri dengan sisa kekuatannya, namun Rendi langsung memotongnya dengan kejam. "Bintang! Kamu pikir aku bodoh?! Mana ada orang yang dengan sengaja membahayakan nyawanya sendiri?!" Tatapan pria itu sangat sinis dan penuh kebencian pada istrinya sendiri. Angkasa kembali tersenyum kecut, menatap Rendi dengan pandangan merendahkan. "Rendi... kenapa reaksimu sangat berlebihan?" tanya Angkasa lambat-lambat, suaranya terdengar sangat tenang namun mematikan. "Memangnya... apa hubunganmu dengan adik tiri istrimu itu sampai kamu bisa se-emosional ini?”CHAPTER THREE "Hindi maso-solve nito ang problema mo. Kailangan mong tanggapin, Jane." "Ang alin? na hindi na ako kailanman mamahalin ni Blaze? Ito lang ang nag-iisang paraan na alam ko para matanggap n'ya ako." "Kung mamahalin ka man n'ya, mas magandang tanggapin ka n'ya sa kung ano ka," muling katwiran n'ya. "Hindi mo ba talaga ako kayang tulungan?" Napahinto naman s'ya sandali at napabuga na lang ng hangin. "You really want to change your face for him to marry you?" Muli n'yang tanong. "To change my whole
CHAPTER TWO“Oh, himala at umuwi ka pa? Dapat nag-stay ka na lang sa bahay ng mama at papa mo,” bungad na sabi sa 'kin ni Blaze pagkapasok na pagkapasok ko ng bahay. Hindi na lang muna ako kumibo at dumeretso na paakyat ng hagdan.Medyo pagod at nanghihina pa ang katawan ko, mabuti na nga lang ay napakiusapan ko na ang Doctor ko na kung p’wede ay umuwi na ako. HIndi rin kasi ako gano’n makapagpahinga sa ospital. It’s been four days since ma-confine ako.“Ah, gano’n? Dinadaan-daanan mo na lang ako ngayon?” halata sa boses ni Blaze ang pagkairita dahil sa ginawa ko. Napahinga ako nang malalim bago s'ya lingunin.“Pagod lang ako, Blaze, let me rest first,” mahina kong tug
CHAPTER ONE"Kailan ka ba uuwi?" bulong ko sa kawalan habang pinagmamasdan ang labas ng aming bahay mula dito sa veranda ng aking kwarto.Bahagya akong napayakap sa 'king sarili nang maramdaman ko ang malamig na hanging dumampi sa 'king balat.Madaling araw na ngunit hindi pa rin s'ya umuuwi. Ganito na lang ang palagi naming pinagtatalunan pero sa huli ako lang rin ang talo."Hindi na ako bata at isa pa hindi naman kita sinabihang antayin ako makauwi. Uuwi ako kung kailan ko gusto."Gan'yan ang palagi n'yang katwiran. Nananahimik na lang ako at sa susunod na gabi ay aantayin muli s'ya katulad ngayon.
PROLOGUEUpon looking at her face she is really pretty and no doubt why he loves her so much. Her eyes, nose, lips, hair, she's almost perfect.I can feel her breathing, I can see her every time she blinks and every time she gulps. I can see her very clearly.She almost had all that I wanted. But why is she looking at me with sad eyes?"Hinding hindi ko dapat pagsisihan ang bagay na 'to," bulong ko sa sarili.I looked at her again and she was also looking at me. I smiled then she smiled too. I breathed, then she did what I also did. I removed my gaze at her and looked at the picture frame beside me, she looked at it also.






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - <a href="https://www.goodnovel.com/fi/" >Goodnovel</a>. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng <a href="https://www.goodnovel.com/stories/Romance-nobela" >romance novel</a>, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.<br><br>
<p></p>