LOGINSa pagtatakasil ng kaniyang boyfriend ay naisipan niyang ikama ang ibang lalaki, ang hindi niya inaasahan ang lalaking naikama niya ay ang tito ng kaniyang ex-boyfriend at ang CEO ng kompanyang pinagtra-trabahuan niya. Pinilit siya ng madrasta niya na mag-asawa ng ibang lalaki para hindi niya maagaw kay Diane ang step-sister niyang umagaw sa boyfriend niya, ang hindi inaasahan ay binayaran ng lalaking nakatalik niya ang lalaking dapat magiging asawa niya at ito ang pumalit dito. Ang CEO ng kompanya ay ang kaniyang asawa at ng malaman ito ng madrasta at step-sister niya ay hindi sila makapaniwala
View More"Tu-tuan, tolong le-lepaskan saya. Saya bukan nyonya Bella. Saya Indira, Tuan. Sa-saya hanya pelayan baru di rumah ini. Tu-tuan salah orang."
Indira terlihat ketakutan, wajahnya pucat, tubuhnya gemetaran saat majikannya, Bara Rahadian memeluknya dengan erat. Aroma menyengat alkohol bisa Indira cium dari tubuh majikannya itu. Setelah majikannya bertengkar dengan istrinya, satu jam yang lalu. Bara yang frustasi, malah mabuk-mabukkan dan tanpa sengaja ia melihat Indira sedang beres-beres di kamarnya. Sekarang, inilah yang terjadi. Bara mengira, Indira adalah istrinya. "Kamu istriku, Bella. Tugasmu melayaniku, suamimu! Bukan kelayapan terus setiap hari!" Suara Bara terdengar keras, sehingga membuat Indira terkejut mendengarnya. Belum lagi, pelukan Bara malah makin erat padanya. "Aku juga butuh kamu, Bella. Aku butuh kamu di sampingku," ucap Bara lirih seraya mendekatkan bibirnya pada pipi Indira. Gadis polos itu langsung meremang saat cambang tipis di hidung Bara mengenai kulit pipinya. Deru napas hangat Bara, membuatnya semakin merinding. "Tuan, saya bukan nyonya Bella. Tolong lepaskan saya, Tuan!" ujar Indira dengan suara yang sedikit meninggi. Ia juga tidak diam saja, melainkan mencoba melakukan perlawanan. Tangan Indira berusaha keras mendorong lelaki bertubuh jangkung dan kekar itu. Akan tetapi, tenaganya tentu tak sebanding dengan tenaga Bara. Gadis yang tubuhnya kecil dan pendek itu. "Tu-tuan! Tolong jangan seperti ini. Kalau nona Bella tahu. Dia bisa—" Indira terkesiap, manakala ada sesuatu yang menyerang bibirnya untuk pertama kali. Sebuah benda kenyal milik Bara, melumatnya dengan kasar. "Hmphh ... Tuan ..." Ini pertama kalinya Indira merasakan sentuhan pria yang bahkan ia sendiri tak tahu apa namanya. Jantungnya berdegup kencang, kedua matanya pun mulai berembun. Ia tak tahan dengan pemaksaan ini. Terutama ketika tekanan bibir Bara semakin mendesak agar ia membuka bibirnya. Kedua tangan Bara, mencengkram tubuh Indira cukup kuat. Sangat kuat, sampai Indira meringis kesakitan. Ciuman sepihak itu pun terlepas, ketika Indira memalingkan wajahnya sekuat tenaga. "Tuan. Hentikan!" Tegas Indira. "Saya mohon, Tuan—aahh!" Kedua mata Indira yang berkaca-kaca itu menatap Bara dengan tatapan yang tajam. Berharap Bara akan melepaskan tubuhnya. "Hentikan apa Sayang? Kenapa kamu selalu memintaku berhenti saat aku akan menyentuhmu? Kamu itu istriku!" Kalimat Bara yang terdengar keras, tapi penuh kekecewaan, sampai membuat Indira tercengang. Indira sadar, kalau pria ini sudah kehilangan akal sehat dan menganggapnya sebagai Bella, majikannya. "Malam ini, aku tidak akan melepaskanmu." Tatapan Bara menggelap, ia gelap mata. Bara menarik Indira dengan paksa, kasar, sampai Indira jatuh ke atas ranjang empuk berukuran king size. Tempat Bara dan istrinya tidur di atas sana. Gadis itu berusaha bangkit dan kalau bisa, ia ingin pergi dari sini sekarang juga. "Tuan, saya mohon jangan lakukan ini. Saya bukan istri, Tuan. Saya bukan—" "Aaakhh!" Indira berteriak, kala Bara menarik kedua kakinya dan membuatnya kembali terbaring di atas ranjang. Tanpa sempat menghindar, Bara langsung menindih tubuh Indira. Wajah mereka berdekatan, tubuh mereka menempel dan Indira, gadis yang memakai seragam maid itu terlihat ketakutan. "Tuan, anda jangan—" Belum sempat Indira menggunakan kedua tangannya untuk memukul atau mendorong Bara. Kedua tangan Indira, sudah lebih dulu dikunci oleh satu tangan Bara di atas kepalanya sendiri. "Suaramu sangat merdu sayang. Tapi alangkah baiknya, kalau suaramu ... kamu gunakan saat mendesahkan namaku saja. Karena kita sudah lama sekali tidak melakukannya, kan?" ucap Bara seraya mengecup pipi Indira dengan napas menderu, penuh kabut gairah dari pengaruh minuman dan rasa kesepian yang selama ini ia rasakan. "Aku rindu kamu, Bella." Kedua mata Indira terbelalak, ketika majikannya itu mulai melucuti pakaiannya sendiri. Sedangkan dia, tidak berdaya dibawah kuasanya. "Tuan, tidak! Jangan! Saya hanya seorang pelayan, saya—" Hmpphh, aahh.... Bibir Indira terkunci, manakala Bara meraup bibir mungil berwarna merah milik gadis itu dengan kasar. Indira berusaha memberontak, air matanya yang tadi hanya tersimpan dibawah mata, akhirnya turun juga. Ia benar-benar tak berdaya. Tubuhnya lemas, apa lagi saat Bara melepaskan satu persatu pakaian dari tubuhnya dengan cara instan dan cepat. Yaitu dirobek secara sembarang. Hingga saat ini, Indira tidak memakai sehelai benang pun di tubuhnya. "Tuan, jangan lakukan ini. Tuan, saya cuma pelayan." Suara Indira gemetaran, berkali-kali ia mencoba melakukan perlawanan. Tapi ia tetap kalah. Bara terlalu dominan, terlalu kuat untuk dilawannya. Bara yang sudah gelap mata, langsung menindih Indira dan semakin memperkecil ruang geraknya. Indira menggigit bibir, mencoba menahan jeritan yang hampir keluar. Bibir Indira terkunci, manakala Bara meraup kembali bibir mungil berwarna merah milik gadis itu dengan kasar. Indira berusaha memberontak, air matanya yang tadi hanya tersimpan dibawah mata, akhirnya turun juga. Ia benar-benar tak berdaya. Tubuhnya lemas, apa lagi saat lelaki itu sudah membuatnya tanpa sehelai benang. "Tuan, jangan lakukan ini. Tuan, saya cuma pelayan." Bara yang sudah gelap mata, langsung menyatukan miliknya yang sudah menegang pada milik Indira. Bibir dan tangannya juga asyik mencumbu bagian tubuh lain dari gadis itu. Tidak peduli Indira mengerang kesakitan akibat perbuatannya, Bara tetap menikmati milik Indira yang sempit dan kian menjepitnya itu. Indira tersentak kaget, manakala ia merasakan cairan hangat menyerang tubuhnya. Usai kegiatan panas itu, Indira tiba-tiba teringat kata-kata ibunya, sebelum ia pergi ke kota dan sekarang ia malah melakukan hal ini bersama majikannya. Melanggar larangan ibunya. Larangan untuk menjaga diri. Naasnya, belum dua puluh empat jam ia bekerja di sini dan sudah terjadi hal mengerikan kepadanya. Sesuatu miliknya yang berharga telah direnggut paksa. "Ibu, maafin aku. Maafin Indi yang udah ngelanggar janji. Maaf." Setelah melakukan kegiatannya, Bara langsung tertidur. Sementara Indira langsung keluar dari kamar itu dengan keadaan kacau. TBCYung mga naguguluhan po kung saan ko i u-update yung new story na My husband is a Billion-dollar, sa ibang book ko po siya I susulat at hindi na dito sa libro nila Jhaira at Zach Also you can add me on F* or message me doon, mag u-upload po ako ng mga teaser sa ating bagong libro roon at mga scenes habang hindi pa po na u-upload yung libro. Doon din po ako mag a-announce kung may update na po para aware po kayo F* name: MAyka Faye (3 cats profile) Muli salamat po, naway suportaha niyo po ang magiging story nila Jazeah at Raven at makikita niyo rin doon si Draven Kalsen at ang kaniyang magiging female lead hehehe, mana sa ama.
Ang hapon ay bumababa na sa abot-tanaw, at ang langit ay tila nilarawan ng mga kamay ng Diyos—kahel, rosas, at gintong halo ng liwanag. Sa ilalim ng kulay ng dapithapon, ramdam ang init ng araw na unti-unting humihina, ngunit ang init ng yakap ni Zach sa likuran ko ay nananatiling buo—matatag. Parang kasiguraduhang kahit gaano ka-unstable ang mundo noon, ay meron pa rin palang pagmamahal na hindi kayang lipulin ng panahon o sakit."Mommy! Daddy, look!" sigaw ng anak namin mula sa may buhanginan, gamit ang maliit niyang kamay para ituro ang kinulayan niyang sea shell. "It's blue now! Like my shirt!"Tumawa si Zach, habang hindi pa rin inaalis ang baba niya sa balikat ko. "He's got your curiosity," aniya. "Lahat gusto niyang malaman. Lahat gusto niyang hawakan.""Pero mana sa'yo sa pagkakalikot," sagot ko, sabay lingon sa kaniya. "May sinira na namang laruan kanina para lang makita kung paano gumagalaw."Pareho kaming natawa.Ang anak namin—isang maliit na kombinasyon ng aming dalawa. Ma
Mabigat ang talukap ng mga mata ko. Parang ang bigat ng buong katawan ko. Parang pagod na pagod ako sa isang mahabang laban na hindi ko alam kung kailan nagsimula at kailan natapos.Maya-maya pa, unti-unti kong naramdaman ang malamig na simoy ng aircon, ang mahina ngunit pamilyar na amoy ng disinfectant, at ang kawayang ingay ng monitor na may tunog na beep... beep... beep sa gilid ko.Pagdilat ng mata ko, unang sumalubong sa akin ang maputing kisame ng ospital. Tahimik ang paligid. Malinis. Mapayapa.Napasinghap ako nang dahan-dahan kong igalaw ang kamay ko. Masakit. Mabigat ang puson ko. Ngunit... buháy ako. Buhay."Baby"Isang pamilyar, pabulong na tinig ang sumalubong sa akin. Mababaw ngunit punô ng emosyon. At sa paglingon ko sa kanan, tumigil ang mundo ko.Si Zach.Naka-sando lang siya, mukhang hindi pa naliligo, magulo ang buhok at may mga luha sa mata. Pero kahit ganoon, kitang-kita sa kaniya ang saya—at ang kaba—habang hawak-hawak niya sa kanang braso ang isang maliit na kumot
My pregnancy journey wasn't easy.Minsan talaga, para akong may topak—may araw na tatawa lang ako buong umaga, tapos bigla nalang akong iiyak dahil naiwan ko ang paborito kong unan sa kabilang kwarto. May oras na kahit simpleng tanong ay naiirita ako, at kahit ang lambing ni Zach, hindi ko maintindihan minsan kung nakaka-comfort ba o lalo lang akong naiiyak. Hormones. Emotions. Exhaustion. Lahat-lahat.Pero kahit pa ganu'n, hindi niya ako iniwan. He stayed. Not just physically—but truly present. With every unpredictable mood swing, with every unreasonable craving, with every breakdown I couldn't explain—Zach was there, steady like the sea on a calm day."Okay lang, baby," he'd whisper while gently rubbing my back. "Pagod ka lang. And I love you. Always."And as for my mom... she never left my side either. Para bang bumalik ako sa pagkabata, 'yung panahong may sakit ako at siya 'yung gumagabay sa'kin. Ngayon, siya pa rin ang nandiyan—guiding me through the aches, the fears, and even the
Ang mga sumunod na buwan pagkatapos ng kaguluhan... parang pelikula lang. Pero hindi 'yung tipong action-packed na may barilan at habulan—kundi 'yung uri ng pelikulang tahimik pero punô ng damdamin. Marahang umikot ang oras, pero sa bawat segundo, ramdam ang pagbabago.Kung dati, sanay akong si Zac
"Zach..."Halos himatayin ako habang patakbo palapit sa kaniya. Nanginginig ang katawan ko, halos mapatid ang hininga ko sa sobrang bigat ng nararamdaman. Paglapit ko sa kaniya, agad ko siyang niyakap—mahigpit, desperado, parang mawawala ulit siya sa isang iglap.Yinakap ko siya na parang hindi na
Tumapos na ang laban. Mabigat ang hangin. Hindi dahil sa pawis o pagod, kundi dahil sa kung anong hindi maipaliwanag na presensya sa loob ng arena. Parang hindi lang dugo ang iniwan ni Raven sa ring—parang may tinapon din siyang bahagi ng sarili niya roon. Tahimik siyang bumaba mula sa platform. Wa
Jhaira's hands trembled as she clenched them into fists, her nails digging into her palms. Ang buong katawan niya ay nanginginig sa galit habang nakatitig sa babaeng mahigpit pa ring nakahawak kay Zach—si Ace. Hindi na niya kaya. Hindi niya hahayaang may ibang babaeng umaangkin sa lalaking siya mis






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
reviewsMore