Share

6

"Bagaimana lukamu?" Lisa menoleh mendengar suara Alice. Pagi ini kakaknya itu terlihat lelah, dia pasti kurang tidur karena merawatnya semalam. 

"Sudah lebih baik" senyum terbit di bibir Alice kala mendengar jawaban Lisa. Setidaknya hari ini Lisa bisa beraktivitas dengan lebih nyaman. 

"Syukurlah kalau begitu" kedua gadis itu pun berjalan bersama hingga sampai di halaman rumah, mereka melihat Nyonya Aldera yang tersenyum senang bersama... Davin? 

"Oh! Itu dia Alice dan Lisa" ujar Nyonya Aldera saat melihat kedua putrinya, ia lantas mengisyaratkan Alice dan Lisa untuk segera mendekat. Alice dan Lisa saling bertatapan denga raut wajah bingung, mereka berjalan menuju sang Ibu. 

"Davin kemari untuk mengajak kalian berangkat ke sekolah bersama" ucap Nyonya Aldera masih dengan senyum senangnya, menyampaikan maksud Davin ada di rumah mereka pagi-pagi begini. Alice tersenyum canggung menanggapi Nyonya Aldera. 

"Sebaiknya kalian cepat berangkat, agar bisa sampai di sekolah tepat waktu" saran Nyonya Aldera, ketiga remaja itu pun berpamitan dan segera masuk ke dalam mobil Davin. Alice dan Lisa duduk bersama di belakang, sedangkan di depan ada Davin dan seorang sopir. 

"Apa ada maksud tertentu kau menjemput kami?" Alice bertanya saat mobil mulai berjalan meninggalkan rumah besar keluarga Aldera. 

"Kau pikir aku mau menjemput kalian? Aku tidak ada alasan untuk membantah perintah Ibu" jawaban Davin itu membuat Alice mendesis kesal, ia menyenggol lengan Lisa di sebelahnya yang sedari tadi diam. 

"Lisa, katakan sesuatu" satu alis Lisa terangkat, ia menyumpal kedua telinganya dengan earphone, kini memalingkan wajahnya memperhatikan jalanan melalui kaca mobil. 

"Jangan ganggu aku" kata-kata adiknya itu membuat Alice semakin kesal, ia mendengus dan ikut memalingkan wajahnya dari Lisa. 

Beberapa menit perjalanan, kini akhirnya mereka sampai di sekolah. Alice turun lebih dulu dari mobil, rupanya ia melihat Zidan dan kini berlari mengejar pria itu. Kebiasaan Alice dan Zidan saat pagi adalah berjalan bersama di koridor, sampai-sampai jam keberangkatan mereka ke sekolah di sesuaikan agar saat pagi mereka bisa bertemu. 

Lisa turun setelah Alice, ia hendak masuk ke halaman sekolah, namun tidak jadi saat seseorang menarik lengannya, membuatnya tertarik mundur. 

"Hati-hati" Davin menunjuk sebuah genangan air yang letaknya hanya beberapa langkah dengan Lisa, ia hampir saja menginjak genangan itu dan membuat kotor sepatunya. 

"Ah, hampir saja" Lisa melepas paksa cekalan tangan Davin pada lengannya, kedua earphone yang menyumpal telinganya juga sudah ia lepaskan. Gadis itu hendak kembali melanjutkan jalannya, namun untuk yang kedua kalinya, Davin mencekal lengannya. 

"Ada yang mau kau katakan?" 

"Itu, Ibu juga menyuruhku untuk pulang bersama kalian nanti" Lisa hanya mengangguk, lantas pergi. 

Helaan napas terdengar, Davin kini merutuki dirinya sendiri yang malah mengatakan akan pulang bersama saudari kembar itu nanti. Ibunya memang menyuruhnya untuk berangkat dan pulang bersama si kembar Aldera hari ini, namun sebenarnya bukan itu yang akan ia katakan pada Lisa. Davin hanya ingin bertanya mengenai luka Lisa, hanya sekedar pertanyaan biasa mengenai kondisi gadis itu, namun mengapa ia tiba-tiba tidak bisa mengatakannya? Sebenarnya kenapa juga ia ingin menanyakan kondisinya? Ada apa dengannya? Pertanyaan-pertanyaan itu bergumul dalam pikiran Davin, pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya—ah bukan, lebih tepatnya sebuah pertanyaan yang tidak ingin ia ketahui jawabannya. 

***

"BISAKAH KALIAN MINGGIR?" teriak Destiny pada sekumpulan murid perempuan di kantin yang menghalangi. Siang ini entah kenapa kantin sangat ramai dengan para murid perempuan. Suara petikan gitar mulai terdengar, kini para murid perempuan itu mulai berteriak. Destiny mendengus kesal, melihat sekumpulan murid perempuan di depannya yang tidak peduli dengan teriakannya. Kini ia tau penyebab kantin menjadi sangat ramai dengan murid perempuan, ternyata ada para murid laki-laki yang sering disebut 4 Sekawan di sini. 

Rafael Dirgantara, murid kelas 10 yang terkenal karena wajah tampannya dan suaranya. Azkara Julian, murid kelas 11 yang terkenal karena menjadi kapten tim basket. Davin Ganendra, murid kelas 11 yang terkenal karena wajah tampannya, keluarganya dan kepintarannya. Dan terakhir, Yohan Ananta, murid kelas 12 yang terkenal karena pandai memainkan berbagai alat musik dan mantan anggota osis. Keempat pria itulah yang kini membuat kantin menjadi ramai, mereka sedang berkumpul. 

Setelah terdengar suara petikan gitar yang dimainkan Yohan, kini mulai terdengar suara merdu Rafael yang menenangkan hati. Menenangkan hati bagi para murid perempuan yang menyukai mereka tentu saja, bagi Destiny yang sedang kesal, perpaduan suara petikan gitar Yohan dan suara Rafael malah membuat hatinya memanas. Bagaimana tidak kesal? Perkumpulan mereka itu membuat aktivitas kantin terhambat karena fans mereka. 

"DIAM, BODOH! BERNYANYILAH DI PANGGUNG DAN JANGAN GANGGU AKTIVITAS MURID LAIN!" teriakan menggelegar Destiny itu membuat kantin hening, para murid perempuan kini menatap ke arahnya dan menyingkir dari hadapannya. 

"Adakan acara fansign agar kantin tidak perlu rusuh seperti ini" para murid laki-laki yang tadi hendak ke kantin kini sahut-sahutan menyetujui ucapan Destiny. 

Azka yang melihat Destiny kini menutupi wajahnya dengan gitar milik Yohan. Ia berniat untuk membuat kesan yang bagus pada pertemuan kedua mereka, namun tak disangka mereka malah bertemu di sini sebagai musuh. Pada pertemuan pertama mereka, pasti kesan Destiny terhadapnya cukup buruk karena saat itu ia tidak bisa mengontrol raut wajahnya yang gugup dan ketakutan. Dan pada pertemuan kedua mereka ini, kesan Destiny mengenai dirinya pasti lebih buruk. 

"Destiny" panggilan Lisa itu membuat seisi kantin termasuk Destiny dan 4 Sekawan kini menoleh padanya. 

"Ah, kau sudah selesai dengan catatanmu?" Lisa mengangguk, pandangannya kini terfokus pada seisi kantin. 

"Ayo makan di cafe depan sekolah saja, di sini terlalu ramai, kau tidak suka tempat yang ramai bukan?" belum sempat mengangguk atau menjawab pertanyaan Destiny, tangan Lisa sudah ditarik oleh gadis itu. Para murid perempuan kini meneriaki Destiny, membuat Lisa semakin penasaran. Sebenarnya ada apa dengan Destiny sampai-sampai seisi murid perempuan di kantin itu memusuhinya? Destiny memang memiliki banyak musuh sejak dulu, namun hari ini musuhnya itu bertambah banyak sekali. Bisa-bisa seluruh murid perempuan di sekolah kecuali dirinya dan Alice akan menjadi musuhnya suatu saat nanti. 

Mengingat kejadian di kantin tadi masih membuat Destiny kesal, suasana hatinya cukup membaik sekarang karena ia akan makan siang bersama Lisa. Ia harus siap menutup telinganya nanti saat melewati para murid perempuan agar tidak terus terpikirkan kejadian di kantin. Tindakannya itu sudah benar menurutnya, menegur—lebih tepatnya memarahi para murid perempuan dan 4 Sekawan yang menghambat aktivitas kantin. Tidak peduli ia akan dibilang perusak kebahagiaan orang atau perusak suasana, karena para murid perempuan yang memenuhi seisi kantin itu juga termasuk perusak suasana, mereka merusak suasana murid lain yang sedang lapar, tadinya sudah senang karena bel istirahat sudah berbunyi, ehh ternyata kantin sedang rusuh. 

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status