LOGINSetelah berteleponan dengan Ervan, Angelica kembali. Ethan berbisik sesuatu. Mengajak Angelica bicara sebentar.Keduanya lantas bergeser agak jauh dari Nathan, laku berbisik-bisik. Ethan menyarankan agar Angelica menceritakan apa yang terjadi antara dia dan Ethan, tapi Angelica menolak. Merasa Ethan tak perlu tahu. Ethan dan Angelica sempat berdebat. Membuat Nathan curiga karena kedua orang tuanya lama sekali berbisik-bisik."Ma ..." panggil Nathan.Angelica memalingkan pandangan menatap Nathan, "ya, sayang. Sebentar," jawabnya.Angelica kembali menatap Ethan, "kamu jangan meracuni isi kepala anakku dengan cerita nggak bener. Ngerti?" bisiknya."Lho, nggak bener dari mana. Aneh kamu ini. Dia sudah tujuh belas tahun. Mengetahui tentang kita 'kan wajar," bisik Ethan."Nggak boleh. Itu rahasia kita," tolak Angelica."Ya sudah. Kalau gitu ceritakan singkat saja tentang kita. Kalau nggak ada omongan apa-apa, apa yang dia pikirkan tentang kita?" sahut Ethan.Angelica diam beberapa saat, "o
Keesokan harinya ...Mendengar cucunya sudah sadar, Andrew yang sedang dalam perjalanan bisnis di luar negeri langsung bergegas pulang. Dia sangat senang dan tidak sabar ingin bertemu sang cucu.Setibanya dibandara, Andrew tidak mau diantar pulang. Dia mau langsung ke rumah sakit.*Rumah sakit ...Keadaan Nathan semakin membaik. Meski belum bisa banyak bergerak, Nathan sudah mulai lancar bicara. "Ma ... " panggil Nathan."Ya?" jawab Angelica. Bergegas menghmpiri Nathan. "Ada apa, sayang?" tanya Angelica. "Ma, kapan kita pulang?" tanya Nathan."Nanti kalau kamu sudah benar-benar sembuh. Kenapa?" tanya Angelica setelah menjawab pertanyaan putranya."Ma, om-om kemarin, siapa? Pacarnya Mama?" tanya Nathan."Pacar apaan. Dia itu Papa kandungmu," jawab Angelica."Papa kandung?" tanya Nathan tidak yakin dengan ucapan Mamanya."Kaget, ya? Awalnya Mama juga keget. Tiba-tiba ada orang asing yang ngaku Papamu. Dia bawa hasil tes dan wajahnya mirip denganmu. Setelah dipastikan dia memang Papa
Setelah kejadian adanya penyusup yang merencenakan pembunuhan di rumah sakit maupun restorant, semua akhirnya berakhir baik.Dua orang penyusup laki-laki operasinya berhasil. Mereka langsung dikirim ke pedesaan untuk melakukan pemulihan. Identitas mereka dihapus sepenuhnya dan mereka menggunakan Identitas baru.Sedangkan penyusup wanita sudah pergi kembali menghadap Bosnya untuk melapor. Dia sudah bekerjasama dengan Angelica dan Ethan untuk memancing Tante Ethan keluar dari sarang. Sedangkan tiga penyusup lain masih di tahan di paviliun tua atas perintah Angelica. Tak satupu dari ketiganya yang mau mengaku seperti penyusup yang menyusup di rumah sakit. Ketiganya lebih memilih bungkam.*1 Bulan kemudian ...Ethan masih terus melakukan pendekatan dengan Angelica. Dia ingin lebih dekat dan mengenal Angelica lebih dalam. Setiap pagi, Ethan mengirim setangkai mawar dan kartu ucapan. Membuat Angelica merasa senang, sekaligus aneh. Dia merasa sudah terlalu tua untuk merasakan momen roman
Begitu Ethan menghantamkan tangannya ke dinding sampai tangannya luka dan berdarah, Angelica juga ketiga penyusup langsung kaget. Mereka melebarkan mata."Ethan!" sentak Angelica.Angelica langsung menarik tangan Ethan dan melihat keadaan tangan Ethan."Kamu gila ya? Ngapain kamu lukain tanganmu sendiri?" kata Angelica khawatir."Jangan hiraukan aku. Kamu pergilah melihat keadaan Nathan. Biar aku yang mengurus mereka," kata Ethan."Dasar keras hati," gumam Angelica."Kalian berdua tunggulah sampai perawat dan dokter datang," kata Angelica menatap dua orang penyusup laki-laki. "Dan kamu ... Setelah perawatan luka, datanglah menemuiku dan Ethan. Kamu mengerti?" kata Angelica, menatap penyusup perempuan. Penyusup perempuan langsung menganggukkan kepala.Tangan Ethan ditarik Angelica pergi. Dia menghubungi Andrew dan meminta Andrew untuk segera turun karena ada hal penting yang harus dibicarakan. *Angelica melihat dokter memeriksa keadaan Ethan. Luka Ethan tidaklah serius, tapi masih
Angelica diam mendengar cerita dan pengakuan penyusup wanita. Dia melihat jika penyusup itu tidaklah berbohong. Matanya yang berkaca sampai air mata yang jatuh menetes adalah bukti kejujurannya." ... Begitulah. Aku memang bersalah. Hukum aku, akan kutanggung semua hukuman atas kesalahanku. Aku terima semuanya," kata penyusup wanita."Memang sudah seharusnya kamu dihukum. Tapi, aku punya pilihan untukmu. Pikirkan baik-baik sebelum mengambil keputusan. Bantu aku atau mati! Itulah pilihan yang ada saat ini. Setalah apa yang kamu lakukan, kamu nggak berpikir aku akan berbaik hati melepasmu gitu aja 'kan? Terlebih kamu hendak menyakiti satu-satunya nyawaku," kata Angelica.Penyusup terdiam. Dia menatap Angelica dengan lekat. Dan akhirnya memilih untuk bekerja sama."Aku menerima tawaranmu. Tapi, aku punya syarat. Aku harap kamu bisa memenuhinya," kata penyusup mengajukan syarat."Katakan apa syaratmu. Selain melepasmu, aku bisa mengabulkan semuanya. Bicaralah!" jawab Angelica."Jika kedep
Angelica melihat penyusup wanita yang menyamar sebagai perawat mengangkat belati dan hendak menusuk leher Felix. Dia dengan cepat melemparkan pisau lipatnya ke arah tangan penyusup wanita yang memegang belati. Pisau lipat Angelica menggores tangan penyusup wanita, membuat belati yang dipegangnya terjatuh."Ahhh, sialan! Siapa yang berani melukai tanganku?" teriak penyusup wanita sambil memegangi tangannya yang terluka gores."Aku," jawab Angelica lantang.Penyusup wanita memalingkan pandangan menatap Angelica. Dilihatnya lekat sosok Angelica."Siapa kamu?" tanya penyusu wanita."Nggak perlu tahu siapa aku. Yang perlu kamu tahu, aku sedang membuat perhitungan denganmu. Berani sekali kamu menyentuh orangku. Mau mati?" kata Angelica menatap tajam.Begitu menatap mata Angelica, penyusup wanita itu langsung merasa terintimidasi. Tubuhnya membeku dan ada rasa takut yang tidak bisa diungkapkan."Apa-apaan ini? Kenapa begitu melihatnya aku langsung merasa takut? Bahkan tubuhku serasa membe







