홈 / Romansa / A Story We Misread / BAB II - A Reason to Return

공유

BAB II - A Reason to Return

작가: Ann Azure
last update 게시일: 2026-08-29 23:47:49

Edward dengan cekatan memasukan kode-kode rumit pada keyboard di hadapannya. Aliran listrik berkekuatan ratusan ribu volt langsung mengalir pada seseorang di dalam tabung raksasa tidak jauh di depannya.

Seseorang itu terlihat sama persis dengan dirinya sendiri, tanpa cela, sampai-sampai Edward yakin siapapun yang melihatnya akan langsung mengira bahwa itu adalah dirinya.

Padahal mereka tidaklah sama, karena tidak seperti Edward, tubuh dalam tabung raksasa itu tidak memiliki darah yang mengalir ataupun jantung yang berdetak di dalam tubuhnya.

Dia adalah Aria.

Robot yang sengaja dibuat Edward selama lima tahun dengan susah payah, kini akan mulai ia hidupkan—

“Yo’ man! Kamu masih sibuk?”

Issa mengangkat kepala untuk melihat seseorang yang membuka pintu ruangannya begitu saja. Tepat seperti dugaan, Arland Finley, menyeringai tanpa dosa dari ambang pintu.

“Harus berapa kali aku katakan padamu untuk mengetuk pintu sebelum masuk?” Issa menggerutu, menutup naskah yang tadi sedang ia baca.

Arland terkekeh, tanpa menghiraukan ucapan Issa, ia masuk ke dalam ruangan yang di dominasi warna abu-abu tersebut dan mendudukkan dirinya di sofa tidak jauh dari meja kerja Issa.

“Lagi-lagi lembur sendirian huh?” Arland bertanya dengan nada bosan.

Issa melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, pukul sembilan malam. “Aku meminta sekretaris dan editorku untuk pulang tepat waktu.”

“Ya ya, kamu memang atasan yang patut menjadi panutan.” Ucap Arland sarkastik. “Mau menemaniku minum malam ini?”

Issa menatap Arland dengan tatapan tidak percaya. “Jadi ini alasan kamu belum pulang? Bukan karena lembur tapi karena mau mengajakku minum di hari kerja?”

Arland mengangguk semangat. “Kamu benar-benar mengenalku dengan baik,” katanya.

“Hm.” Issa bergumam setuju. “Tapi maaf, seperti yang kamu lihat, pekerjaanku masih menumpuk.”

Arland mengalihkan tatapan kearah yang barusan ditunjuk Issa dengan dagu, yaitu tumpukan naskah yang memenuhi sebagian besar meja kerja. Sebenarnya, keadaan yang tidak jauh berbeda juga terjadi di meja kerjanya sendiri. Namun Issa selalu lebih serius jika mengenai pekerjaan, berbeda dengan Arland yang selalu menghadapinya dengan pembawaan yang santai.

“Ayolah, kamu harus rileks sebentar dari tulisan-tulisan tidak masuk akal itu.”

Issa tertawa, menatap naskah penulis baru yang berisi tentang seorang jenius yang menciptakan robot kloning dirinya sendiri untuk menguasai dunia. Arland benar, tidak ada yang masuk akal.

Sayangnya, semua hal tidak masuk akal ini adalah pekerjaannya. Kegemaran Issa dalam membaca cerita-cerita fantasi sejak kecil membawanya masuk ke dunia sastra sampai kini ia bekerja di perusahaan penerbit terbesar di Inggris sebagai Direktur untuk divisi Science-Fiction.

“Aku suka membaca tulisan-tulisan tidak masuk akal ini,” ucap Issa sambil menulis catatan di sampul naskah tadi untuk sekretarisnya, berisi sebuah perintah untuk meminta naskah lengkapnya pada si penulis.

Arland memutar matanya, kesal. “Jadi lagi-lagi aku ditolak?”

“Bukankah biasanya kamu mengajak Samuel setiap kali ingin minum di hari kerja?”

“Dia baru saja aku beri naskah baru milik penulis cantik itu. Kamu harus tau, selain cantik dia juga romantis.” Arland tiba-tiba bersemangat menceritakan penulis baru yang—katanya—memiliki kecantikan di atas rata-rata.

“Jadi kamu memilih naskahnya untuk diterbitkan karena dia cantik atau karena dia romantis?”

Arland tertawa, merasa geli sekaligus heran dengan sifat Issa yang selalu datar setiap kali mereka membahas tentang perempuan.

“Dia itu punya kecantikan dan aura seperti gadis remaja, tapi ternyata lewat tulisannya dia bisa menunjukkan bahwa dia adalah perempuan dewasa. Dia tau bagaimana caranya membuat hati pembaca berdesir karena keromantisannya yang tepat sasaran.” Jelas Arland panjang lebar.

Issa berusaha mencerna penjelasan Arland baik-baik, tapi tetap saja ia tidak menemukan korelasi antara cantik-aura-romantis yang sahabatnya maksud.

Memang, tingkat keromantisan dua lelaki itu berada di tingkatan yang berbeda. Sebagai Direktur untuk divisi Romance jelas Arland lebih paham tentang hal-hal seperti cinta dan romansa, dan jangan heran jika ia juga lebih ahli terkait urusan perempuan.

Sedangkan Samuel, editor Arland, juga tidak jauh berbeda dengannya. Mungkin itu sebabnya mereka bisa bekerja sama dengan baik dan selalu berhasil menerbitkan buku-buku yang luar biasa.

“Dan kapan kira-kira kalian akan menerbitkan bukunya?” Issa bertanya untuk mengalihkan Arland dari ajakannya minum-minum.

Bukan apa-apa, Issa selalu sulit bangun keesokan harinya setiap kali sudah minum, sedangkan sekarang masih pertengahan minggu. Jadi setidaknya tunggu sampai akhir minggu untuk mengajaknya berpesta minuman.

“Karena sudah memegang sembilan puluh persen naskahnya, jadi kami akan mengerjakannya secepat mungkin. Yah, sekitar dua bulan lagi pasti sudah siap dipasarkan. Dan aku optimis buku ini akan jadi new best-seller.”

Issa mengangguk-angguk, merasa termotivasi kalau divisinya juga harus menerbitkan buku baru yang bagus.

“Kalau terbit dua bulan lagi, itu artinya penulis cantikmu itu sudah bisa hadir dalam perayaan ulang tahun perusahaan musim semi nanti.”

Arland mengetuk-ngetukkan jemari pada lengan sofa sambil berpikir. “Ulang tahun perusahaan bulan April… Oh hei! Aku baru saja dapat ide untuk menerbitkannya tepat di hari Valentine nanti.”

“Ide bagus.” Issa mengangkat bahu tak acuh.

Tepat saat itu pintu ruangan Issa lagi-lagi langsung dibuka tanpa permisi, Samuel Rowan menyembulkan kepalanya dan langsung berdecak begitu melihat Arland.

“Sudah kuduga kamu di sini. Kamu sengaja membuat aku kerja rodi sedangkan kamu bersantai di sini!?” Teriaknya pada Arland.

Issa yang mendengar itu tertawa geli, membiarkan Samuel bergabung. “Direkturmu baru saja mengajakku minum-minum,” adunya langsung.

“Dia memang atasan tidak tau diuntung.” Samuel menggerutu, tidak peduli atasan yang dia katai ada di hadapannya.

Bukannya marah, Arland malah terkekeh. Meskipun di perusahaan jabatannya dan Issa lebih tinggi dari Samuel tapi mereka sama sekali tidak pernah bersikap bossy.

“Aqsa menghubungiku, katanya dia ingin besok kita meluangkan waktu untuk makan siang dengannya,” ujar Samuel.

Issa mengangkat alis. “Besok? Aku tidak bisa.”

“Kenapa?” Tanya Arland penasaran.

“Aku harus ke Reading Delights.”

Arland dan Samuel kompak mengernyit. “Tempat apa itu?” Tanya mereka bersamaan.

“Taman bacaan di Devonshire Place—Marylebone, besok aku harus mengembalikan buku yang aku pinjam dari sana,” jelas Issa.

“Kamu meminjam buku?” Tanya Samuel heran.

Issa tersenyum dan menggeleng. “Pacarku.”

•••

Sama seperti tiga hari yang lalu, Issa langsung merasakan kenyamanan saat masuk ke Reading Delights. Suasana taman bacaan ini sangat mirip dengan The Long Room of The Old Library milik Trinity College di Dublin.

Ruangannya luas, di dominasi warna kayu, rak-rak tinggi penuh buku menciptakan sekat yang rapi. Dekorasinya sederhana, namun jendela-jendela besar memberikan simetri gaya pencerahan yang menenangkan mata.

Issa berjalan pelan menyusuri lorong di antara rak tinggi, sesekali langkahnya terhenti saat melihat buku yang ia anggap menarik. Meski ini kunjungannya yang kedua, namun Issa baru sempat melihat-lihat dan baru menyadari kalau di sini ternyata ada banyak buku klasik lama yang sulit sekali dicari.

Sadar tidak punya banyak waktu karena harus kembali ke kantor, Issa menahan keinginannya untuk berada di sana lebih lama demi menjelajah buku-buku yang belum pernah ia baca. Dengan segera ia melanjutkan langkah menuju meja di tengah ruangan.

Dari kejauhan Issa sudah bisa mengenali perempuan yang sama dengan tiga hari yang lalu. Dilihat lebih seksama, perempuan itu terlihat manis menggunakan kemeja warna merah muda. Rambutnya ditarik ke atas membentuk ponytail namun beberapa helai di bagian belakang terlepas dari ikatannya. Dan dia sedang sibuk mencatat buku-buku yang sepertinya baru dikembalikan.

“Hi,” sapa Issa saat sudah berdiri tepat di depan meja.

Perempuan itu, Reana, mengangkat kepala lalu tersenyum ramah, menunjukkan profesionalitas.

“Hi,” katanya balik menyapa.

“Aku mau mengembalikan buku ini.”

Reana mengangguk, menerima buku Cinderella yang disodorkan Issa. “Bisa sebutkan nomor anggota Anda, Tuan?”

Issa langsung merogoh saku jas, mengeluarkan dompet dan menarik kartu berwarna hitam di antara kartu-kartunya yang lain.

“2030.” Issa menyebutkan nomor anggota yang tertera.

Reana mengetik nomor tersebut kemudian muncul catatan pinjaman atas nama Issa di layar komputernya.

“Issa Saverio, benar?”

“Ya.”

“Anda sudah mengembalikan buku kami tepat waktu. Terimakasih.” Ucap Reana setelah menekan finish, yang artinya buku sudah dikembalikan.

Tanpa sadar Issa ikut tersenyum karena melihat Reana tersenyum.

“Apa di sini ada novel distopia Fahrenheit 451?” Sedikit ragu Issa bertanya.

“Ray Bradbury tahun 1953?”

Seketika iris mata Issa langsung berbinar, tidak menyangka Reana langsung tau buku yang ia maksud. Penuh semangat ia menjentikan jarinya. “Ya! Kamu punya?”

Reana berkedip beberapa kali melihat Issa yang tiba-tiba antusias, mengingatkannya pada ekspresi anak perempuan yang sebelumnya datang bersamanya. Mirip sekali.

“Ya, ada di bagian fiksi ilmiah baris ke tujuh.” Reana menunjuk salah satu rak tinggi jauh di sudut ruangan.

“Oh?”

Keantusiasan Issa langsung berganti kernyit di kening, tidak yakin bisa menemukan buku yang ia cari di antara banyaknya buku-buku lain.

Seolah mengerti masalahnya, Reana kembali tersenyum dan menawarkan bantuan.

“Saya bantu ambilkan,” ucap Reana.

Perempuan itu langsung berjalan ke arah rak yang tadi ia maksud. Issa mengikuti tidak jauh di belakangnya. Dengan mudah Reana menemukan buku tebal dengan sampul berwarna merah dan hitam lalu memberikannya pada Issa.

“Ray Bradbury, Fahrenheit 451.”

Issa kembali antusias saat menerimanya. “Ya, benar yang ini. Aku sudah mencari novel ini kemana-mana.”

Reana hanya menjawab dengan tawa kecil yang sopan. Mereka kembali ke meja tadi untuk mencatat pinjaman baru Issa. Setelah selesai, lelaki itu kembali ke mobil, namun sebelum menginjak gas ia baru sadar kalau dirinya meminjam buku lagi, itu artinya ia harus kembali kesana lagi dan lagi. Dan itu berarti ia akan bertemu dengan Reana lagi dan lagi.

Diam-diam Issa tersenyum, memunculkan lesung pipinya yang dalam. Ia tentu saja tidak keberatan bertemu dengan Reana. Perempuan manis itu punya senyum yang menular. Dan sepertinya mulai sekarang Reading Delights akan jadi tempat favoritnya yang baru.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • A Story We Misread   Bab XLII - The Weight of Unspoken Words

    Emma masih mengenakan gaun malam berwarna hitam sederhana yang dipadukan dengan blazer tipis. Sejak awal acara, ia telah membantu mengoordinasikan jadwal Issa, berkomunikasi dengan pihak hotel, dan memastikan segala keperluan tim berjalan sesuai rencana. Ia tidak menyentuh alkohol sedikit pun.Baginya, malam itu adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa ia bukan sekadar sekretaris yang mampu menyelesaikan pekerjaan administratif. Ia ingin menjadi seseorang yang bisa diandalkan Issa bahkan ketika urusan pribadi pria itu mulai mengganggu pekerjaannya."Pak Direktur?"Issa yang bersandar pada tembok tidak jauh dari pintu masuk ballroom mengangkat kepala ketika mendengar suara yang familier."Oh. Emma."Emma tersenyum kecil. "Apa Anda akan pulang sekarang?""Ya. Tidak. Maksudku..." Issa mengerutkan kening, seolah-olah pertanyaan sederhana itu membutuhkan pertimbangan yang cukup rumit. "Ya, tapi tidak juga."Emma terdiam sesaat sebelum tawa kecil lolos dari bibirnya.Selama bekerja sebagai

  • A Story We Misread   BAB XLI - A Celebration Without Joy

    Ballroom hotel itu dipenuhi cahaya keemasan yang memantul pada permukaan gelas kristal dan dekorasi elegan di sepanjang ruangan. Musik instrumental mengalun lembut, bercampur dengan percakapan para tamu yang memenuhi acara peluncuran dua buku terbaru dari divisi Sci-fic dari penerbit ternama Hawthorne Literary Press.Bagi sebagian besar orang yang hadir malam itu, acara tersebut merupakan perayaan atas keberhasilan dua penulis yang telah menghabiskan berbulan-bulan menyelesaikan karya mereka. Bagi Issa Saverio, ini adalah bukti lain bahwa divisi yang dipimpinnya terus berkembang.Semuanya berjalan sesuai rencana. Kedua penulis memberikan sambutan singkat, para tamu menikmati jamuan, dan beberapa media melakukan wawancara dengan tim penerbitan. Arland bahkan sempat berkomentar bahwa acara tersebut mungkin menjadi salah satu peluncuran buku terbaik yang pernah mereka selenggarakan tahun ini.Namun, meskipun Issa menjawab setiap pertanyaan dengan profesional dan tersenyum ketika diperluk

  • A Story We Misread   BAB XL - The Questions He Couldn't Ask (Pt.2)

    "Memangnya ada masa lalu yang bisa diubah?" Arland mengangkat sebelah alis. "Kita hanya bisa memutuskan apa yang akan kita lakukan setelah mengetahui apa yang terjadi. Kalau sesuatu dari masa lalu memang bisa memengaruhi masa depan mereka, bukankah mereka berhak mengetahuinya sebelum mengambil keputusan?"Issa terdiam beberapa saat. Ia memahami maksud Arland. Namun, ada perbedaan antara mengetahui sesuatu yang memang perlu diketahui dan mencampuri urusan yang belum tentu berkaitan dengannya.Ia tidak ingin menuduh Nyonya Oswald menyembunyikan sesuatu hanya karena perempuan itu menolak menjelaskan alasannya. Akan tetapi, ia juga tidak bisa mengabaikan kemungkinan tersebut."Jadi, menurutmu, orang yang menentang hubungan itu seharusnya menjelaskan alasannya?" tanya Issa."Kalau dia benar-benar peduli kepada salah satu dari mereka, tentu saja." Arland menjawab dengan nada lebih serius. "Setidaknya, dia harus memberi mereka kesempatan untuk memahami apa yang sedang terjadi. Menentang sesu

  • A Story We Misread   BAB XXXIX - The Questions He Couldn't Ask (Pt.1)

    Keesokan paginya, Issa tiba di kantor Hawthorne Literary Press lebih awal dari biasanya.Suasana gedung penerbitan itu masih relatif tenang ketika ia melangkah keluar dari lift. Beberapa karyawan sudah mulai berdatangan, menyapa satu sama lain sebelum menuju departemen masing-masing. Issa membalas sapaan mereka seperti biasa, dengan anggukan singkat dan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.Tak ada yang berbeda dari penampilannya pagi itu. Kemeja yang dikenakannya rapi, lengan bajunya tergulung hingga siku, sementara rambutnya tertata seperti biasa. Ia membawa secangkir kopi hitam di satu tangan dan tas laptop di tangan lainnya.Dari luar, Issa tampak seperti direktur yang siap menghadapi hari kerja yang sibuk. Namun, begitu duduk di balik meja kerjanya, pikirannya kembali pada percakapan semalam.“Ibuku memintaku putus denganmu.” Kalimat Reana itu masih terngiang jelas di benaknya.Issa telah berusaha memikirkan persoalan tersebut dari berbagai sudut pandang sejak meninggalkan apart

  • A Story We Misread   BAB XXXVIII - The Questions That Remain

    Untuk sesaat, Issa tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap Reana, mencoba memahami kalimat yang baru saja didengarnya. Bukan karena ia tidak mengerti maksud perkataan itu, melainkan karena ia sama sekali tidak menyangka Nyonya Oswald akan mengambil langkah sejauh itu. Ia sudah menduga bahwa ada sesuatu yang membuat perempuan itu bersikap berbeda terhadapnya. Ia juga menyadari perubahan sikap Nyonya Oswald setiap kali mereka bertemu. Namun, ia tidak pernah membayangkan bahwa Nyonya Oswald akan meminta putrinya mengakhiri hubungan mereka. "Dia mengatakan itu kepadamu?" tanyanya akhirnya. Reana mengangguk. "Iya." "Apakah dia menjelaskan alasannya?" Reana menggeleng. "Itulah masalahnya. Dia hanya mengatakan bahwa hubungan kita tidak baik untukku. Ketika aku meminta penjelasan, dia bilang aku belum memahami semuanya." Issa terdiam. Reana mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi. "Aku tidak tahu apa yang harus kupikirkan lagi, Issa. Aku tidak ingin ber

  • A Story We Misread   BAB XXXVII - Beneath the Silence

    Pagi di Ashbourne House biasanya dimulai dengan percakapan ringan di meja makan.Terkadang Reana akan menceritakan sesuatu yang terjadi di Reading Delights. Pada kesempatan lain, Nyonya Catherine Oswald akan membahas rencana mereka untuk akhir pekan, sementara Tuan Frederick Oswald sesekali menyela dengan komentar yang membuat kedua perempuan itu tertawa.Namun, pagi ini terasa berbeda.Reana duduk di kursinya dengan secangkir teh di hadapan, sementara Nyonya Oswald sibuk mengoleskan selai pada sepotong roti panggang. Tidak ada yang benar-benar memulai percakapan. Bahkan suara peralatan makan yang beradu dengan piring terdengar lebih jelas daripada biasanya."Roti panggangnya masih ada kalau kamu mau," kata Nyonya Oswald akhirnya.Reana mengangkat wajahnya. "Terima kasih, Bu. Aku sudah cukup."Nyonya Oswald mengangguk kecil, lalu kembali pada sarapannya. Dan percakapan mereka berhenti di sana.Reana menunduk, mengaduk tehnya meskipun ia tidak berniat menambahkan apa pun ke dalamnya. P

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status