LOGINEdward dengan cekatan memasukan kode-kode rumit pada keyboard di hadapannya. Aliran listrik berkekuatan ratusan ribu volt langsung mengalir pada seseorang di dalam tabung raksasa tidak jauh di depannya.
Seseorang itu terlihat sama persis dengan dirinya sendiri, tanpa cela, sampai-sampai Edward yakin siapapun yang melihatnya akan langsung mengira bahwa itu adalah dirinya. Padahal mereka tidaklah sama, karena tidak seperti Edward, tubuh dalam tabung raksasa itu tidak memiliki darah yang mengalir ataupun jantung yang berdetak di dalam tubuhnya. Dia adalah Aria. Robot yang sengaja dibuat Edward selama lima tahun dengan susah payah, kini akan mulai ia hidupkan— “Yo’ man! Kamu masih sibuk?” Issa mengangkat kepala untuk melihat seseorang yang membuka pintu ruangannya begitu saja. Tepat seperti dugaan, Arland Finley, menyeringai tanpa dosa dari ambang pintu. “Harus berapa kali aku katakan padamu untuk mengetuk pintu sebelum masuk?” Issa menggerutu, menutup naskah yang tadi sedang ia baca. Arland terkekeh, tanpa menghiraukan ucapan Issa, ia masuk ke dalam ruangan yang di dominasi warna abu-abu tersebut dan mendudukkan dirinya di sofa tidak jauh dari meja kerja Issa. “Lagi-lagi lembur sendirian huh?” Arland bertanya dengan nada bosan. Issa melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, pukul sembilan malam. “Aku meminta sekretaris dan editorku untuk pulang tepat waktu.” “Ya ya, kamu memang atasan yang patut menjadi panutan.” Ucap Arland sarkastik. “Mau menemaniku minum malam ini?” Issa menatap Arland dengan tatapan tidak percaya. “Jadi ini alasan kamu belum pulang? Bukan karena lembur tapi karena mau mengajakku minum di hari kerja?” Arland mengangguk semangat. “Kamu benar-benar mengenalku dengan baik,” katanya. “Hm.” Issa bergumam setuju. “Tapi maaf, seperti yang kamu lihat, pekerjaanku masih menumpuk.” Arland mengalihkan tatapan kearah yang barusan ditunjuk Issa dengan dagu, yaitu tumpukan naskah yang memenuhi sebagian besar meja kerja. Sebenarnya, keadaan yang tidak jauh berbeda juga terjadi di meja kerjanya sendiri. Namun Issa selalu lebih serius jika mengenai pekerjaan, berbeda dengan Arland yang selalu menghadapinya dengan pembawaan yang santai. “Ayolah, kamu harus rileks sebentar dari tulisan-tulisan tidak masuk akal itu.” Issa tertawa, menatap naskah penulis baru yang berisi tentang seorang jenius yang menciptakan robot kloning dirinya sendiri untuk menguasai dunia. Arland benar, tidak ada yang masuk akal. Sayangnya, semua hal tidak masuk akal ini adalah pekerjaannya. Kegemaran Issa dalam membaca cerita-cerita fantasi sejak kecil membawanya masuk ke dunia sastra sampai kini ia bekerja di perusahaan penerbit terbesar di Inggris sebagai Direktur untuk divisi Science-Fiction. “Aku suka membaca tulisan-tulisan tidak masuk akal ini,” ucap Issa sambil menulis catatan di sampul naskah tadi untuk sekretarisnya, berisi sebuah perintah untuk meminta naskah lengkapnya pada si penulis. Arland memutar matanya, kesal. “Jadi lagi-lagi aku ditolak?” “Bukankah biasanya kamu mengajak Samuel setiap kali ingin minum di hari kerja?” “Dia baru saja aku beri naskah baru milik penulis cantik itu. Kamu harus tau, selain cantik dia juga romantis.” Arland tiba-tiba bersemangat menceritakan penulis baru yang—katanya—memiliki kecantikan di atas rata-rata. “Jadi kamu memilih naskahnya untuk diterbitkan karena dia cantik atau karena dia romantis?” Arland tertawa, merasa geli sekaligus heran dengan sifat Issa yang selalu datar setiap kali mereka membahas tentang perempuan. “Dia itu punya kecantikan dan aura seperti gadis remaja, tapi ternyata lewat tulisannya dia bisa menunjukkan bahwa dia adalah perempuan dewasa. Dia tau bagaimana caranya membuat hati pembaca berdesir karena keromantisannya yang tepat sasaran.” Jelas Arland panjang lebar. Issa berusaha mencerna penjelasan Arland baik-baik, tapi tetap saja ia tidak menemukan korelasi antara cantik-aura-romantis yang sahabatnya maksud. Memang, tingkat keromantisan dua lelaki itu berada di tingkatan yang berbeda. Sebagai Direktur untuk divisi Romance jelas Arland lebih paham tentang hal-hal seperti cinta dan romansa, dan jangan heran jika ia juga lebih ahli terkait urusan perempuan. Sedangkan Samuel, editor Arland, juga tidak jauh berbeda dengannya. Mungkin itu sebabnya mereka bisa bekerja sama dengan baik dan selalu berhasil menerbitkan buku-buku yang luar biasa. “Dan kapan kira-kira kalian akan menerbitkan bukunya?” Issa bertanya untuk mengalihkan Arland dari ajakannya minum-minum. Bukan apa-apa, Issa selalu sulit bangun keesokan harinya setiap kali sudah minum, sedangkan sekarang masih pertengahan minggu. Jadi setidaknya tunggu sampai akhir minggu untuk mengajaknya berpesta minuman. “Karena sudah memegang sembilan puluh persen naskahnya, jadi kami akan mengerjakannya secepat mungkin. Yah, sekitar dua bulan lagi pasti sudah siap dipasarkan. Dan aku optimis buku ini akan jadi new best-seller.” Issa mengangguk-angguk, merasa termotivasi kalau divisinya juga harus menerbitkan buku baru yang bagus. “Kalau terbit dua bulan lagi, itu artinya penulis cantikmu itu sudah bisa hadir dalam perayaan ulang tahun perusahaan musim semi nanti.” Arland mengetuk-ngetukkan jemari pada lengan sofa sambil berpikir. “Ulang tahun perusahaan bulan April… Oh hei! Aku baru saja dapat ide untuk menerbitkannya tepat di hari Valentine nanti.” “Ide bagus.” Issa mengangkat bahu tak acuh. Tepat saat itu pintu ruangan Issa lagi-lagi langsung dibuka tanpa permisi, Samuel Rowan menyembulkan kepalanya dan langsung berdecak begitu melihat Arland. “Sudah kuduga kamu di sini. Kamu sengaja membuat aku kerja rodi sedangkan kamu bersantai di sini!?” Teriaknya pada Arland. Issa yang mendengar itu tertawa geli, membiarkan Samuel bergabung. “Direkturmu baru saja mengajakku minum-minum,” adunya langsung. “Dia memang atasan tidak tau diuntung.” Samuel menggerutu, tidak peduli atasan yang dia katai ada di hadapannya. Bukannya marah, Arland malah terkekeh. Meskipun di perusahaan jabatannya dan Issa lebih tinggi dari Samuel tapi mereka sama sekali tidak pernah bersikap bossy. “Aqsa menghubungiku, katanya dia ingin besok kita meluangkan waktu untuk makan siang dengannya,” ujar Samuel. Issa mengangkat alis. “Besok? Aku tidak bisa.” “Kenapa?” Tanya Arland penasaran. “Aku harus ke Reading Delights.” Arland dan Samuel kompak mengernyit. “Tempat apa itu?” Tanya mereka bersamaan. “Taman bacaan di Devonshire Place—Marylebone, besok aku harus mengembalikan buku yang aku pinjam dari sana,” jelas Issa. “Kamu meminjam buku?” Tanya Samuel heran. Issa tersenyum dan menggeleng. “Pacarku.” ••• Sama seperti tiga hari yang lalu, Issa langsung merasakan kenyamanan saat masuk ke Reading Delights. Suasana taman bacaan ini sangat mirip dengan The Long Room of The Old Library milik Trinity College di Dublin. Ruangannya luas, di dominasi warna kayu, rak-rak tinggi penuh buku menciptakan sekat yang rapi. Dekorasinya sederhana, namun jendela-jendela besar memberikan simetri gaya pencerahan yang menenangkan mata. Issa berjalan pelan menyusuri lorong di antara rak tinggi, sesekali langkahnya terhenti saat melihat buku yang ia anggap menarik. Meski ini kunjungannya yang kedua, namun Issa baru sempat melihat-lihat dan baru menyadari kalau di sini ternyata ada banyak buku klasik lama yang sulit sekali dicari. Sadar tidak punya banyak waktu karena harus kembali ke kantor, Issa menahan keinginannya untuk berada di sana lebih lama demi menjelajah buku-buku yang belum pernah ia baca. Dengan segera ia melanjutkan langkah menuju meja di tengah ruangan. Dari kejauhan Issa sudah bisa mengenali perempuan yang sama dengan tiga hari yang lalu. Dilihat lebih seksama, perempuan itu terlihat manis menggunakan kemeja warna merah muda. Rambutnya ditarik ke atas membentuk ponytail namun beberapa helai di bagian belakang terlepas dari ikatannya. Dan dia sedang sibuk mencatat buku-buku yang sepertinya baru dikembalikan. “Hi,” sapa Issa saat sudah berdiri tepat di depan meja. Perempuan itu, Reana, mengangkat kepala lalu tersenyum ramah, menunjukkan profesionalitas. “Hi,” katanya balik menyapa. “Aku mau mengembalikan buku ini.” Reana mengangguk, menerima buku Cinderella yang disodorkan Issa. “Bisa sebutkan nomor anggota Anda, Tuan?” Issa langsung merogoh saku jas, mengeluarkan dompet dan menarik kartu berwarna hitam di antara kartu-kartunya yang lain. “2030.” Issa menyebutkan nomor anggota yang tertera. Reana mengetik nomor tersebut kemudian muncul catatan pinjaman atas nama Issa di layar komputernya. “Issa Saverio, benar?” “Ya.” “Anda sudah mengembalikan buku kami tepat waktu. Terimakasih.” Ucap Reana setelah menekan finish, yang artinya buku sudah dikembalikan. Tanpa sadar Issa ikut tersenyum karena melihat Reana tersenyum. “Apa di sini ada novel distopia Fahrenheit 451?” Sedikit ragu Issa bertanya. “Ray Bradbury tahun 1953?” Seketika iris mata Issa langsung berbinar, tidak menyangka Reana langsung tau buku yang ia maksud. Penuh semangat ia menjentikan jarinya. “Ya! Kamu punya?” Reana berkedip beberapa kali melihat Issa yang tiba-tiba antusias, mengingatkannya pada ekspresi anak perempuan yang sebelumnya datang bersamanya. Mirip sekali. “Ya, ada di bagian fiksi ilmiah baris ke tujuh.” Reana menunjuk salah satu rak tinggi jauh di sudut ruangan. “Oh?” Keantusiasan Issa langsung berganti kernyit di kening, tidak yakin bisa menemukan buku yang ia cari di antara banyaknya buku-buku lain. Seolah mengerti masalahnya, Reana kembali tersenyum dan menawarkan bantuan. “Saya bantu ambilkan,” ucap Reana. Perempuan itu langsung berjalan ke arah rak yang tadi ia maksud. Issa mengikuti tidak jauh di belakangnya. Dengan mudah Reana menemukan buku tebal dengan sampul berwarna merah dan hitam lalu memberikannya pada Issa. “Ray Bradbury, Fahrenheit 451.” Issa kembali antusias saat menerimanya. “Ya, benar yang ini. Aku sudah mencari novel ini kemana-mana.” Reana hanya menjawab dengan tawa kecil yang sopan. Mereka kembali ke meja tadi untuk mencatat pinjaman baru Issa. Setelah selesai, lelaki itu kembali ke mobil, namun sebelum menginjak gas ia baru sadar kalau dirinya meminjam buku lagi, itu artinya ia harus kembali kesana lagi dan lagi. Dan itu berarti ia akan bertemu dengan Reana lagi dan lagi. Diam-diam Issa tersenyum, memunculkan lesung pipinya yang dalam. Ia tentu saja tidak keberatan bertemu dengan Reana. Perempuan manis itu punya senyum yang menular. Dan sepertinya mulai sekarang Reading Delights akan jadi tempat favoritnya yang baru.Kita tak akan pernah tahu pada siapa kita akan jatuh cinta. Bisa saja pada dia yang sudah menemanimu sejak masih remaja, atau pada dia yang bersamamu pernah menghabiskan waktu di suatu malam. Mungkin juga pada dia yang selalu membuatmu kesal tapi di saat yang sama mampu memberikan getaran yang tak biasa. Itu juga barangkali yang dirasakan Reana sekarang. Ia memang belum bisa mengatakan kalau Issa Saverio adalah cinta matinya, namun ketika ia bertindak mengikuti kata hati, ia merasa benar. Sama sekali tidak ada setitik pun penyesalan dalam hatinya setelah memutuskan untuk mau belajar saling mencintai bersama lelaki itu. Kejujuran yang Issa katakan dengan apa adanya mengenai perasaan membuat Reana terenyuh. Dan baru kali ini ia mendapatkan pernyataan cinta tanpa diiming-imingi janji-janji manis yang sebenarnya belum tentu bisa terpenuhi. Maka dengan apa adanya pula ia mau memberikan hatinya. Lalu, ada hal yang sangat lucu. Reana kira diusianya sekarang yang sudah menginjak dua puluh
"Aku menyukaimu."Tegas.Tanpa ragu.Tanpa aba-aba.Reana yakin ia tidak salah dengar, bahkan sekarang jantungnya berdetak semakin cepat, darahnya berdesir, wajahnya menghangat dan Issa masih memaku sepasang matanya dengan tatapan tajam.Demi Tuhan, ia gugup setengah mati!Sesaat Reana mengira waktu baru saja berhenti. Hanya tetesan air hujan di luar sana yang tetap jatuh silih berganti. Namun suara petir yang tiba-tiba terdengar membuatnya tersadar, ia pun berkedip untuk memutuskan kontak mata dengan lelaki di hadapannya, lalu tertawa.Benar-benar tertawa sampai perutnya terasa sakit dan ujung matanya berair.Issa mengernyit dan mengerucutkan bibir, sama sekali tidak merasa ada sesuatu yang lucu di antara mereka. Atau, apa pernyataannya barusan terdengar seperti sebuah lelucon?"Kenapa tertawa?" Lelaki itu bertanya.Reana melihat ke arahnya sekilas, masih tertawa geli sambil sesekali mengibaskan tangan dan memukul meja."Kamu lucu,” ucapnya di sela tawa, "dari semua leluconmu, ini ya
Tidak ada persahabatan antara lelaki dan perempuan.Sudah tak terhitung berapa kali Reana mendengar kalimat itu. Bahkan sahabatnya sendiri pun, Oliver Sebastian, pernah mengatakannya. Namun ia hanya tertawa seraya mengibaskan tangan seolah apa yang ia dengar adalah omong kosong belaka. Hanya sebuah teori.Reana bahkan selalu dengan bangga mengatakan kalau teori itu terbukti salah, karena ia dan Oliver tetap bersahabat meski telah enam belas tahun mereka bersama. Hanya orang-orang yang terlalu mudah terbawa perasaan yang akan menyukai sahabatnya sendiri, begitu katanya.Nyatanya, malam ini, bukti yang ada justru semakin menguatkan teori itu.Benar, Reana lupa.Ia benar-benar lupa kalau suatu hubungan bisa disebut sebagai hubungan karena dilakukan oleh lebih dari satu pihak. Boleh saja dirinya dengan bangga berkata kalau ia menganggap Oliver hanya sebagai sahabat dan tidak akan pernah berubah selamanya. Namun ia lupa memikirkan dari sisi yang lain. Dari sudut pandang Oliver. Ia lupa per
Seharusnya, saat ini Issa sedang berada di tahun 1980. Sebagai pemuda yang menjadi sukarelawan membersihkan jenazah korban kekerasan. Kemudian ia akan berpindah ke tahun 1985, sebagai seorang jurnalis yang berkali-kali ditampar oleh personil tentara saat diinterogasi. Setelah itu ia akan ke tahun 1990, 2002, dan 2010.Itulah Issa setiap kali berduaan dengan sebuah novel. Ketika tubuhnya duduk nyaman di sofa ditemani oleh secangkir kopi hitam, tangannya sibuk membuka halaman, matanya sibuk membaca setiap kata, jiwanya justru seolah ditarik masuk ke dalam cerita. Dalam pikirannya, ia menjelma menjadi si tokoh utama atau hanya sekadar menjadi penonton tak kasat mata.Tapi malam ini berbeda.Sudah sekitar satu jam matanya tertuju pada salah satu halaman novel Human Acts yang ditulis oleh Han Kang enam tahun lalu, namun Issa tidak benar-benar sedang membaca. Novel yang menceritakan tentang aksi demonstrasi warga Gwangju, Korea tahun 1980 itu malam ini tidak berhasil membawa jiwa dan pikira
Arland yakin sahabatnya satu ini sudah gila. Mungkin tanpa sengaja minum obat diare milik Lue—kucing kesayangannya—atau kerasukan hantu. Tidak heran, gedung apartemen tempat Issa tinggal ini memang sudah lama dirumorkan angker, dan sepertinya salah satu makhluk tak kasat mata itu sedang berada dalam diri Issa saat ini. "Aku mulai merinding melihatmu semakin aneh,” ucap Arland sambil menyentuh tengkuk, seolah membuktikan kata-katanya. Issa tidak menghiraukan Arland sama sekali, mata dan kedua tangannya seharian ini sibuk dengan ponsel. Sesekali ia menyeringai atau tertawa geli, namun tidak ingin mengatakan apa yang sedang ia lakukan maupun apa yang ia lihat pada sahabatnya. "Apa telingamu itu hanya pajangan?" Lagi, Arland mencari perhatian, kesal karena terus menerus diabaikan. "Issa!" Arland meraih sebutir anggur dari piring di atas meja dan melemparnya pada Issa yang berbaring santai di sofa di hadapannya. "Aduh!" Akhirnya kata pertama sejak kedatangan Arland terlontar dari mulu
Oh dia benar-benar datang hari ini.Reana mengeluh dalam hati ketika orang yang sangat tidak ingin dilihatnya melangkah masuk ke Reading Delights. Orang itu, Issa Saverio, justru malah tersenyum lebar saat tatapan mereka bertemu. Membuat Reana semakin ingin mencabik-cabik wajahnya."Hai.” Bukannya membalas sapaan, Reana malah membuang muka ke layar datar di depannya, dengan bibir terkatup rapat ia pura-pura kembali sibuk ke dalam apa yang sedari tadi sedang ia kerjakan, yaitu melanjutkan naskah cerita baru. Sial, inspirasinya tiba-tiba menguap entah kemana.Issa menyeringai, sudah menduga perempuan di hadapannya ini pasti masih merasa kesal setelah apa yang terjadi kemarin. Hell, yah, untuk itulah ia menemuinya malam ini."Aku mau mengembalikan buku ini," Issa masih bicara dengan nada bersahabat seperti biasa.Reana mendengus kesal, mau tidak mau menerima buku Hansel and Gretel yang dipinjam Rosie tiga hari yang lalu."Terima kasih sudah mengembalikan bukunya tepat waktu."Dengan te







