LOGIN“Apa Samuel ada di ruangannya?”
Sekretaris Samuel tersenyum dan menunjuk pintu ruangan bos-nya. “Silakan langsung masuk saja, Sir,” dia menjawab sopan. Issa mengangguk, setelah berterima kasih ia membuka pintu yang sebenarnya sudah sering ia masuki tanpa ragu. Di dalam ruangan bernuansa coklat itu orang yang ia cari sedang serius di balik meja kerja, dan masih di atas meja yang sama, menumpuk novel-novel yang baru dicetak. Sepertinya itu novel karya penulis cantik yang selalu dibicarakan Arland, yang akan diterbitkan besok. “Kamu tau kemana Arland pergi?” Issa mendudukkan dirinya di sofa tidak jauh dari meja kerja Samuel. Hanya melirik Issa sekilas, Samuel menjawab, “Ada pertemuan dengan manager Han untuk acara besok.” “Kalian benar-benar menerbitkannya di hari valentine huh?” Samuel tertawa, ia meraih salah satu novel dan menunjukkannya pada Issa. “Novel romantis harus diterbitkan di hari penuh cinta,” ucapnya sok puitis. “Ya ya ya. Kalian memang romantis.” Dengan menampilkan wajah datar Issa bangkit menghampiri Samuel dan merebut novel itu dari tangannya. Letterbox. Judul yang tertulis di sampul berwarna merah muda bergambar kotak surat itu terlihat sederhana namun cukup menarik perhatian. Tapi, ada yang lebih menarik perhatian Issa selain judul dan desain sampulnya. “Namanya Rea Oswald?” Issa bertanya, dahinya mengernyit heran. “Ya. Kamu baru tau?” Samuel menatap Issa dengan sorot tidak percaya. “Kalian sering membicarakannya tapi tidak pernah menyebutkan nama.” “Benarkah?” Issa mengangguk yakin. Nama Rea Oswald mengingatkannya pada pemilik atau mungkin pegawai di Reading Delights. Dia bernama Reana. Rea dan Reana, mirip sekali. Issa tau karena membaca papan namanya, bukan karena sengaja berkenalan atau apa. Jadi, sebenarnya ada berapa banyak perempuan bernama awalan Rea- di London? Dan Arland bilang, penulis ini cantiknya di atas rata-rata. Dia juga cantik. Reana, maksudnya. Issa jadi penasaran, apa perempuan bernama awalan Rea- semuanya cantik? Ah, tiba-tiba Issa ingin pergi ke Reading Delights. Setelah mengembalikan Fahrenheit 451 lebih dari dua bulan yang lalu ia sama sekali belum sempat pergi kesana lagi. Karena penasaran, Issa mulai membuka novel berjudul Letterbox karya Rea Oswald itu, membaca beberapa kalimat dari halaman yang ia buka acak. Ia akui, kalimat-kalimatnya ditulis dengan rapi dan hati-hati, khas penulis baru tapi sama sekali tidak terlihat amatir. Meskipun begitu, novel ini cukup nyaman untuk dibaca, pasti akan menarik orang-orang untuk terus membaca sampai akhir. Seperti biasa, selera Arland dan Samuel tidak perlu diragukan lagi. “Hei, kamu ingin bertemu dengannya? Hari ini aku meminta Rea datang kesini.” “Untuk apa?” “Menandatangani novelnya yang kemarin terlewat. Semua ini akan diterbitkan besok, terlalu memakan waktu kalau aku harus mengirimkannya ke rumahnya.” “Maksudku, untuk apa aku bertemu dengannya?” Samuel menyandarkan tubuh dengan hembusan nafas kesal. “Kamu selalu seperti ini setiap kali akan aku kenalkan pada perempuan.” “Kenapa kamu dan Arland seolah terobsesi dengan penulis ini? Apa dia benar-benar secantik itu?” “Kamu tau Arland memang selalu seperti itu tiap kali bertemu perempuan. Tapi, yah, Rea memang cantik, kali ini aku mengakuinya.” Issa menanggapi dengan tawa, setelah menyimpan novel ke tumpukannya di meja ia kembali ke sofa, mengambil dua paper bag hitam yang tadi ia bawa, alasannya datang ke ruangan Samuel. “Pacarku dan ibunya baru kembali berlibur dari Yunani, dan mereka memintaku memberikan ini pada kalian. Untukmu dan Arland. Tolong berikan padanya saat dia kembali nanti.” “Apa ini? Pacarmu perhatian sekali.” Samuel melongokkan kepala ke dalam salah satu paper bag yang jadi jatah miliknya. Ada satu paket besar pasteli* dan kotak berisi satu botol greek extra virgin olive oil yang terlihat premium. “Wah… Sampaikan terima kasihku kepada pacarmu dan ibunya,” ucap Samuel sumringah. Issa mengangguk. “Sudah ya, aku masih punya banyak pekerjaan.” Katanya sambil berlalu. Tepat saat Issa akan membuka pintu, Samuel berseru, “besok kamu datang ‘kan?” Issa menoleh dan mengangkat bahu. “Entahlah, aku tidak berjanji, kamu tau divisi ku juga sedang dikejar batas waktu.” “Setidaknya datanglah ke pesta setelah acara inti selesai, jangan lembur sampai tengah malam setiap hari.” “Itu juga aku tidak bisa janji, pacarku ada di rumah, valentine harus dihabiskan bersama orang terkasih ‘kan?” Kata Issa yang langsung menghilang di balik pintu, keluar dari ruangan Samuel sambil tertawa. Padahal dalam kepalanya Issa sedang berencana untuk pergi lagi ke Reading Delights, meminjam beberapa buku untuk menemaninya sebelum tidur, dan tentu saja, ia juga tidak keberatan bertemu lagi dengan Reana. Wajahnya yang manis membuat Issa tidak bosan untuk melihatnya lagi dan lagi. Tepat saat pintu lift tertutup untuk membawa Issa kembali ke ruangannya di lantai lima belas, lift lain di sampingnya terbuka, memperlihatkan seorang perempuan yang melangkahkan kaki keluar dari dalamnya menuju ruangan Samuel. Perempuan yang sama dengan yang tadi ada dalam pikiran Issa, yang wajahnya tidak membosankan untuk dipandang, yang taman bacaannya akan jadi tujuan Issa selanjutnya. ••• Issa tidak berbohong kepada Arland dan Samuel saat ia mengatakan ada banyak pekerjaan yang harus di selesaikan sampai-sampai dirinya tidak akan sempat untuk datang ke acara penerbitan novel romance baru mereka. Ia sedang dikejar batas waktu untuk tiga novel sekaligus yang sedang digarap dan rencananya akan diterbitkan musim semi nanti. Belum lagi salah satu novelnya yang sudah terbit tahun lalu sedang dalam proses diskusi bersama sebuah rumah produksi besar karena akan diadaptasi menjadi sebuah film. Bahkan rencananya untuk sekadar pergi ke Reading Delights saja lagi-lagi harus ia tunda. Namun sesibuk apapun seorang Issa Saverio, lelaki berusia tiga puluh tahun itu selalu berusaha menjaga relasi dan persahabatan. Ia selalu menjaga hubungan baik dengan orang-orang yang sudah menaruh kepercayaan pada dirinya. Dalam kasus ini mereka adalah Arland Finley dan Samuel Rowan. Dua orang selain Aqsa Rivero yang ia kenal semenjak di Universitas dan kebetulan bertemu lagi di satu perusahaan yang sama beberapa tahun kemudian setelah mereka lulus. Saling mengenal lebih dari sepuluh tahun membuat mereka selalu mendukung satu sama lain. Dan salah satu contoh dukungan yang bisa Issa berikan adalah mencuri sedikit waktu ditengah kesibukannya untuk datang ke acara mereka. Issa mengeluarkan jas hitam yang sebelumnya sudah disiapkan dari dalam paper bag bertuliskan logo pakaian ternama. Setelah mengganti jas yang sedari tadi pagi ia pakai menggunakan jas yang baru, Issa merapikan tatanan rambutnya sebentar, tidak ingin terlihat terlalu berantakan. Kemudian ia memasukkan ponsel dan dompet ke dalam saku, meraih tas kerja juga kunci mobil, dan keluar ruangan. “Terima kasih untuk hari ini, Emma. Pulang dan beristirahatlah, aku masih membutuhkanmu besok.” Issa berkata pada sekretarisnya, Emma Hoffman. Emma mengangguk patuh, memperlihatkan senyum cerahnya seraya menjawab. “Baik Direktur, terima kasih.” Issa menanggapi dengan senyum ala kadar, sambil berjalan menuju lift ia melihat jam tangan, sebenarnya sudah pukul delapan malam, acara inti pasti sudah selesai dari beberapa jam yang lalu, tapi Issa yakin pesta setelah acara pasti masih berlangsung. Tidak apa, yang penting menunjukkan wajah pada Arland dan Samuel bahwa ia hadir lalu pergi setelah berbincang sebentar saja itu pun sudah cukup. Jalanan yang lancar membuat Issa tidak butuh waktu lama untuk sampai di sebuah hotel bintang lima. Setelah membiarkan mobilnya diambil alih oleh petugas valet, Issa bergegas masuk menuju ballroom, ia sesekali tersenyum dan mengangguk sopan setiap kali berpapasan dengan orang yang ia kenal. Meski tidak ada satu orang pun dari divisinya yang terlihat, nampaknya Issa memang cukup dikenal banyak orang. Tepat seperti dugaannya, pesta masih berlangsung meriah, malah ini lebih meriah dari pesta-pesta penerbitan divisi Romance sebelumnya. Ruangan besar yang sudah didekorasi sedemikian rupa dipenuhi oleh orang-orang yang sedang berbincang dalam kumpulan kecil dengan gelas wine di tangan masing-masing, musik jazz yang mengalun sepertinya sama sekali tidak mereka anggap mengganggu pembicaraan. Di ujung, tepatnya di atas stage, layar besar menunjukkan novel Letterbox dan ucapan selamat karena berhasil terjual sebanyak seribu eksemplar di hari pertama. Untuk buku debut seorang penulis, ini memang pencapaian yang luar biasa. Dan lagi-lagi Arland benar, novel ini pasti akan jadi new best-seller mereka yang baru. Pantas saja, mereka membuatnya lebih istimewa. Issa menyipitkan mata sambil menoleh kesana-kemari, berusaha mengalahkan silau sinar lampu agar iris matanya bisa menangkap sosok Arland dan Samuel. Dan ternyata, mereka ada di bagian kanan, sedang berbincang dengan beberapa orang, salah satunya perempuan bergaun merah muda yang berdiri membelakangi pintu masuk di mana Issa berada sekarang. Dengan percaya diri Issa berjalan menghampiri. Semakin dekat, samar-samar ia bisa mendengar Arland yang sedang membanggakan penulis Letterbox dan bercerita bagaimana proses sampai akhirnya novel itu terbit. Kurang dari lima meter, Arland menyadari kehadiran Issa, lelaki bersetelan abu-abu tua itu langsung berseru. “Oh, Tuan Saverio sudah tiba!” Semua orang yang sedang berbincang dengannya menoleh kearah Issa, termasuk perempuan bergaun merah muda tadi, dan seketika Issa menghentikan langkah. Perempuan itu… Bukahkah dia… “Reana?” ••• *Pasteli adalah camilan manis khas Yunani yang pada dasarnya dibuat dari biji wijen dan madu. Bentuknya biasanya berupa batangan pipih berwarna keemasan, dengan tekstur yang bisa renyah atau sedikit chewy, tergantung cara pembuatannya.Samuel menatap Reana lekat-lekat setelah mereka selesai membahas tentang naskah baru yang ditulis oleh perempuan itu dan harus banyak direvisi di sana-sini. Berbeda dengan Letterbox yang langsung Samuel terima lengkap, kali ini ia menuntut Reana harus menulis minimal dua puluh halaman setiap minggu. Tidak mudah memang menulis dikejar oleh batas waktu, karena si penulis mau tidak mau harus memaksa inspirasi hadir setiap hari kalau tidak mau si editor meneror setiap menit. Dan Samuel cukup kagum pada Reana, sebagai penulis baru sejauh ini dia selalu bisa konsisten. Namun bukan itu alasannya menatap lekat-lekat Reana yang duduk tepat di hadapan. Lelaki bermata biru itu yakin ada sesuatu yang terjadi di antara Reana dan salah satu sahabatnya—Issa Saverio. Dan sebenarnya mulutnya sudah gatal ingin bertanya sejak beberapa waktu lalu namun Samuel cukup bijaksana untuk tidak ikut campur ke dalam masalah pribadi siapapun. Jika tebakannya benar, ia yakin tidak akan lama lagi Issa akan mengakui
Kita tak akan pernah tahu pada siapa kita akan jatuh cinta. Bisa saja pada dia yang sudah menemanimu sejak masih remaja, atau pada dia yang bersamamu pernah menghabiskan waktu di suatu malam. Mungkin juga pada dia yang selalu membuatmu kesal tapi di saat yang sama mampu memberikan getaran yang tak biasa. Itu juga barangkali yang dirasakan Reana sekarang. Ia memang belum bisa mengatakan kalau Issa Saverio adalah cinta matinya, namun ketika ia bertindak mengikuti kata hati, ia merasa benar. Sama sekali tidak ada setitik pun penyesalan dalam hatinya setelah memutuskan untuk mau belajar saling mencintai bersama lelaki itu. Kejujuran yang Issa katakan dengan apa adanya mengenai perasaan membuat Reana terenyuh. Dan baru kali ini ia mendapatkan pernyataan cinta tanpa diiming-imingi janji-janji manis yang sebenarnya belum tentu bisa terpenuhi. Maka dengan apa adanya pula ia mau memberikan hatinya. Lalu, ada hal yang sangat lucu. Reana kira diusianya sekarang yang sudah menginjak dua puluh
"Aku menyukaimu."Tegas.Tanpa ragu.Tanpa aba-aba.Reana yakin ia tidak salah dengar, bahkan sekarang jantungnya berdetak semakin cepat, darahnya berdesir, wajahnya menghangat dan Issa masih memaku sepasang matanya dengan tatapan tajam.Demi Tuhan, ia gugup setengah mati!Sesaat Reana mengira waktu baru saja berhenti. Hanya tetesan air hujan di luar sana yang tetap jatuh silih berganti. Namun suara petir yang tiba-tiba terdengar membuatnya tersadar, ia pun berkedip untuk memutuskan kontak mata dengan lelaki di hadapannya, lalu tertawa.Benar-benar tertawa sampai perutnya terasa sakit dan ujung matanya berair.Issa mengernyit dan mengerucutkan bibir, sama sekali tidak merasa ada sesuatu yang lucu di antara mereka. Atau, apa pernyataannya barusan terdengar seperti sebuah lelucon?"Kenapa tertawa?" Lelaki itu bertanya.Reana melihat ke arahnya sekilas, masih tertawa geli sambil sesekali mengibaskan tangan dan memukul meja."Kamu lucu,” ucapnya di sela tawa, "dari semua leluconmu, ini ya
Tidak ada persahabatan antara lelaki dan perempuan.Sudah tak terhitung berapa kali Reana mendengar kalimat itu. Bahkan sahabatnya sendiri pun, Oliver Sebastian, pernah mengatakannya. Namun ia hanya tertawa seraya mengibaskan tangan seolah apa yang ia dengar adalah omong kosong belaka. Hanya sebuah teori.Reana bahkan selalu dengan bangga mengatakan kalau teori itu terbukti salah, karena ia dan Oliver tetap bersahabat meski telah enam belas tahun mereka bersama. Hanya orang-orang yang terlalu mudah terbawa perasaan yang akan menyukai sahabatnya sendiri, begitu katanya.Nyatanya, malam ini, bukti yang ada justru semakin menguatkan teori itu.Benar, Reana lupa.Ia benar-benar lupa kalau suatu hubungan bisa disebut sebagai hubungan karena dilakukan oleh lebih dari satu pihak. Boleh saja dirinya dengan bangga berkata kalau ia menganggap Oliver hanya sebagai sahabat dan tidak akan pernah berubah selamanya. Namun ia lupa memikirkan dari sisi yang lain. Dari sudut pandang Oliver. Ia lupa per
Seharusnya, saat ini Issa sedang berada di tahun 1980. Sebagai pemuda yang menjadi sukarelawan membersihkan jenazah korban kekerasan. Kemudian ia akan berpindah ke tahun 1985, sebagai seorang jurnalis yang berkali-kali ditampar oleh personil tentara saat diinterogasi. Setelah itu ia akan ke tahun 1990, 2002, dan 2010.Itulah Issa setiap kali berduaan dengan sebuah novel. Ketika tubuhnya duduk nyaman di sofa ditemani oleh secangkir kopi hitam, tangannya sibuk membuka halaman, matanya sibuk membaca setiap kata, jiwanya justru seolah ditarik masuk ke dalam cerita. Dalam pikirannya, ia menjelma menjadi si tokoh utama atau hanya sekadar menjadi penonton tak kasat mata.Tapi malam ini berbeda.Sudah sekitar satu jam matanya tertuju pada salah satu halaman novel Human Acts yang ditulis oleh Han Kang enam tahun lalu, namun Issa tidak benar-benar sedang membaca. Novel yang menceritakan tentang aksi demonstrasi warga Gwangju, Korea tahun 1980 itu malam ini tidak berhasil membawa jiwa dan pikira
Arland yakin sahabatnya satu ini sudah gila. Mungkin tanpa sengaja minum obat diare milik Lue—kucing kesayangannya—atau kerasukan hantu. Tidak heran, gedung apartemen tempat Issa tinggal ini memang sudah lama dirumorkan angker, dan sepertinya salah satu makhluk tak kasat mata itu sedang berada dalam diri Issa saat ini. "Aku mulai merinding melihatmu semakin aneh,” ucap Arland sambil menyentuh tengkuk, seolah membuktikan kata-katanya. Issa tidak menghiraukan Arland sama sekali, mata dan kedua tangannya seharian ini sibuk dengan ponsel. Sesekali ia menyeringai atau tertawa geli, namun tidak ingin mengatakan apa yang sedang ia lakukan maupun apa yang ia lihat pada sahabatnya. "Apa telingamu itu hanya pajangan?" Lagi, Arland mencari perhatian, kesal karena terus menerus diabaikan. "Issa!" Arland meraih sebutir anggur dari piring di atas meja dan melemparnya pada Issa yang berbaring santai di sofa di hadapannya. "Aduh!" Akhirnya kata pertama sejak kedatangan Arland terlontar dari mulu







