เข้าสู่ระบบ"Bisakah ambilkan buku itu untukku?"
Reana yang sedang merapikan buku-buku di rak menoleh ke arah suara kecil yang lembut itu, seorang anak perempuan berusia sekitar empat tahun menatapnya dengan sorot memohon sambil menunjuk sebuah buku cerita anak-anak di rak tinggi yang tidak terjangkau oleh tangan kecilnya. "Buku ini?" Reana meraih buku cerita Cinderella yang ditunjuk dan menyerahkannya, anak perempuan tadi langsung tersenyum lebar, menerima dengan sangat antusias. Reana ikut tersenyum lalu berjongkok agar tinggi mereka sejajar. "Jadi, kamu suka cerita Cinderella?" "Cindelella?" Ulang anak perempuan itu, ia menatap Reana dengan binar penuh rasa ingin tahu. "Iya, putri yang cantik dan baik hati ini bernama Cinderella." Jelas Reana sambil menunjuk gambar seorang putri bergaun pesta berwarna biru muda yang menggunakan sepatu kaca di sampul buku. "Aku akan meminta Ayah membacakan buku ini untukku." Reana tertawa. "Iya, mintalah Ayahmu membacakannya nanti." Lalu Reana mengedarkan pandangan, mencari sosok orang tua anak perempuan itu, sadar bahwa sedari tadi dia hanya seorang diri. "Jadi, di mana Ayahmu? Atau Ibumu? Kamu tidak datang kesini sendirian 'kan?" Reana bertanya lembut. Anak perempuan itu belum menjawab ketika terdengar suara derap langkah terburu-buru dan dari balik rak tinggi muncul seorang lelaki bertubuh tegap. Lelaki itu mengembuskan napas lega ketika melihat anak perempuan menggemaskan tadi, dan perlahan dia menghampiri. "Sayang, kamu di sini rupanya." Dengan senyum lebar anak perempuan itu langsung menghambur ke dalam pelukannya, antusias menunjukkan buku cerita yang sedari tadi memang menyita perhatiannya. "Nanti bacakan cerita ini untukku. Kakak bilang ini cerita Cindelella,” katanya bersemangat. "Cinderella." Lelaki itu mengoreksi, membawa si anak ke dalam gendongan. Reana yang tanpa sadar sejak tadi memperhatikan sedikit terkejut dan tersipu malu saat lelaki itu menatap ke arahnya. Dengan kikuk, ia tersenyum. "Terima kasih sudah menjaganya, maaf merepotkan." Ucap lelaki itu sambil tersenyum ramah dan membungkuk sopan. Reana membalas dengan kesopanan yang sama. "Tidak masalah, dia sama sekali tidak merepotkan." Lalu mata lelaki itu beralih ke papan nama di dada sebelah kiri Reana. "Jadi, bisakah aku meminjam buku cerita ini, Reana?" "Ya, tentu saja. Apa sudah punya kartu anggota sebelumnya?" Lelaki itu menggeleng, jawaban yang sebenarnya sudah diketahui Reana. Sebagai pemilik dari taman bacaan ini, ia sudah nyaris hafal dengan orang-orang yang terdaftar sebagai anggota, dan dirinya yakin ini adalah kali pertama lelaki dan anak perempuan itu datang ke sini. "Kalau begitu Anda harus mengisi data sebagai anggota terlebih dulu, silakan lewat sini." Reana dengan ramah membawa mereka ke mejanya yang berada di tengah-tengah ruangan luas yang dikelilingi oleh rak-rak tinggi penuh berbagai macam buku. Anak perempuan yang masih berada dalam gendongan terus saja berceloteh riang tentang tikus dan kadal yang terlihat menggemaskan dalam buku cerita, dan lelaki yang menggendongnya tampak tidak pernah lelah menanggapi. Yah, ayah dan anak yang sempurna, pikir Reana dalam hati. "Bisa saya pinjam kartu identitas Anda sebentar, Tuan?" Tanya Reana yang sudah berada di balik mejanya, siap menginput data. "Oh ya, tentu saja." Lelaki itu langsung merogoh saku, mengeluarkan dompet dan mengambil kartu identitas lalu memberikannya pada Reana. Issa Saverio. Ah, jadi nama lelaki itu Issa. Tanpa berkata apa-apa lagi Reana mengerjakan tugasnya, dengan cepat mengetik nama Issa Saverio, beserta dengan alamat lengkapnya. "Bisa Anda sebutkan nomor telepon Anda, Tuan?” Issa yang sedang tertawa dengan si anak langsung menatapnya dan tanpa ragu menyebutkan sederet angka yang sudah ia hafal di luar kepala. Setelah memastikan semua data yang diperlukan tersimpan aman dalam file di dalam komputer, Reana mengembalikan kartu identitas Issa dengan sopan. "Bisa Kakak pinjam sebentar bukunya?" Reana bertanya sehalus mungkin, tapi anak perempuan itu tetap langsung merengut, penuh tanya menatap Reana dan Issa bergantian, masih memegang buku Cinderella dengan erat. "Kakak hanya pinjam sebentar untuk menulis kapan kita harus mengembalikan bukunya." Issa bantu menjelaskan. "Apa aku tetap bisa membawanya pulang?" Tanya anak itu polos. Issa tersenyum. "Tentu saja bisa." Masih dengan raut sedikit tidak rela ia menyerahkan buku itu kepada Reana. Kemudian Reana langsung mencatat tanggal pinjam juga tanggal pengembalian dan terburu-buru menyerahkan kembali bukunya pada anak itu, khawatir dia bisa saja menangis. Issa yang memperhatikan diam-diam menahan tawa. Padahal ia paham betul kalau anak dalam gendongannya tidak akan begitu. "Ini kartu anggota Anda." Reana menyerahkan sebuah kartu berwarna hitam. Issa menerima kartu yang masih terasa hangat karena dicetak mendadak itu, ia menyukai desain kartunya yang sederhana namun estetik, namanya terukir dengan rapi menggunakan tinta berwarna perak. "Bukunya bisa dikembalikan tiga hari lagi,” lanjut Reana. Issa mengangguk, lalu bertanya berapa harga sewanya, setelah menyelesaikan pembayaran sekali lagi Issa mengucapkan terima kasih. "Terima kasih banyak, aku akan mengembalikannya tepat waktu." Reana mengangguk sopan. "Terima kasih sudah berkunjung." "Say thanks pada Kakak," kata Issa pada anak di gendongannya. Si anak langsung menatap Reana dan tersenyum. Menurut, ia langsung membungkukkan badan. "Terimakasih Kakak,” ucapnya lucu. Reana tertawa dan menjawab, "sama-sama Sayang." Setelah anak itu melambaikan tangan, Issa membawanya pergi. Diam-diam Reana memperhatikan dari balik jendela saat mereka masuk ke dalam mobil, yang ternyata ada seorang perempuan cantik menyambut mereka di sana. Reana bisa melihat anak kecil menggemaskan itu berpindah dari gendongan Issa ke pelukan perempuan yang duduk di samping kemudi, mereka bertiga terlihat bercengkrama hangat dan tertawa bahkan setelah Issa duduk di balik kemudi sampai mobil itu melaju dan tidak terlihat lagi.Samuel menatap Reana lekat-lekat setelah mereka selesai membahas tentang naskah baru yang ditulis oleh perempuan itu dan harus banyak direvisi di sana-sini. Berbeda dengan Letterbox yang langsung Samuel terima lengkap, kali ini ia menuntut Reana harus menulis minimal dua puluh halaman setiap minggu. Tidak mudah memang menulis dikejar oleh batas waktu, karena si penulis mau tidak mau harus memaksa inspirasi hadir setiap hari kalau tidak mau si editor meneror setiap menit. Dan Samuel cukup kagum pada Reana, sebagai penulis baru sejauh ini dia selalu bisa konsisten. Namun bukan itu alasannya menatap lekat-lekat Reana yang duduk tepat di hadapan. Lelaki bermata biru itu yakin ada sesuatu yang terjadi di antara Reana dan salah satu sahabatnya—Issa Saverio. Dan sebenarnya mulutnya sudah gatal ingin bertanya sejak beberapa waktu lalu namun Samuel cukup bijaksana untuk tidak ikut campur ke dalam masalah pribadi siapapun. Jika tebakannya benar, ia yakin tidak akan lama lagi Issa akan mengakui
Kita tak akan pernah tahu pada siapa kita akan jatuh cinta. Bisa saja pada dia yang sudah menemanimu sejak masih remaja, atau pada dia yang bersamamu pernah menghabiskan waktu di suatu malam. Mungkin juga pada dia yang selalu membuatmu kesal tapi di saat yang sama mampu memberikan getaran yang tak biasa. Itu juga barangkali yang dirasakan Reana sekarang. Ia memang belum bisa mengatakan kalau Issa Saverio adalah cinta matinya, namun ketika ia bertindak mengikuti kata hati, ia merasa benar. Sama sekali tidak ada setitik pun penyesalan dalam hatinya setelah memutuskan untuk mau belajar saling mencintai bersama lelaki itu. Kejujuran yang Issa katakan dengan apa adanya mengenai perasaan membuat Reana terenyuh. Dan baru kali ini ia mendapatkan pernyataan cinta tanpa diiming-imingi janji-janji manis yang sebenarnya belum tentu bisa terpenuhi. Maka dengan apa adanya pula ia mau memberikan hatinya. Lalu, ada hal yang sangat lucu. Reana kira diusianya sekarang yang sudah menginjak dua puluh
"Aku menyukaimu."Tegas.Tanpa ragu.Tanpa aba-aba.Reana yakin ia tidak salah dengar, bahkan sekarang jantungnya berdetak semakin cepat, darahnya berdesir, wajahnya menghangat dan Issa masih memaku sepasang matanya dengan tatapan tajam.Demi Tuhan, ia gugup setengah mati!Sesaat Reana mengira waktu baru saja berhenti. Hanya tetesan air hujan di luar sana yang tetap jatuh silih berganti. Namun suara petir yang tiba-tiba terdengar membuatnya tersadar, ia pun berkedip untuk memutuskan kontak mata dengan lelaki di hadapannya, lalu tertawa.Benar-benar tertawa sampai perutnya terasa sakit dan ujung matanya berair.Issa mengernyit dan mengerucutkan bibir, sama sekali tidak merasa ada sesuatu yang lucu di antara mereka. Atau, apa pernyataannya barusan terdengar seperti sebuah lelucon?"Kenapa tertawa?" Lelaki itu bertanya.Reana melihat ke arahnya sekilas, masih tertawa geli sambil sesekali mengibaskan tangan dan memukul meja."Kamu lucu,” ucapnya di sela tawa, "dari semua leluconmu, ini ya
Tidak ada persahabatan antara lelaki dan perempuan.Sudah tak terhitung berapa kali Reana mendengar kalimat itu. Bahkan sahabatnya sendiri pun, Oliver Sebastian, pernah mengatakannya. Namun ia hanya tertawa seraya mengibaskan tangan seolah apa yang ia dengar adalah omong kosong belaka. Hanya sebuah teori.Reana bahkan selalu dengan bangga mengatakan kalau teori itu terbukti salah, karena ia dan Oliver tetap bersahabat meski telah enam belas tahun mereka bersama. Hanya orang-orang yang terlalu mudah terbawa perasaan yang akan menyukai sahabatnya sendiri, begitu katanya.Nyatanya, malam ini, bukti yang ada justru semakin menguatkan teori itu.Benar, Reana lupa.Ia benar-benar lupa kalau suatu hubungan bisa disebut sebagai hubungan karena dilakukan oleh lebih dari satu pihak. Boleh saja dirinya dengan bangga berkata kalau ia menganggap Oliver hanya sebagai sahabat dan tidak akan pernah berubah selamanya. Namun ia lupa memikirkan dari sisi yang lain. Dari sudut pandang Oliver. Ia lupa per
Seharusnya, saat ini Issa sedang berada di tahun 1980. Sebagai pemuda yang menjadi sukarelawan membersihkan jenazah korban kekerasan. Kemudian ia akan berpindah ke tahun 1985, sebagai seorang jurnalis yang berkali-kali ditampar oleh personil tentara saat diinterogasi. Setelah itu ia akan ke tahun 1990, 2002, dan 2010.Itulah Issa setiap kali berduaan dengan sebuah novel. Ketika tubuhnya duduk nyaman di sofa ditemani oleh secangkir kopi hitam, tangannya sibuk membuka halaman, matanya sibuk membaca setiap kata, jiwanya justru seolah ditarik masuk ke dalam cerita. Dalam pikirannya, ia menjelma menjadi si tokoh utama atau hanya sekadar menjadi penonton tak kasat mata.Tapi malam ini berbeda.Sudah sekitar satu jam matanya tertuju pada salah satu halaman novel Human Acts yang ditulis oleh Han Kang enam tahun lalu, namun Issa tidak benar-benar sedang membaca. Novel yang menceritakan tentang aksi demonstrasi warga Gwangju, Korea tahun 1980 itu malam ini tidak berhasil membawa jiwa dan pikira
Arland yakin sahabatnya satu ini sudah gila. Mungkin tanpa sengaja minum obat diare milik Lue—kucing kesayangannya—atau kerasukan hantu. Tidak heran, gedung apartemen tempat Issa tinggal ini memang sudah lama dirumorkan angker, dan sepertinya salah satu makhluk tak kasat mata itu sedang berada dalam diri Issa saat ini. "Aku mulai merinding melihatmu semakin aneh,” ucap Arland sambil menyentuh tengkuk, seolah membuktikan kata-katanya. Issa tidak menghiraukan Arland sama sekali, mata dan kedua tangannya seharian ini sibuk dengan ponsel. Sesekali ia menyeringai atau tertawa geli, namun tidak ingin mengatakan apa yang sedang ia lakukan maupun apa yang ia lihat pada sahabatnya. "Apa telingamu itu hanya pajangan?" Lagi, Arland mencari perhatian, kesal karena terus menerus diabaikan. "Issa!" Arland meraih sebutir anggur dari piring di atas meja dan melemparnya pada Issa yang berbaring santai di sofa di hadapannya. "Aduh!" Akhirnya kata pertama sejak kedatangan Arland terlontar dari mulu







