Início / Romansa / A Story We Misread / BAB XX - A Seat At Their Table

Compartilhar

BAB XX - A Seat At Their Table

Autor: Ann Azure
last update Data de publicação: 2026-09-16 23:38:27

Bisa dibilang malam ini adalah malam yang bersejarah bagi Issa Saverio. Malam paling mendebarkan selama tiga puluh tahun eksistensinya di dunia. Untuk pertama kali, lelaki itu menghabiskan waktu lebih lama di depan cermin, tiba-tiba merasa tidak percaya diri dengan kulit putih pucatnya. Ia juga berulang kali memikirkan tentang topik pembicaraan nanti, padahal Reana sudah menegaskan kalau ini hanya makan malam biasa, sama sekali tidak perlu ada hal yang dikhawatirkan.

Untuk sebagian orang, bert
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • A Story We Misread   BAB 43 - The Name That Wasn't Her (Pt.1)

    Emma berjalan perlahan di sisi Issa, membiarkan pria itu bersandar pada lengannya ketika mereka meninggalkan koridor ballroom. Langkah Issa masih belum sepenuhnya stabil. Sesekali, ia berhenti seolah sedang mempertimbangkan sesuatu, lalu kembali berjalan setelah Emma mengingatkannya bahwa mereka sudah hampir sampai di lobi utama."Sedikit lagi, Pak.""Hm?" "Kita sudah hampir sampai."Issa mengangguk tanpa benar-benar menanggapi. Kepalanya sedikit tertunduk, sementara satu tangannya bertumpu pada bahu Emma untuk menjaga keseimbangan. Emma menyesuaikan langkahnya. Meskipun cukup kesulitan menopang pria itu, ia tidak mengeluh. Bahkan, ada bagian kecil dalam dirinya yang diam-diam menikmati kedekatan tersebut.Selama ini, hubungannya dengan Issa selalu dibatasi oleh meja kerja, jadwal rapat, dokumen perusahaan, dan percakapan singkat yang hampir seluruhnya berkaitan dengan pekerjaan. Ia mengenal kebiasaan pria itu, tahu bagaimana Issa menyukai kopi paginya, tahu kapan ia harus menyiapkan

  • A Story We Misread   Bab XLII - The Weight of Unspoken Words

    Emma masih mengenakan gaun malam berwarna hitam sederhana yang dipadukan dengan blazer tipis. Sejak awal acara, ia telah membantu mengoordinasikan jadwal Issa, berkomunikasi dengan pihak hotel, dan memastikan segala keperluan tim berjalan sesuai rencana. Ia tidak menyentuh alkohol sedikit pun.Baginya, malam itu adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa ia bukan sekadar sekretaris yang mampu menyelesaikan pekerjaan administratif. Ia ingin menjadi seseorang yang bisa diandalkan Issa bahkan ketika urusan pribadi pria itu mulai mengganggu pekerjaannya."Pak Direktur?"Issa yang bersandar pada tembok tidak jauh dari pintu masuk ballroom mengangkat kepala ketika mendengar suara yang familier."Oh. Emma."Emma tersenyum kecil. "Apa Anda akan pulang sekarang?""Ya. Tidak. Maksudku..." Issa mengerutkan kening, seolah-olah pertanyaan sederhana itu membutuhkan pertimbangan yang cukup rumit. "Ya, tapi tidak juga."Emma terdiam sesaat sebelum tawa kecil lolos dari bibirnya.Selama bekerja sebagai

  • A Story We Misread   BAB XLI - A Celebration Without Joy

    Ballroom hotel itu dipenuhi cahaya keemasan yang memantul pada permukaan gelas kristal dan dekorasi elegan di sepanjang ruangan. Musik instrumental mengalun lembut, bercampur dengan percakapan para tamu yang memenuhi acara peluncuran dua buku terbaru dari divisi Sci-fic dari penerbit ternama Hawthorne Literary Press.Bagi sebagian besar orang yang hadir malam itu, acara tersebut merupakan perayaan atas keberhasilan dua penulis yang telah menghabiskan berbulan-bulan menyelesaikan karya mereka. Bagi Issa Saverio, ini adalah bukti lain bahwa divisi yang dipimpinnya terus berkembang.Semuanya berjalan sesuai rencana. Kedua penulis memberikan sambutan singkat, para tamu menikmati jamuan, dan beberapa media melakukan wawancara dengan tim penerbitan. Arland bahkan sempat berkomentar bahwa acara tersebut mungkin menjadi salah satu peluncuran buku terbaik yang pernah mereka selenggarakan tahun ini.Namun, meskipun Issa menjawab setiap pertanyaan dengan profesional dan tersenyum ketika diperluk

  • A Story We Misread   BAB XL - The Questions He Couldn't Ask (Pt.2)

    "Memangnya ada masa lalu yang bisa diubah?" Arland mengangkat sebelah alis. "Kita hanya bisa memutuskan apa yang akan kita lakukan setelah mengetahui apa yang terjadi. Kalau sesuatu dari masa lalu memang bisa memengaruhi masa depan mereka, bukankah mereka berhak mengetahuinya sebelum mengambil keputusan?"Issa terdiam beberapa saat. Ia memahami maksud Arland. Namun, ada perbedaan antara mengetahui sesuatu yang memang perlu diketahui dan mencampuri urusan yang belum tentu berkaitan dengannya.Ia tidak ingin menuduh Nyonya Oswald menyembunyikan sesuatu hanya karena perempuan itu menolak menjelaskan alasannya. Akan tetapi, ia juga tidak bisa mengabaikan kemungkinan tersebut."Jadi, menurutmu, orang yang menentang hubungan itu seharusnya menjelaskan alasannya?" tanya Issa."Kalau dia benar-benar peduli kepada salah satu dari mereka, tentu saja." Arland menjawab dengan nada lebih serius. "Setidaknya, dia harus memberi mereka kesempatan untuk memahami apa yang sedang terjadi. Menentang sesu

  • A Story We Misread   BAB XXXIX - The Questions He Couldn't Ask (Pt.1)

    Keesokan paginya, Issa tiba di kantor Hawthorne Literary Press lebih awal dari biasanya.Suasana gedung penerbitan itu masih relatif tenang ketika ia melangkah keluar dari lift. Beberapa karyawan sudah mulai berdatangan, menyapa satu sama lain sebelum menuju departemen masing-masing. Issa membalas sapaan mereka seperti biasa, dengan anggukan singkat dan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.Tak ada yang berbeda dari penampilannya pagi itu. Kemeja yang dikenakannya rapi, lengan bajunya tergulung hingga siku, sementara rambutnya tertata seperti biasa. Ia membawa secangkir kopi hitam di satu tangan dan tas laptop di tangan lainnya.Dari luar, Issa tampak seperti direktur yang siap menghadapi hari kerja yang sibuk. Namun, begitu duduk di balik meja kerjanya, pikirannya kembali pada percakapan semalam.“Ibuku memintaku putus denganmu.” Kalimat Reana itu masih terngiang jelas di benaknya.Issa telah berusaha memikirkan persoalan tersebut dari berbagai sudut pandang sejak meninggalkan apart

  • A Story We Misread   BAB XXXVIII - The Questions That Remain

    Untuk sesaat, Issa tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap Reana, mencoba memahami kalimat yang baru saja didengarnya. Bukan karena ia tidak mengerti maksud perkataan itu, melainkan karena ia sama sekali tidak menyangka Nyonya Oswald akan mengambil langkah sejauh itu. Ia sudah menduga bahwa ada sesuatu yang membuat perempuan itu bersikap berbeda terhadapnya. Ia juga menyadari perubahan sikap Nyonya Oswald setiap kali mereka bertemu. Namun, ia tidak pernah membayangkan bahwa Nyonya Oswald akan meminta putrinya mengakhiri hubungan mereka. "Dia mengatakan itu kepadamu?" tanyanya akhirnya. Reana mengangguk. "Iya." "Apakah dia menjelaskan alasannya?" Reana menggeleng. "Itulah masalahnya. Dia hanya mengatakan bahwa hubungan kita tidak baik untukku. Ketika aku meminta penjelasan, dia bilang aku belum memahami semuanya." Issa terdiam. Reana mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi. "Aku tidak tahu apa yang harus kupikirkan lagi, Issa. Aku tidak ingin ber

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status